Histori Materi (analisa proses berpikir) http://alexarussia.blog.friendster.com/2010/09/histori-materi-analisa-proses-berpikir/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Berikut adalah pemikiran saya terhadap proses berpikir manusia Pemikiran saya ini terutama dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx yang menurut saya sangat brillian dalam mengungkap hukum berpikir yang disebut histori materi Pada mulanya, eropa yang lama dilanda oleh ideologi supernatural kristen, pemikir-pemikirnya menggunakan konsep kristen dalam memandang alam semesta. Sampai terjadi penemuan heboh dari Charles Darwin yang inti dari pemikirannya adalah evolusi alam/gerak alam yang naturalism. Kemudian dilanjutkan oleh Ludwig Feuerbach atau Leo Tolstoy yang mendaratkan teologi kristian, bahwa manifestasi ketuhanan harus berbentuk nyata dalam nilai-nilai kemanusiaan Hegel mengenalkan hukum dialektika atau hukum berpikir. Menurut Hegel, manusia berpikir secara logis/lurus dan dialektis Hukum berpikir logis adalah hukum persamaan identitas A equal dengan A, A=A sedangkan hukum berpikir dialektis adalah hukum berpikir yang mempunyai 3 hal pokok yang berdiri atas 1 hukum utama 1 hukum utama adalah hukum yang paling pasti adalah perubahan (ini diambil dari filsuf Heraclitus) selanjutnya berdiri 3 hukum turunan yaitu a. hukum berpikir kontradiktif, unity of opposite (versi dari VI Lenin), A bertemu B menjadi C, dan selanjutnya C mengalami kontradiktif dengan D menjadi E, dan seterusnya b. hukum perubahan kuantitas menjadi kualitas dan vice versa c. hukum saling menegasi (negation der negation) Histori materi boleh kita definisikan kedalam pseudoscience, dan akan saya jelaskan mengapa hukum ini terdefinisi dalam pseudoscience. Science, terutama natural science, mempunyai kerangka methodologis yang sangat reduktif namun sangat akurat/akurasinya tinggi sekali.(methodologi sains dibuat untuk konsistensi akurasi kebenarannya, semakin reduktif maka akurasinya akan semakin tinggi) Hukum gravitasi, bisa saya buktikan secara empiris, saya lempar batu jatuh kebawah, anda lempar batu jatuh kebawah, jenna jamison lempar dildo, juga jatuh kebawah, semuanya terverifikasi secara empiris. Namun hukum gerak, hukum berpikir, dan evolusi, hanya bisa dicapai dengan pemahaman berpikir hukum gerak alam itu sendiri. Saya contohkan: Menurut penelitian, DNA manusia dan chimpanze adalah identikal, lalu dari rasio/methode berpikir kita bisa disimpulkan bahwa manusia dan chimpanze mempunyai nenek moyang yang sama. Untuk membuktikannya secara empiris adalah hal yang tidak mungkin karena kita terikat hukum gerak waktu dan perubahan, contoh hukum gerak perubahan dan waktu adalah detik 1, komposisi sel tubuh kita bervariable x+10 akibat komposisi sel detik 1, maka detik 2 komposisi sel tubuh kita mengalami variable x+9, akibat komposisi sel detik 2, maka detik 3 komposisi sel tubuh kita mengalami variable X+11 ini hukum gerak sebab mengakibatkan sebab, dan tidak mungkin terulang. Jadi, hukum evolusi hanya bisa dipahami/dicapai melalui methodologi rasio/logika dan methodologi berpikir dialektika Manusia dan chimpanze mempunyai nenek moyang yang sama, disimpulkan dari rasio/logika manusia yang berpikir secara hukum persamaan, tepatnya persamaan/kemiripan DNA, dan hukum gerak dialektika, bahwa karena ada perubahan, maka DNA manusia dan chimpanze mengalami perbedaan sedikit/minor sekian prosen (5% ???), dan persamaan banyak/mayor (95% ???) *** Kembali kepada hukum berpikir yang dikenalkan oleh George Wilhelm Hegel, dalam science of logic, yaitu ada proses berpikir logis/persamaan dan dialektis/perubahan. Disini masalahnya adalah GW Hegel mendasarkan pemikirannya berdasarkan konsep ketuhanan. Hegel mengatakan bahwa alam semesta adalah buah pikir manusia, atau alam semesta itu adalah absolut idea atau ada batu didepan anda itu karena pikiran anda sendiri. Karl Marx, yang telah terinspirasi dari pemikiran Charles Darwin dan Ludwig Feurbach, yang prinsipnya mengatakan bahwa alam bergerak secara natural, mengadopsi pemikiran Hegel tentang logika dan dialektika, namun membuang pemikiran metaphysic Hegel yang mengatakan bahwa alam merupakan buah pikir manusia, dan buah pikir manusia merupakan entitas turunan Tuhan (roh). Jadi Karl Marx mengkombinasikan dua pemikiran, yaitu logika dan dialektika, dan pemikiran materialisme/naturalisme, dan menjadi dialektika (logika) materi. disini Karl Marx punya sumbangan pemikiran yang brillian, bahwa sesungguhnya pemikiran manusia itu adalah naturalism atau tepatnya pemikiran manusia itu disusun oleh obyek-obyek alam semesta. Kita mempunyai indera sebagai device input, sehingga dari indera-indera itu kita mengetahui segala informasi, dan informasi yang kita terima bersarang di otak (menurut definisi ilmu pengetahuan saat ini bahwa otaklah alat untuk menyimpan informasi) *** Sekarang mari kita perhatikan hukum berpikir dan mari kita lakukan analisa azas utama hukum berpikir adalah: Segala pikiran kita terkontruksi oleh obyek alam. selanjutnya Kita ingat bahwa menurut hukum berpikir dialektika, manusia bisa berpikir kontradiktif, dan saling menegasikan pikiran Contoh: Banyak orang mempertanyakan kepada saya, mengapa orang mendiskusikan tentang Tuhan. Artinya Tuhan itu ada di pikiran manusia, mengapa bisa terjadi ??? Kita landaskan kepada analisa Karl Marx: Segala pikiran kita terkontruksi oleh obyek material alam. Yang diluar otak manusia disebut matter dan yang didalam otak manusia disebut idea, namun idea merupakan refleksi dari matter. Artinya kalau tuhan ada di pikiran kita maka tuhan adalah obyek material alam. Mari kita track darimana saya tahu dan berpikir tentang Tuhan per definisi a. bisa dari kitab suci agama b. bisa dari buku lainnya c. dari orang tua saya d. dari orang-orang sekeliling saya c. lain-lain mari kita track lagi a. orang tua saya dari buyut saya b. buku dari penulisnya, penulisnya bisa dari buku lain, penulis buku lain bisa dari buyutnya c. orang sekeliling saya bisa mendapatkan informasi dari buku atau leluhurnya proses tracking ini disebut sebagai histori, dan yang namanya history berasal dari materi. Selanjutnya untuk melakukan tracking history agama semitik mudah saja, Islam menurut kajian orientalis barat yang menggunakan analisa history materi (Luling, Wansbrough, Luxenberg???), berasal dari pemikiran-pemikiran agama nasrani, saat ini disimpulkan bahwasanya pemikiran-pemikiran Mohammad mirip/secara mayor identikal dengan pemikiran kristen syiria orthodox. Secara history bisa ditemukan bahwa Siti Khadijah, atau istri Mohammad adalah seorang Yahudi dan berpikiran kristen syiria, dan juga Waraqah bin Naufal paman Khadijah diduga beragama kristen syiria orthodox. Lalu darimana pemikiran kristen berasal, mudah diduga bahwasanya pemikiran kristen berasal dari pemikiran agama yahudi yang dibawa oleh Musa. Lalu darimana pemikiran Musa berasal? Saat ini kajian histori materi menjelaskan bahwa konsep surga neraka/kehidupan setelah kematian berasal dari Mesir. Di mesir ditemukan bahwa para Firaun dikubur bersama pengawalnya, agar mereka menemani ruh para firaun di alam setelah kehidupan. +++ Kembali kepada masalah darimana asalnya definisi Tuhan Firaun mengaku dirinya adalah Tuhan. Ini syah-syah saja. Lalu menurut cerita agama: Musa menegasikan bahwa Firaun bukan Tuhan, dan dirinya di gurun Sinai-lah yang mendapatkan perintah dari Tuhan Ini semua wajar sekali menurut perspektive history materi. Artinya pikiran Musa menegasikan pikiran Firaun. Dalam hukum berpikir dialektis yang diperkenalkan oleg GW Hegel, ini semuanya normal-normal dan alamiah saja. dan bukan sesuatu yang luar biasa, karena memang begitulah hukum berpikir, yaitu kontradiktif dan saling menegasikan. Lalu selanjutnya mari kita lanjutkan lebih dalam . Jesus meneruskan pemikiran Musa, bahwa dialah yang menjadi anak Tuhan, ini juga normal tidak ada yang istimewa dari klaim Jesus ini dalam perspektive hukum berpikir yang dialektis selanjutnya Mohammad menegasikan Jesus bukan anak Tuhan dan dirinyalah yang menjadi utusan tuhan yang terakhir dan melanjutkan pemikiran-pemikiran pendahulunya. Ini semua artinya Mohammad sendiri juga berpikir secara history materi, karena dia melanjutkan pemikiran pendahulunya, yang disebut sebagai Abraham/Ibrahim, Moses/Musa, Jesus/Isa, dan Mohammad melakukan penegasian-penegasian misal Jesus bukan anak tuhan dan juga melakukan sinthesis-sinthesis dari pemikiran-pemikiran pendahulunya yang disebutnya sebagai 24 utusan tuhan sebagai pendahulu. ini semua wajar dan normal, tidak ada yang istimewa kalau kita mengenal hukum berpikir dialektis .karena memang hukum berpikir dialektis bekerja seperti itu, kontradiktif dan saling menegasikan. selanjutnya mari kita perhatikan cerita ttg Ibrahim/Abraham Dari histori abraham, disebut peradaban kala itu adalah menyembah patung, patung-patung disebut sebagai simbolisme kekuatan supernatural pengendali alam. Lalu oleh Abraham dihancurkan Diikuti juga oleh Mohammad yang menghancurkan patung-patung, alasannya adalah sesuai dengan history/legenda Ibrahim/Abraham Jadi bisa ditarik kesimpulan, bahwasanya secara hukum berpikir dialektis, tuhan/god/kekuatan supernatural pada awalnya dipersepsikan oleh manusia adalah patung-patung, batu, pohon, atau kepercayaan animisme dinamisme. Hindu juga masih mengenal tradisi simbolisme benda-benda materi sebagai kekuatan supernatural pengendali alam semesta. Agama Buddha merupakan proses berpikir dialektis dari Sidharta yang secara historis mendapat pemikiran dari Hindu. Sidharta juga melakukan proses kontradiktif dan negasi-negasi serta sinthesis dari pemikiran-pemikiran tradisi Hindu. Sekali lagi, menurut hukum berpikir dialektika yang diperkenalkan oleh GW Hegel, ini semuanya wajar, normal, dan menurut Karl Marx adalah ini semua natural/alamiah sebagai proses berpikir manusia yang kontradiktif dan saling menegasikan. *** Jadi secara hukum berpikir dialektis (histori materi) akan coba saya susun dan urutkan Firaun: Saya adalah Tuhan Moses: Anda bukan Tuhan, sayalah yang menerima 10 perintah Tuhan di gurun Sinai Jesus: Saya adalah anak Tuhan Mohammad: Jesus bukan anak Tuhan, Tuhan tidak diperanakan, sayalah yang menerima wahyu Tuhan terakhir Ini semua merupakan proses dialogis/dialektis yang terikat hukum berpikir kontradiktif dan saling menegasikan. Catatan: saya tidak bisa mengempiriskan proses dialogis diatas, karena proses dialogis/dialektis diatas adalah proses history/sejarah, tapi uraian saya bisa anda pertimbangkan apakah masuk akal atau tidak. Kita hanya bisa menilai apakah hukum berpikir dialektis yang diuraikan oleh GW Hegel ini bisa kita lihat dalam gerak history/peradaban. Contoh: Misal peradaban saat ini berpersepsi A, lalu peradaban berikutnya mengalami perkembangan persepsi dialektis/dialogis menjadi B, dan kemudian menjadi C, dst.. atau contoh berikut: Dahulu belum ada penyakit AIDS, melalui proses interaksi materi ditemukan penyakit AIDS, melalui proses interaksi materi ditemukan penyakit flu burung, kemudian bermutasi menjadi flu babi, dan seterusnya mutasi akan terjadi karena probabilitas-probabilitas interaksi materi. Kerumitan interaksi materi yang menimbulkan probabilitas-probabilitas atau sinthesis-sinthesis materi baru (misal flu burung, flu babi, dst) inilah yang disebut dialektika materi. Dalam proses sejarah (histori materi), maka juga terjadi mutasi/perkembangan pemikiran, Pemikiran A, akan mengalami mutasi menjadi pemikiran B (setelah terjadi proses kontradiktif, perubahan kualitas/kuantitas, penegasian), pemikiran B akan mengalami perkembangan menjadi pemikiran C dan seterusnya *** Sub judul: Menyusun berpikir kreatif sekali lagi saya tuliskan, bahwa kelebihan orang-orang Yahudi sebenarnya karena mereka mengenal hukum berpikir, yang logis dan dialektis. Untuk itu apabila ingin menyusun masyarakat yang bisa berpikir kreatif, maka kebebasan berpikir logis dan dialektis adalah keharusan. Berpikir dogmatis adalah penghalang berpikir kreatif, namun berpikir kreatif juga mesti konstektual Kita tidak bisa melakukan berpikir kreatif terhadap kajian ilmiah yang lepas dari hukum fisika ketika kita melakukan kajian di ranah ilmiah ilmu alam (mahluk hidup dan alam semesta), per definisi ilmu pengetahuan maka semua ilmu terapan terjerat/mematuhi kedalam hukum utama fisika. Misal kajian ilmiah, karena over kreatif maka landasan berpikirnya adalah kitab suci.. saya belum pernah tahu ada tulisan ilmiah yang menyebutkan referensi sumbernya adalah kitab suci :-) *** Sub Judul: Bagaimana menjadi pemimpin besar? Dalam konstektual sebuah bangsa, biasanya diletakan sebuah ideologi. Tujuan ideologi ini agar masyarakat berpikiran seragam, meski pemikiran setiap orang tidak bisa absolutely seragam 100%, namun ideologi dibuat dengan tujuan agar masyarakat mempunyai pemikiran fundamental yang sama. Amerika, rata-rata negara eropa barat dan juga Singapore (negara lainnya mungkin juga ada), mempunyai ideologi Liberal, atau berpikir bebas. Dari ideologi liberal ini memang mencerminkan suatu proses yang benar-benar dialektis. Kebebasan berpikir akan membuat proses dialektis dalam perkembangan masyarakat menjadi dinamis, sedangkan ideologi dogmatis akan menghentikan/melambatkan proses perkembangan masyarakat, karena pada prinsipnya masyarakat mengalami keterkekangan berpikir, sehingga secara fundamental akan berpikiran sama, sehingga membentuk masyarakat yang cenderung statis (perkembangan lambat) Kiranya inilah yang terjadi di Indonesia, saya kaji dari perspektive hukum berpikir logis dan dialektis, ideologi pancasila dan agama merupakan ideologi statis, ideologi keterkekangan, sila utamanya mengandung makna bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, makna ini bagi saya sudah menunjukan keterkekangan/dogmatisme pikiran. Ideologi pancasila dan agama lebih menunjukan sebagai ideologi logika/dogmatis/keterkekangan dan jauh daripada hukum berpikir dialektika/dialog. Untuk itu kiranya tidak heran apabila perkembangan masyarakat di Indonesia lambat, dan juga selalu terjadi krisis kepemimpinan yang berkualitas. Seorang besar/pemimpin besar akan lahir dari proses molekular berpikir yang dinamis didalam masyarakat. Apabila masyarakat mempunyai kebebasan berpikir yang dialektis/dialog, maka terjadi proses perkembangan masyarakat yang dinamis dan tumbuh dengan cepat, dan akan muncul pemikir-pemikir besar yang kreatif akibat proses molekular dialektis didalam perkembangan masyarakat. Sehingga, saya menyimpulkan bahwasanya pemimpin besar adalah pemimpin yang bisa melahirkan pemimpin yang lebih besar lagi, dan bukannya pemimpin yang hanya besar karena dirinya sendiri saja lalu tidak melahirkan proses kepemimpinan yang berkesinambungan/estafet kepemimpinan. Pemimpin besar akan mampu meletakan dasar-dasar fondasi pemikiran masyarakat/peradaban dengan tepat, pemimpin besar akan meletakan ideologi yang tepat bagi masyarakatnya dari zaman ke zaman mengikuti gerak perubahan, dan dari ideologi/dasar pemikiran masyarakat tersebut lahir lagi pemimpin yang lebih besar, demikian terus menerus yang harus berkesinambungan/terjadi estafet kepemimpinan. Dalam hal ini, mohon maaf saya menilai Soekarno bukan pemimpin besar, karena pemimpin besar akan selalu bisa melahirkan pemimpin yang lebih besar lagi bagi masa depan, atau melahirkan tongkat estafet kepemimpinan yang lebih kuat dan berkarakter sesuai tantangan zaman dan masalah-masalah yang dihadapi di jamannya. Mohon maaf pula, saya menyanjung pemimpin pendiri Soviet, Lenin dilanjutkan oleh Stalin, meski Stalin dianggap sebagai penghancur dialektika Lenin, tapi Stalin punya jasa besar menghentikan perang dunia ke dua, kemudian melahirkan Nikita Khruschev yang membentuk Uni Soviet menjadi 15 negara, sampai saat ini mereka punya Vladimir Putin yang menjadi person of the year majalah Time di tahun 2008 Demikian juga di China, dari Mao, menjadi Deng Xiaoping yang tidak hanya punya karakter sendiri, tapi juga menegasi revolusi budaya Mao, dan juga memberikan sinthesis sejarah dari dasar-dasar prinsip dialektika yang dibangun Mao, hingga proses sejarah melahirkan Jiang Zemin, dan kemudian berlanjut ke Hu Jin Tao, sebagai seorang pemimpin yang berpengaruh nomor 2 di dunia setelah Barrack Obama versi majalah Time 2009. (majalah Time 2009, Barrack Obama, Hu Jin Tao, Vladimir Putin) Demikian pula, pemimpin cerdas akan bisa melahirkan pemimpin yang lebih cerdas lagi dari zaman ke zaman mengikuti gerak perubahan Sekali lagi, di Indonesia akan terjadi proses perkembangan masyarakat yang statis dan kelangkaan kepemimpinan yang berkualitas akibat macetnya proses dialektis/dialogis/kebebasan berpikir masyarakatnya, ini semua akibat ideologi yang dogmatis/statis/tidak fleksibel/kaku/keterkekangan. Jadi, tidak ada gunanya bermimpi datangnya ratu adil, tidak ada gunanya bermimpi lahirnya Soekarno baru, tapi membuat sistem masyarakat yang dialektis dan mampu menciptakan proses molekular bagi lahirnya generasi-generasi baru yang cerdas, kreatif, sosialis, dan berkarakter akan lebih tepat bagi kemajuan Indonesia. Disini boleh dikatakan kalau Indonesia tidak bisa melahirkan pemimpin besar lagi, maka peletak dasar ideologi-nya-lah yang pantas dipertanyakan Mengapa ideologi yang disusunnya tidak mampu melahirkan proses molekular bagi generasi-generasi yang kreatif, cerdas, sosialis dan berkarakter??? *** Sub Judul: Tuhan dan sejarah Indonesia dengan ideologi pancasila, dan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, selanjutnya dijelaskan bahwa rakyat Indonesia harus bertakwa kepada Tuhan, merupakan prinsip dasar berpikir masyarakat indonesia. Mayoritas rakyat indonesia beragama islam, dan juga agama abraham (kristen), Di Eropa, setelah muncul filsuf-filsuf besar semacam Spinoza, Ludwig Feuerbach, Nietzsche, atau pemikir besar semacam Blaise Pascal, Descartes, dan sampai Karl Marx mengungkap proses gerak sejarah, yang didalam ilmu sosial disebut sebagai Histori Materi, maka kita coba gunakan analisa methode Karl Marx terhadap agama. Agama ibrahim mengkonsepsikan alam semesta berumur 10.000 tahun, sedangkan ilmu pengetahuan mengatakan alam semesta dan bumi berumur jutaan tahun. Jadi disini sebenarnya Tuhan yang melahirkan sejarah, ataukah sejarah yang melahirkan Tuhan? Siapa yang menjadi ibu kandung? sejarah duluan atau tuhan duluan? ternyata sebelum ada agama abraham, telah ada peradaban sebelum masehi dan sudah ada pemikir-pemikir materialisme seperti Epicurus ataupun Demokritus. Selain itu juga kepercayaan lama terhadap kepercayaan supernatural bahwasanya pengendali alam semesta (tuhan) dipersepsikan sebagai batu, pohon, matahari (agama shinto), patung, dan lain sebagainya artinya pengertian/persepsi tuhan-pun berubah dari jaman-ke-jaman/peradaban artinya pengertian/persepsi ketuhanan-pun mengalami dialektika pemikiran dari jaman ke jaman. Indonesia sendiri dalam penulisan sejarah mempunyai nenek moyang yang mempercayai animisme dinamisme, sampai kemudian Hindu (majapahit) diimport dari India, dan juga Buddha (Sriwijaya), lalu kemudian datang agama islam, dan agama kristen yang dibawa oleh Belanda. ternyata, peradaban indonesia-pun mengalami proses sejarah dalam mempersepsikan tuhan, mulai dari animisme-dinamisme hingga islam dan kemudian berlanjut ke kristian. jadi disini masalahnya jelas, bahwa sejarahlah yang melahirkan konsep ketuhanan dan juga sejarahlah yang melahirkan dialektika pemikiran. kalau kita tracking lagi, maka sejarah alamlah yang membuat sejarah peradaban/budaya masyarakat. contoh: Kita disini tidak mengenal baju musim dingin, karena di Indonesia berada di wilayah tropis, tapi saya harus membelikan anak saya baju musim dingin ketika musim dingin di Russia, dan juga membelikan baju musim panas ketika musim panas di eropa. kalau kita tracking lagi, dari mana asalnya sejarah alam, maka saya tuntaskan pemikiran Karl Marx, bahwa sejarah alam bergantung kepada sejarah materi, artinya hukum-hukum fisika yang ada di bumi ini akibat/karena materi penyusun bumi. Besar gravitasi bumi mengakibatkan cahaya bisa merambat, suara bisa merambat, hal ini tidak berlaku di blackhole yang mana para fisikawan mendefinisikan kuatnya gravitasi di blackhole menyebabkan cahaya tidak bisa lewat. Seandainya cahaya tidak bisa lewat di bumi ini, maka segala budaya, peradaban dan cara berpikir manusia tentu akan berubah semua dan tidak bisa sama seperti saat ini yang terjadi bagaimana anda bisa menikmati gambarnya jenna jamison atau miyabi kalau cahaya tidak bisa merambat di bumi? *** Sub Judul: Hubungan Materi dan Immateri Pokok pembahasan yang seru adalah mencari jawab bagaimana hubungan materi dan immateri. Hal ini sudah berlangsung lama dan terjadi diskusi seru oleh para filsuf eropa. Descartes menyatakan ada dualisme antara materi (body) dan immateri (mind) yang merupakan entitas terpisah. Namun pemikir-pemikir materialisme, terutama penjelasan VI Lenin, bahwasanya immateri itu akibat proses materi, bahwasanya materilah yang menjadi ibu kandung immateri, bahwasanya immateri itu tidak bisa ada tanpa materi. Jelas sekali disebutkan oleh VI Lenin, tidak ada materi tanpa kekuatan/force/gerakan dan juga tidak ada kekuatan/gerak/force tanpa didahului oleh adanya materi. Keduanya menyatu, namun materilah sumber hakekatnya (sumber penyebab), artinya kekuatan/force/gerakan itu tergantung dari materinya, dan bukan materinya yang tergantung dari immateri. Pembuktiannya gampang saja.. 1. Anda punya kesadaran. Anda boleh mengatakan bahwa kesadaran anda terpisah dari materi badan anda/tubuh anda/body Tapi ketika saya pukulkan batu kekepala anda, kesadaran anda bisa hilang. 2. Anda saat ini tidak kuat mengangkat beban 60 KG, karena otot anda kecil. Lalu anda latihan penguatan otot, dan otot anda membesar, setelah otot anda membesar lalu anda mampu mengangkat beban 60 KG. 3. Anda tidak bisa berpikir menyebabkan tubuh anda terpisah, misal berpikir tangan anda putus lalu tangan anda benar-benar putus. Yang bisa terjadi adalah anda berpikir tangan anda putus, lalu mengambil pedang, yang mana pedang itu adalah materi, lalu pedang itu memutus tangan anda. 4. Anda tidak bisa hanya berpikir lalu membuat sebuah mobil bergerak, bisanya adalah anda berpikir lalu mengemudikan/menyetir mobil sehingga bisa bergerak. jelas dari 4 contoh ini, maka materilah yang mempengaruhi immateri/kekuatan/gerak/force, dan immateri tidak bisa mempengaruhi materi, atau artinya segala gerakan atau segala pikiran atau segala perubahan immateri itu AKIBAT dari perubahan/dialektika materi/proses gerak materi. Dalam hal ini pemikir materialisme neuron menjelaskan bahwa kesadaran atau pikiran merupakan gerak reaksi kimiawi dari neuron. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
