http://www.suarapembaruan.com/home/suriel-mofu-putra-papua-penakluk-oxford/3783

Suriel Mofu, Putra Papua Penakluk Oxford
Kamis, 17 Februari 2011 | 16:23





Suriel Mofu [SP/Yuliantino Situmorang]

Siang hari, 7 Maret 2009 menjadi hari bersejarah bagi Suriel Mofu. Hari itu, 
anak muda asal Papua ini berhasil menaklukkan salah satu kampus ternama di 
dunia, Universitas Oxford. Suriel meraih gelar S-3 Doktor Filsafat dari 
universitas nomor satu di Inggris itu. Dia boleh berbangga, sebab gelar 
tersebut belum pernah diraih mahasiswa Papua ataupun mahasiswa-mahasiswa di 
Asia Pasifik. Gelar tertinggi sebelumnya yakni di level S-2 pernah diraih 
Kenneth Sumbuk, Rektor Universitas Papua Nugini. 

"Dia kaget, karena dia yang satu-satunya pegang rekor. Ternyata ada saya yang 
bisa melewatinya. Ini suatu kebanggaan. Tidak hanya bagi Papua, tetapi juga 
Indonesia. Sebab, orang Indonesia yang kuliah di Oxford sangat langka. Saya 
tidak pernah membayangkan bisa diterima di Oxford dan lulus," tutur Suriel saat 
ditemui SP di Jakarta baru-baru ini. 

Pria kelahiran Biak, 22 Juli 1971 itu mengaku bangga, saat diwisuda hanya dia 
orang kulit hitam dari 250 wisudawan yang memenuhi Gedung Sheldonian Theatre, 
Universitas Oxford. Selebihnya adalah wisudawan kulit putih dan ada juga 
sejumlah wisudawan dari Tiongkok dan Jepang. Saat itu, hanya sekitar 50 orang 
yang diwisuda untuk gelar doktor, sisanya adalah untuk gelar master dan sarjana.

 "Saya bangga, sebab hanya saya sendiri yang berkulit hitam dan berambut 
keriting. Memang ada juga beberapa wisudawan dari Asia seperti Tiongkok dan 
Jepang. Ini kebanggaan yang luar biasa, Oxford yang menakutkan ternyata bisa 
saya taklukkan," kenang Suriel.

 Awalnya, Suriel tidak menyangka bisa diterima di Oxford. Sekitar tahun 2003 
saat masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra Universitas Negeri Papua 
(Unipa) dia melamar menjadi mahasiswa S-2 di Oxford. Ternyata diterima. Selama 
2003-2005 dia tinggal di Inggris dan menyelesaikan Master of Philosophy 
(M.Phil). 

Bahkan, tesisnya tentang Comparative Philology and General Linguistics mendapat 
nilai terbaik. Dengan hasil itu, ayah tiga anak ini langsung mendapat 
kesempatan melanjutkan studi doktor di Universitas Oxford tanpa melalui tes. 
Gelar doktornya dia selesaikan tahun 2009.  Selama enam tahun di Oxford, Suriel 
menyadari, ternyata tidak terlalu sukar.

 "Kuliah di mana saja sama dan bisa kita atasi kalau kita tahu aturan dan 
standar-standarnya. Selama di sana, saya berusaha memenuhi standar-standar 
itu," ujarnya. 

Bagi Suriel keberhasilannya itu sebenarnya hasil didikan panjang dari orang 
tuanya. Kedua orangtuanya sangat disiplin untuk masalah pendidikan. Ayahnya, 
Henokh Mofu, guru olahraga di sebuah sekolah di Biak Timur selalu menekankan 
agar Suriel selalu menjadi orang pintar.

 "Dia tidak ingin saya bermain bola. Padahal, ayah saya itu pemain sepakbola. 
Tetapi menurutnya, pemain bola di Indonesia nasibnya tidak mujur, selalu 
kandas," tutur Suriel. 

Ayahnya memang mantan pemain pertama Persipura. Henokh bersama legendaris 
sepakbola Papua lainnya pernah bertandang ke Tanah Jawa  tahun 1969. 

"Didikannya keras. Soal pendidikan selalu nomor satu. Saya waktu kecil 
diharuskan tidur siang ketika teman-teman saya sibuk bermain. Sebab malamnya 
saya harus konsentrasi belajar. Disiplin diterapkan dari awal, perlakuan itu 
berbeda dengan anak-anak kampung sebaya saya lainnya," kata dia. 

Ternyata, didikan itulah yang membuat Suriel selalu menjadi juara 1 di sekolah, 
sejak di SMP hingga menjadi juara umum di Universitas Cendrawasih. Tetapi, 
bukan berarti Suriel terus berkutat dengan buku. Dia tetap memiliki hobi 
olahraga yakni sepak takraw. Bahkan, dia menjadi pemain sepak takraw andalan 
SMA 1 Biak untuk kejuaraan sepak takraw tingkat kabupaten. 

Pertengahan Januari lalu, Suriel terpilih menjadi Rektor Unipa. "Pelantikannya 
bulan Maret, tunggu SK dari Mendiknas," kata Suriel. Baginya, tugas menjadi 
rektor bukan hal mudah. Tetapi, cita-cita awalnya ketika menjadi salah satu 
penggagas terbentuknya Unipa tahun 2000 lalu, akan dia wujudkan. "Saya ingin 
menjadikan Unipa sekolah tinggi terbaik di ufuk timur Indonesia. 
Standar-standarnya jelas yakni kualitas. Kualitas akan menjadi ukuran. 
Sekalipun kami di timur, kalau kualitas, kami akan kejar peringkat nasional dan 
internasional," kata dia. 

Unipa merupakan satu dari tiga universitas negeri di Papua selain Universitas 
Musamus dan universitas tertua di Papua yakni Universitas Cendrawasih. Sebelum 
menjadi universitas, Unipa awalnya adalah Fakultas Pertanian Uncen. Saat ini, 
Unipa berada di peringkat 103 nasional. Dalam lima tahun masa kepemimpinannya, 
Suriel menargetkan Unipa masuk 20 besar nasional. 

Dia menyiapkan tiga tema utama untuk kampusnya yakni Unipa yang mandiri, 
bermutu, dan sejahtera. Menurutnya, Unipa harus mandiri dalam melaksanakan 
berbagai aktivitas baik pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. 

"Kami selama ini terlalu bergantung pada pemerintah maupun sumber-sumber dana 
dari luar. Padahal kami punya potensi-potensi seperti peternakan sapi yang 
banyak, kebun percobaan yang menghasilkan hasil pertanian yang unggul seperti 
ubi. Kemudian kami juga memiliki tanah yang luas. Itu belum dimanfaatkan. Belum 
unit-unit usaha yang lain yang bisa dikelola untuk membiayai sendiri tiga tri 
dharma perguruan tinggi itu," paparnya. 

Menurut dia, seseorang yang mandiri itu adalah orang yang bermutu. Karena itu, 
kata Suriel, harus diterapkan pengelolaan yang bermutu dari segala tingkatan di 
kampus. Jika sudah mandiri, lalu bermutu, otomatis kesejahteraan akan 
diperoleh. Suriel mengaku tahu apa terbaik untuk Unipa.

 "Sebab saya tahu apa artinya terbaik karena saya pernah kuliah di salah satu 
universitas terbaik di dunia. Akreditasi harus ditingkatkan dari C, B, ke A. 
Sekarang kebanyakan C. Akreditasi tidak bisa ditingkatkan kalau tidak 
berkualitas," tuturnya. 

Saat ini sudah ada 4.563 mahasiswa yang kuliah di enam fakultas di Unipa yakni 
Pertanian dan Teknologi Pertanian, Kehutanan, Peternakan, Perikanan dan Ilmu 
kelautan, FMIPA, Ekonomi, dan Fakultas Sastra. Dijelaskan, basis utama Unipa 
adalah pertanian dan pelestarian lingkungan hidup. Hal itu didasari kondisi 
banyaknya kerusakan alam di Papua. Padahal, Papua adalah harapan terakhir 
paru-paru dunia. 

"Jadi kita perlu menjaga itu. Makanya pola studi kami mengarah ke sana," 
ujarnya. 

Rencananya, ada dua fakultas baru yang akan dikembangkan yakni Fakultas 
Keguruan dan Teknik. Hal ini melihat potensi Papua yang kaya bahan tambang. 
Menurut Suriel, peluang itu harus dimanfaatkan.

"Anak Papua harus banyak yang dididik untuk menguasai teknik migas, 
pertambangan, geologi, sehingga perusahaan-perusahaan tambang di Papua harus 
menyerap tenaga kerja anak Papua," ujarnya. 

Sedangkan Fakultas Keguruan diperlukan karena SDM di Papua rendah dan tidak 
merata. Fakultas Keguruan nantinya bisa menghasilkan pendidik yang berkualitas 
dan bisa dikirim ke seluruh Tanah Papua untuk mengangkat SDM. 

Semuanya itu demi mengubah Unipa. Baginya, mengubah Unipa berarti mengubah 
Papua. 

"Unipa harus menjadi yang terbaik di Papua dan memberi yang terbaik bagi Papua. 
Anak Papua tidak perlu jauh-jauh kuliah di Jawa atau daerah lain, sebab di 
Papua ada universitas yang bagus. Dulu saya sekolah susah, guru tidak lengkap. 
Ini sekarang harus diubah, agar SDM Papua bisa meningkat. Universitas adalah 
pabrik tenaga SDM andal yang bisa mengubah keadaan itu. Saya melihat ini 
sebagai tantangan sekaligus peluang yang besar sekali untuk mengubah Papua," 
kata Suriel. [SP/Yuliantino Situmorang]    


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke