Refleksi : Apakah kurang uang lauk pauk jadi kurang makan makanan bergizi akibatnya badan lemas untuk melakukan tugas. Jangan dilupakan bahwa dalam cerita kekuasaan Raja Bohong banyak manuver politik konyol dilakuan, antara lain kekerasan dicipatkan oleh badan intelejennya untuk menarik perhatian umum dari masalah ekonomi dan sosial yang membebani kehidupan masyarakat sehari-hari.
http://www.fajar.co.id/read-20110209012430-intelijen-lemas-kekerasan-meluas- Rabu, 09 Februari 2011 | 01:24:29 WITA | 35 HITS Intelijen Lemas, Kekerasan Meluas Giliran Temanggung Dilanda Amuk Massa REUTERS AMARAH MASSA. Polisi menjaga warga yang berkumpul di depan sebuah gereja di Temanggung, Jawa Tengah, Selasa, 8 Februari. Ratusan orang turun ke jalan untuk memprotes keputusan hakim terhadap kasus penistaan agama. JAKARTA -- Kerusuhan Temanggung yang terjadi hanya selang dua hari setelah penyerangan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, dinilai sebagai bukti lemahnya intelijen kepolisian. Polisi dianggap gagal membaca pergerakan massa yang berujung tindakan brutal dan barbar. "Kami menyesalkan insiden demi insiden terjadi. Mustahil kalau intelijen (kepolisian) tidak tahu," kata pengacara senior Todung Mulya Lubis di kantor Wahid Institute, Jakarta, Selasa 8 Februari. Todung berharap Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengevaluasi jajarannya secara total. Terutama soal intelijen yang menjadi "mata" pertama Kapolri. "Kejadian di Cikeusik dan Temanggung telah mencoreng nama baik Indonesia di mata dunia. Polri sebagai aparat negara gagal memberikan rasa aman," kritik aktivis Transparency International Indonesia tersebut. Koodinator Komisi untuk Orang Hilang dan Kekerasan (Kontras) Haris Azhar sependapat dengan Todung. "Intelijen polisi lemas (loyo). Akibatnya, kekerasan meluas dan masif," katanya. Seharusnya, begitu dapat informasi awal soal potensi kekerasan, intelijen Polri segera melaporkan temuannya pada pimpinan dan diantisipasi. "Kami melihat ada kesan pembiaran. Aparat ada di lapangan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa," lanjut lulusan University Essex, London, Inggris, itu. Dari catatan Kontras, kekerasan yang melibatkan massa terorganisasi beberapa kali gagal diantisipasi polisi. Misalnya, rusuh di Koja, Tanjung Priok; rusuh dalam sidang Blowfish di PN Jakarta Selatan; dan sekarang kasus Cikeusik dan Temanggung. "Fungsi intelijen yang lemah, ditambah strategi pengelolaan keamanan di lapangan yang kurang profesional, membuat rusuh seperti itu terus terjadi," terang dia. Padahal, dia menyebut, dari tren kekerasan yang terjadi, polanya selalu terulang. Selain pengerahan orang dalam jumlah besar, muncul komando massa, serta aksi membawa senjata dan terencana. Ketua Setara Institute Hendardi menuding ada aktor intelektual dalam peristiwa yang menewaskan tiga orang tersebut. Pasalnya, tampak ada pembiaran oleh aparat kepolisian. "Ada dugaan ini by design. Ada aktor intelektual dan aktor negara dalam insiden di Cikeusik," tudingnya. Karena itu, Hendardi meminta agar pemerintah dan Komnas HAM mengusut kasus kejahatan HAM itu. Hendardi meminta agar pejabat di Polda Banten, Polres Pandeglang, dan Polsek Cikeusik segera dinonaktifkan untuk mempermudah penyelidikan. "Ini kejahatan serius dan harus diusut secara serius. Pemerintah harus bisa mencari tahu siapa aktor intelektual di baliknya," pintanya. Dia mengingatkan, kebohongan publik yang telah disampaikan para tokoh agama beberapa waktu lalu ternyata terbukti. "Intoleransi dan kekerasan atas nama agama menjadi bukti paling nyata kebohongan pemerintahan SBY," kata Hendardi. Menyikapi amuk massa tiga hari terakhir, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo mengatakan bahwa terjadinya dinamika di lapangan tidak bisa dihindari. Polisi, kata dia, hanya berusaha mengantisipasi segala kemungkinan. "Preventif, pre-emtif. Artinya, informasi awal sebelum pengamanan itu sudah direncanakan, termasuk kekuatan yang disiapkan. Kalau itu terjadi di lapangan, itu dinamika," ujar Timur di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, kemarin. Untuk kasus Temanggung, Kapolri menyatakan telah menugaskan Wakapolri Komjen Pol Jusuf Manggabarani yang memasuki usia pensiun hari ini, Rabu 9 Februari, untuk mengatasinya. Sementara kasus penyerangan jemaah Ahmadiyah Pandeglang, Kapolri menugaskan Irwasum Komjen Pol Nanan Sukarna. Timur menjelaskan, dua kasus yang terjadi dua hari ini akan menjadi bahan evaluasi Polri. Diharapkan, kasus tersebut tidak terulang lagi. "Pengamanan di Pandeglang dan Temanggung akan dievaluasi agar tidak terulang di tempat lain," ucapnya. Polri, imbuh Kapolri, akan fokus mencari akar permasalahan yang terjadi di dua lokasi aksi massa itu. "Agar ke depan tidak terulang. Paling tidak, dapat diminimalkan," ujarnya. Soal tudingan intelijen Polri lemas alias loyo, dengan tegas dibantah oleh Deputi Operasi Kapolri Irjen Pol Soenarko. "Beberapa hari sebelumnya sudah kita antisipasi. Baik yang di Cikeusik maupun di Temanggung," ujarnya kemarin. Di Cikeusik, kata dia, aparat Polsek setempat sudah mengamankan Suparman dan keluarganya untuk mencegah aksi kekerasan. "Kita sudah lakukan upaya preventif . Tapi, memang kondisi di lapangan terjadi dinamika. Di antaranya ada yang datang dari Jakarta (Jemaah Ahmadiyah)," katanya. Soenarko menjelaskan, di Temanggung juga sudah ada antisipasi awal. "Itu kan (reaksi terhadap) vonis (pengadilan). Bahkan, sejak awal sidang aparat kita sudah siap," ujarnya. Namun, karena kondisi di lapangan memanas, polisi juga mengambil langkah sesuai prosedur. "Kami mempertimbangkan psikologi massa. Jika salah bertindak, kejadian bisa tambah buruk. Jadi, yang dilakukan sudah maksimal," akunya. Meski begitu, Soenarko berjanji pihaknya akan melakukan investigasi internal untuk memeriksa standar pengamanan yang dilakukan aparat di lokasi. "Tentu itu akan dilakukan, baik yang di Cikeusik maupun di Temanggung," janjinya. Kabidpenum Mabes Polri Kombespol Boy Rafli Amar menjelaskan, jumlah personel yang dikerahkan Polres Temanggung, Polres Magelang, dan Polda Jateng ternyata kalah dengan jumlah massa berbagai ormas yang datang ke PN Temanggung. "Polri telah menyiapkan 700 personel menghadapi massa yang mengamuk itu," katanya. Polri yang juga ikut membantu pengamanan tidak mau disalahkan karena tidak mengantisipasi massa dengan baik. Menurut Boy, Polri telah berupaya semaksimal mungkin mengatasi. "Keberadaan aparat kepolisian itu sebenarnya mencegah kerusuhan, tapi tentu ada saja orang yang melakukan provokasi. Itu yang akan diusut," jelasnya. Secara terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Nusron Wahid mengutuk insiden pembakaran gereja yang terjadi di Temanggung, Jateng, kemarin. Dia menilai, tindakan tersebut tidak dapat ditoleransi secara hukum dan moral. "Tidak ada ajaran agama apa pun yang memperbolehkan anarki kendati dengan tujuan menjalankan perintah agama sekalipun," tegas Nusron. Negara, ungkap dia, lagi-lagi tidak boleh lemah. Sebab, insiden di Temanggung tersebut merupakan kasus susulan setelah kekerasan berbasis agama yang dialami jemaah Ahmadiyah di Pandeglang, Banten pada Minggu pagi, 6 Februari lalu. "Negara tidak boleh dikalahkan milisi sipil yang anarki dengan dalih dan atas nama apa pun," ujarnya. Nusron lantas meminta presiden mengevaluasi kinerja Kapolri beserta seluruh jajaran kepolisian. Aparat keamanan, sebutnya, seharusnya dapat lebih tegas melindungi warga negaranya. "Polisi itu kan digaji negara. Jangan hanya menjadi penonton kalau ada kejadian genting. Masa kejadian di Pandeglang tidak bisa dijadikan pelajaran bagi polisi," terang anggota DPR dari Partai Golkar itu. Di sisi lain, PP GP Ansor telah memerintahkan jajarannya dan Banser di kawasan Kedu dan sekitar agar bekerja sama dengan aparat keamanan maupun elemen masyarakat lain untuk melindungi seluruh warga negara. Selain itu, mereka dianjurkan ikut menjaga fasilitas publik dan tempat agama di lingkungan masing-masing. "Termasuk (melindungi) gereja atau tempat ibadah lain agar tidak menjadi sasaran amuk massa," tegasnya. Berita Terkait: » Kehilangan Jejak Suami dan Keluarga Besar » Ahmadiyah Diusul Jadi Aliran Kepercayaan » FMS Kecam Penyerangan Ahmadiyah » SBY Minta Patuhi SKB » Ribuan Jamaah Ahmadiyah Resah [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
