http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/lain-soeharto-lain-pula-mubarak



Lain Soeharto, Lain Pula Mubarak
Diterbitkan : 1 Februari 2011 - 9:12am | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto©Flickr, 
a-birdie/World Economic Forum) 
Diarsip dalam: 
  a.. Hosni Mubarak 
  b.. Indonesia 
  c.. Mesir 
  d.. Soeharto
Memasuki hari kesembilan krisis di Mesir, Presiden Hosni Mubarak masih mencoba 
bertahan di tengah ancaman aksi sejuta demonstran di Lapangan Tahrir di Kairo. 
Posisinya mengingatkan kita pada Presiden Soeharto di tengah pergolakan di 
Jakarta, hampir tiga belas tahun lalu.




Mubarak mengendalikan tentara yang menjadi harapan terakhirnya. Pada 
pertengahan Mei tahun '98, Soeharto juga tiba pada titik serupa, tapi dia cepat 
tanggap. Dia merebut momentum, dengan -kami kutip- "memutuskan berhenti". 
Dengan demikian, dia dapat menjaga pengaruhnya.




Domino pergolakan Arab yang berawal di Tunis, hanya bergulir karena ada kondisi 
serupa. Dalam posisi strategisnya, Mubarak memanfaatkan kepentingan adidaya dan 
sekutunya di Timur Tengah , seperti Soeharto di Asia Tenggara. 




Mundur saja
Dan, di masa akhirnya, para diktator sering mengalami momentum hari ke hari, 
yang hampir serupa. Senada dengan Menlu Madeleine Albright tahun '98 kepada 
Soeharto, kini Hillary Clinton pun mengirim pesan, mengharapkan perubahan yang 
damai, dan demokratis - isyarat yang jelas agar Mubarak cepat mengambil langkah 
yang tepat, yaitu mundur.




Seperti Soeharto, Mubarak juga mencoba bertahan. Dia mengangkat Wapres, kabinet 
baru dan mengatur agar tentara bertindak tertib. Tiga belas tahun silam, di 
tengah kunjungannya di Kairo, Soeharto menangkap isyarat dari pergolakan di 
tanah air. 

"Kalau tidak dipercaya lagi, saya akan lengser sebagai Pandito Ratu," katanya. 
Dan, sesuai keinginan Soeharto, Menlu Ali Alatas menjelaskan "kalau ada 
perubahan, perubahan akan berlangsung konstitusional".




Tiba di Jakarta, Soeharto ternyata disambut pergolakan yang makin panas. 
Demonstrasi meluas, sejumlah pertokoan dibakar, perempuan diperkosa, ratusan 
warga mati dipanggang, miliaran harta benda musnah, dan sejumlah mahasiswa 
ditembak. 




Merasa dikhianati
Soeharto menawarkan Kabinet Reformasi, tapi dia merasa dikhianati sejumlah 
menteri dan menantunya yang mengendalikan aparat militer strategis. 




Sehari setelah puncak kerusuhan, pada 15 Mei, dia memanggil enam tokoh 
masyarakat, termasuk Nurcholisch Madjid dan Emha Ainun Najib. Tiga hari 
kemudian, 18 Mei, mereka mengimbau Presiden Soeharto agar mundur. "Gak 
patekhen!" seru Soeharto dalam bahasa Jawa bahwa dia tidak ingin terus-menerus 
jadi presiden. 




Tiga hari kemudian, 21 Mei, dia menyatakan "memutuskan berhenti".




Kini, dua minggu setelah pergolakan di Tunisia, Mubarak, dalam momentum serupa, 
harus menarik Polisi Keamanan yang dibenci publik, dan membentuk pemerintahan 
baru. Sejak merdeka, dari Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat hingga Mubarak, Mesir 
dipimpin militer. 




Tentara, menjadi konglomerat ekonomi, dan citranya lebih baik ketimbang polisi. 
Dia kini menjadi tumpuan Mubarak dan Wapres barunya, yang juga berasal dari 
Angkatan Udara.




Berbeda jalan
Mubarak dan Soeharto - keduanya boleh jadi sama licin dan licik - namun berbeda 
jalan. Di atas pengorbanan sekitar seribu nyawa di bulan Mei tahun '98 itu, 
Soeharto tidak memilih hengkang atau pun mundur, melainkan minggir. Dia 
"berhenti", karena yakin bahwa pengaruhnya masih kuat. 




Isyarat yang menjanjikan "perubahan konstitusional", dilibasnya sendiri. Dia 
gusar karena menantunya, Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto, gagal mencegah 
demonstrasi meluap ke Senayan. Dan terutama gusar, karena Wapres B.J. Habibie 
mengambil jalan konstitusional dengan menyanggupi menjadi Presiden baru.




Mubarak tak perlu mengalami semua itu, karena dia berhasil menyembunyikan para 
perwiranya di balik tirai politik. Tapi nasibnya di tangan tentara. 




Sebaliknya Soeharto mengandalkan elit tentaranya yang duduk di pemerintahan, 
parlemen, partai kuasa Golkar, dan dunia bisnis seputarnya. Berbeda dengan 
Mubarak, Soeharto mewariskan tentara yang terbelah ketika Prabowo, seperti 
diungkap buku Habibie dan Sintong Panjaitan, mencoba melakukan kudeta.




Diktator beruntung
Meski pun reformasi akhirnya menggusur tentara dari privilesenya, namun 
Soeharto tetap mampu menjaga pengaruhnya. Gerakan protes yang menentangnya pun 
tak pernah mengguncang aparat intelejensnya seperti terjadi di negara negara 
komunis Eropa. 

Soeharto tak perlu hengkang dan tak pernah diseret ke meja hijau. Seperti 
diktator Chile, Augusto Pinochet, dia menjadi diktator paling beruntung, karena 
tutup usia dengan privilese yang terjaga. Satu hal yang tak mungkin akan 
dialami Hosni Mubarak.


ends



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke