Islam meanstream yang biadab..

Jemmah Ahmadiyah adalah satu diantara sedikit aliran Islam yang manusiawi dan 
menentang kekerasan.

Dan Jemaah Ahmadiyah inilah yang jadi bulan-bulanan penindasan dan serangan 
orang-orang Islam meanstream di Indonesia, Bengladesh dan Pakistan.

--- In [email protected], "ma_suryawan" <ma_suryawan@...> wrote:
>
> Tulisan bagus yg ditulis oleh seorang jurnalis, hanya cocok dibaca oleh 
> orang-orang yang baik hatinya. 
> 
> ====
> 
> Sumber:
> http://andreasharsono.blogspot.com/2010/02/ahmadiyah-rechtstaat-dan-hak-asasi_18\.html
> 
> Desa Gegerung, di daerah Ketapang, Pulau Lombok, adalah sebuah kampung etnik 
> Sasak. Ia sebuah perkampungan padat dikelilingi sawah. Masjid Qurratul Ain 
> terletak di perempatan jalan desa. Di sepanjang jalan ada beberapa tambang 
> pasir. Di ujung desa, ada sederet rumah bekas terbakar, sebagian besar rusak, 
> instalasi listrik mereka dicabut. Rumah-rumah itu terbengkalai walau sawah 
> sekitarnya dipenuhi dengan padi menguning.
> 
> Gegerung adalah saksi penganiayaan umat Ahmadiyah di Indonesia. "Penganiayaan 
> paling menonjol, yang paling keras di Indonesia, terjadi di Pulau Lombok," 
> kata Syaeful Uyun, mubaligh Ahmadiyah di Mataram.
> 
> Pengusiran dan penganiayaan terhadap warga Ahmadiyah dimulai tahun 1999 
> dengan pembakaran masjid Ahmadiyah di Bayan, Kabupaten Lombok Barat. Satu 
> orang meninggal, satu luka parah dibacok. Semua warga Ahmadiyah diusir dari 
> Bayan. Pada 2001, penganiayaan terjadi di Pancor, daerah Lombok Timur, basis 
> Nahdlatul Wathan, organisasi Islam terbesar di Pulau Lombok. Selama satu 
> pekan, rumah demi rumah Ahmadiyah, diserang dan dibakar di Pancor. Ironisnya, 
> pemerintah Lombok Timur memberikan dua opsi: warga Ahmadiyah boleh tetap di 
> Pancor tapi keluar dari Ahmadiyah atau tetap di Ahmadiyah dan keluar dari 
> Pancor. Semua warga Ahmadiyah memilih meninggalkan Pancor. Mereka ditampung 
> mula-mula di Transito, sebuah bangunan pemerintah di Mataram. Lalu ada yang 
> menyewa rumah, sekitar 300 orang. Biaya dibantu sebagian oleh organisasi 
> Ahmadiyah. Dalam setahun, mereka mulai menata kehidupan. Ada yang tak 
> berhasil, ada yang terlunta-lunta. Pada tahun 2004, organisasi Ahmadiyah 
> membeli sebuah perumahan BTN di Gegerung, Ketapang, total 1.6 hektar, lalu 
> dijual murah kepada anggota yang diusir dari Bayan, Pancor dan Praya.
> 
> Syahidin, seorang Sasak asal Praya, yang diusir dari desa Sambi Elen, Bayan, 
> ketika tahu ada perumahan di Gegerung, mengatakan, "Saya pikir, `Apa yang mau 
> saya jual?' Saya ada tanah di Sambi Elen tapi orang-orang tak ada yang mau 
> beli. Kebetulan ada rumah warisan kakek di Praya. Saya jual Rp14,5 juta. Ini 
> untuk beli rumah BTN di Ketapang, total Rp17.5 juta. Akhirnya terbeli." 
> Keluarga muda ini praktis tak punya apa-apa di Ketapang, sesudah lari dari 
> Sambi Elen dan hidup mengungsi di Mataram. "Sholat sama isteri, gantian itu 
> bajunya. Hanya ada satu sarung," kata Syahidin.
> 
> Zulkhair asal Pancor mengatakan dia juga beli rumah di Gegerung. "Saya 
> bernaung di rumah milik paman. Mula-mula delapan rumah dibeli organisasi. 
> Akhirnya, ada 17 rumah yang dibangun oleh eks pengungsi Pancor, ada juga yang 
> dari Bayan serta Praya."
> 
> Tahun 2005, mulai banyak warga Ahmadiyah tinggal di Ketapang. Kerja mereka 
> tani dan dagang. Hubungan mereka baik dengan warga Ketapang. "Kita orang 
> baru, mau bergaul dengan baik," kata Zulkhair.
> 
> Khairuddin asal Selong, Lombok Timur, mengatakan, "Kita juga ikut ngiket besi 
> sebelum pengecoran untuk masjid Qurratul Ain. Kami juga keluarkan biaya untuk 
> bangun masjid. Saat pengecoran, tiga hari, kita ikut sampai akhir. Sebagian 
> besar kami –tukang, petani, pedagang—ikut bangun masjid."
> 
> Pada Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa di Jakarta. 
> Isinya, Ahmadiyah ditegaskan "... berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan 
> ...." MUI minta pemerintah Indonesia "… melarang penyebaran faham Ahmadiyah 
> di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat 
> kegiatannya." Fatwa tersebut mengacu pada fatwa MUI tahun 1980 serta 
> keputusan muktamar Organisasi Konferensi Islam di Jeddah, Arab Saudi, 
> Desember 1985, yang menyatakan bahwa aliran Ahmadiyah mempercayai Mirza 
> Ghulam Ahmad sebagai nabi sesudah Nabi Muhammad, dan pendirinya, Mirza Ghulam 
> Ahmad, menerima wahyu dari Allah.
> 
> Fatwa MUI itu memicu penyerangan terhadap berbagai masjid dan rumah Ahmadiyah 
> di Parung, dekat Bogor; Manis Lor, Kuningan; Tasikmalaya; Garut; Ciaruteun; 
> dan Sadasari. Mayoritas warga Ahmadiyah di Indonesia adalah orang Sunda. 
> Mereka punya jumlah cukup besar di beberapa desa di Bogor, Tangerang, 
> Tasikmalaya dan Garut.
> 
> Di Gegerung, Zulkhair, seorang guru mengaji dan pengungsi kelahiran Pancor, 
> mengatakan, "Sudah lebih 30 tahun saya ikut Ahmadiyah, tidak pernah saya 
> dengar istilah Nabi Mirza."
> 
> Suatu petang, ada dua murid Zulkhair, bertanya, "Apa benar Pak Zul ini 
> Ahmadiyah dan mengaku kenabian Mirza Guhlam Ahmad?"
> 
> "Saya benar orang Ahmadiyah. Masalah kenabian saya tidak jelaskan karena 
> bukan kelas kita untuk menjelaskan itu," jawab Zulkhair.
> 
> Jawaban dari ujung desa itu cukup untuk mengguncang seluruh kampung Gegerung. 
> "Kalau mereka punya agama lain, jangan libatkan nama Islam," kata H. Ahmad 
> Chusairi, seorang petani dan imam masjid Qurratul Ain.
> 
> Pulau Lombok sebenarnya hanya punya beberapa ratus orang Ahmadiyah. 
> Pengusiran dari Bayan, Selong, Praya dan Pancor membuat Ketapang menjadi 
> satu-satunya desa dimana ada sejumlah warga Ahmadiyah. Kota Mataram, ibukota 
> provinsi Nusa Tenggara Barat, juga ada orang Ahmadiyah namun mereka tinggal 
> menyebar. Warga kota Mataram relatif lebih heterogen. Di Mataram ada banyak 
> orang Hindu Bali maupun orang-orang Kristen Minahasa, Batak, Tionghoa dan 
> lainnya. Pulau Lombok sebelah barat juga ada industri turisme, dengan Pantai 
> Senggigi, hingga daerah ini relatif lebih terbuka daripada desa Sasak yang 
> homogen macam Ketapang.
> 
> Di Ketapang, sesudah fatwa MUI, mulai muncul pengajian-pengajian kritis 
> terhadap Ahmadiyah. Pertengahan Ramadhan, Oktober 2005, pengajian makin 
> kencang. Menurut beberapa warga Ahmadiyah, dari loudspeaker masjid Qurratul 
> Ain terdengar ceramah tuan guru Muhammad Izzi, seorang 
> ulama-cum-politikus-cum-pengusaha pompa bensin dari Praya.
> 
> Lewat loudspeaker terdengar, "Usir orang Ahmadiyah BTN. Kalau masyarakat 
> Ketapang tidak mampu mengusir, saya akan mendatangkan masyarakat dari tempat 
> lain untuk mengusir mereka …. Darah Ahmadiyah itu halal!"
> 
> Khairuddin mengatakan ceramah itu membuat warga Gegerung berubah. Izzi tegas 
> mengatakan, "Harus usir dari Ketapang. Kalau tidak sanggup, saya yang akan 
> datangkan dari Praya," tiru Khairuddin.
> 
> Rabu malam 18 Oktober 2005. Warga Ahmadiyah sedang mengaji. Ada dua pemuda 
> naik sepeda BMW menemui Zulkhair, `Pak Zul, katanya rumah-rumah sudah 
> dihancurkan!'"
> 
> Sekitar pukul 21:00 ada pelemparan batu. "Lalu Imah Abidin datang menemui. 
> Juga Ahmad Sofianti untuk tanya saya soal info dua anak itu," kata Zulkhair.
> 
> "Saya suruh KWh dipadamkan. Kami menghadapi mereka, melihat lemparan batu." 
> Rumah Imah Abidin, Ahmad Sofianti dan Zulkhair termasuk paling dekat jalan, 
> front terdepan penyerangan.
> 
> Agak mendalam, di rumah Syahidin, "Kami lagi tadarusan, tahu-tahu, `Ndang, 
> ndang …' Batu di atas," kata Syahidin. "Saya lari, cari isteri saya. Dia lari 
> ke tengah sawah, sembunyi di padi, gendong anak satu-satunya."
> 
> Isteri Komaruddin, Rochiyah, juga melarikan diri ke sawah. Rochiyah hamil 
> besar. Dia jatuh di pematang sawah dalam kegelapan malam.
> 
> "Teman-teman lain saya minta melindungi ibu-ibu dan anak-anak. Kami tiga 
> orang saja hadapi 50 orang. Mereka sempat saling melukai, salah sasaran," 
> kata Zulkhair.
> 
> "Sekitar 20-30 menit, kami hadapi 50 orang, dilempari batu. Penyerangan 
> berhenti ketika ada lampu mobil mendatangi perumahan. Mereka kira mobil 
> polisi. Mereka (lari) menyebar. Ternyata tamu-tamu kami dari Sembalun, Lombok 
> Timur. Sekitar 10-15 menit kemudian polisi datang."
> 
> "Anehnya, polisi tidak menangkap pelaku penyerangan itu?" kata Zulkhair.
> 
> Keesokan hari, perut Rochiyah sakit. Ternyata dia keguguran. Janinnya, bayi 
> lelaki.
> 
> "Anak saya trauma dengan teriak-teriakan," kata Syahidin.
> 
> Sejak Oktober itu perumahan BTN Ahmadiyah di Gegerung dijaga polisi.
> 
> Namun intimidasi dan teror jalan terus. "Kita katanya akan diserang 
> besar-besaran sesudah Lebaran. Seminggu terus tegang. Selalu ada isyu akan 
> diserang. Tiap malam ada teriakan, `Jihad! Serang! Bunuh!'" kata Zulkhair.
> 
> "Lebaran jatuh Rabu. Kita diundang ikut sholat Ied di masjid Qurratul Ain. 
> Ada 11 orang ikut sholat di sana."
> 
> Sesudah Lebaran, ada lagi pengajian Muhammad Izzi. Dari loudspeaker, beberapa 
> warga Ahmadiyah mendengar Izzi mengancam, "Kalau orang-orang Ketapang tidak 
> berani usir orang-orang dari BTN, saya akan bawakan dari Praya." Izzi 
> dilaporkan membuat deadline "tiga bulan" sesudah dia pulang dari ibadah haji.
> 
> Pada 31 Desember 2005, lebih ramai lagi. Tengah malam ada orang-orang 
> melewati perumahan BTN. "Paman saya dengan isterinya menabrak tembok dengar 
> mau diserang. Sampai benjol kepalanya," kata Zulkhair. Pendek kata, selama 
> tiga bulan mereka tidak bisa tenang tidur malam.
> 
> Sabtu, 4 Februari 2006, akhirnya terjadi penyerangan besar sekitar pukul 
> 11:00. Beberapa polisi sedang jaga, tidur-tiduran di rumah Zulkhair. Warga 
> Ahmadiyah sedang gotong-royong, menimbun lubang-lubang bekas truk pasir di 
> jalan desa. "Kami bergurau, `Kita ini membikin jalan mulus untuk orang mulus 
> menyerang kita,'" kata Zulkhair.
> 
> Tiba-tiba datang rombongan besar. Ada lebih dari seribu orang datang 
> menyerang. Mereka lempar batu. Mereka teriak-teriak, "Serbu! Bakar!" Para 
> polisi lari tanpa sepatu ketika serangan datang.
> 
> Warga Ahmadiyah bertahan. Beberapa rumah yang dekat jalan dibakar, termasuk 
> milik Imah Abidin. Truk-truk polisi datang untuk evakuasi. Namun warga 
> Ahmadiyah menolak. Mereka kuatir sekali evakuasi, mereka akan terusir 
> selamanya. Para lelaki bertahan dengan pentungan kayu. Kaca-kaca pecah. Maret 
> lalu, dua tahun sesudah serbuan, saya masih melihat bekas penyerangan ini. 
> Pintu didobrak atau jendela dipukul hingga hancur.
> 
> Pukul 13:30 serangan berhenti sebentar. Zulkhair sempat masuk rumah dan ambil 
> Al Quran. "Saya anggap ilmu saya disana."
> 
> Polisi mendesak Ahmadiyah evakuasi. Polisi jamin rumah-rumah mereka dijaga. 
> Tapi rumah-rumah dibakar dan polisi membiarkan. "Adoh, apa kerjanya polisi?" 
> pikir Zulkhair.
> 
> Polisi lantas menaruh ibu-ibu dan anak-anak dekat truk.
> 
> "Saya minta tak usah ikut polisi," kata Zulkhair.
> 
> "Sudah beberapa kali kami dijarah, dibakar, diusir. Saya bawa tongkat untuk 
> menepis tapi direbut polisi. Tapi orang-orang itu, bawa parang, tongkat, 
> dibiarkan saja. Ini kan rumah saya? Kayu ini untuk jaga rumah saya. Polisi 
> malah marah."
> 
> "Ada haji pakai kayu memimpin gerakan, dibiarkan oleh polisi."
> 
> "Pak itu kok dibiarkan?" tanya Zulkhair.
> 
> "Ndak, itu nonton," kata polisi.
> 
> Ada lebih dari 1.000 orang menyerang. Polisi tak mencegah. Polisi justru 
> mencegah Zulkhair dan kawan-kawan membela diri, membela barang dan rumah 
> mereka. "Rumah bikinan saya sendiri dibakar sampai ludes," kata Zulkhair.
> 
> Pukul 16:00, sesudah lima jam saling lempar, ibu-ibu dan anak-anak menangis. 
> Mereka kelaparan. Orang-orang Ahmadiyah menyerah. Mereka naik dua truk 
> polisi, dibawa ke gedung Transito di Mataram. Di sana mereka didata oleh 
> Dinas Sosial. Mereka hanya bawa anak dan pakaian di badan. Anak-anak tidak 
> bisa sekolah karena pakaian mereka dibakar habis.
> 
> Saya sempat keliling Gegerung namun tak ada satu pun mau terbuka bicara 
> dengan saya. H. Ahmad Chusairi mengatakan pada saya bahwa dia tak tahu 
> penyerangan itu. "Pas saya sedang sakit." Dia bilang para pelaku orang-orang 
> dari luar Gegerung. "Yang luka orang dusun Buwuh, desa Gunung Sari. Namanya 
> Ilah. Parah lukanya. Karena orang Buwuh melihat orangnya luka parah, maka 
> dibakarlah rumah Ahmadiyah."
> 
> Saat penyerangan, Muhammad Izzi tidak terlihat. Saya menelepon Izzi, juga 
> mendatangi Praya, namun dia menolak komentar. Seorang kenalan saya di Praya, 
> Esti Wahyuni, satu wartawan yang tetua nikahnya dilakukan Izzi, mengatakan, 
> "Abah Izzi orang baik." Esti tak tahu Izzi ceramah di Ketapang. Maskum, 
> kepala desa Ketapang, mengatakan Muhammad Izzi tak persis bilang usir. "Dia 
> bilang beri waktu tiga, empat bulan. Saya juga dengar begitu, tapi tidak 
> bilang usir."
> 
> Maret lalu hanya ada rumah-rumah rusak ada di ujung desa. Warga Ahmadiyah 
> mengirim surat kepada Gubernur Zainul Majdi. Mereka memberitahu hendak 
> kembali ke tanah dan rumah mereka. Majdi melarang. Lewat telepon, Majdi 
> bilang kepada saya sebaiknya orang-orang Ahmadiyah itu minta suaka ke 
> Australia.
> 
> Pada 2008, Zainul Majdi, cucu KH Zainuddin Abdul Majid, pendiri Nadhatul 
> Wathan dari Pancor, Lombok Timur, menang pemilihan umum sebagai gubernur Nusa 
> Tenggara Barat. Majdi usul agar warga Ahmadiyah cari suaka dan pindah ke 
> Australia.
> 
> II
> 
> Suatu sore saya pergi mengunjungi rumah tuan guru KH Muhammad Anwar di desa 
> Duman, daerah Langsar, Lombok Barat. Tuan guru adalah sebutan untuk ulama 
> Sasak. Anwar memimpin pesantren Darul Najah. Dia juga ketua Nahdlatul Ulama 
> wilayah Nusa Tenggara Barat. Rumahnya terletak dalam area Darul Najah. Ada 
> tiga set sofa di ruang tamu. Tembok warna hijau-biru tua. Ada buku Risalah 
> Gerakan Ikhwanul Muslimin karya Hasan al Banna terletak di meja.
> 
> Anwar termasuk salah satu tuan guru yang dianggap bisa bicara dengan 
> Ahmadiyah. Syaeful Uyun, mubaligh Ahmadiyah di Mataram, beberapa kali datang 
> ke Duman. Anwar juga pernah datang ke Transito, tempat pengungsi Ahmadiyah, 
> di Mataram. Saya tanya bagaimana Anwar melihat pengusiran Ahmadiyah di Pulau 
> Lombok.
> 
> Saat serangan Februari 2006, Anwar bilang dia sedang berada di Jakarta. 
> "Banyak yang luka, cacat seumur hidup. Mereka hanya 140an orang melawan 
> ribuan orang … ya habis. Saya lihat di TV. Mereka janji mengubah penampilan 
> dan berbaur dengan masyarakat," kata Anwar.
> 
> Bagaimana melihat sikap pemerintah dan polisi? "Polisi kan juga menghitung. 
> Bagaimana menghadapi suatu keributan? Lebih mudah mengevakuasi seratusan 
> daripada menangkap ribuan."
> 
> Anwar berpendapat Ahmadiyah "tidak nyambung" dengan masyarakat Sasak. "Mereka 
> eksklusif, sering memisahkan diri, terutama dalam ibadah sholat Jumat. Kenapa 
> tidak mau bersama?"
> 
> Ini makin peka karena Ahmadiyah ternyata punya pengikut di Pancor, jantung 
> basis Nahdlatul Wathan.
> 
> Nahdlatul Wathan adalah organisasi yang didirikan oleh KH Zainuddin Abdul 
> Majid atau "Tuan Guru Pancor" pada 1935. Salah satu cucunya, Zainul Majdi, 
> menggantikan Majid menjadi ketua Nahdlatul Wathan pada 1997. Zainul Majdi 
> seorang doktor ushuluddin dari Universitas Al Azhar, Kairo. Pada 2008, Zainul 
> Majdi menang pemilihan umum sebagai gubernur Nusa Tenggara Barat dengan 
> dukungan Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Bulan Bintang. Ibaratnya, 
> Nadhatul Wathan kini sedang menikmati kebesaran pengaruh mereka. Kehadiran 
> Ahmadiyah di Pancor ibarat duri dalam daging Nahdlatul Wathan.
> 
> Sejarah Ahmadiyah tak terlepas dari Mirza Ghulam Ahmad. Dia lahir pada 1835 
> dari sebuah keluarga elite di Qadian, Punjab, British India. Ketika kecil, 
> dia belajar bahasa Arab dan Persia, serta mempelajari macam-macam keberatan 
> theologi Kristen terhadap Islam. Dia mendirikan satu komunitas Muslim pada 
> 1889. Sepuluh tahun kemudian komunitas ini dinamai Jemaah Ahmadiyah. Dia juga 
> dianggap sebagai Imam Mahdi.
> 
> Pada 1902-1903, Mirza Ghulam Ahmad terlibat perdebatan, lewat surat, dengan 
> Pendeta John Alexander Dowie dari Zion, Illinois. Mulanya, Dowie mengatakan 
> dia adalah pembuka jalan untuk kedatangan kedua Kristus. Dia menjadi seorang 
> penyembuh spiritual. Kiprah Dowie banyak diberitakan suratkabar di Amerika 
> Serikat, Australia, Kanada bahkan India. Ini menarik perhatian Ghulam Ahmad. 
> Dia mendebat Dowie dari Qadian. Ahmad menuduh Dowie sebagai "nabi palsu." 
> Makin hari debat makin sengit. Banyak suratkabar meliput debat mereka. Pada 
> 1903, akhirnya, Ghulam Ahmad kesal, menantang Dowie "duel doa." Siapa yang 
> mati duluan berarti kalah.
> 
> Waktu itu, Dowie berumur 56 tahun dan Ghulam Ahmad 68 tahun. Para pembaca 
> perdebatan mereka menduga secara natural Ghulam Ahmad, yang lebih tua 12 
> tahun, akan mati duluan. Ternyata pada 1907, Dowie meninggal dunia lebih 
> dulu. Ahmad meninggal pada 1908 dalam usia 72 tahun. Cerita ini sering 
> dimasukkan dalam literatur Ahmadiyah.
> 
> Menurut Ghulam Ahmad, Ahmadiyah merupakan bagian dari Islam. Anggota 
> Ahmadiyah mengamalkan kelima Rukun Islam: syahadat, sholat, puasa, zakat, 
> haji. Ahmadiyah juga berkeinginan mendorong dialog antar iman dan berusaha 
> memperbaiki kesalahpahaman mengenai Islam di dunia Barat. Mirza Ghulam Ahmad 
> menulis lebih dari 80 buku serta mengedepankan pendekatan non-violence. 
> Mereka banyak berkiprah di negara-negara Barat, termasuk menterjemahkan Al 
> Quran ke berbagai bahasa Inggris dan sebagainya.
> 
> Pada 1925, Ahmadiyah mengutus mubaligh Rahmat Ali dari Qadian ke Hindia 
> Belanda. Rahmat Ali seorang alumnus Universitas Punjab. Dia berangkat ke 
> Sumatra atas undangan tiga mahasiswa Minangkabau, yang belajar di Lahore, 
> British India. Rahmat Ali mulanya tiba di Tapaktuan, Aceh, lantas berangkat 
> menuju Padang. Pada tahun 1926, Jemaah Ahmadiyah resmi berdiri sebagai 
> organisasi di Padang, dalam masa pemerintahan Gubernur Jenderal Andries 
> Cornelis Dirk de Graeff (1926-1931). Rahmat Ali pun pindah ke Batavia, 
> ibukota Hindia Belanda. Langkah ini membuat perkembangan Ahmadiyah makin 
> cepat. Rahmat Ali banyak membaiat orang Sunda masuk Ahmadiyah. Ahmadiyah 
> melewati masa-masa pemerintahan pemerintahan tiga gubernur jenderal lagi 
> maupun zaman Jepang.
> 
> Sesudah Indonesia menggantikan Hindia Belanda, Jemaah Ahmadiyah Indonesia 
> diakui sebagai badan hukum pada Maret 1953. Pada 1965-1966, ketika terjadi 
> demonstrasi melawan kediktatoran Presiden Soekarno, satu mahasiswa kedokteran 
> Universitas Indonesia, Arif Rahman Hakim, ditembak tentara hingga mati dekat 
> Istana Merdeka, Jakarta, pada 24 Februari 1966. Dia seorang warga Ahmadiyah. 
> Kini namanya sering jadi nama-nama jalan di Pulau Jawa. Ada yang bilang dia 
> ditembak anggota Tjakrabirawa, ada yang bilang dia ditembak Garnisun di 
> Lapangan Banteng.
> 
> Hubungan Ahmadiyah biasa saja ketika Jenderal Soeharto berkuasa. MUI 
> mengeluarkan fatwa anti-Ahmadiyah pada 1980. Soeharto tak terlalu menggubris. 
> Pada tahun 2000, sesudah kejatuhan Soeharto, Presiden Abdurahman Wahid 
> menyambut imam besar Ahmadiyah Mirza Tahir Ahmad, cucu Mirza Ghulam Ahmad, di 
> Jakarta. Mirza Tahir Ahmad juga bertemu dengan Ketua MPR Amien Rais. Amien 
> Rais menyatakan kekaguman terhadap pekerjaan Ahmadiyah di masyarakat Barat. 
> Pada akhir 2000, Wahid diganti oleh Megawati Soekarnoputri dari Partai 
> Demokrasi Indonesia Perjuangan. Bapaknya, Presiden Soekarno, tak melarang 
> Ahmadiyah, Megawati juga tak melarang Ahmadiyah.
> 
> Keadaan berubah ketika Susilo Bambang Yudhoyono mengalahkan Megawati dan 
> menang pemilihan presiden pada 2004. Pengaruh MUI berkembang cepat bersama 
> SBY. Tembok batas antara negara dan agama menjadi makin rendah. Pada Oktober 
> 2005, MUI mengeluarkan fatwa pelarangan Ahmadiyah dan minta SBY melarang 
> Ahmadiyah.
> 
> Ada juga Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), sebuah organisasi Islam, yang 
> membangun koalisi dengan Forum Umat Islam, Front Pembela Islam serta Majelis 
> Mujahidin Indonesia. Koalisi ini secara sistematis melakukan lobby terhadap 
> Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat, alias Bakor Pakem, 
> agar melarang Ahmadiyah. Bakor Pakem adalah sebuah forum berbagai instansi 
> pemerintah di bawah supervisi Kejaksaan Agung. Tujuan Hizbut Tahrir, induk 
> dari HTI dengan kantor pusat London, adalah mendirikan sebuah khilafah 
> Islamiyah, macam Kesultanan Ottoman, dengan anggota semua negara-negara Islam 
> di seluruh dunia.
> 
> Di Jakarta, Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia mengatakan kepada 
> saya bahwa Indonesia memang memberikan kebebasan orang beragama tapi bukan 
> bebas menodai Islam. Yusanto mengatakan Ahmadiyah ajaran yang menyimpang dari 
> Islam. Ahmadiyah menghina Nabi Muhammad dan Al Quran. Warga Ahmadiyah punya 
> dua pilihan: (1) Kembali ke Islam yang real; (2) atau menyebut agama mereka 
> sebagai Ahmadiyah. Bukan Islam. "Mazhab dalam Islam banyak tapi Ahmadiyah 
> bukan mazhab. Pemerintah punya otoritas untuk ambil keputusan soal politik, 
> ekonomi dan sebagainya. termasuk soal agama," kata Yusanto. Soal kekerasan, 
> Yusanto mengatakan, "Saya mengerti kemarahan mereka tapi tidak setuju dengan 
> kekerasan."
> 
> Sikap Front Pembela Islam terhadap Ahmadiyah, disampaikan oleh KH Tubagus 
> Abdurrahman Anwar, dalam sebuah ceramah di Universitas Islam Negeri Jakarta 
> Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada 10 Agustus 2005. Pidato ini dimuat dalam 
> sebuah pamflet FPI berjudul, "Ayo Ganyang Ahmadiyah dan JIL." Abdurrahman 
> Anwar menerangkan mengapa kekerasan boleh dilakukan terhadap Ahmadiyah maupun 
> Jaringan Islam Liberal, sebuah organisasi anak-anak muda Muslim, yang 
> berpusat di Komunitas Utan Kayu, Jakarta.
> 
> Menurut Abdurrahman Anwar, "Apabila harta benda dan jiwa raga seseorang 
> terancam, maka ia berhak melakukan bela-paksa (overmacht/noodweer). Apalagi 
> jika yang terancam aqidah dan keyakinannya, yang jauh lebih berharga daripada 
> harta benda dan jiwa raga."
> 
> Dia memberikan bukti kesesatan Ahmadiyah:
> 
>     * Ahmadiyah menyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi dan Rasul serta 
> sebagai Imam Mahdi dan Al Masihul Mau'ud.
>     * Kitab Tadzkirah berisikan pernyataan bahwa ia adalah "wahyu yang suci."
> 
> Pamflet itu juga memuat tanya jawab. Misalnya, "Kenapa umat Islam tak boleh 
> bertoleransi kepada Ahmadiyah tapi bisa bertoleransi kepada Kristen, Budha 
> dan Hindu?" Jawabnya, "Karena Kristen, Budha dan Hindu adalah kafir asli 
> sedang Ahmadiyah adalah kafir jejadian, yang mengatasnamakan Islam untuk 
> menyesatkan umat Islam."
> 
> Ada juga pertanyaan soal hak asasi manusia, "Bukankah melarang Ahmadiyah 
> merupakan pelanggaran hak asasi manusia?" Jawabnya, "Ahmadiyah tidak berhak 
> menodai dan menistai ajaran Islam. Pelanggaran mana yang lebih berat daripada 
> penodaan dan penistaan agama?"
> 
> Di Mataram, H. Saiful Muslim, ketua umum MUI Nusa Tenggara Barat mengatakan 
> kepada saya, MUI tak setuju tindakan mengusir dan membakar. "Kami berharap 
> penyelesaian-penyelesaian tidak dengan cara seperti itu. Tapi dikarenakan 
> Ahmadiyah itu sangat ekslusif hingga umat merasa risih. Kalau saja dakwahnya 
> internal mereka dan lewat ke masjid seperti umat Islam yang lain, itu saya 
> kira tidak ada masalah." Saiful Muslim juga menyesal soal tindakan Muhammad 
> Izzi di Ketapang. "Kami tidak setuju dengan cara-cara seperti itu. Polisi 
> bisa menyelidiki Muhammad Izzi." Saya kira polisi Mataram takkan berani 
> memeriksa Izzi.
> 
> Rumah kontrakan mubaligh Syaeful Uyun terletak dekat kediaman resmi Gubernur 
> Nusa Tenggara Barat. Logat Sundanya terasa kuat. Uyun pernah menulis surat 
> kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Mei 2008 dimana secara panjang lebar 
> Uyun membantah kesimpulan MUI.
> 
> Uyun mengatakan fatwa MUI terlalu didramatisir, seolah-olah Ahmadiyah tak 
> mengakui Rasulullah sebagai nabi yang terakhir. "Tapi saya tahu kenapa mereka 
> melakukannya. Soalnya, isu itu adalah isu yang sensitif. Untuk berdebat 
> mereka tidak sanggup sehingga mereka pakai drama. Kalau mereka menelaah 
> Ahmadiyah secara jujur, Ahmadiyah adalah Islam."
> 
> Menurut Uyun, kalau ada perbedaan, itu hanya tafsir beberapa nats Al Quran. 
> Kaum Ahmadiyah, misalnya, mewajibkan perempuan ikut shalat Jumat. Warga 
> Ahmadiyah juga tak dianjurkan ikut shalat bila imamnya bukan orang Ahmadiyah.
> 
> Dalam suratnya kepada Presiden Yudhoyono, tertanggal 5 Mei 2008, Uyun 
> menerangkan dua macam kategori nabi dalam khasanah Ahmadiyah. Pertama, tasyri 
> adalah nabi yang membawa syariah. Mereka termasuk Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi 
> Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Pintu kenabian tasyri sudah tertutup 
> dan tak pernah terbuka lagi. Muhammad adalah nabi tasyri terakhir.
> 
> Kedua, ghairi tasyri adalah golongan nabi yang tidak membawa syariah. 
> Golongan ini terbagi dua: mustaqil, artinya nabi yang berdiri sendiri, 
> menjadi nabi bukan karena mengikut nabi lain, menjadi nabi semata-mata karena 
> kesucian dirinya; serta nabi ghairi mustaqil, artinya tidak berdiri sendiri, 
> menjadi nabi karena mengikut nabi lain, karena ketaatannya kepada seorang 
> nabi. Kategori ghairi mustaqil ini masih terbuka.
> 
> Dalam istilah Nahdlatul Ulama, ghairi mustaqil diistilahkan sebagai nabi yang 
> melaksanakan syariah Nabi Muhammad. Statusnya, hanya pelayan Islam dan Nabi 
> Muhammad. Dalam khasanah Ahmadiyah, mereka termasuk Nabi Zilli, Nabi Buruzi, 
> Nabi Mazazi, Nabi Ummati maupun Mirza Ghulam Ahmad.
> 
> Uyun mengutip sebuah ucapan Mirza Ghulam Ahmad dalam Tajalliyat-i-Ilahiyah, 
> "Sesudah Nabi Muhammad SAW tidak boleh lagi mengenal istilah Nabi kepada 
> seseorang, kecuali bila ia lebih dahulu menjadi seorang ummati dan pengikut 
> dari Nabi Muhammad SAW."
> 
> "Kita sudah usaha pendekatan pribadi, penyelaman literatur, diskusi, seminar. 
> Itu terus kita usahakan. Tapi opini publik bahwa Ahmadiyah tidak mengakui 
> Nabi Muhammad dan Quran bukan kitab suci satu-satunya, itu begitu kuat," kata 
> Uyun.
> 
> Menurut Uyun, Tadzkirah bukan kitab suci. Ia hanya sebuah buku karya seorang 
> pengarang bernama Mirza Ghulam Ahmad. Sumber pokok Islam ada pada Quran dan 
> Sunnah Nabi. Dia berpendapat kampanye bahwa Tadzkirah sebagai kitab suci lain 
> membuat orang-orang Ahmadiyah diusir dari kampung-kampung. "Lombok yang 
> paling parah karena disini masyarakat tidak bisa bedakan paham dan manusia."
> 
> Dalam catatan Ahmadiyah, penganiayaan paling menonjol terjadi di Jawa Barat, 
> Nusa Tenggara Barat, Medan, Palembang, Kendari, Riau dan Jakarta. Di Jawa 
> Timur juga ada tapi tidak sehebat daerah lain. Di daerah-daerah mayoritas 
> Kristen --Manado, Nusa Tenggara Timur, Ambon dan Papua-- tidak terdengar ada 
> penganiayaan. Cuma di basis Muslim di daerah Kristen, misalnya, Kotamobagu 
> dan Pulau Buru, terdengar ada gejolak. Jogjakarta juga tak ada cerita 
> penganiayaan Ahmadiyah. "Aceh dari dulu anti-Ahmadiyah cuma di Aceh memang 
> Ahmadiyah tidak menonjol," katanya.
> 
> Zulkhair, seorang guru mengaji dan pengungsi kelahiran Pancor, mengatakan, 
> "Sudah lebih 30 tahun saya ikut Ahmadiyah, tidak pernah saya dengar istilah 
> Nabi Mirza."
> 
> III
> 
> Adnan Buyung Nasution tampil rapi, kemeja lengan panjang, pantalon hitam, 
> sepatu boot, rambut keperakan disisir rapi. Saya jadi moderator acara "Bang 
> Buyung" dalam sebuah diskusi Juli lalu di Jakarta. Dia baru saja merayakan 
> ulang tahun ke-75 bersama keluarga dan sahabat. Mereka memberi Buyung hadiah 
> berupa sebuah buku. Judulnya, 75 Tahun Adnan Buyung Nasution: Inspirator. 
> Isinya, 48 esai karya kawan dan keluarga. Mereka termasuk Presiden B.J. 
> Habibie, pastor Franz Magnis-Suseno, pengacara Nono Anwar Makarim, penerbit 
> Jakob Oetama dan Aristides Katoppo, Jenderal Wiranto dan A.M. Hendropriyono, 
> ulama Ma'ruf Amin serta beberapa alumni Yayasan Lembaga Bantuan Hukum 
> Indonesia. Mereka menulis macam-macam penilaian mereka terhadap Buyung.
> 
> Dalam diskusi, saya tanya soal bagaimana proses pelarangan kegiatan Ahmadiyah 
> di Indonesia. Saat itu, Buyung adalah ketua Dewan Pertimbangan Presiden 
> Yudhoyono. Dia termasuk orang yang ikut melawan proses pelarangan Ahmadiyah. 
> Buyung juga seorang pengacara hak asasi manusia. Dia mendirikan YLBHI pada 
> 1970an. Pada 1980an, dia studi doktoral di Universitas Utrecht dan menulis 
> thesis soal Konstituante 1956-1959. Ini sebuah thesis menarik, berjudul, 
> Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas 
> Konstituante 1956-1959. Dalam bahasa Belanda, "pemerintahan konstitusional" 
> disebut rechtstaad atau "negara hukum" dalam terminologi Indonesia.
> 
> Menurut Buyung, dia terlambat mendengar rencana larangan Ahmadiyah. Ada dua 
> orang Ahmadiyah, Agus Mubarik dan Lamardi, lapor kepada Buyung. Mereka bilang 
> pemerintah Yudhoyono sudah siap dengan satu SK untuk membubarkan Ahmadiyah. 
> Dilarang sama sekali di Indonesia.
> 
> Ia dimulai pada April 2008 ketika Bakor Pakem mengeluarkan rekomendasi agar 
> tiga menteri teken surat keputusan bersama. Tujuannya, memberi peringatan 
> kepada warga Ahmadiyah untuk berhenti menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai 
> nabi dan mengacu pada Tadzkirah. Tiga menteri itu adalah Menteri Dalam Negeri 
> Mardiyanto, Menteri Agama Maftuh Basyuni dan Jaksa Agung Hendarman Supanji.
> 
> "Saya kaget. Saya sama teman-teman, aktivis semua, bilang, `Ini mesti distop, 
> tidak boleh terjadi larangan Ahmadiyah. Jika ini terjadi kita telah ikut 
> cara-cara seperti di Pakistan: melarang satu keyakinan agama.' Karena kita 
> kan negara berbhineka, semua agama harus dihormati," kata Buyung.
> 
> Buyung mendekati beberapa kenalannya -- Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Asmara 
> Nababan, Djohan Effendi, Goenawan Mohamad, Nong Darol Mahmada, Budiman 
> Sujatmiko, Nono Anwar Makarim, Syafii Maarif dan banyak tokoh masyarakat 
> lain-- untuk menghentikan kampanye anti-Ahmadiyah. Mereka lantas menerbitkan 
> sebuah iklan satu halaman, pada 30 Mei 2008, di beberapa suratkabar Jakarta. 
> Judulnya, "Mari Pertahankan Indonesia Kita." Ia juga berupa undangan apel 
> akbar pada 1 Juni 2008 di Monumen Nasional. Mereka menamakan persekutuan itu 
> Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).
> 
> Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang 
> dijamin oleh Konstitusi.
> 
> Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi 
> ke-indonesia-an kita.
> 
> Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi 
> itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga mengatasnamakan umat Islam untuk 
> menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat.
> Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut 
> Ahmadiyah yang sudah sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan damai 
> dengan umat lain.
> 
> Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar 
> negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan Konstitusi, dan menghancurkan sendi 
> kebersamaan kita.
> 
> Kami menyerukan, agar Pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang 
> otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan 
> ke-indonesia-an itu.
> 
> Marilah kita jaga Republik kita.
> Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita.
> Marilah kita kembalikan persatuan kita.
> 
> Ternyata apel 1 Juni 2008 berubah menjadi peristiwa berdarah. Puluhan milisi 
> berbendera Islam –termasuk Front Pembela Islam, Laskar Mujahidin, Gerakan 
> Reformasi Islam—menggunakan kekerasan untuk membubarkan apel tersebut. Mereka 
> kelihatannya dipimpin Munarman, seorang pengacara, aktivis Hizbut Tahrir 
> serta mantan murid Buyung di YLBHI. Munarman disebut "panglima" para laskar 
> itu. Mereka menyerang dan memukul puluhan warga Ahmadiyah dan aktivis AKKBB 
> di Monumen Nasional. Peristiwa ini diliput besar-besaran oleh televisi. Saya 
> melihat Ahmad Suaedy, direktur Wahid Institute, dipukul mukanya dengan 
> sebilah bambu. Tahir Ahmad, seorang warga Ahmadiyah, menderita gegar otak. 
> Puluhan ibu Ahmadiyah lari dari sergapan laskar.
> 
> Belakangan Munarman ditangkap polisi. Polisi juga menangkap Habib Rizieq 
> Syihab dari Front Pembela Islam dengan tuduhan menghasut dan menyebarkan 
> kebencian. Oktober 2008, pengadilan Jakarta Pusat menghukum Munarman 1.5 
> tahun penjara karena tindakan kekerasan. Rizieq Syihab juga dihukum 1.5 tahun 
> dan mengajukan banding. Pengacaranya, Mirza Zulkarnaen, mengatakan Rizieq 
> Shihab tak pernah menganjurkan kepada anak buahnya untuk melakukan tindakan 
> rusuh di Monumen Nasional.
> 
> Sebagai penasihat presiden, Buyung bertemu langsung dengan Presiden 
> Yudhoyono. Buyung menjelaskan bahaya kalau Ahmadiyah dibubarkan. "Ahmadiyah 
> ini satu keyakinan orang, walaupun mereka berbeda akidah dengan Islam 
> lainnya, tapi itu urusan internal teologi Islam. Bukan bidang pemerintah. 
> Tiap agama secara teologis di dalamnya ada perbedaan. Lihat di Katolik berapa 
> banyak sekte di Katolik? Lihat di Protestan, berapa banyak sekte-sekte? Jadi 
> tidak bisa kita mengadili, mengatakan ini yang paling benar. Karena itu saya 
> bilang tidak boleh ini terjadi."
> 
> "Alhamdulillah Presiden memahami. Jika satu ini diizinkan, besok mereka 
> menuntut lebih hebat lagi. Habis semua dibabat."
> 
> Yudhoyono sepakat, "Oke, Bang Buyung, saya setuju tidak boleh keluar 
> larangan."
> 
> Namun Yudhoyono minta Buyung bicara dengan ketiga menteri itu. Pertemuan pun 
> diselenggarakan oleh Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa, sebagai 
> moderator. Maka berdebatlah Buyung dengan tiga menteri, selama tiga atau 
> empat jam.
> 
> "Kita kan mendirikan satu negara, satu tanah air, satu bahasa, tidak negara 
> Islam. Dan itu mesti baca di Konstituante, perdebatan yang paling lengkap. 
> Tapi periode 1956-1959 itu oleh Soekarno dianggap jelek kan? Periode zaman 
> demokrasi liberal. Jadi nggak ada yang bagus, semua buruk, termasuk 
> Konstituante. Saya memberi perhatian Konstituante sebagai topik perdebatan. 
> Jadi kalau baca di situ penolakan terhadap negara Islam itu kuat sekali. Pada 
> waktu voting, partai Islam yang mendukung itu kalah terhadap yang 
> lain-lainnya: Islam, Kristen, nasionalis, apapun semua menolak. Dan penolakan 
> itu terjadi juga kemarin pada waktu amandemen UUD 1945. Ada lagi usaha yang 
> mau masukkan Piagam Jakarta, ditolak lagi."
> 
> Buyung mengacu pada perdebatan dalam sidang-sidang Badan Persiapan Usaha 
> Kemerdekaan Republik Indonesia, atau Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, pada 
> Mei-Agustus 1945 dimana ada diskusi soal pilihan dasar negara Indonesia: 
> Islam atau sekulerisme atau Pancasila. Pada 18 Agustus 1945, dicapai kompromi 
> dengan menghilangkan tujuh kata soal syariah Islam pada pembukaan UUD 1945. 
> Komprominya, Pancasila. Kompromi sementara karena diskusi tak bisa tuntas 
> berhubung sedang masa gawat, pasca Perang Dunia II, kerajaan Belanda ingin 
> mengambil alih Hindia Belanda dari tangan Jepang. Padahal Soekarno dan Moh. 
> Hatta sudah menyatakan kemerdekaan Indonesia. Pada 1949, Belanda menyerahkan 
> kedaulatan Hindia Belanda kepada Republik Indonesia Serikat. Debat ini 
> dilanjutkan pada sidang-sidang Konstituante 1956-1959. Ia juga tak tuntas 
> karena Presiden Soekarno membubarkan Konstituante. Buyung menulis soal 
> perdebatan ini pada thesis di Universitas Uthrect. Pada 1999, saat sidang 
> umum MPR, sekali lagi isu syariah Islam ini muncul.
> 
> Singkatnya, ketiga menteri itu menerima pendirian Buyung. Persoalannya, 
> keputusan kabinet sudah terlanjur keluar. Surat keputusan tetap harus keluar. 
> Maka mereka sepakat bikin surat keputusan tapi tidak membubarkan Ahmadiyah. 
> Namun Ahmadiyah tak boleh menyebarkan siar ajaran mereka di luar masyarakat 
> Ahmadiyah.
> 
> Saya ingat apa yang dikatakan Syaeful Uyun. Menurut Uyun, Nahdlatul Ulama dan 
> Muhammadiyah sebenarnya toleran terhadap Ahmadiyah. "Amien Rais sangat 
> toleran terhadap Ahmadiyah. Syafii Maarif juga begitu," katanya. "Nahdlatul 
> Ulama, secara kelembagaan juga begitu, tapi ada person-person NU, termasuk 
> Ma'ruf Amin, yang anti-Ahmadiyah. Sahal Mahfudz, ketua MUI, tidak begitu. NU 
> sangat toleran. Gus Dur bahkan membela Ahmadiyah."
> 
> Menurut analisis Uyun, organisasi yang paling anti Ahmadiyah adalah Hizbut 
> Tahrir. Uyun berpendapat Hizbut Tahrir ingin menggiring warga Muslim di 
> Indonesia untuk mendirikan negara Islam. Isu Ahmadiyah hanya dijadikan 
> kendaraan Hizbut Tahrir untuk membuat "umat Islam" di Pulau Jawa dan 
> sekitarnya lebih radikal. "Kalau pemerintah Yudhoyono tak waspada, sekarang 
> eksistensi Indonesia sebagai negara-bangsa riskan. Konsep khilafah HTI sama 
> dengan yang di Turki."
> 
> "Indonesia sejak awal berdiri telah sepakat didirikan sebagai negara-bangsa 
> dan didirikan di atas segala macam perbedaan –suku, agama, kepercayaan, adat 
> istiadat. Oleh karena itu Indonesia punya filsafah, Bhinneka Tunggal Ika."
> 
> "Orang Turki sendiri tidak mengharapkan khilafah. Kok orang Indonesia yang 
> gegap gempita!"
> 
> SK Ahmadiyah muncul pada 9 Juni 2008, seminggu sesudah penyerangan di Monumen 
> Nasional. Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Menteri Agama Maftuh Basyuni dan 
> Jaksa Agung Hendarman Supanji mengumumkan SK No. 3 Tahun 2008 tentang 
> "Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau Pengurus Jemaah 
> Ahmadiyah Indonesia." Isinya, memberi peringatan dan memerintahkan kepada 
> warga Ahmadiyah untuk menghentikan "penyebaran penafsiran dan kegiatan yang 
> menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam." Hukuman penjara maksimal 
> lima tahun diberikan kepada orang yang melanggar SK tersebut.
> 
> Human Rights Watch dari New York protes. Mereka mengingatkan bahwa Indonesia 
> sudah meratifikasi International Covenant on Civil and Political Rights pada 
> Februari 2006. Artinya, Indonesia setuju dengan semua isi traktat 
> internasional itu. Pasal 18 dari traktat itu menyebut, "No one shall be 
> subject to coercion which would impair his freedom to have or to adopt a 
> religion or belief of his choice." Pasal 27 menyebut, "… persons belonging to 
> ... minorities shall not be denied the right, in community with the other 
> members of their group, to enjoy their own culture, to profess and practice 
> their own religion."
> 
> SK No. 3 Tahun 2008 secara tersurat melanggar International Covenant on Civil 
> and Political Rights. Ia juga melanggar Undang-undang Dasar 1945 pasal 28E. 
> Bunyinya, "Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya 
> .... Setiap orang berhak atas kebebasan menyakini kepercayaan ... sesuai hati 
> nuraninya."
> 
> Sidney Jones dari International Crisis Group menyatakan, "The Yudhoyono 
> government made a serious error in 2005 by inviting MUI to help shape policy. 
> It opened the door for hardline groups to press for greater state 
> intervention to define orthodoxy and legislate morality."
> 
> Adnan Buyung Nasution mengatakan dia sudah berusaha maksimal dari dalam 
> sistem pemerintahan Yudhoyono guna mencegah makin merendahnya tembok antara 
> agama dan negara. Dia berpendapat bila SK Ahmadiyah dianggap melanggar 
> traktat internasional dan UUD 1945, dia melihat ada dua jalan hukum: warga 
> sendiri bisa bertindak, melakukan class-action, citizen lawsuit, menggugat 
> Menteri Dalam Negeri atau langsung ke Mahkamah Agung.
> 
> "Mudah-mudahan pemerintah yang baru lebih tegas," katanya.
> 
> Para pengungsi Ahmadiyah di Transito, satu bangunan pemerintah di Mataram. 
> Ukuran tempat tinggal mereka adalah dua meja per keluarga. Dapur ada di luar 
> ruang. Mereka punya tanah dan rumah di Gegerung namun tak bisa menempati hak 
> tersebut .
> 
> IV
> 
> Pada Maret 2009, selama dua minggu, saya mengunjungi para pengungsi Ahmadiyah 
> di Transito, satu bangunan pemerintah di Mataram. Ia terletak di sebuah 
> jalanan sepi. Depan Transito ada warung kecil, jualan kopi, teh, soda, 
> biskuit, sabun, minyak kayu putih, pisau cukur, kacang goreng. Cidomo 
> terlihat hilir mudik. Namanya, Jalan Transmigrasi. Di depan Transito ada 
> perusahaan percetakan Agil Akbar Grafindo merangkap kantor harian umum Warta 
> NTB. Juga ada papan nama PT Windu Sarana Development: mengirim TKI ke Hong 
> Kong, Singapura, Malaysia.
> 
> Nama daerah ini adalah Majeluk. Asalnya, dari kata Sasak "jeluk" atau 
> "jemur." Zaman Jepang, Majeluk adalah tempat tahanan-tahanan mati disiksa dan 
> dijemur. Ada pohon waru, pohon akasia, pohon ketapang yang mekar, tempat 
> berteduh. Asrama Transito dibangun pada 1974 untuk calon transmigran Sasak, 
> guna dikirim ke Kalimantan, Papua, Sulawesi dan Sumbawa.
> 
> "Daerah Majeluk ini aman. Dulu ada yang mau bikin kisruh tapi kita itu 
> sama-sama manusia. Apapun tingkah laku, itu urusan dia. Kampung Majeluk ini 
> tidak mau rusuh apapun," kata Mohammad Achir, warga Majeluk, seorang sopir 
> truk. "Orang-orang Ahmadiyah paling aman disini. Tidak ada yang mau 
> mengusir," katanya. Di Majeluk juga ada beberapa rumah orang Hindu.
> 
> Di dalam, saya bertemu Nur Hidayati. Dia menunjukkan saya tempat tinggalnya. 
> Kamar hanya untuk orang dewasa, anak-anak dan gadis. Kamar mereka 
> masing-masing hanya seukuran dua bangku. Sekat kamar dari kain sarung, yang 
> dibuka jahitannya. Anak lelaki yang sudah besar, tidur di musholla. Dapur 
> terletak di luar bangunan. Ada sebuah ruang dipakai sebagai musholla.
> 
> Nur Hidayati sendiri seorang perempuan muda, umur 20 tahun. Dia baru menikah 
> tujuh bulan, dengan Abdullah, sesama pengungsi dan tukang cukur rambut. 
> Ketika remaja, rumah Nur di Selong, Lombok Timur, dibakar. Mereka diusir. 
> Pengurus Ahmadiyah memutuskan memindahkan semua anak-anak Ahmadiyah ke tanah 
> Priangan di Pulau Jawa.
> 
> Pertimbangannya, sekolah mereka tetap jalan sementara orang tua mereka 
> mengatur kehidupan yang porak-poranda. Nur mengatakan sebuah bus Safari 
> Dharma Raya, penuh dengan anak, membawa mereka ke Priangan. "Kami ditempatkan 
> di keluarga-keluarga Ahmadiyah di Tasikmalaya," katanya.
> 
> Namun, banyak anak yang tak kerasan. Ada yang tidak naik kelas. Jauh dari 
> orang tua dan perbedaan budaya, bahasa Sunda dan bahasa Sasak, membuat mereka 
> perlu waktu guna adaptasi. Nur dijemput orang tua dan kembali ke Mataram. Dia 
> melanjutkan sekolah di SMP dan SMA Muhammadiyah, Mataram.
> 
> "Kami tidak eksklusif. Buktinya? Saya sekolah di Muhammadiyah. Dibilang 
> selalu menyendiri, itu karena mereka tidak lihat kesini. Kami selalu terbuka. 
> Tuan Guru Anwar … Maulud Nabi kemarin beliau kesini," katanya.
> 
> Khairuddin, pengungsi asal Selong, cerita bahwa dua dari tiga anaknya lahir 
> di pengungsian. Isterinya hamil muda saat mereka diusir dari Selong. Anak 
> pertama, Hafiz Qudratullah, mengalami trauma. Pelajaran turun drastis. Hafiz 
> sempat tak naik kelas. Dia sering melamun, kadang teriak, "Orang jahat. Orang 
> jahat. Mengapa rumah dibakar?"
> 
> Anak kedua, Rafiq Wahyu Ahmadi, sering bermimpi, "Orang jahat dobrak pintu 
> dan teriak, `Serbu, serbu.' Kalau tidak cerita, Rafiq menangis, tapi kalau 
> sudah cerita, dia jadi tenang," kata Khairuddin.
> 
> Saya sedih melihat anak-anak Ahmadiyah yang sudah 5-10 tahun hidup dalam 
> pengungsian. Syahidin dari Bayan mengatakan ada 10 bayi lahir di Transito 
> sejak pengusiran dari Gegerung, "Anak bungsu saya diberi nama Muhammad 
> Khatamann Nabiyin … juga lahir di Transito." Syahidin menerangkan bahwa dalam 
> bahasa Arab, khatam artinya pemungkas. Nabiyin artinya nabi. Muhammad 
> Khatamann Nabiyin berarti Muhammad adalah nabi pamungkas. Ini menegaskan 
> bahwa kaum Ahmadiyah mengganggap Nabi Muhammad sebagai nabi pamungkas.
> 
> Ketika hendak meninggalkan Transito, saya tanya pada Nur Hidayati bagaimana 
> rasanya hidup delapan tahun di pengungsian, tumbuh besar dalam ketakutan. Dia 
> terdiam. Kami melihat anak-anak lelaki riuh main sepak bola di halaman 
> Transito. Nur lantas menjawab lirih, "Apa yang dirintis orang tua memang 
> hilang: harta, rumah, tanah. Tapi ini tidak menggoyahkan iman kami."
> 
> "Iman kami tidak goyah."
> 
> ***
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke