http://health.kompas.com/index.php/read/2011/02/21/06330077/Bermimpi.Obat.Murah

Seandainya harga obat murah, biaya pelayanan kesehatan di Indonesia tentu tidak 
akan semahal sekarang. Ini karena komponen biaya obat bisa mencapai 45 persen 
dari total biaya kesehatan. Lalu, mengapa harga obat mahal? Penyebabnya adalah 
tidak ada subsidi sebagaimana harga bahan bakar minyak. Padahal, harga obat 
bisa lebih murah kalau kita mengetahui seluk-beluk pasar obat.

Berbagai faktor yang membuat harga obat mahal adalah jumlah dan jenis obat yang 
beredar di Indonesia terlalu banyak, baik yang menggunakan nama generik maupun 
nama dagang. Jumlahnya sudah ribuan. Padahal, yang diperlukan untuk dapat 
memenuhi kebutuhan pengobatan/medik hanya 800-1.000 nama generik dan dagang.

Terlalu banyak obat

Selain itu, produsen/pabrikan obat juga terlalu banyak. Tak jarang, satu nama 
generik diproduksi oleh beberapa produsen dengan harga yang sangat berbeda. 
Meski khasiat sama, harganya bisa berbeda sepuluh kali lipat. Kalau dokter 
memberi kita obat yang harganya mahal, sudah tentu harga resep kita menjadi 
mahal. Padahal, ada pilihan obat dengan harga yang bisa jauh lebih murah dengan 
khasiat yang sama.

Meski demikian, ada hal-hal yang memang membuat harga obat mahal. Sebagian 
besar bahan baku obat masih diimpor dan tidak bebas pajak, seperti beras dan 
bahan pokok lain. Dengan demikian, harga obat lebih banyak ditentukan oleh 
harga bahan baku, kurs mata uang, dan pasar internasional. Kalau ada gejolak 
ekonomi yang memengaruhi perekonomian dunia, harga obat bisa naik. Misalnya 
kenaikan harga BBM atau krisis di suatu negara yang berdampak terhadap 
distribusi obat.

Selain itu, obat juga sudah menjadi komoditas atau industri yang harus 
memperhitungkan biaya riset, produksi, dan distribusinya. Obat adalah juga 
komoditas yang tak banyak diketahui oleh para konsumen atau pasien. Mereka ini, 
selain tak tahu (ignorance) terhadap obat yang harus dibayarnya, dalam hubungan 
pasien-dokter, pasien sebagai konsumen hampir selalu berada di pihak yang 
lemah. Terserah dokter, mau diberi obat apa.

Sebagian besar pasien meminta obat yang dianggap paling mujarab meski harganya 
mahal. Sementara banyak dokter tentu saja ingin memenuhi keinginan pasien. 
Urusan obat memang kadang tidak rasional karena yang dipertaruhkan adalah 
kesehatan, bahkan jiwanya sendiri. Maka, anggarannya sering tanpa batas, sampai 
"kantongnya" kosong. Faktor psikologis ini yang dimanfaatkan bagian pemasaran 
atau detailmen obat yang mendatangi para dokter untuk menuliskan resep obat 
yang mereka pasarkan.

Dengan kenyataan seperti itu, yang terjadi justru keadaan yang berlebihan 
(overutilization). Obat yang semestinya tidak perlu—bahkan yang tidak perlu 
sama sekali pun—diberikan kepada pasien. Inilah yang membuat obat semakin mahal.

Kendali harga dan mutu

Dengan memerhatikan kondisi pasar obat, sebagaimana dikemukakan di atas, 
sesungguhnya masih ada celah untuk menurunkan harga obat. Kalau jumlah dan 
jenis obat yang beredar bisa ditekan sampai pada jumlah yang wajar—dengan 
syarat tetap memenuhi kebutuhan pengobatan/medik—harga obat bisa turun dengan 
mutu yang tetap terjamin. Sebab, obat yang tercantum dalam daftar obat itu 
adalah pilihan para ahli.

Di sinilah perlunya memiliki daftar obat atau formularium obat yang 
direkomendasikan untuk ditulis dalam resep sehingga tidak perlu jumlah dan 
jenis obat yang terlalu banyak. Kita mengenal daftar obat esensial atau 
formularium rumah sakit atau daftar obat yang digunakan perusahaan asuransi.

Dengan jumlah yang terbatas, apalagi kalau bisa bekerja sama dengan produsen 
obat, biaya produksi, pengadaan, dan distribusi obat bisa ditekan. Apalagi 
kalau dalam daftar obat/formularium itu memiliki harga plafon (harga tertinggi) 
untuk satu jenis obat yang harganya sangat bervariasi itu. Semakin besar 
pengguna daftar obat, semakin besar pula kemungkinan penurunan harga obat.

Pengalaman PT Askes Indonesia, dengan jumlah peserta sekitar 16 juta orang, 
bisa menjadi contoh. Sejak memperkenalkan Daftar dan Plafon Harga Obat (DPHO) 
tahun 1987, terjadi penurunan belanja obat secara bermakna. Harga setiap jenis 
obat dalam DPHO bisa lebih rendah 30 persen dibandingkan dengan harga pasar. 
Semakin besar pengguna DPHO, semakin murah harga obat. Ini karena bagi 
produsen/pabrikan obat (pabrik obat), jumlah pengguna DPHO merupakan captive 
market yang sangat bermakna tanpa kegiatan pemasaran lagi. Dengan demikian, 
biaya produksi dan distribusi bisa turun.

Perlunya asuransi kesehatan

Maka, seandainya DPHO diberlakukan secara nasional, harga obat pasti tak akan 
semahal sekarang. Namun, hal ini baru bisa terwujud kalau sebagian besar 
penduduk Indonesia dicakup dalam program asuransi kesehatan, sebagaimana 
(antara lain) program Jaminan Kesehatan yang termaktub dalam Undang-Undang 
Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Di sinilah manfaat setiap program asuransi kesehatan di banyak negara, yang 
selain menjamin biaya pemeliharaan kesehatan juga mengendalikan harga dan mutu 
obat. Konsumen yang masih fragmented—karena cakupan program asuransi/jaminan 
kesehatan masih terbatas—adalah faktor penyebab berikutnya mahalnya harga obat 
di Indonesia.

Dengan gambaran seperti di atas, bermimpi harga obat murah bukanlah suatu 
kemustahilan. Syaratnya, Indonesia harus sudah mulai bersungguh-sungguh 
membangun sistem asuransi kesehatan sehingga sebagian besar atau seluruh 
penduduk Indonesia tercakup. Tanpa program asuransi kesehatan, harga obat tidak 
hanya mahal, tetapi juga semakin sulit dikendalikan, baik mutu maupun harganya.

Konsumen pun akan semakin fragmented karena tidak ada lembaga/badan 
penyelenggara asuransi kesehatan yang memiliki posisi tawar memadai untuk 
mengendalikan harga dan mutu obat. Kampanye obat generik tidak akan bermakna 
menurunkan harga obat. Kenyataan menunjukkan, pengguna obat generik masih 
sangat terbatas hingga hari ini.

Sulastomo, Direktur Operasi PT Askes Indonesia Periode 1986-2000



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke