http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/02/18/07315440/Saat.China.Jenuh.RI.Harus.Siap

Oleh Simon Saragih 

"Melompatlah ke laut" adalah ungkapan terkenal almarhum Presiden Deng Xiaoping 
untuk mendorong kapitalisme di China. Hamparan karpet merah bagi investor, 
antusiasme China perantauan, termasuk asal Indonesia, dan penyediaan 
infrastruktur berkualitas dunia mengubah drastis perekonomian China.

Partai Komunis pintar memanfaatkan mata rantai bisnis global. Hal ini 
menjadikan China bagian utama jaringan produksi global yang bergerak 24 jam 
sehari seperti ban berjalan.

Sikap tak kompromi terhadap gangguan stabilitas serta toleransi nol terhadap 
aksi sektarian dan segregasi wilayah menjadikan China negara terstabil di 
dunia. Hal ini diperkuat sikap kukuh dan kemandirian pemerintah menyikapi 
guncangan dan destabilisasi eksternal. China tak mudah gugup terhadap gertakan 
Amerika Serikat yang sering mirip musang berwajah domba.

Racikan kebijakan ekonomi, birokrasi energik, dan kesediaan tenaga kerja murah 
turut menyulap China dari sarang kemiskinan menjadi pasar bagi produk state of 
the art yang menjadi buah bibir pengusaha global.

Dari penghasil barang, kini China menjadi konsumen dunia berkat rata-rata 
pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen per tahun selama 31 tahun terakhir. "Kami 
kini menjadi negara seperti Jepang pada dekade 1980-an," kata Prof Dr Yan 
Jianmiao, Dekan Jurusan Ekonomi Internasional Universitas Zhejiang, Hangzhou.

Namun, tidak ada pertumbuhan abadi, tak ada aktivitas ekonomi yang tak jenuh. 
China tak akan terus bisa menyedot investasi dunia. Buldoser ekonomi, sadar 
atau tidak, memunculkan terlalu banyak derita. Ada polusi di sungai, udara, dan 
tanah yang pernah mengorbankan warga satu desa akibat limbah merkuri.

Ada penyerobotan lahan tanpa ganti rugi memadai dan eksploitasi buruh yang 
bekerja 24 jam dalam tiga ronde di ruangan tak sehat. Hal ini melahirkan 
aktivis hak asasi manusia seperti Chen Guangcheng, seorang pengacara buta yang 
siap mati untuk menyadarkan Partai Komunis. "Jangan menutup mata terhadap isu 
seperti ini jika Anda ke China," kata Jack Lebon, eksekutif di perusahaan 
Belgia yang sudah 20 tahun bermukim di Beijing.

Saat bergegas

Hal itu mulai menyadarkan pemerintah tentang konsekuensi negatif model 
pembangunan bermotokan "pertumbuhan, apa pun biayanya" (growth at all cost). 
"Repelita ke-12 periode 2011-2015 akan mengubah strategi pembangunan ekonomi," 
kata Prof Yan yang turut merencanakan pembangunan.

Ketimpangan wilayah serta kesenjangan antara kaya dan miskin adalah ancaman 
sosial politik baru yang muncul dari sukses ekonomi. "Princeling", julukan bagi 
birokrat dan kroni serta keluarga yang mendadak kaya karena menerima suap dari 
investor, menjadi isu mencuat.

Dalam repelita berikut, upah dan jaminan sosial buruh diperketat. Pengusaha tak 
lagi dapat memecat buruh seenaknya. China sudah memberi tahu pengusaha tentang 
kemungkinan kenaikan biaya produksi.

China tak lagi menjadi surga footloose industry, seperti tekstil dan sepatu 
atau pabrik berbiaya murah, seperti dulu. "Upah tenaga kerja lulusan SMA Rp 3 
juta-Rp 5 juta," kata Ratna Laksana, Direktur Resources Global Professionals.

Pemerintah China berusaha mengompensasi dengan memasuki industri berteknologi 
tinggi yang bernilai tambah lebih besar. Industri otomotif yang juga memasok 
alat pertanian berkembang, begitu juga telekomunikasi. China membuat pesawat 
terbang, mengirim orang ke luar angkasa, serta maju dalam teknologi nuklir dan 
rekayasa genetika untuk pertanian dan kedokteran.

Lepas dari perang kurs antara AS dan China, kurs yuan lebih rendah 40 persen 
dari nilai seharusnya. Kurs yuan kini 6,57 per dollar AS. Berdasarkan riset 
Columbia University, New York, jika kurs menjadi sekitar 4 yuan per dollar AS, 
hal itu akan membuat biaya produksi dan berbisnis di China jauh lebih mahal 
daripada sekarang.

Stephen Joske, Direktur China Forecasting Service, The Economist Intelligence 
Unit, bahkan tak ragu mengatakan, ekonomi China menanam bom waktu. "Akan 
meledak, hanya saja kini belum terbayangkan," kata Joske.

Misalnya, ada pemakaian dana luar biasa untuk membangun apartemen menjelang 
Olimpiade Beijing 2008. Pasokan apartemen yang butuh penyerapan 25 tahun 
dibangun dalam dua tahun. Muncul kekhawatiran terjadi krisis kredit perumahan 
seperti di AS pada 2008.

Indonesia mungkin sasaran investor berikutnya. "Namun, pemerintah Anda memang 
harus bergerak," kata Joske. Inilah keadaan yang harus diantisipasi Indonesia, 
prospek baru yang semestinya membuat pemerintah mempersiapkan infrastruktur, 
kestabilan sosial politik, dan kepastian hukum bisnis. Masih tetap mau tidur?



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke