http://www.gatra.com/artikel.php?id=145390
Kebohongan Kita Ketika Michel Foucault meluncurkan serial bukunya, dari Archeology of Knowledge hingga History of Sexuality pada paruh kedua 1960-an, masyarakat keilmuwan di Prancis dan dunia terkejut. Selain pendekatan dan metode analisisnya yang kontroversial, buku yang merupakan hasil penelitian Foucault tentang masyarakat Eropa seputar Abad Pertengahan itu menyingkap pemahaman umum Eropa yang keliru terhadap dirinya sendiri. Membongkar praktek-praktek keilmuan penuh tipu dan kebohongan, yang pada akhirnya membentuk kebudayaan Eropa dan dunia pada umumnya. Apa yang dilakukan Foucault, dengan epistemologi dan metode analisis yang khas, itu sebenarnya juga banyak dilakukan para ilmuwan dunia lainnya. Tidak hanya dalam sosiologi, sejarah, arkeologi, psikologi, juga ekonomi dan lainnya. Oleh Levi-Strauss, Eisntein, Derrida, Stiglitz, Krueger, hingga Chomsky. Mereka semua memberi kita pengetahuan baru: dunia dan peradaban (serta kebudayaan di dalamnya) ternyata juga disusun oleh kebohongan-kebohongan. Bila tidak seekstrem Foucault, sekurangnya setengah dari susunan pengetahuan, struktur atas pikiran atau langue kita, sebenarnya berisi atau disusun oleh kebohongan. Bukankah orangtua, guru-guru (formal maupun informal), hingga para pemuka agama menyampaikan ajaran sebagian (besar mungkin) melalui kebohongan? Tidakkah mitologi, kisah mistik, legenda, hingga fabel juga menyimpan kebohongan itu? Bahkan tidak terelakkan bahwa sejarah sebuah bangsa yang disusun secara subjektif atau penuh prasangka juga membentuk sejarah berikutnya dengan kebohongan? Bagaimana bila dokter berbohong, atau pejabat publik berbohong, pemerintah cq seorang presiden berbohong? Pernahkah itu mereka lakukan? Apa dampaknya? Di mana posisi kebohongannya dalam perikehidupan dan kebudayaan kita? Pernahkah Anda berbohong? Tentu saja pernah. Semua pernah. Sengaja atau tidak. Sadar atau tidak. Karena kita masih manusia. Bila ada manusia yang merasa hidupnya jujur, mungkin melakukan itu secara tidak sengaja atau tidak sadar. Tapi mereka yang melakukannya dengan sadar akan memelihara kebohongan dengan menciptakan kebohongan-kebohongan berikutnya, untuk menutupi kebohongan sebelumnya. Atau menduplikasi terus-menerus kebohongan hingga akhirnya ia diterima oleh orang lain, bahkan dirinya sendiri, sebagai sebuah: kebenaran. Sayang sungguh sayang, dunia kita ini ternyata adalah panggung tragi-tragi semacam itu. Apa yang membedakan sebuah kebohongan adalah intensi atau alasan di baliknya. Sebagai kelumrahan budaya dan sejarah, kebohongan dapat berintensi positif, bukan untuk menutupi atau menghapus kebenaran, melainkan menundanya. Yakni ketika objek kebohongan memang dianggap belum mampu menerima kebenaran (baca: kenyataan), sehingga hanya destruksi atau chaos yang menjadi akibat dibukanya kebenaran secara dini. Lepas dari soal nilai baik dan buruk, inilah salah satu bentuk kearifan. Namun kebohongan bisa menjadi destruktif ketika didorong oleh intensi untuk mengelabui, mendominasi, atau resistensi atas kebenaran/kekuasaan yang dimilikinya. Data intelijen, misalnya, menjadi dasar bagi sebuah negara/pemerintahan untuk melakukan hal ini. Lebih buruk lagi jika data terbuka (bukan rahasia) dimanipulasi untuk mengecoh persepsi publik dan menciptakan citraan baik, demi bertahannya sebuah kuasa, misalnya. Kebohongan macam ini terjadi di belahan bangsa mana pun. Namun inilah sisi gelap kebudayaan, yang tentu siapa pun akan berusaha membuatnya terang. Dalam ricuh kebohongan belakangan ini, mesti cermat ditelisik, di mana kebohongan itu merupakan manipulasi dan pengelabuan, di mana kebohongan itu berarti "janji yang belum/tidak terpenuhi". Dalam sebuah hubungan normal, apalagi politik, makna kedua di atas adalah hal lumrah, bahkan pasti terjadi. Ia tidak menjadi bohong ketika diakui oleh pemilik janji. Tapi, pada makna pertama, risikonya terlalu berat. Bukan hanya hal itu tak bermoral, menciptakan dehumanisasi dan ketamakan kekuasaan, melainkan juga kekeliruan peradaban dan sejarah pada akhirnya. Maka, presiden dan kabinetnya boleh saja menyatakan bahwa mereka tidak berbohong. Namun tentu saja tak perlu terlalu reaktif, emosional, sehingga terasa patetik. Bagus bila ia mengontemplasi tuduhan kebohongan itu dengan, misalnya, menyatakan, "Kami jujur, belum memenuhi janji kami." Lalu secara arif menerima kebohongan sebagai bagian tak terelakkan dari retorika politik, betapapun statistik mendukungnya. Dan akhirnya, mentransendensi kebohongan itu awal dari tabiat yang jauh lebih buruk dan mengerikan: kemunafikan. Kebohongan mungkin memiliki alasan di baliknya. Namun kemunafikan tidak, karena ia jelas berasal dari jiwa yang buruk, dari moral yang terdegradasi. Inilah persoalan kita sesungguhnya. Di pemerintahan, parlemen, kepolisian, kejaksaan, organisasi politik, massa, dan elemen-elemen bangsa lainnya. Radhar Panca Dahana Pekerja seni dan pemerhati budaya [Perspektif, Gatra Nomor 11 Beredar Kamis, 20 Januari 2011] -------------------------------------------------------------------------------- URL: http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=145390 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
