Refleksi : Kapan pemerintah negera-negera lain puji RI untuk tindakan politik 
serupa, misalnya referendum di Papua yang dikehendaki oleh rakyakya  yang 
hampir setiap hari berdemonstrasi menutut  dilaksanakan referendum untuk 
menentukan hari depan mereka?

Ayo  jangan hanya rajin memuji hasil orang lain atas pencapaian dan kejujuran 
mereka, tetapi lupa diri sendiri untuk dipuji.

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=45&id=32426

KAMIS, 10 Februari 2011 | 221 Hits


RI Puji Sudan Utara-Selatan Terima Hasil Referendum




Kairo, AE.- Pemerintah Indonesia memuji sikap pemerintah Sudan dan pemerintah 
wilayah otonomi Sudan Selatan yang menerima hasil referendum penentuan nasib 
Sudan Selatan.

"Indonesia turut gembira karena hasil referendum Sudan Selatan diterima semua 
pihak baik oleh pemerintah Khartoum maupun pihak Sudan Selatan," kata Ketua Tim 
Pemantau Indonesia atas Referendum Sudan Selatan, Dr Sujatmiko yang dihubungi 
ANTARA dari Kairo, Selasa malam, Sujatmiko yang juga Duta Besar RI untuk Sudan 
mengisahkan situasi sosiologis dan psikologis masyarakat Sudan saat pengumuman 
hasil referendum itu dilakukan di ibu kota Sudan, Khartoum pada Senin (7/2). 
"Saya ingin ke Sudan Selatan, saya banyak saudara di sana, saya mau mereka 
tetap jadi saudara saya," demikian teriak seorang wanita asal Sudan Utara 
sambil menangis di lantai, saat Ketua Komisi Referendum Sudan Selatan, Prof 
Mohamed Ibrahim Khalil sedang mengumumkan hasil akhir referendum tersebut. 
Dubes Sujatmiko yang mewakili pemerintah Indonesia untuk menghadiri pengumuman 
hasil referendum pada Senin malam itu lebih lanjut menuturkan, aksi perempuan 
ini serta merta mendapatkan perhatian dari seluruh tamu undangan yang hadir 
dalam acara yang paling ditunggu-tunggu masyarakat Sudan. "Lima menit kemudian, 
perempuan ini berdiri dan menyampaikan pesan dengan suara yang parau yang 
menyiratkan ada perasaan sedih atas perpisahan Sudan Selatan," paparnya. 

Menanggapi suasana hati masyarakat Sudan itu, Dubes Sujatmiko mengatakan wajar 
saja. "Saya kira sangat wajar tanggapan masyarakat seperti itu: ada yang 
meluapkan kegembiraannya, dan ada pula yang sangat sedih, dan lainnya campur 
aduk antara gembira dan sedih," katanya. Hasil akhir referendum ini sama dengan 
hasil sementara yang diumumkan oleh Kepala Biro Referendum Sudan Selatan, Chan 
Reec Madut di Juba, ibu kota Sudan Selatan pada 30 Januari 2011. Kelompok pro 
kemerdekaan Sudan Selatan menang telak dengan perolehan 98,83 persen atau 
3.792.518 suara. Jumlah total suara sah yang masuk ke komisi dari seluruh 
daerah pelaksanaan referendum tercatat 3.851.994 suara. Adapun pemilih pro 
persatuan hanya memperoleh 1,17 persen atau hanya 44.888 suara, dan sisanya 
suara yang rusak atau kosong, tidak dicoblos. Daerah pelaksanaan referendum 
untuk warga Sudan Selatan tersebut dilakukan selain di wilayah Sudan Selatan, 
juga di Sudan Utara dan di delapan negara di luar negeri tempat bermukimnya 
warga Sudan Selatan. Madut mengatakan, pengumuman hasil akhir referendum ini 
merupakan final karena hingga saat ini tidak ada tuntutan atau banding apapun 
yang diajukan oleh masyarakat atau lembaga-lembaga terkait di Sudan. "Ini 
adalah hasil akhir, karena tidak ada tuntutan atau protes yang diajukan oleh 
masyarakat. Pada 9 Juli 2011, Sudan Selatan akan mendeklarasikan diri menjadi 
Negara baru," kata Kepala Biro Referendum Sudan Selatan tersebut. Prof Khalil 
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada Presiden Sudan 
Omar Al-Bashir dan Wapres Salva Kiir, para pengamat dari negara sahabat yang 
telah mendukung suksesnya referendum tersebut. Khalil menyatakan keyakinannya 
bahwa pemisahan diri Sudan Selatan hanya dalam tataran politik karena secara 
ekonomi dan sosial budaya, keduanya akan saling tergantung. "Sudan tetap satu 
dan perpisahan ini hanya bersifat politis. Saya yakin, secara sosial budaya dan 
ekonomi, keduanya tidak akan terpisahkan," ujarnya. 

Perkawinan, kontak sosial dan hubungan persaudaraan antara masyarakat Sudan 
Selatan dan Sudan Utara tidak akan pernah memisahkan kedua saudara ini, katanya 
lagi. Ketua Komisi Referendum itu mengungkapkan bahwa sebelum pengumuman hasil 
referendum itu dilakukan, pihaknya telah menyerahkan hasil akhir perhitungan 
suara kepada Presiden Bashir dan Salva Kiir Mayardit, yang juga menjabat 
sebagai Ketua Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan (SPLM). Sebelumnya, Presiden 
Bashir menyatakan bahwa demi menjaga perdamaian di Sudan dan kawasan, 
Pemerintah Sudan menerima hasil referendum dan akan bekerja sama dengan Sudan 
Selatan. Pernyataan senada diutarakan Salva Kiir, "Kemenangan Sudan Selatan ini 
bukan akhir dari hubungan dengan Sudan Utara, sebaliknya merupakan awal dari 
kerja sama yang lebih erat di masa mendatang."Utusan Sekretaris Jenderal PBB, 
Benjamin Mkapa dalam pernyataannya menyebutkan bahwa PBB menyambut baik hasil 
referendum ini. "Referendum telah dilaksanakan secara bebas, adil dan kredibel. 
(M043/Z002/K004)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke