Histori Materi (analisa proses berpikir)

http://alexarussia.blog.friendster.com/2010/09/histori-materi-analisa-proses-berpikir/

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Berikut adalah pemikiran saya terhadap proses berpikir manusia

Pemikiran saya ini terutama dipengaruhi oleh pemikiran Karl Marx yang menurut
saya sangat brillian dalam mengungkap hukum berpikir yang disebut histori materi

Pada mulanya, eropa yang lama dilanda oleh ideologi supernatural kristen,
pemikir-pemikirnya menggunakan konsep kristen dalam memandang alam semesta.

Sampai terjadi penemuan heboh dari Charles Darwin yang inti dari pemikirannya
adalah evolusi alam/gerak alam yang naturalism.

Kemudian dilanjutkan oleh Ludwig Feuerbach atau Leo Tolstoy yang mendaratkan
teologi kristian, bahwa manifestasi ketuhanan harus berbentuk nyata dalam
nilai-nilai kemanusiaan

Hegel mengenalkan hukum dialektika atau hukum berpikir. Menurut Hegel, manusia
berpikir secara logis/lurus dan dialektis

Hukum berpikir logis adalah hukum persamaan identitas A equal dengan A, A=A

sedangkan hukum berpikir dialektis adalah hukum berpikir yang mempunyai 3 hal
pokok yang berdiri atas 1 hukum utama

1 hukum utama adalah hukum yang paling pasti adalah perubahan (ini diambil dari
filsuf Heraclitus)

selanjutnya berdiri 3 hukum turunan yaitu

a. hukum berpikir kontradiktif, unity of opposite (versi dari VI Lenin), A
bertemu B menjadi C, dan selanjutnya C mengalami kontradiktif dengan D menjadi
E, dan seterusnya

b. hukum perubahan kuantitas menjadi kualitas dan vice versa

c. hukum saling menegasi (negation der negation)

Histori materi boleh kita definisikan kedalam pseudoscience, dan akan saya
jelaskan mengapa hukum ini terdefinisi dalam pseudoscience.

Science, terutama natural science, mempunyai kerangka methodologis yang sangat
reduktif namun sangat akurat/akurasinya tinggi sekali.(methodologi sains dibuat
untuk konsistensi akurasi kebenarannya, semakin reduktif maka akurasinya akan
semakin tinggi)

Hukum gravitasi, bisa saya buktikan secara empiris, saya lempar batu jatuh
kebawah, anda lempar batu jatuh kebawah, jenna jamison lempar dildo, juga jatuh
kebawah, semuanya terverifikasi secara empiris.

Namun hukum gerak, hukum berpikir, dan evolusi, hanya bisa dicapai dengan
pemahaman berpikir hukum gerak alam itu sendiri.

Saya contohkan:

Menurut penelitian, DNA manusia dan chimpanze adalah identikal, lalu dari
rasio/methode berpikir kita…bisa disimpulkan bahwa manusia dan chimpanze
mempunyai nenek moyang yang sama.

Untuk membuktikannya secara empiris adalah hal yang tidak mungkin karena kita
terikat hukum gerak waktu dan perubahan,

contoh hukum gerak perubahan dan waktu adalah

detik 1, komposisi sel tubuh kita bervariable x+10

akibat komposisi sel detik 1, maka detik 2 komposisi sel tubuh kita mengalami
variable x+9,

akibat komposisi sel detik 2, maka detik 3 komposisi sel tubuh kita mengalami
variable X+11

ini hukum gerak sebab mengakibatkan sebab, dan tidak mungkin terulang.

Jadi, hukum evolusi hanya bisa dipahami/dicapai melalui methodologi rasio/logika
dan methodologi berpikir dialektika

Manusia dan chimpanze mempunyai nenek moyang yang sama, disimpulkan dari
rasio/logika manusia yang berpikir secara hukum persamaan, tepatnya
persamaan/kemiripan DNA, dan hukum gerak dialektika, bahwa karena ada perubahan,
maka DNA manusia dan chimpanze mengalami perbedaan sedikit/minor sekian prosen
(5% ???), dan persamaan banyak/mayor (95% ???)

***

Kembali kepada hukum berpikir yang dikenalkan oleh George Wilhelm Hegel, dalam
science of logic, yaitu ada proses berpikir logis/persamaan dan
dialektis/perubahan.

Disini masalahnya adalah GW Hegel mendasarkan pemikirannya berdasarkan konsep
ketuhanan.

Hegel mengatakan bahwa alam semesta adalah buah pikir manusia, atau alam semesta
itu adalah absolut idea…atau ada batu didepan anda itu karena pikiran anda
sendiri.

Karl Marx, yang telah terinspirasi dari pemikiran Charles Darwin dan Ludwig
Feurbach, yang prinsipnya mengatakan bahwa alam bergerak secara natural,
mengadopsi pemikiran Hegel tentang logika dan dialektika, namun membuang
pemikiran metaphysic Hegel yang mengatakan bahwa alam merupakan buah pikir
manusia, dan buah pikir manusia merupakan entitas turunan Tuhan (roh).

Jadi Karl Marx mengkombinasikan dua pemikiran, yaitu logika dan dialektika, dan
pemikiran materialisme/naturalisme, dan menjadi dialektika (logika) materi.

disini Karl Marx punya sumbangan pemikiran yang brillian, bahwa sesungguhnya
pemikiran manusia itu adalah naturalism…atau tepatnya pemikiran manusia itu
disusun oleh obyek-obyek alam semesta.

Kita mempunyai indera sebagai device input, sehingga dari indera-indera itu kita
mengetahui segala informasi, dan informasi yang kita terima bersarang di otak
(menurut definisi ilmu pengetahuan saat ini bahwa otaklah alat untuk menyimpan
informasi)

***

Sekarang mari kita perhatikan hukum berpikir dan mari kita lakukan analisa

azas utama hukum berpikir adalah:

Segala pikiran kita terkontruksi oleh obyek alam.

selanjutnya

Kita ingat bahwa menurut hukum berpikir dialektika, manusia bisa berpikir
kontradiktif, dan saling menegasikan pikiran

Contoh:

Banyak orang mempertanyakan kepada saya, mengapa orang mendiskusikan tentang
Tuhan.

Artinya Tuhan itu ada di pikiran manusia, mengapa bisa terjadi…???

Kita landaskan kepada analisa Karl Marx: Segala pikiran kita terkontruksi oleh
obyek material alam. Yang diluar otak manusia disebut matter dan yang didalam
otak manusia disebut idea, namun idea merupakan refleksi dari matter.

Artinya kalau tuhan ada di pikiran kita maka tuhan adalah obyek material alam.

Mari kita track darimana saya tahu dan berpikir tentang Tuhan per definisi…

a. bisa dari kitab suci agama

b. bisa dari buku lainnya

c. dari orang tua saya

d. dari orang-orang sekeliling saya

c. lain-lain

mari kita track lagi…

a. orang tua saya dari buyut saya

b. buku dari penulisnya, penulisnya bisa dari buku lain, penulis buku lain bisa
dari buyutnya

c. orang sekeliling saya bisa mendapatkan informasi dari buku atau leluhurnya

proses tracking ini disebut sebagai histori, dan yang namanya history berasal
dari materi.

Selanjutnya untuk melakukan tracking history agama semitik mudah saja,

Islam menurut kajian orientalis barat yang menggunakan analisa history materi
(Luling, Wansbrough, Luxenberg???), berasal dari pemikiran-pemikiran agama
nasrani, saat ini disimpulkan bahwasanya pemikiran-pemikiran Mohammad
mirip/secara mayor identikal dengan pemikiran kristen syiria orthodox. Secara
history bisa ditemukan bahwa Siti Khadijah, atau istri Mohammad adalah seorang
Yahudi dan berpikiran kristen syiria, dan juga Waraqah bin Naufal paman Khadijah
diduga beragama kristen syiria orthodox.

Lalu darimana pemikiran kristen berasal, mudah diduga bahwasanya pemikiran
kristen berasal dari pemikiran agama yahudi yang dibawa oleh Musa.

Lalu darimana pemikiran Musa berasal?

Saat ini kajian histori materi menjelaskan bahwa konsep surga neraka/kehidupan
setelah kematian berasal dari Mesir.

Di mesir ditemukan bahwa para Firaun dikubur bersama pengawalnya, agar mereka
menemani ruh para firaun di alam setelah kehidupan.

+++

Kembali kepada masalah darimana asalnya definisi Tuhan…

Firaun mengaku dirinya adalah Tuhan.

Ini syah-syah saja.

Lalu menurut cerita agama:

Musa menegasikan bahwa Firaun bukan Tuhan, dan dirinya di gurun Sinai-lah yang
mendapatkan perintah dari Tuhan

Ini semua wajar sekali menurut perspektive history materi.

Artinya pikiran Musa menegasikan pikiran Firaun.

Dalam hukum berpikir dialektis yang diperkenalkan oleg GW Hegel, ini semuanya
normal-normal dan alamiah saja.

dan bukan sesuatu yang luar biasa, karena memang begitulah hukum berpikir, yaitu
kontradiktif dan saling menegasikan.

Lalu selanjutnya mari kita lanjutkan lebih dalam….

Jesus meneruskan pemikiran Musa, bahwa dialah yang menjadi anak Tuhan, ini juga
normal…tidak ada yang istimewa dari klaim Jesus ini dalam perspektive hukum
berpikir yang dialektis…

selanjutnya…Mohammad menegasikan Jesus bukan anak Tuhan…dan dirinyalah yang
menjadi utusan tuhan yang terakhir dan melanjutkan pemikiran-pemikiran
pendahulunya.

Ini semua artinya Mohammad sendiri juga berpikir secara history materi, karena
dia melanjutkan pemikiran pendahulunya, yang disebut sebagai Abraham/Ibrahim,
Moses/Musa, Jesus/Isa, dan Mohammad melakukan penegasian-penegasian…misal Jesus
bukan anak tuhan dan juga melakukan sinthesis-sinthesis dari pemikiran-pemikiran
pendahulunya yang disebutnya sebagai 24 utusan tuhan sebagai pendahulu.

ini semua wajar dan normal, tidak ada yang istimewa kalau kita mengenal hukum
berpikir dialektis….karena memang hukum berpikir dialektis bekerja seperti itu,
kontradiktif dan saling menegasikan.

selanjutnya mari kita perhatikan cerita ttg Ibrahim/Abraham

Dari histori abraham, disebut peradaban kala itu adalah menyembah patung,
patung-patung disebut sebagai simbolisme kekuatan supernatural pengendali alam.

Lalu oleh Abraham dihancurkan

Diikuti juga oleh Mohammad yang menghancurkan patung-patung, alasannya adalah
sesuai dengan history/legenda Ibrahim/Abraham

Jadi bisa ditarik kesimpulan,

bahwasanya secara hukum berpikir dialektis, tuhan/god/kekuatan supernatural pada
awalnya dipersepsikan oleh manusia adalah patung-patung, batu, pohon, atau
kepercayaan animisme dinamisme.

Hindu juga masih mengenal tradisi simbolisme benda-benda materi sebagai kekuatan
supernatural pengendali alam semesta.

Agama Buddha merupakan proses berpikir dialektis dari Sidharta yang secara
historis mendapat pemikiran dari Hindu.

Sidharta juga melakukan proses kontradiktif dan negasi-negasi serta sinthesis
dari pemikiran-pemikiran tradisi Hindu.

Sekali lagi, menurut hukum berpikir dialektika yang diperkenalkan oleh GW Hegel,
ini semuanya wajar, normal, dan menurut Karl Marx adalah ini semua
natural/alamiah sebagai proses berpikir manusia yang kontradiktif dan saling
menegasikan.

***

Jadi secara hukum berpikir dialektis (histori materi) akan coba saya susun dan
urutkan

Firaun: Saya adalah Tuhan

Moses: Anda bukan Tuhan, sayalah yang menerima 10 perintah Tuhan di gurun Sinai

Jesus: Saya adalah anak Tuhan

Mohammad: Jesus bukan anak Tuhan, Tuhan tidak diperanakan, sayalah yang menerima
wahyu Tuhan terakhir

Ini semua merupakan proses dialogis/dialektis yang terikat hukum berpikir
kontradiktif dan saling menegasikan.

Catatan:

saya tidak bisa mengempiriskan proses dialogis diatas, karena proses
dialogis/dialektis diatas adalah proses history/sejarah, tapi uraian saya bisa
anda pertimbangkan apakah masuk akal atau tidak. Kita hanya bisa menilai apakah
hukum berpikir dialektis yang diuraikan oleh GW Hegel ini bisa kita lihat dalam
gerak history/peradaban.

Contoh:

Misal peradaban saat ini berpersepsi A, lalu peradaban berikutnya mengalami
perkembangan persepsi dialektis/dialogis menjadi B, dan kemudian menjadi C,
dst..

atau contoh berikut:

Dahulu belum ada penyakit AIDS, melalui proses interaksi materi ditemukan
penyakit AIDS, melalui proses interaksi materi ditemukan penyakit flu burung,
kemudian bermutasi menjadi flu babi, dan seterusnya…

mutasi akan terjadi karena probabilitas-probabilitas interaksi materi. Kerumitan
interaksi materi yang menimbulkan probabilitas-probabilitas atau
sinthesis-sinthesis materi baru (misal flu burung, flu babi, dst) inilah yang
disebut dialektika materi.

Dalam proses sejarah (histori materi), maka juga terjadi mutasi/perkembangan
pemikiran,

Pemikiran A, akan mengalami mutasi menjadi pemikiran B (setelah terjadi proses
kontradiktif, perubahan kualitas/kuantitas, penegasian), pemikiran B akan
mengalami perkembangan menjadi pemikiran C…dan seterusnya…

***

Sub judul: Menyusun berpikir kreatif

sekali lagi saya tuliskan, bahwa kelebihan orang-orang Yahudi sebenarnya karena
mereka mengenal hukum berpikir, yang logis dan dialektis.

Untuk itu apabila ingin menyusun masyarakat yang bisa berpikir kreatif, maka
kebebasan berpikir logis dan dialektis adalah keharusan.

Berpikir dogmatis adalah penghalang berpikir kreatif, namun berpikir kreatif
juga mesti konstektual…

Kita tidak bisa melakukan berpikir kreatif terhadap kajian ilmiah yang lepas
dari hukum fisika…ketika kita melakukan kajian di ranah ilmiah ilmu alam (mahluk
hidup dan alam semesta), per definisi ilmu pengetahuan maka semua ilmu terapan
terjerat/mematuhi kedalam hukum utama fisika.

Misal kajian ilmiah, karena over kreatif maka landasan berpikirnya adalah kitab
suci..

saya belum pernah tahu ada tulisan ilmiah yang menyebutkan referensi sumbernya
adalah kitab suci… :-)

***

Sub Judul: Bagaimana menjadi pemimpin besar?

Dalam konstektual sebuah bangsa, biasanya diletakan sebuah ideologi. Tujuan
ideologi ini agar masyarakat berpikiran seragam, meski pemikiran setiap orang
tidak bisa absolutely seragam 100%, namun ideologi dibuat dengan tujuan agar
masyarakat mempunyai pemikiran fundamental yang sama.

Amerika, rata-rata negara eropa barat dan juga Singapore (negara lainnya mungkin
juga ada), mempunyai ideologi Liberal, atau berpikir bebas.

Dari ideologi liberal ini memang mencerminkan suatu proses yang benar-benar
dialektis. Kebebasan berpikir akan membuat proses dialektis dalam perkembangan
masyarakat menjadi dinamis, sedangkan ideologi dogmatis akan
menghentikan/melambatkan proses perkembangan masyarakat, karena pada prinsipnya
masyarakat mengalami keterkekangan berpikir, sehingga secara fundamental akan
berpikiran sama, sehingga membentuk masyarakat yang cenderung statis
(perkembangan lambat)

Kiranya inilah yang terjadi di Indonesia, saya kaji dari perspektive hukum
berpikir logis dan dialektis, ideologi pancasila dan agama merupakan ideologi
statis, ideologi keterkekangan, sila utamanya mengandung makna bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, makna ini bagi saya sudah menunjukan
keterkekangan/dogmatisme pikiran.

Ideologi pancasila dan agama lebih menunjukan sebagai ideologi
logika/dogmatis/keterkekangan dan jauh daripada hukum berpikir
dialektika/dialog.

Untuk itu kiranya tidak heran apabila perkembangan masyarakat di Indonesia
lambat, dan juga selalu terjadi krisis kepemimpinan yang berkualitas. Seorang
besar/pemimpin besar akan lahir dari proses molekular berpikir yang dinamis
didalam masyarakat. Apabila masyarakat mempunyai kebebasan berpikir yang
dialektis/dialog, maka terjadi proses perkembangan masyarakat yang dinamis dan
tumbuh dengan cepat, dan akan muncul pemikir-pemikir besar yang kreatif akibat
proses molekular dialektis didalam perkembangan masyarakat.

Sehingga, saya menyimpulkan bahwasanya pemimpin besar adalah pemimpin yang bisa
melahirkan pemimpin yang lebih besar lagi, dan bukannya pemimpin yang hanya
besar karena dirinya sendiri saja lalu tidak melahirkan proses kepemimpinan yang
berkesinambungan/estafet kepemimpinan.

Pemimpin besar akan mampu meletakan dasar-dasar fondasi pemikiran
masyarakat/peradaban dengan tepat, pemimpin besar akan meletakan ideologi yang
tepat bagi masyarakatnya dari zaman ke zaman mengikuti gerak perubahan, dan dari
ideologi/dasar pemikiran masyarakat tersebut lahir lagi pemimpin yang lebih
besar, demikian terus menerus yang harus berkesinambungan/terjadi estafet
kepemimpinan.

Dalam hal ini, mohon maaf…saya menilai Soekarno bukan pemimpin besar, karena
pemimpin besar akan selalu bisa melahirkan pemimpin yang lebih besar lagi bagi
masa depan, atau melahirkan tongkat estafet kepemimpinan yang lebih kuat dan
berkarakter sesuai tantangan zaman dan masalah-masalah yang dihadapi di
jamannya.

Mohon maaf pula, saya menyanjung pemimpin pendiri Soviet, Lenin dilanjutkan oleh
Stalin, meski Stalin dianggap sebagai penghancur dialektika Lenin, tapi Stalin
punya jasa besar menghentikan perang dunia ke dua, kemudian melahirkan Nikita
Khruschev yang membentuk Uni Soviet menjadi 15 negara, sampai saat ini mereka
punya Vladimir Putin yang menjadi person of the year majalah Time di tahun 2008

Demikian juga di China, dari Mao, menjadi Deng Xiaoping yang tidak hanya punya
karakter sendiri, tapi juga menegasi revolusi budaya Mao, dan juga memberikan
sinthesis sejarah dari dasar-dasar prinsip dialektika yang dibangun Mao, hingga
proses sejarah melahirkan Jiang Zemin, dan kemudian berlanjut ke Hu Jin Tao,
sebagai seorang pemimpin yang berpengaruh nomor 2 di dunia setelah Barrack Obama
versi majalah Time 2009. (majalah Time 2009, Barrack Obama, Hu Jin Tao, Vladimir
Putin)

Demikian pula, pemimpin cerdas akan bisa melahirkan pemimpin yang lebih cerdas
lagi dari zaman ke zaman mengikuti gerak perubahan…

Sekali lagi, di Indonesia akan terjadi proses perkembangan masyarakat yang
statis dan kelangkaan kepemimpinan yang berkualitas akibat macetnya proses
dialektis/dialogis/kebebasan berpikir masyarakatnya, ini semua akibat ideologi
yang dogmatis/statis/tidak fleksibel/kaku/keterkekangan.

Jadi, tidak ada gunanya bermimpi datangnya ratu adil, tidak ada gunanya bermimpi
lahirnya Soekarno baru, tapi membuat sistem masyarakat yang dialektis dan mampu
menciptakan proses molekular bagi lahirnya generasi-generasi baru yang cerdas,
kreatif, sosialis, dan berkarakter akan lebih tepat bagi kemajuan Indonesia.

Disini boleh dikatakan kalau Indonesia tidak bisa melahirkan pemimpin besar
lagi, maka peletak dasar ideologi-nya-lah yang pantas dipertanyakan…

Mengapa ideologi yang disusunnya tidak mampu melahirkan proses molekular bagi
generasi-generasi yang kreatif, cerdas, sosialis dan berkarakter???

***

Sub Judul: Tuhan dan sejarah

Indonesia dengan ideologi pancasila, dan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa,
selanjutnya dijelaskan bahwa rakyat Indonesia harus bertakwa kepada Tuhan,
merupakan prinsip dasar berpikir masyarakat indonesia.

Mayoritas rakyat indonesia beragama islam, dan juga agama abraham (kristen),

Di Eropa, setelah muncul filsuf-filsuf besar semacam Spinoza, Ludwig Feuerbach,
Nietzsche, atau pemikir besar semacam Blaise Pascal, Descartes, dan sampai Karl
Marx mengungkap proses gerak sejarah, yang didalam ilmu sosial disebut sebagai
Histori Materi, maka kita coba gunakan analisa methode Karl Marx terhadap agama.

Agama ibrahim mengkonsepsikan alam semesta berumur 10.000 tahun, sedangkan ilmu
pengetahuan mengatakan alam semesta dan bumi berumur jutaan tahun.

Jadi disini sebenarnya Tuhan yang melahirkan sejarah, ataukah sejarah yang
melahirkan Tuhan?

Siapa yang menjadi ibu kandung? sejarah duluan atau tuhan duluan?

ternyata sebelum ada agama abraham, telah ada peradaban sebelum masehi dan sudah
ada pemikir-pemikir materialisme seperti Epicurus ataupun Demokritus. Selain itu
juga kepercayaan lama terhadap kepercayaan supernatural bahwasanya pengendali
alam semesta (tuhan) dipersepsikan sebagai batu, pohon, matahari (agama shinto),
patung, dan lain sebagainya…

artinya pengertian/persepsi tuhan-pun berubah dari jaman-ke-jaman/peradaban

artinya pengertian/persepsi ketuhanan-pun mengalami dialektika pemikiran dari
jaman ke jaman.

Indonesia sendiri dalam penulisan sejarah mempunyai nenek moyang yang
mempercayai animisme dinamisme, sampai kemudian Hindu (majapahit) diimport dari
India, dan juga Buddha (Sriwijaya), lalu kemudian datang agama islam, dan agama
kristen yang dibawa oleh Belanda.

ternyata, peradaban indonesia-pun mengalami proses sejarah dalam mempersepsikan
tuhan, mulai dari animisme-dinamisme hingga islam dan kemudian berlanjut ke
kristian.

jadi disini masalahnya jelas, bahwa sejarahlah yang melahirkan konsep ketuhanan

dan juga sejarahlah yang melahirkan dialektika pemikiran.

kalau kita tracking lagi, maka sejarah alamlah yang membuat sejarah
peradaban/budaya masyarakat.

contoh:

Kita disini tidak mengenal baju musim dingin, karena di Indonesia berada di
wilayah tropis, tapi saya harus membelikan anak saya baju musim dingin ketika
musim dingin di Russia, dan juga membelikan baju musim panas ketika musim panas
di eropa.

kalau kita tracking lagi, dari mana asalnya sejarah alam, maka saya tuntaskan
pemikiran Karl Marx, bahwa sejarah alam bergantung kepada sejarah materi,
artinya hukum-hukum fisika yang ada di bumi ini akibat/karena materi penyusun
bumi. Besar gravitasi bumi mengakibatkan cahaya bisa merambat, suara bisa
merambat, hal ini tidak berlaku di blackhole yang mana para fisikawan
mendefinisikan kuatnya gravitasi di blackhole menyebabkan cahaya tidak bisa
lewat.

Seandainya cahaya tidak bisa lewat di bumi ini, maka segala budaya, peradaban
dan cara berpikir manusia tentu akan berubah semua dan tidak bisa sama seperti
saat ini yang terjadi…

bagaimana anda bisa menikmati gambarnya jenna jamison atau miyabi kalau cahaya
tidak bisa merambat di bumi?

***

Sub Judul: Hubungan Materi dan Immateri

Pokok pembahasan yang seru adalah mencari jawab bagaimana hubungan materi dan
immateri.

Hal ini sudah berlangsung lama dan terjadi diskusi seru oleh para filsuf eropa.

Descartes menyatakan ada dualisme antara materi (body) dan immateri (mind) yang
merupakan entitas terpisah.

Namun pemikir-pemikir materialisme, terutama penjelasan VI Lenin, bahwasanya
immateri itu akibat proses materi, bahwasanya materilah yang menjadi ibu kandung
immateri, bahwasanya immateri itu tidak bisa ada tanpa materi.

Jelas sekali disebutkan oleh VI Lenin, tidak ada materi tanpa
kekuatan/force/gerakan dan juga tidak ada kekuatan/gerak/force tanpa didahului
oleh adanya materi.

Keduanya menyatu, namun materilah sumber hakekatnya (sumber penyebab), artinya
kekuatan/force/gerakan itu tergantung dari materinya, dan bukan materinya yang
tergantung dari immateri.

Pembuktiannya gampang saja..

1. Anda punya kesadaran. Anda boleh mengatakan bahwa kesadaran anda terpisah
dari materi badan anda/tubuh anda/body

Tapi ketika saya pukulkan batu kekepala anda, kesadaran anda bisa hilang.

2. Anda saat ini tidak kuat mengangkat beban 60 KG, karena otot anda kecil. Lalu
anda latihan penguatan otot, dan otot anda membesar, setelah otot anda membesar
lalu anda mampu mengangkat beban 60 KG.

3. Anda tidak bisa berpikir menyebabkan tubuh anda terpisah, misal berpikir
tangan anda putus lalu tangan anda benar-benar putus.

Yang bisa terjadi adalah anda berpikir tangan anda putus, lalu mengambil pedang,
yang mana pedang itu adalah materi, lalu pedang itu memutus tangan anda.

4. Anda tidak bisa hanya berpikir lalu membuat sebuah mobil bergerak, bisanya
adalah anda berpikir lalu mengemudikan/menyetir mobil sehingga bisa bergerak.

jelas dari 4 contoh ini, maka materilah yang mempengaruhi
immateri/kekuatan/gerak/force, dan immateri tidak bisa mempengaruhi materi, atau
artinya segala gerakan atau segala pikiran atau segala perubahan immateri itu
AKIBAT dari perubahan/dialektika materi/proses gerak materi.

Dalam hal ini pemikir materialisme neuron menjelaskan bahwa kesadaran atau
pikiran merupakan gerak reaksi kimiawi dari neuron.




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke