Berita ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  710  600  kali

======================================



Dampak Prahara Besar Untuk Perubahan
di Negara-negara Arab



Dengan tumbangnya pemerintahan Husni Mubarak di Mesir dan pemerintahan Ben
Ali di Tunisia sebagai akibat perlawanan rakyat besar-besaran di kedua
negeri ini, maka sekarang berkembang situasi baru dan menarik di berbagai
negara-negara Arab dan negara-negara non-Arab lainnya yang berpenduduk
Muslim.



Perkembangan situasi baru ini begitu luasnya dan begitu besarnya, sehingga
diramalkan oleh banyak orang di dunia bahwa akan bisa  mendatangkan berbagai
perubahan, dalam bentuk yang berbeda-beda  dan kadar yang berlain-lainan, di
banyak negara-negara Arab dan non-Arab. Situasi baru yang disebabkan adanya
pergolakan-pergolakan di banyak negara yang meluas ini, merupakan
perkembangan yang baru dan penting dalam sejarah bangsa-bangsa Arab sejak
ribuan tahun.



Seperti yang kita ketahui bersama, pergolakan-pergolakan rakyat Mesir dan
Tunisia, telah memberikan inspirasi perjuangan rakyat di negara-negara
lainnya, antara lain di Yaman, di Jordania, di Siria, Iran, Bahrein, Maroko,
Aljazair, Libia, atau negara-negara lainnya dan bahkan juga di Uganda yang
bukan Arab. Di negara-negara ini telah terjadi berbagai ragam pergolakan
rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu keinginan  untuk memperoleh
kebebasan yang sudah berpuluh-puluh tahun dikekang oleh para penguasa, yang
banyak menyalahgunakan agama atau politik kekuasaan untuk menindas rakyatnya
sendiri.



Di samping itu, di banyak negara-negara Arab yang jumlahnya sekitar
duapuluhan itu pada     umumnya tidak ada kemajuan yang pesat menuju
kemakmuran dan demokrasi. Di banyak negara-negara Arab terjadi stagnasi
(kemandegan) dan keterbelakangan yang sudah berlangsung puluhan tahun,
kecuali negara-negara kecil seperti Emirat Arab (Dubai, Abudabi, Qatar,
Bahrein) berkat adanya sumber-sumber minyak.



Sekjen Liga Arab, Amir Musa,  menjelaskan bahwa sebagian besar masyarakat di
negara-negara Arab bergelut dengan kemiskinan, pengangguran dan
keterbelakangan.



Sebab-sebab kemiskinan  dan keterbelakangan di negara-negara Arab


Namun, banyak pendapat yang menjelaskan bahwa kemiskinan, pengangguran dan
keterbelakangan di negara-negara Arab ini erat hubungannya dengan
sebab-sebab yang lain, yang selama berpuluh-puluh tahun sudah mengikat atau
memborgol kebebasan rakyat.



Di antara sebab-sebab itu adalah sistem sosial atau kebudayaan yang  penuh
dengan mentalitas feodal atau setengan feodal, yang tidak demokratis, yang
membrangus kebebasan berfikir, yang melanggar HAM, yang masih belum terbebas
dari sisa-sisa peradaban jaman abad pertengahan.

Dalam banyak aksi-aksi rakyat di berbagai negara Arab yang makin banyak
terjadi akhir-akhir ini (bahkan termasuk di Arab Saudi sendiri !!!)  segala
keburukan itu telah disuarakan oleh massa rakyat dengan berbagai cara.



Segala keburukan yang menimpa rakyat itu  diperkuat atau diperparah oleh
para penguasa, pemuka-pemuka masyarakat, dan politisi yang bermental korup
dan reaksioner menghadapi kepentingan rakyat terbanyak, dengan
menyalahgunakan agama atau mempermainkan ayat-ayat kitab suci untuk menutupi
segala tindakan atau politik mereka yang merugikan kepentingan orang banyak
dan hanya menguntungkan keluarga, kerabat, atau kelompok mereka saja.



Contoh yang gamblang tentang fenomena semacam ini kelihatan jelas dalam
kasus presiden Ben Ali, yang berkuasa di Tunisia selama 23 tahun, dan kasus
presiden Husni Mubarak yang mengangkangi Mesir selama 32 tahun. Sudah banyak
tersiar berita bahwa Ben Ali terpaksa lari ke Jedah di Saudi Arabia bersama
keluarganya dan membawa berton-ton mas. Sedangkan Husni Mubarak diberitakan
telah mengumpulkan kekayaan yang seluruhnya berjumlah sampai 70 miliar
dollar,  yang tersebar di Inggris, Prancis, Spanyol, Jerman, Dubai dan
banyak tempat lainnya.



Dampak turunnya Husni Mubarak dan Ben Ali


Dipaksanya Husni Mubarak meletakkan jabatan sebagai presiden Mesir akibat
« pembrontakan » besar-besaran oleh jutaan orang selama 18 hari di Kairo dan
berbagai kota Mesir merupakan kejadian yang amat besar pengaruhnya atau
dampaknya di antara negara-negara Arab dan non-Arab di Timur Tengah.



Bukan saja karena Mesir berpenduduk paling besar di antara negara-negara
Arab, yaitu sekitar 80 juta orang, melainkan juga karena sejarahnya yang
kuno dan letaknya yang strategis di Timur Tengah dan Mediterranea, serta
kedudukannya yang penting dalam masalah-masalah Palestina dan Israel.



Tumbangnya presiden Tunisia, Ben Ali, dan dipaksa turunnnya presiden Mesir
Husni Mubarak oleh perjuangan rakyat mengindikasikan bahwa untuk melawan
segala ketidakadilan dan merebut kebebasan ini mereka sudah melepaskan sama
sekali rasa takut, yang selama berpuluh-puluh tahun membikin tunduk kepada
para penguasa yang pada umumnya adalah reaksioner, korup, dan sering
bertindak sewenang-wenang.



Kebangkitan massa rakyat di berbagai negara Arab yang demikian ini merupakan
perkembangan yang penting dan besar artinya bagi banyak negara yang non-Arab
dan berpenduduk Muslim di Asia, dan Afrika, atau berbagai bagian dunia
lainnya, termasuk di Indonesia.



Pergolakan rakyat di Libia untuk menentang diteruskannya kekuasaan
pemerintahan Kadhafi yang sudah berlangsung lebih dari 40 tahun dengan
tangan besi, dan  yang berselimut ajaran-ajaran Islam revolusioner (ingat
« buku hijaunya » isi ajaran-ajaran Kadhafi yang meniru-niru « buku
merah »-nya Ketua Mao) adalah satu contoh yang amat tipikal atau menonjol
bagi  perkembangan situasi di negara-negara Arab dan non-Arab yang
berpenduduk agama Islam. Juga perkembangan di Iran, yang mulai menunjukkan
kebangkitan massa rakyat (terutama dari kalangan muda), untuk menuntut
dilaksanakan demokrasi sepenuhnya dan seluas-luasnya, dan untuk
dipulihkannya kebebasan dan dihargainya HAM.



Dorongan untuk lahirnya pembaruan Islam


Pergolakan di negara-negara Arab dan di negara-negara yang berpenduduk Islam
tapi non-Arab, akan merupakan fenomena sejarah dunia yang sangat penting
untuk kehidupan banyak bangsa dan negara di dunia. Kiranya, dapat diramalkan
bahwa pergolakan-pergolakan rakyat diberbaai negeri itu akan merupakan
dorongan untuk lahinrya pembaruan Islam, atau modernisasi Islam, yang sesuai
dengan kebutuhan ummatnya dijaman sekarang. Arah kejurusan inilah yang
menjadi inspirasi atau tujuan massa rakyat yang sekarang sedang bergolak di
banyak negara sekarang ini.



Dengan adanya Internet, dan dengan menggunakan fase-book, atau twitter, atau
SMS lewat handphone, maka rakyat tidak bisa lagi terus-menerus dikekang atau
ditutup mata dan telinga mereka tentang berbagai kejahatan para penguasa di
negara mereka masing-masing.



Dari pengamatan terhadap aksi-aksi atau gerakan massa rakyat di berbagai
negara Arab dan non-Arab maka hal yang menarik adalah banyaknya persamaan
dalam isi dan tujuan gerakan mereka, yaitu yang mementingkan kebebasan atau
demokrasi. Walaupun ada perbedaan dalam  isi dan tujuan dari gerakan di
banyak negara itu masing-masing, namun boleh dikatakan bahwa dalam hal
kebebasan atau demokrasi pada pokoknya mereka sama.



Dalam slogan-slogan yang terdengar dalam aksi besar-besaran jutaan rakyat
Tunisia dan Mesir terdengar lantang masalah kebebasan dan demokrasi ini.
Bahkan ada yang mengatakan  bahwa « revolusi kita bukannya revolusi untuk
agama, melainkan untuk kepentingan rakyat, untuk demokrasi ».



Perkembangan  yang perlu diperhatikan oleh kalangan Islam Indonesia


Hal lain yang patut diperhatikan yalah bahwa dalam gerakan massa rakyat di
berbagai negara ini tidak banyak terdengar suara yang menuntut
dilaksanakannya Syariah Islam, kecuali oleh kalangan fundamentalis yang juga
terdapat menyelinap dalam gerakan-gerakan massa rakyat itu.



Itu semua merupakan hal-hal yang patut diperhatikan oleh berbagai kalangan
di Indonesia. Sebab, banyak hal tentang pemerintahan negara-negara Arab dan
penggunaan (lebih tepatnya  : peyalahgunaan) agama, yang akhir-akhir ini
terbongkar sisi-sisi gelapnya atau sifat-sifat buruknya. Kasus Ben Ali dan
kasus Husni Mubarak sudah membuktikannya dengan gamblang, dan mungkin akan
disusul oleh kasus Kadhafi dari Libia, kasus Bouteflika dari Aljazair, kasus
Ali Abdullah Saleh dari Yaman, dan …. dan …seterusnya, masih banyak lagi.



Dari pengamatan selama ini kiranya kita semua dapat menarik kesimpulan bahwa
tidak ada negara Arab yang bisa menjadi contoh bagi kehidupan bangsa dan
negara kita. Boleh dikatakan bahwa di negara-negara Arab dan di berbagai
negara non Arab yang berpenduduk Muslim tidak ada demokrasi, seperti halnya
yang terdapat di banyak negara di dunia.

Di banyak negara Arab, sistim politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan juga
tidak dapat dikatakan maju, sehingga sekjen Liga Arab, Amir Musa menegaskan
bahwa negara-negara Arab mengalami kemiskinan, pengangguran dan
keterbelakangan.



Peran penting golongan muda dan kaum terpelajar



Megingat itu semua, adalah wajar, dan sudah seharusnya ( !!!) bahwa golongan
muda dan kaum terpelajar di negara-negara tersebut bangkit secara
besar-besaran bersama-sama untuk mendobrak segala macam belenggu dan
membongkar berbagai rintangan dalam fikiran usang, kebiasaan kuno, dan
peradaban yang tidak beradab, menuju kehidupan yang serba baik bagi ummat
sesama.



Perjuangan mereka ini tidak gampang mengingat mentalitas yang serba negatif
bagi kehidupan ummat ini sudah ditanamkan sejak ribuan tahun, dan
turun-menurun dari generasi yang satu ke generasi lainnya. Dan di samping
itu kekuatan kolot dan reaksioner itu masih bisa terus menyalahgunakan
segala macam adat dan faham tua (termasuk agama) untuk mempertahankan status
quo, dengan bersekongkol dengan kekuatan-kekuatan asing, terutama Amerika
Serikat.



Masih terus bercokolnya kekuasaan militer di Mesir sesudah ditumbangkanya
kekuasaan Husni Mubarak, dan masih lambatnya pembersihan sisa-sisa kekuasaan
Ben Ali di Tunisia adalah contoh yang menunjukkan indikasi ke arah ini.
Perjuangan rakyat Tunisia dan rakyat Mesir masih belum selesai dengan hanya
menumbangkan Ben Ali dan Husni Mubarak saja !



Begitu pula halnya seandainya perjuangan rakyat Libia nantinya bisa mendepak
Kadhafiatau perjuangan rakyat Yaman bisa mendongkel presiden Ali Abdalah
Saleh. Dimana-mana akan terjadi banyak persoalan-persoalan baru, dan
perjuangan baru, setelah penguasa-penguasa korup dan reaksioner digulingkan
oleh gerakan-gerakan rakyat.



Era perjuangan untruk kebebsan dan demokrasi



Namun, betapa pun rumitnya situasi atau betapa pun ruwetnya persoalan di
banyak negara-negara Arab (dan negara non-Arab yang berpenduduk Muslim)
karena adanya perjuangan massa rakyat untuk menuntut kebebasan dan
demokrasi, maka perspektifnya adalah perubahan dimana-mana.



Bisalah kiranya  dikatakan  bahwa sekarang inilah sudah dimulai era
perjuangan untuk perubahan di negara-negara Arab (dan negara-negara non-Arab
yang berpenduduk Muslim), Era perjuangan ini mengambil beragam bentuk dan
melalui cara dan ritme yang bisa berbeda-beda, dan bisa pula makan waktu
yang pendek atau lama.



Namun, era perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi  di negara-negara
tersebut  sudah tidak dapat dibendung lagi atau dicegah sama sekali.
Perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi itu sudah menjadi bagian yang tak
terpisahkan lagi dari jaman itu sendiri.



 Hal yang demikian terlihat dalam adanya kebangkitan rakyat di Maroko
melawan kekuasaan raja Muhmamad VI, mulainya perlawanan rakyat Jordania
terhadap raja Abdalah II, pergolakan yang mulai muncul juga di Siria untuk
menggugat presiden Basyar Al Assad. Sudah makin jelas bahwa prahara besar
untuk perubahan sedang melanda di banyak negara-negara Arab.



Perjuangan yang sebagian terbesar atau pada pokoknya dimotori oleh generasi
muda di berbagai negeri masing-masing adalah trobosan terhadap benteng atau
pendobrakan kubu yang sudah memenjara otak dan hati sebagian ummat manusia
sejak ribuan tahun yang lalu.



Oleh karena itu, seyogianyalah bahwa berbagai kalangan di Indonesia
mengikuti dengan cermat perkembangan perjuangan rakyat berbagai negara Arab
(dan non-Arab yang berpenduduk Muslim). Sebab, dalam proses perjuangan
besar-besaran ini tentunya akan lahir pemikiran-pemikiran baru dan
tindakan-tindakan baru untuk merubah segala yang lama yang sekarang sudah
tidak dibutuhkan ummat di negara masing-masing, termasuk di Indonesia
misalnya.



Banyak sedikitnya, dan lambat laun,  akhirnya perubahan-perubahan besar di
negara-negara Arab akan menimbulkan dampaknya juga di Indonesia, terutama di
kalangan Islam. Dari sudut ini kelihatan bahwa pergolakan-pergolakan besar
di negara-negara Arab, tidak saja akan mendatangkan kebaikan bagi
rakyat-rakyat Arab, melainkan juga bagi rakyat-rakyat negara lainnya,
termasuk bagi rakyat Indonesia.



Paris, 20 Februari  2011



  1.. Umar Said


= = = = = = = = = =






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke