Refleksi : Agaknya ada perbedaan hak dan status kehormatan kewargeneraan NKRI, hal ini bisa dilihat antara mereka yang berdiam di Mesir, Tunisia dan yang disebut Pahlawan Devisa dikolong jembatan di Tanah Suci, Arab Saudia. Perkembangan akhir-akhir ini di Mesir dan Tunisia membuat rezim SBY memulangkan warganegaranya dari kedua negeri ini, tetapi yang terlunta-lunta berbulan-bulan bahkan mungkin juga tahunan dibiarkan. SBY dengan gagah menjemput para pengungsi dari Mesir dan Tunisa. Apabila mereka bisa dipulangkan, apakah mereka juga akan dijemput oleh SBY dengan senyum disertai ucapan:"Selamat datang, syukuralhamdulilah Anda sekalian telah tiba kembali tanah tumpah darah yang tercinta?"
Bagi para TKI jangan dilupakan kata-kata mutiara : "habis manis sepah dibuang" begitulah keadaannya bagi pahlawan devisa yang dengan keringat dan airmata dan kadangkala pula dengan nyawa menymbangkan kurang lebih US$7 miliar dollar untuk cadangan devisa rezim berkuasa tiap tahun. http://www.gatra.com/artikel.php?id=145297 TKI Mereka Terpuruk di Kolong Jembatan Selama beberapa bulan bekalangan ini, Sucipto berusaha bertahan hidup di kolong Jembatan Kandarah, Jeddah, Arab Saudi. Lelaki 50 tahun asal Tulungagung, Jawa Timur, itu hanya bisa meratapi nasibnya yang terlunta-lunta di negeri orang. "Saya gagal bekerja di sini (Arab Saudi). Mau pulang kampung saja," kata Sucipto dengan suara tersendat-sendat menahan tangis. Di kolong jembatan itu, Sucipto tinggal bersama sekitar 200 tenaga kerja Indonesia (TKI) yang berasal dari pelbagai daerah. Kolong Jembatan Kandarah sejak tiga tahun silam, seakan menjadi tempat singgah bagi TKI yang telantar di Arab. Awalnya, Sucipto bekerja di Abha, salah kota di Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman. Hampir setahun bekerja, sang majikan hanya memberi gaji sebesar 1.000 real, atau setara dengan Rp 2,5 juta. Merasa dirinya tak dihargai, Sucipto minggat dari tempat kerjanya, pindah ke Jeddah. Ia kerja serabutan. Peruntungannya selama dua tahun di Jeddah hanya cukup untuk bertahan hidup. Karena itulah Sucipto memilih tinggal di kolong jembatan bersama ratusan TKI lainya. Di penampungan liar itu, para TKI tidur beralaskan tikar dan beratap jalan layang. Mereka yang sudah hidup berbulan-bulan, bahkan tahunan, itu terdiri atas orang dewasa dan anak-anak. Sebagian besar tinggal dengan mendirikan tenda parasut sebagai rumah dadakannya. Masing-masing berkumpul dan membuat blok-blok tersendiri. Setiap blok, secara tidak ketat, dikoordinasi oleh seorang penanggung jawab (mas`ul). Kehadiran mereka di bawah jembatan itu karena berbagai persoalan. Misalnya, Imas, 27 tahun, harus melarikan diri dari tempat kerjanya sebagai pembantu rumah tangga di wilayah Jeddah, karena tingkah pola sang majikan yang tidak sopan. Menurut wanita asal Cianjur, Jawa Barat, itu, majikannya kerap berbuat tidak senonoh kepadanya. "Majikan saya selalu berupaya menggerayangi tubuh saya," kata Imas. Padahal, dengan majikan sebelumnya Imas bisa bekerja dengan baik. Bahkan, dia kini sudah bisa membangun rumah sendiri di kampung halamannya. Namun, pada periode II sebagai TKI, dia merasa tidak nyaman. Karena itulah Imas kabur, walaupun tanpa identitas diri. Semua dokumen miliknya disita oleh majikannya. Imas terpaksa tinggal di kolong jembatan. Pilihannya di tempat itu lantaran bisa hidup bersama dengan bibinya, Titin, 35 tahun, yang lebih dulu melarikan diri dari majikannya. Padahal di penampungan liar itu, kata Titin, situasi dan keadaannya sangat keras dan brutal. Tidak jarang terjadi perkelahian antar blok dan pencurian. "Kalau ada yang berkelahi bisa saling tusuk dan mati," ujar Titin. Selain tindak kriminalitas yang muncul, TKI yang telantar itu juga seringkali merasakan jenuh yang memuncak. Guna menghindari hal itu, Titin dan Imas bekerja sebagai pembantu rumah tangga panggilan. Waktunya hanya separuh hari di rumah yang ditempati oleh orang asing atau pendatang. "Hasilnya hanya cukup untuk bertahan di Jeddah," tutur Titin. Kolong Jembatan Kandarah, kata Titin, adalah satu-satu tempat yang dituju selama di negeri Arab. Sebab dari tempat ini rencana kepulangan ke kampung halamannya di Cianjur, kemungkinan bisa tercapai. Beberapa kali dirinya menerima informasi bahwa para TKI yang tinggal di kolong jembatan akhirnya bisa pulang ke Indonesia tanpa biaya. "Kami berharap ada pihak yang mengangkut dan memulangkan kami ke Indonesia," katanya. Yang mengangkut dan memulangkan itu tak lain dari aparat Pemerintah Arab Saudi. Selama bertahun-tahun mereka mengangkut TKI yang telantar di kolong jembatan. Sebelum dideportasikan ke Indonesia, para TKI terlebih dahulu diidentifikasi. Jika bermasalah secara hukum, maka akan diproses sesuai hukum yang berlaku. Ada pun yang bersih dari kasus kriminalitas, yang bersangkutan akan dimasukan dalam daftar hitam (black list). Kemudian dipastikan tidak akan bisa kembali bekerja di Arab Saudi untuk jangka waktu lima tahun berikutnya. "Jadi yang bisa pulang cepat adalah pendatang yang melebihi batas waktu tinggal (overstayer) non-TKI. Mereka datang untuk umrah atau haji, tapi kemudian mencoba mengadu nasib di sini," kata Abdullah, Staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah. Menurut pengamatan Gatra di lokasi, baik TKI yang melarikan diri dari majikan maupun overstayer, hidup bersama di kolong jembatan. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan. Oleh mas`ul yang baik, mereka akan dipekerjakan ke rumah-rumah penduduk setempat, walaupun tanpa identitas diri. Nasibnya terkadang lebih baik. "Tapi ada juga TKI yang dijual dan dijadikan wanita penghibur," kata seorang mas`ul yang tak mau disebutkan namanya. Yang membahayakan lagi, lanjut mas`ul itu, tidak sedikit oknum yang memancing di air keruh. Bermodalkan kenal dekat dengan aparat imigrasi, oknum dari sipil dan pegawai setempat memasang tarif 500 hingga 800 real bagi TKI yang ingin segera diangkut dari kolong jembatan. Yang tidak mampu bayar, ya, pasrah menunggu giliran pengangkutan gratis yang waktunya sangat jarang. "Sampai sekarang tidak ada satu pun pejabat berwenang (KBRI) yang menjenguk kami," kata salah seorang TKI. Menurut penilaian Abdullah, persoalan TKI di kolong jembatan itu tidak akan pernah selesai. "Sebanyak 200 orang diangkut, maka akan datang lagi 200 orang berikutnya, bahkan lebih. Mereka masuk dan keluar tanpa muara yang jelas," katanya. Pernyataan Abdullah ini berdasarkan data pemulangan TKI yang telantar. Bulan Januari lalu saja mencapai 1.400 orang. "Sudah kita pulangkan berkali-kali, tetap saja kolong Jembatan Kandarah tak pernah sepi," ujar Abdullah. Meski begitu, pihaknya terus berupaya maksimal untuk memulangkan para TKI yang telantar di kolong jembatan. Hal itu sejalan dengan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar. Menurut Muhaimin, pemerintah sudah menyiapkan tiga cara untuk memulangkan TKI di kolong jembatan. Yakni, pemulangan melalui kerja sama perusahaan asuransi dengan PPTKIS (Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta), melalui Pemerintah Arab Saudi dengan sistem deportasi. Juga dengan cara pemulangan rutin oleh Pemerintah Indonesia. "Dalam waktu dekat ini akan ada pemulangan khusus TKI perempuan yang hamil, anak-anak, TKI berusia lanjut, dan yang menderita sakit," kata Muhaimin. Ia menyebutkan jumlah TKI overstayer yang dideportasi dari Jeddah setiap tahunnya mencapai 20.000 orang. Yang di kolong jembatan itu tersisa sekitar 200 orang. "Kalaupun masih ada permasalahan yang terjadi, kami butuh bantuan dari berbagai pihak. Karena masih banyak TKI di Arab Saudi yang dokumennya tidak lengkap. Kita harus hati-hati terhadap sindikat yang memanfaatkan pemulangan TKI," Muhaimin menegaskan. Dalam pemantauan Anis Hidayah, Direktur Eksekutif Migrant Care, permasalahan TKI itu memang beragam. Ada yang disiksa dan dibuang oleh majikannya, tidak dibayar gajinya, dan jadi korban perkosaan. Bahkan, ada anak kecil yang sakit dan tidak mampu berobat karena sudah ditinggalkan bapaknya lebih dahulu. Pada tahun 2009, ditemukan TKI yang sakit dan akhirnya meninggal dunia. Menurut Anis, sebetulnya beberapa TKI telah melaporkan kasus yang dialaminya kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Arab Saudi. Tapi mereka selalu tak direspons, walau sudah bolak-balik melapor. Bahkan pihaknya berkali-kali sudah bertemu dengan pemerintah. Tapi, pemerintah masih enggan memulangkan dengan alasan TKI itu tak berdokumen dan sengaja menelantarkan diri. Untuk membantu TKI, kami menggelar gerakan aksi Rp 1.000 untuk TKI. Kini sebagian sudah terkumpul," kata Anis. Realisasi gerakan itulah yang ditunggu Sucipto dan ratusan TKI lainnya yang terpuruk di kolong Jembatan Kandarah, Jeddah. Terlebih, rencana Pemerintah Indonesia yang akan memulangkan mereka dalam waktu dekat. "Saya kapok kerja di Arab. Semoga saya bisa cepat pulang ke Indonesia," Sucipto berharap. Deni Muliya Barus, Rach Alida Bahaweres, dan Nordin Hidayat (Jeddah) [Nasional, Gatra Nomor 13 Beredar Kamis, 3 Februari 2011] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
