http://endyonisius.blogspot.com/2011/02/tata-ruang-ala-burlesque.html

Show a little more, show a little less
Add a little spark, welcome to Burlesque
Everything you dream of, but never
can possess, nothing what it seems
Welcome to Burlesque ..

Selamat datang di dunia artifisial nan gempita, menutupi aroma
remang pentas yg pengap didekap intrik dan saling sikut. Inilah
sepetak pertunjukkan dgn lampu sorot mengarah kepada citra yg
diinginkan para pengunjung, mereka membayar untuk melarikan diri
dari sumpeknya kehidupan nyata. Burlesque merupakan salah satu
pelepas dahaga paripurna dan teramat menggetarkan sesuai sejarahnya
sendiri. Berawal dari Burla yakni istilah Spanyol yg bermakna Jest
(senda gurau, pertunjukkan badut, ingat epic Script For a Jester's
Tear milik band Marillion), lalu menjadi parody di Italia berupa
Burlesca. Kemudian budaya Prancis menegaskannya sbg pertunjukkan
ala satire lewat tarian dan musikal dalam menutupi kepahitan hidup,
sementara di Inggris pada abad 19 lebih menggunakannya sbg karikatur
kehidupan entah menyentil politik maupun hukum dgn istilah Travesty.
Perpaduan yg telah memperkaya dunia pertunjukkan serius sbg kemasan
yg detail dan penuh disiplin, terutama ciri yg menampilkan detail
keindahan pentas lewat sosok khas para wanitanya.

Faktor wanita pula yg kemudian membawa Burlesque menyeberang ke
daratan Amerika awal abad 20, namun identik lewat eksploitasi fisik.
Kemungkinan ada peran dari para mafia underground yg identik dgn
gangster dan alcohol di era Al Capone terutama perdagangan wanita.
Perkembangan Burlesque memuncak sekaligus membuat varian baru seperti
pertunjukkan cabaret atau penari chan-chan, serta yg lebih vulgar
yakni striptease. Maka ketika dunia ini telah ditayangkan melalui
pita seluloid pada layar lebar, merupakan kompromi antara nafas
Burlesque klasik dgn selera kontemporer bercampur racikan scenario
ala Cinderela modern. Disitu masih dominan tari dan nyanyi dalam
tehnologi lip-sync, tata sorot gemerlap maupun limelight menegaskan
lekuk tubuh berbalur kostum bukan untuk dikenakan ke kantor. Tema
pertunjukkan gak lagi penting melainkan bergeser ke setting dunia
nyata yg bergumul sengit di belakang pentas lewat karakter setiap
pemerannya. Sebagai pokok kisah adalah sang pemilik Burlesque Lounge
yg resah mempertahankan panggungnya di belantara kerakusan dunia
properties modern, topic yg selalu relevan dari sejenis The Young
Ones (Cliff Richard) hingga sekuel Sister Act (Whoopi Goldberg).
Sementara Cinderela sang juru selamat modern namun tetap memilih
pakem klasik yg datang dari udik ala Satria Bergitar, iapun akan
membereskan segala persoalan sembari terus bernyanyi.

Tulisan ini bukan bermaksud nyinyir untuk mengomentari perkara
lipstick dan lip-sync, juga gak ikutan membandingkan Burlesque dgn
Grease yg telah mewakili generasinya, harus membedah intrik ala
Chicago, maupun adu glamour dibalik chemestri kepedihan Moulin Rouge.
Apalagi menakar kualitas peranan Cher dgn Christina Aguilera sang
"a small-town girl with a big voice", toh kebetulan keduanya bukan
favoritku. Namun tak dapat dipungkiri jika keduanya adalah nafas
utama film yg sanggup menekan posisi dudukku di bioskop selama nyaris
dua jam. Steve Antin, sang sutradara yg lebih dikenal sbg penggarap
video klip musik berhasil membuat beberapa sajian lagu utuh menjadi
bagian dari film yg gagal membosankan. Konon ia meramu ide film
berdasarkan klub Burlesque nyata di Los Angeles yg terus berjuang
mentas, serta didukung kisah Robin Antin saudaranya yg pernah
mengorbitkan kelompok Pussycat Dolls. Bukan kebetulan jika Pussycat
Dolls telah identik dgn rombongan wanita neo-Burlesque melaui kostum
glamour sembari fasih menari (salah satu anggotanya menjadi juri
"So You Think You Can Dance"), serta nyata jago berolah vocal.

Maka untuk mendukung Cher dan Christine yg memang dominan berlakon
penyanyi, film ini menampilkan pula mantan juara "Dancing With the
Stars" yakni Julianne Hough. Serta peran yg mencuri perhatianku
adalah tampilan Stanley Tucci mewakili figur gay. Pertama, aku masih
selalu tertukar kenangan antara Stanley Tucci dgn aktor Curtis
Armstrong terutama di film Ray yg memerankan Ahmet Ertegun sang
pemilik Atlantic Record. Salah satu dialog berkesan adalah saat Ray
Charles pertama berkenalan dgn Ahmet sembari menyebutkan namanya.
"Omelet? What kinda name is that?" celetuk Ray. Kedua, peran Stanley
mewakili gay seolah mengingatkan pada film berlatar serupa yakni
Bird Cage (Robin Williams). Hal yg boleh menguatkan bahwa Burlesque
identik dgn feminim, termasuk pria yg lebih memilih sbg feminism ;o)

Burlesque sbg presentatif pentas sandiwara glamour sekaligus sexy,
sejatinya pula menampilkan dunia panggung kehidupan yg kompleks
meminjam lirik Taufik Ismail yg pernah dipopulerkan Ahmad Albar.
Jatuh bangun Christina Aguilera yg antara lain sudah telah pernah
diinterpretasi Julia Robert lewat Pretty Woman, intrik sabotase
yg malah mengorbitkan, terutama introspeksi Cher saat memulihkan
semangat di ujung kebangkrutan. Diane Warren sengaja menuliskan lagu
You Haven't Seen the Last of Me untuk Cher, menjadi salah satu spirit
utama Burlesque yg setara dgn Out Here of My Own milik Irene Cara
untuk film Fame. Saat lampu sorot terfokus pada satu objek tanpa
bergerak selain merintih di ruang kosong, selalu sanggup berdampak
menggetarkan. "Lebih bagusan yg ini ketimbang penyanyi utama yg
muda itu, sapa sih penyanyinya?", tanya rekan di bangku sebelah.
"Jelas lebih matang dong, ni nenek udah 65an taon umurnya", sahutku
rada terganggu. Seolah lewat tekad You Haven't Seen the Last of Me,
"Kau masih belum melihat upayaku hingga akhir", malah menjadi
inti drama pada skenario yg umumnya berujung klise.

I've been brought down to my knees
And I've been pushed way past the point of breaking
But I can take it, I'll be back .. Back on my feet
This is far from over, I am far from over
You haven't seen the last of me ..

Salah satu faktor pembeda versiku dalam menyelesaikan masalah
Burlesque dari tema musikal lain, adalah ide hak pengelolaan ruang.
Melalui intrik pengalihan properties berbalur asmara maupun bujukan
uang adalah hal jamak, namun saat tampil lewat film ini cukup di
luar dugaan termasuk brilian. Semoga bukan cuma aku yg memperhatikan
terutama saat kondisi pekerjaan sedang trend dgn isu tata ruang
UU 26/2007 maupun zonasi UU 27/2007 termasuk akses bagi hak ulayat
melalui UU 41/1999 hingga aspek ekoregion masyarakat lokal pada
UU 32/2009. Jika selama ini ada kelakar internal pelaku spasial
berupa, "Darat, hutan, dan di bawah tanah sudah dikapling, lalu
laut bakal dipagarin, tinggal udara menyusul perundangannya".
Maka pada film Burlesque mengadopsi hak kelola tata ruang udara
sekaligus hak akses di atas bangunan tertentu, terutama untuk bisa
menahan pertumbuhan vertikalnya yg dapat menutupi ruang atau
pandangan dari bangunan lain. Artinya hak kelola dan akses tersebut
dapat dibayar menjadi hak kompensasi dalam jangka waktu tertentu,
sebetulnya telah dikenal dalam tata krama Arsitektur yg disebut
Rasio Lantai Bangunan (Floor Area Ratio) berbanding Koefesien Dasar
Bangunan. Aturan ini perlu ditetapkan sbg kontrol terhadap laju
vertikal pada high rise building, seperti yg telah terjadi di New
York bahkan Gotham misalnya. Banyak kawasan terutama jalan umum
yg tidak lagi bisa mendapatkan sinar matahari langsung dikarenakan
ketinggian serta rapatnya posisi skyscrapers yg menutupi langit.

Salah satu rekayasa kondisi maupun eksplorasi yg membuat manusia
semakin kehilangan akses mendasar terhadap sumber alam, menjadi
prilaku artificial conditional bahkan ter-alienasi pada kodrat
sesamanya. Mungkin itulah gunanya pentas sandiwara semacam Burlesque
yg selalu relevan mengalihkan perhatian dari esensi berkehidupan.
Sekaligus melalui Burlesque masih diberikan jeda untuk boleh
berteriak menggugat walau luput dari sorotan lampu utama, berdaya
terobos melalui spirit You Haven't Seen the Last of Me.

I'm not going nowhere, I'm staying right here
You won't see me begging, I'm not taking my bow
Can't stop me .. It's not the end
You Haven't Seen the Last of Me
-duke-



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke