Refleksi : Siapa yang membelok, kalau bukan TNI dibawah jenderal Muhammad 
Soeharto dan konco-konconya? Bukankah TNI  jugayang mengurun pencipta Pancalisa 
dan ratusan ribu pendukungnya dimatikan atau dipenjarakan untuk bertahun-tahun  
tanpa dibukti kesalahan mereka sesuai tata hukum manusia beradab (HAM) dunia 
modern,  sekalipun mereka  yang dipenjarakan ini "telah dibebaskan" tetapi 
hingga kini hak-hak sipil mereka tidak dikembalikan. Kembalikan hak-hak sipil 
mereka!

http://jakarta45.wordpress.com/2011/02/03/ideologi-pancasila-sudah-dibelokkan-tni-jangan-diam/


"Pancasila Sudah Dibelokkan, TNI Jangan Diam!"  
lokasi: Home / Berita / Politik / [sumber: Jakartapress.com]
Kamis, 03/02/2011 | 01:49 WIB 

Jakarta - Mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI (Purn) Tyasno 
Sudarto menilai perubahan yang dilakukan di Indonesia di era kepemimpinan 
Presiden SBY sekarang ini tidak maksimal karena hanya meniru tambal sulam.

Tyasno menilai, untuk bisa memajukan Indonesia diperlukan sebuah langkah 
revolusi mengganti sistem politik dan rezim penguasa. "Pada dasarnya perubahan 
dalam peradaban manusia haruslah melalui evolusi. Namun bila perubahan secara 
evolusi itu terhenti, perubahan bisa dilakukan dengan adanya bencana alam dan 
melalui revolusi," ujar Tyasno di Jakarta, Rabu (2/2/2011)

Jenderal yang dikenal dekat dengan mendiang Gus Dur ini meminta masyarakat 
tidak tabu membicarakan gerakan revolusi. TNI sebagai agen penjaga hendaknya 
tidak diam melihat demokrasi Pancasila bergeser menjadi demokrasi liberal. 
"Kalau Demokrasi Pancasila sudah dibelokkan menjadi Demokrasi Liberal, TNI 
jangan diam saja," tegasnya.

Tyasno menegaskan, perjuangan revolusi yang dilakukan semata-mata untuk 
membebaskan rakyat dari penindasan dan bukan menciptakan penindasan baru.
"Perjuangan kita sebenarnya adalah membebaskan rakyat dari penindasan. Baik itu 
dari luar ataupun dari kita sendiri, yang sesuai dengan pembukaan UUD 1945," 
seru mantan KSAD.

Sebelumnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Din Syamsuddin, 
memperingatkan pemerintahan SBY untuk tidak mengabaikan aspirasi atau protes 
yang dilancarkan oleh rakyat Indonesia. Konflik yang terjadi di Mesir saat ini 
adalah satu contoh nyata bahwa kekuatan rakyat mampu menggoyang pemerintah.

"Perkembangan situasi di Timur Tengah tentu harap cemas. Setelah Tunisia, 
kemudian Mesir dan Yaman. Ini sangat-sangat menunjukan bahwa aspirasi rakyat 
tidak bisa diabaikan," ujar Din usai menghadiri acara ulang tahun pertama 
organisasi masyarakat Nasional Demokrat (Nasdem) di Jakarta Convention Center 
(JCC), Selasa (1/2) malam.

"Kejadian di Tunisia dan Mesir merupakan manifesto dari kekuatan rakyat. Selain 
otoriter, pemerintahan juga seperti tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat. 
Hal ini Juga berkaitan dengan masalah ideologi. Ideologi anti-kezaliman," 
sambungnya.

Din menambahkan konflik yang terjadi di Mesir bisa membawa efek domino bagi 
negara-negara Arab lain di Timur Tengah. Berkaca dari konflik Mesir, Din 
melihat kejadian itu bisa menjadi pelajaran bagi pemerintah lain, termasuk juga 
pemerintah Indonesia.

"Pemerintah tidak boleh semena-mena terhadap aspirasi rakyat, terhadap kritik, 
koreksi yang cenderung akhir-akhir ini dijawab dengan apologi dan juga 
mengalihkan perhatian dengan isu-isu yang bersifat personal. Jadi janganlah 
seperti itu," kata Din Syamsuddin.

Saat disinggung apakah konflik di Mesir juga bisa terjadi di Indonesia. Din 
menjawab, "Saya berharap tidak, tapi untuk mengatakan tidak mungkin mustahil 
terjadi, saya juga tidak punya kemampuan untuk prediksi. Indonesia juga pernah 
mengalami reformasi. Oleh karena itu, sekali lagi jadikanlah pelajaran," 
ppaparnya. (*/inc)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke