Refelksi : Membaca judul artikel ini bisa membuat orang salah mengerti, karena 
apa yang dikatakan oleh Tanter adalah mengenai FPI. Kalau mau serius, 
barangkali perlu ditanyakan kepada FPI dan MUI apakah mesjid memperjuangkan 8 
jam kerja sehari bagi kaum buruh dan larangan mempekerjakan anak-anak dibawah 
umur, begitupun perjuangan memperbaiki kondisi kerja yang lebih baik bagi 
buruh? Sama halnya emansipasi wanita, apakah Mesjid memperjuangakan? 

Bukankah Karl Marx dan Fredrich Engelsh mengeluarkan Manifesto Komunisme pada 
tahun 1848, yang menjadi pedoman kerja gerakan buruh di Europa, yang kemudian 
tersebar bagi gerakan buruh di seluruh dunia. Kalau tak salah juga Manifesto 
ini telah diterjamahkan dalam bahasa Indonesia atau bagaimana tuan-tuan dan 
nyonya yang lebih tahu? hehehe

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/01/31/WAW/mbm.20110131.WAW135809.id.html

31 Januari 2011 
Richard Tanter:
Komunisme Dianggap Kekotoran Sejarah 
Indonesia di mata Richard Tanter mungkin belum banyak berubah. Dua pekan lalu, 
dia datang dari Australia untuk menjadi pembicara dalam diskusi bertema 
Indonesia & The World 1959-1969 di gedung Goethe-Institut, Jakarta. Diskusi itu 
menghadirkan sejumlah ilmuwan politik dari berbagai negara untuk membahas 
peristiwa 1965 dari sudut pandang negara masing-masing. 

Tanter terperanjat mengetahui istilah G-30-S ternyata masih menjadi "hantu" 
bagi sebagian kecil masyarakat. "Aneh sekali acara akademik dijaga polisi," 
kata Direktur Nautilus Institute, Australia, ini. Diskusi juga menghadirkan, 
antara lain, Bradley Simpson, John Roosa, serta Bernd Schafer. Kedatangan 
mereka disambut demonstrasi sekelompok orang. Sebagian pembicara sempat 
berurusan dengan polisi karena masalah perizinan. 

Bisik-bisik beredar acara di Goethe-Institut itu diawasi ketat aparat 
intelijen. Apakah ini menunjukkan intelijen masih seperti di masa Orde Baru? 
Tanter tak menjawab. Ia mengatakan hanya memantau dinamika intelijen dari 
kejauhan. 

Intelijen sebetulnya bukan dunia yang asing bagi Tanter. Pada 1991, dia 
menyelesaikan disertasinya di Universitas Monash mengenai intelijen Indonesia 
1966-1989. Sebelumnya, dia sering menulis soal Timor Leste. Akibat tulisannya 
yang kritis di masa Orde Baru, ia pernah dilarang masuk Indonesia. 

Sekarang Tanter lebih mendalami masalah keamanan regional dan nuklir. Dia 
menaruh perhatian pada upaya Indonesia membangun pembangkit listrik bertenaga 
nuklir di Muria, Jawa Tengah. Indonesia, menurut dia, masih menghadapi 
persoalan mendasar pengembangan proyek nuklir, yaitu informasi, transparansi, 
dan regulasi. Tak ada informasi publik, kata dia, yang cukup terperinci 
mengenai proyek ini. 

Kamis pekan lalu, profesor ilmu politik ini menerima Purwani Diyah Prabandari, 
Yandi M. Rofiyandi, dan fotografer Jacky Rachmansyah dari Tempo di tempatnya 
menginap di sebuah hotel di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Dengan terbuka dia 
menyampaikan pandangan tentang peristiwa 1965, intelijen, dan nuklir. 

Apa pelajaran penting dari acara seperti Indonesia & The World 1959-1969 di 
Goethe-Institut? 


  Saya kira acara di Goethe luar biasa. Tak mudah bagi Goethe-Institut dan 
pemerintah Jerman menggelar acara itu. Direktur Goethe Franz Xaver Augustin 
mengatakan kita di sini bicara tentang budaya. Kita tak bisa bicara tentang 
budaya tanpa sejarah. Kita tak bisa berpikir tentang sejarah tanpa memori. Saya 
kira acara ini sangat konstruktif bagi orang Indonesia. Jadi kita punya 
pengalaman melewati trauma. 
Ada sebagian masyarakat yang menolak acara itu karena dianggap mempromosikan 
komunisme.... 


  Saya merasa aneh ketika acara akademis seperti itu harus dikawal polisi. Ada 
Gerakan Pemuda Islam memprotes acara di Goethe. Mereka menganggap komunisme 
sebagai kekotoran sejarah Indonesia. Saya kagum pada langkah Direktur 
Goethe-Institut dan Friedrich-Ebert-Stiftung yang membuka dialog dengan massa. 
Insiden itu mengingatkan suasana di era Orde Baru ketika polisi dan intelijen 
membatasi diskusi tentang komunisme.... 


  Saya melakukan penelitian tentang intelijen ketika zaman Orde Baru. Saya tak 
mendalami kondisi intelijen sekarang. Jadi saya tak berkomentar tentang 
intelijen. Saya hanya merasa kecewa karena polisi membiarkan insiden itu 
terjadi.
Benarkah intelijen sekarang belum berubah, masih seperti di era Orde Baru? 


  Saya tak mau berkomentar. Bukannya takut. Saya mempelajari intelijen era Orde 
Baru dalam waktu lama. Saya sekarang mengamati Indonesia dari kejauhan. Alasan 
saya mempelajari intelijen 1966-1989 adalah memang waktu itu topiknya sangat 
penting.
Dalam diskusi di Goethe, Anda menyebutkan Australia tak bereaksi apa-apa 
terhadap peristiwa 1965? 


  Pemerintah Australia mendukung tentara mengambil alih kekuasaan dan 
menghancurkan kekuatan politik Partai Komunis Indonesia. Indonesia kiri akan 
menjadi ancaman militer dan politik. Australia, seperti Amerika Serikat dan 
Inggris, ingin Indonesia pro-Barat dalam Perang Dingin. Alasan lainnya, rasisme 
di kalangan politikus konservatif, elite birokrasi, dan media di Australia. Ada 
pernyataan menarik Perdana Menteri Harold Holt di New York Times. Dia 
mengatakan, dengan terbunuhnya 500 ribu sampai sejuta komunis, berarti akan ada 
reorientasi. 
Apakah parlemen di Australia sama sekali tak membahas adanya pembunuhan 
besar-besaran itu? 


  Sangat sedikit pembahasan tentang peristiwa pembantaian setelah 1 Oktober 
1965. Menteri Luar Negeri pernah memberikan pernyataan keprihatinan singkat 
pada Maret 1966. Anggota sayap kiri Partai Buruh, J.F. Cairns, pernah 
mengangkat isu itu. Pemerintah tak menanggapi dan kelompok kanan mencemoohnya.
Bagaimana pandangan media Australia tentang peristiwa 1965? 


  Media besar di Australia memberitakan soal kudeta dan peristiwa politik 
sangat terperinci. Tapi informasi tentang pembunuhan ketika itu sangat sedikit. 
Ketika itu jurnalis Australia di Indonesia sangat sedikit sehingga hanya 
mengandalkan informasi dari kedutaan. Media menyebutkan ada pembunuhan, tapi 
tak jelas lokasi dan sebagainya. Mereka menulis pembunuhan orang PKI, tapi tak 
dijelaskan pelakunya. Beberapa tulisan bahkan menggambarkan peristiwa itu 
sebagai karakter Indonesia. Seluruh bangsa mengamuk.
Anda menyebutkan masyarakat Australia kurang perhatian terhadap peristiwa 
pembunuhan di Indonesia. Mengapa bisa demikian? 


  Alasannya sederhana, selama setahun setelah 1 Oktober 1965, masyarakat biasa 
di Australia tak memiliki sumber informasi. Sedikit sekali artikel dari koran 
mengenai pembunuhan itu.
Apa sikap Australia terhadap pengembangan teknologi nuklir di Indonesia? 


  Nuklir bisa dilihat sebagai sumber energi sekaligus senjata. Sebagian kecil 
komunitas di Australia, bukan pemerintah, ada yang menganggap, kalaupun 
Indonesia mengembangkan teknologi nuklir untuk kebutuhan energi, bisa jadi akan 
berkembang menjadi senjata. Tapi itu pendapat minoritas.
Bagaimana Anda mengamati arah pengembangan nuklir Indonesia? 


  Pengembangan teknologi nuklir di Indonesia sangat tak jelas. Kalau bicara 
tentang nuklir, semua orang tak akan percaya bagaimana arah pengembangan 
teknologi nuklir sampai ada tanda tangan kontrak. Kami ingin memastikan 
informasi yang benar mengenai pengembangan nuklir Indonesia. Saya kira 
Indonesia tak berencana mengembangkan teknologi ke senjata. Kalau arahnya ke 
senjata, pasti akan mendapat sorotan dari International Atomic Energy Agency 
dan Amerika.
Apakah penelitian nuklir di Indonesia sudah cukup memadai? 


  Kita prihatin dengan manajemen risiko. Ada yang harus ditangani serius dalam 
pengembangan nuklir di Indonesia. Ingat Abdul Qadir Khan. Ilmuwan Pakistan ini 
menjual nuklir ke pasar gelap. Ini salah satu kekhawatiran pengembangan nuklir, 
apalagi kecenderungan korupsi masih besar.
Apa masalah utama pengembangan nuklir di Indonesia? 


  Indonesia mengembangkan penelitian nuklir melalui Badan Tenaga Nuklir 
Nasional (Batan). Masih ada persoalan besar, yakni informasi, transparansi, dan 
kekuatan regulasi di Indonesia. Tak ada informasi publik yang mendetail, 
misalnya terkait dengan lokasi. Lokasi pengembangan nuklir di Muria, Jawa 
Tengah, bisa terganggu pengaruh vulkanik dan seismik. Muria bukanlah lokasi 
yang bagus. 
Soal regulasi, bukankah ada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten)? 


  Kita tak bisa bergantung pada Bapeten. Apalagi ada kasus korupsi di lembaga 
ini beberapa tahun lalu. Mereka harus bisa meyakinkan publik bahwa ada 
perubahan di Bapeten. Isu keselamatan juga menjadi kekhawatiran setelah 
kejadian Lapindo. Persoalan lain adalah risiko keuangan. Donor sulit masuk 
kalau tak ada informasi tepercaya. Contoh kecil soal harga berdasarkan 
keterangan Batan. Selama sepuluh tahun harga selalu US$ 1.800 per kilowatt. 
Padahal penentuan harga sangat kompleks. Paling tidak harga harus direvisi dua 
atau tiga kali. Donor akan melihat informasi yang dipercaya.
Pertanyaan besarnya, apakah Indonesia bisa melewati tantangan ini? 


  Dulu banyak yang menentang pengembangan nuklir di Jepara. Lalu diusulkan di 
Banten. Tapi mereka bilang Banten terlalu dekat dengan Jakarta dan ada 
Krakatau. Bangka kabarnya pas karena di sana ada tanah granit yang solid. Tapi 
sampai sekarang belum ada penelitian di Bangka. 
Sampai sekarang di masyarakat juga masih ada pro-kontra pembangunan pembangkit 
listri tenaga nuklir.... 


  Ya. Ada yang menyebutkan sudah saatnya beralih ke sumber energi alternatif. 
Ada pula yang menyebutkan sumber energi lain masih banyak selain nuklir yang 
sangat berisiko. Seperti disebutkan tadi, pengembangan nuklir Indonesia 
menghadapi persoalan vulkanik dan seismik, regulasi keamanan, serta pembiayaan. 
Persoalan lain: jawaban buruk bahwa pengembangan nuklir untuk pemenuhan 
kebutuhan energi. 
Batan pernah mengatakan siap membangun pada 2020? 


  Batan mengatakan soal itu beberapa tahun lalu. Enam bulan belakangan mereka 
mengatakan bisa jadi tidak karena banyak yang menentang. Mengenai kebutuhan 
energi, desentralisasi sumber energi seperti mikrohidro bisa dilakukan. 
Jadi seharusnya setiap negara menghindari pemakaian tenaga nuklir sebagai 
sumber energi? 


  Sebab, selalu ada risiko dalam pengembangan nuklir. Belum lagi soal sampah 
yang sulit ditangani. Orang menganggap nuklir merupakan solusi terbaik dalam 
perubahan iklim, tapi secara umum sebetulnya sangat merusak lingkungan. 

      Richard Tanter Karier: Profesor hubungan internasional Universitas Kyoto 
Seika, Jepang, 1989-2003 | Konsultan kurikulum Universitas Deakin, Australia, 
2003 | Profesor hubungan internasional Royal Melbourne Institute of Technology, 
Australia, 2004-2010 | Direktur Nautilus Institute, Australia Pendidikan: 
Sarjana ilmu politik Universitas Melbourne, Australia, 1971 | Master sosiologi 
New School for Social Research, 1982 | Doktor ilmu politik Universitas Monash, 
Australia, 1992 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke