Menuju Indonesia yang Dialektis http://alexarussia.blog.friendster.com/2011/02/menuju-indonesia-yang-dialektis/
+++ Dari pengamatan saya melalui media Internet di awal february 2011 ini, bahwasanya cukup melegakan bahwa TNI sudah berpikiran cukup terbuka, mereka sudah tidak lagi menjadi tiran seperti yang mereka lakukan ketika rejim orde baru namun kiranya perlu direkonstruksi kembali visi baru tentang Indonesia saya sendiri mempunyai idea bahwasanya masa depan Indonesia haruslah dialektis selanjutnya akan saya overview bagaimana masa depan Indonesia yang dialektis Indonesia yang dialektis tidak lain adalah: Yang pertama yalah jaminan konstitusi atas kebebasan berpendapat terhadap warganegara. Kebebasan berpendapat ini sangat penting, karena kemajuan tidak lain merupakan suatu dialektika idea yang terjadi dengan masyarakat. Suatu kemajuan/sinthesis, selalu berawal dari thesis yang diantithesis. Dinamika perubahan masyarakat akan terjadi apabila ada kebebasan berpendapat, atau ketika paham a diantithesis paham b. Dengan tidak adanya dialektika/kebebasan berpendapat,maka akan terjadi stagnasi berpikir/stagnasi idea yang terjadi di masyarakat, dengan tidak adanya dinamika yang tumbuh di masyarakat, maka tidak akan lahir bibit-bibit unggul yang mampu membawa negara ke masa depan yang lebih baik dan cerdas. Sehingga kebebasan berpendapat yalah sesuatu yang harus segera dijamin oleh konstitusi dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kebebasan berpendapat yalah keharusan untuk menjadikan visi Indonesia yang cerdas dan bermasa depan cerah. Yang kedua, yalah tentang ekonomi. Ekonomi negara adalah bahasan yang sensitif. Kita mengenal Liberalisme yang berfondasi atas paham yang di-ideakan oleh Adam Smith. Selain itu kita juga mengenal paham ekonomi komunisme yang diideakan oleh Karl-Marx dan Engels. Kita juga mengenal paham ekonomi yang dikonsepkan oleh John Maynard Keynes. Sebagai seorang dialektis, saya tidak menyatakan bahwa komunisme adalah yang terbaik, tidak juga mengatakan bahwasanya liberalisme-nya adam smith yang terbaik, tidak juga mengatakan bahwasanya keynesian yang terbaik, tapi aliran-aliran itu akan menjadi situasional, menjadi yang terbaik sesuai situasi dan kondisi. Saya sudah mengenalkan ilmu dialektika,ilmu situasional, saat ini A, maka besok B, "ilmu perkenaan-kenaan" demikian kata Tan Malaka dalam bukunya Madilog. atau kata-katanya Deng Xiaoping "tidak peduli kucing berwarna hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus" Tan Malaka dan Deng seorang yang dialektis mereka (khususnya Deng) tidak peduli "cara/paham/mazhab ekonomi", yang penting tujuan mensejahterakan rakyat kecil tercapai. Di tahun 2011 ini, kita telah melampaui suatu history yang mencengangkan, Komunisme ambruk, Liberalisme-nya Adam Smith ambruk juga, China..suatu negara yang mempunyai cadangan devisa terbesar dan juga transaksi perdagangan yang paling surplus sedunia, menempuh suatu jalan ekonomi yang aneh, yaitu komunisme agraris, kemudian berlanjut ke komunisme industry, dan saat ini adalah komunisme kapitalis. Terlihat China yang paling fleksibel dalam menjalankan mazhab ekonomi. Namun di tahun 2011 ini kita juga melihat bahwasanya Presiden Barrak Obama yang berasal dari partai demokrat (dimana di amerika boleh disebut sebagai partai "kiri"), telah keluar dari jalur liberalisme-nya adam smith. Sementara itu Russia, juga telah melampaui proses liberalisasi ekonomi besar-besaran di era Boris Yelstin dan kemudian terjadi nasionalisasi besar-besaran di era Vladimir Putin, dan sekarang menganut aliran bebas/situasional (bisa privatisasi-atau-bisa juga nasionalisasi tergantung keadaan) di era presiden Dmitri Medvedev. Untuk itu dalam suatu visi "Menuju Indonesia yang Dialektis", maka cara/paham/mazhab ekonomi adalah situasional, tergantung kondisi masyarakat, tergantung kesiapan masyarakat, yang penting adalah tujuan memakmurkan masyarakat harus diperjuangkan sebagai prioritas utama. Sehingga 10 tahun kemudian boleh saja menganut ekonomi liberal-nya adam smith, lalu 50 tahun kemudian ke sistem ekonomi universal komunisme global atau aliran apalagi Untuk menuju visi "Indonesia yang Dialektis" ini, maka diperlukan pemimpin yang cerdas, yang mampu membaca situasi masyarakat dengan tepat, yang mampu cepat melakukan adaptasi terhadap perubahan-perubahan, yang juga berwawasan terbuka terhadap banyak aliran-aliran. Berpikir dialektis, tidak mungkin bisa kalau kita bermindset tertutup, mengira pahamnya yang paling benar dan sempurna. Mengira pahamnya yang paling baik Berpikir dialektis hanya bisa kalau kita open mind, terbuka terhadap ide-ide baru,semakin luas wawasan maka semakin luas pemikiran, juga semakin banyak pilihan, sehingga mampu menempatkan suatu pemikiran pada saat yang tepat dan konstektual sesuai situasi dan kondisi. Saat ini, ditahun 2011, Indonesia masih banyak dihuni oleh orang-orang yang primordialis. Mereka yang mengira adat dan budaya jawa adalah yang terbaik, mereka yang mengira adat dan budaya sunda adalah yang terbaik, mereka yang mengira adat dan budaya batak adalah yang terbaik, lalu mereka menutup diri dan jargon-jargon orde baru melekat dikepalanya, jargon infiltrasi ideologi asing adalah harommm jadahhh jargon infiltrasi ideologi asing adalah sesuatu momok yang buruk memang diciptakan oleh orde baru, namun ketika soekarno memimpin indonesia-pun dirinya bertindak rasial, yaitu mengusir mereka para tionghoa dan belanda, sehingga terjadi megalomania budaya ..karena mengira budaya sendiri yang terunggul kemudian merendahkan budaya asing, dari sini tidak terjadi dialektika budaya, sehingga mengakibatkan indonesia menjadi stagnan. Mari kita perhatikan kemajuan china dan amerika. Amerika merupakan suatu negara multietnis dan multikultur. Presiden Obama merupakan presiden berdarah campuran (kenya dan kulit putih) pertama yang memimpin Amerika. Kemajuan Tiongkok juga tidak lepas dari ketepatan mereka memilih komunisme yang diideakan oleh Karl Marx yang merupakan seorang Yahudi Jerman dan dieksekusi oleh Vladimir Ilyich Lenin di Soviet Russia. Dalam hal ini China mengimpor sistem ekonomi-nya Karl Marx yang telah direvisi oleh VI Lenin. VI Lenin juga implementasi komunisme-nya Karl Marx di Soviet Russia. Kemudian ketua Mao melakukan banyak revisi, termasuk menyesuaikan situasi China Tiongkok yang agraris, sedangkan komunisme-nya Karl Marx sebenarnya adalah dirancang akibat situasi ekonomi industri eropa yang terjadi di abad 19. Disini terjadi sinkretisme-sinkretisme banyak aliran. Komunisme aseli Karl-Marx dan Engels, lalu direvisi oleh VI. Lenin di Soviet Russia, berbeda pula dengan Komunisme-nya Tito di Yugoslavia, beda pula dengan Komunisme-nya Mao di China Tiongkok yang agraris dan beda pula dengan Komunisme-nya Deng yang dialektis, dan beda pula dengan Komunisme-nya Hu Jin Tao yang kapitalis . sehingga pada akhirnya kalaupun ada yang menanyakan kepada-ku apa sistem ekonomi yang terbaik bagi masa depan "menuju Indonesia yang dialektis" ??? maka saya akan menjawab: "saya tidak peduli sistem ekonomi, saya tidak peduli ideologi, saya tidak peduli mazhab apapun sistemnya, yang penting adalah rakyat harus sejahtera" jadi kita tidak harus selalu ditengah, tapi boleh di kiri, boleh di kanan, boleh juga di tengah semuanya situasional yang terbaik bagi kepentingan rakyat kecil/dialektis .. Semarang, 5 february 2011 ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
