Refleksi : Unta dan sungai Nil pun ikut marah, tetapi kita mau terus dibodohi, 
ditipu dan dimiskinkan oleh rezim kleptokratik neo Mojopahit.

http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=85632:onta-dan-sungai-nil-pun-ikut-marah&catid=78:umum&Itemid=131


      Unta dan Sungai Nil pun Ikut Marah        
      Oleh : Drs Safwan Khayat MHum



      Lelaki tua bertubuh kecil sedang duduk santai di atas balai kayu. 
Konstruksi balai itu dibuat seadanya dengan design eksterior dari kepingan kayu 
sempengan tak sama bentuk dan warnanya. 

      Balai kayu itu berukuran 1,5 x 2 meter beratapkan seng yang sudah 
terlihat bolong. Wajahnya teduh dan matanya tajam tergambar sosok yang taat 
beribadah dan kaya akan ilmu pengetahuan. Ucapannya jujur dan hidup seadanya 
mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan atasnya.

      Tepat di bawah balai kayu itu, ada kolam dengan jumlah ikan puluhan ekor. 
Sambil menaburkan makanan ikan, ia tersenyum lucu melihat puluhan ikan itu 
berebut makanan sambil melompat-lompat. Ada ikan yang berukuran besar, sedang 
dan kecil, ikut mengejar bersama-sama tanpa saling menyakiti. Ikan-ikan itu 
selalu menghibur lelaki tua itu.

      Sore itu, aku datang menghampiri lelaki tua itu. Ucapan salam ku sapa 
lelaki tua itu, lalu ia menoleh sambil menjawab salam ku. Ia berdiri menyambut 
ku, dan aku pun langsung meraih dan mencium tangannya. Keluar dari bibirnya 
yang selalu basah dengan kalimah zikir. Apa kabarnya ? ucap lelaki tua itu. 
Baik, Alhamdulillah ! sahut ku.

      Seperti biasa kami bicara panjang tanpa tema dan topik. Obrolan sore itu 
cukup berkesan. Sebab, ucapan beliau jauh bedanya dengan obrolan tokoh di 
televisi yang kerap membingungkan kita. Kalau di televisi, sebentar bicara 
begini, begitu, yang ini dan yang itu. Pusing, membingungkan dan penuh 
kepalsuan.

      Entah mengapa, kami larut dalam obrolan panjang. Obrolan kami bernuansa 
politis, meski terkadang diselingi humoris. Obrolan kami penuh kritik, meski 
terkadang diselingi ucapan menggelitik. Ucapan lelaki tua itu lugas, tegas dan 
sedikit mencibir pedas, tapi yang diucapkannya sangat pas dan hati puas.

      Obrolan tanpa tema dan topik ini, jauh merayap tak berujung pangkal. 
Sampai akhirnya obrolan sore itu membicarakan tentang pergolakan di Mesir. 
Kelihatannya lelaki tua ini hafal betul tentang negara Mesir. Sesaat ku dalami, 
ternyata beliau lama menetap di Mesir saat menyelesaikan studinya di 
Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

      Detail sekali ia menjelaskan tentang Mesir dan Husni Mobarak sang 
Presiden Mesir yang berkuasa 30 tahun. Menurutnya, Mesir kota fakta legenda 
yang menyimpan jutaan cerita historis dan situs dunia. Mulai dari cerita raja 
Fir'aun yang arogan, Laut Merah yang terbelah dua, konstruksi Piramida yang 
menjulang tinggi, patung Leo Sphink yang megah, legenda Mummy yang tak 
berakhir, gurun sahara yang luas dan aroma sejuk Sungai Nil yang subur.

      Husni Mubarok sang Presiden arogan dan diktator. Sikapnya itu karena 
memang didasari karakter masyarakat Mesir yang keras dan pemberani. Kekayaan 
Husni Mobarok luar biasa, bisa jadi separuh tanah Mesir sudah dibelinya. 
Korupsi pun merajalela, sebab masa berkuasa cukup mendorong melakukan perbuatan 
itu. Kesenjangan ekonomi terlihat nyata terutama di kawasan pedesaan pinggiran 
Mesir.

      Lelaki tua itu menaburkan segenggam makanan ikan ke permukaan kolam. 
Sepontan ikan itu keluar dari dalam air sambil berebut makanan. Air pun beriak 
akibat kepakan ekor puluhan ikan itu.

      Coba lihat ikan-ikan itu saat dia makan ? ujar lelaki itu sambil 
mengangkat jari telunjuknya. Mata ku langsung tertuju ke puluhan ikan itu. 
Mulanya aku beranggapan biasanya saja, karena cuma terkesan lucu melihat 
ikan-ikan itu. Tetapi lelaki tua itu malah berkata lain bahwa ada makna dibalik 
semua ini.

      Beliau berkata, semua ciptaan Tuhan ada makna yang bisa dipetik darinya. 
Tatkala makanan ikan ini ditaburkan, seluruh ikan yang ada di dasar air keluar 
berebutan. Ikan yang besar ikut berebutan dengan yang kecil. Satu makanan, 
hanya bisa satu mulut. Tanpa terkecuali ikan besar ataupun kecil. Setelah habis 
di mulut, ikan besar dan ikan kecil itu kembali meraih makanannya. Bukan 
berarti ikan besar bisa makan sekaligus, justru satu persatu makanan itu mereka 
habisi sama dengan ikan kecil.

      Antara ikan besar dengan ikan kecil tidak saling menyakiti. Mereka hanya 
berebut siapa cepat dia dapat. Tapi bukan berarti siapa cepat yang lain 
disikat. Ini artinya, ikan saja soal makanan mau berbagi tanpa harus melukai. 
Rezeki ikan besar dan ikan kecil masing-masing sudah di atur. Akhirnya, ikan 
besar semakin besar, ikan kecil pun tumbuh besar.

      Kita hidup di dunia juga harus meniru ikan. Kalau kita punya kekuasaan 
dengan pengaruh besar, jangan kita sakiti orang kecil. Makanan kita kan sudah 
ada, tak perlu menghabisi makanan orang kecil. Kekuasaan kita sudah besar, 
jangan pula ingin menguasai yang kecil-kecil. Akhirnya, timbullah kemarahan 
orang kecil yang bersatu menjadi kekuatan lebih besar dibanding kekuatan orang 
besar itu tadi.

      Husni Mubarok sang pembesar yang melukai hati masyarakat kecil. Kekayaan 
dan kekuasaannya yang besar menimbulkan kemarahan besar masyarakat kecil. 
Terlalu lama berkuasa justru menjadi amarah bagi orang lain. Jangankan 
masyarakat Mesir, Onta dan Sungai Nil pun ikut marah dengan Husni Mubarok ! 
tekan lelaki tua itu.

      Bukan saja masyarakat, Onta pun mulai terancam makanannya. Tanah Mesir 
telah di sulap menjadi bangunan yang mencakar langit. Properti telah merambah 
hampir di seluruh wilayah Mesir, nyaris tak menyisakan lahan buat Onta. Semua 
ini dilakukan oleh keluarga besar dan kroni Husni Mubarok.

      Sungai Nil dan penghuninya pun mulai resah dan terancam kelangsungan 
hidupnya. Pencemaran air limbah telah merasuki aliran jernih Sungai Nil. Deru 
mesin produksi yang syarat dengan kepentingan bangsa kapitalis telah mencemari 
lingkungan Sungai Nil sekitarnya. Sungai Nil juga marah atas arogan kekuasaan 
Husni Mubarok.

      Amarah Onta dan Sungai Nil kini menyatu dengan amukkan massa yang membuat 
Mesir bergolak dan berdarah. Onta dan Sungai Nil seakan tak ikhlas atas 
perlakukan Husni Mubarok terhadap Mesir. Rakyat Mesir meminta Mubarok mundur 
dari jabatannya, Onta dan Sungai Nil pun demikian, terang lelaki tua itu.

      Maksudnya apa ? tanya ku kepada lelaki tua itu. Lelaki tua itu menjawab, 
ini semua artinya, bukan saja rakyat Mesir yang marah, tetapi seluruh makhluk 
hidup dan alam sekitarnya menunjukkan kemarahan besar pada Husni Mubarok. 
Banyak fakta sejarah telah menorehkan, bahwa pemerintahan yang diktator, 
otoriter, haus kekuasaan dan korupsi akhirnya dijatuhkan tanpa kewibawaan. 
Insyaflah !! Kebenaran pasti akan datang. Perlawanan rakyat pasti akan tegak. 
Beginilah kalau rakyat kecil dan alam sudah sama-sama marah. Onta dan Sungai 
Nil pun ikut marah, ujarnya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

      *Penulis, Ketua MABMI Kota Medan., Pendiri/Pembina BMP, Sumut , Bapak 
Sepeda Ontel Sumut Email; [email protected] e-mail address is being 
protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it m.
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke