Yahudi-Yahudi Islam itu sebetulnya menarik dibahas lebih lanjut. Tetapi menyentil Cameron saat ini keliatannya lebih penting. Pernyataan mencong Cameron tentang multikulturalisme di Inggris jelas merupakan agitprop yang intinya melanjutkan kebodohan si idiot Bush. Lebih buruk lagi, Cameron - seorang perdana menteri - bicara tentang negaranya (Inggris) seperti pelancong yang begitu tiba di London langsung mengunci diri dalam kamar hotel lalu melahap setumpuk koran kuning. Dia tidak turun ke jalan, ke pasar, terminal, stasiun, atau pub misalnya, untuk bertemu manusia. Bertemu realita.
Dia juga seperti tak kenal televisi (setidaknya nebeng nonton di tv tetangga) yang menyiarkan kemeriahan orang di Trafalgar Square waktu merayakan jatuhnya Presiden Mesir, Hosni Mubarak, Februari kemarin. Meriah bukan saja oleh warga keturunan Mesir, tapi juga oleh keturunan Palestina, Myanmar, dan ada juga kelompok yang mengaku kesatuan aksi Komunis Irak di Inggris, dll. Mereka bersatu dalam sukacita dan terus menyuarakan tuntutan atas kesetaraan, atas kesederajatan manusia. Lalu, di manakah mata, telinga, dan hati Cameron? Otak, bolehlah dia punya, tapi tak berfungsi karena terpapar keidiotan stadium Bush... Ya, idiot. Sebab, jika Cameron tahu apa yang terjadi di Trafalgar Square (jangan-jangan lokasinya saja dia nggak tau :) bagaimana bisa dia menyimpulkan yang sebaliknya tentang multikulturalisme di Inggris? Tentu kita boleh senyum-senyum memandang ke sebelah barat Trafalgar Square. Di sana, The Fourth Plinth sedang memajang karya seni mutakhir; kapal hiasan dalam botol dengan ukuran raksasa. http://www.youtube.com/watch?v=pqQELRchn0U Senyum karena hiasan itu memakai model kapal perangnya Laksamana Nelson, pahlawan Perang Trafalgar. Kapal yang anggun, gagah, tapi dalam botol kaca! Kapal yang terkenal menenggelamkan kapal-kapal musuh tapi dipasangi kain layar bermotif batik Afrika..... Seperti itu rupanya sang seniman berdarah Nigeria, Yinka Shonibare memandang Inggris; anggun, berwibawa, tangguh, tapi sekedar hiasan dalam botol! Dan, berbatik pula... :) --- > Tuan Cameron, multikulturalisme tumbuh baik di > Inggris > Khola Hasan > > London Kereta api London berikutnya akan tiba sepuluh > menit lagi. Saya duduk dulu di sebuah bangku di serambi > stasiun yang cukup berangin. Saya pun mulai membaca buku, > The Jews of Islam (Orang-Orang Yahudi Islam) karya Bernard > Lewis, yang tampaknya adalah bacaan menarik. > > Saya baru membaca beberapa halaman. Tiba-tiba seorang > laki-laki yang tengah lewat bertanya, "Kalau boleh tahu, > siapa itu orang-orang Yahudi Islam?" > > Lalu mulailah terjadi perbincangan menarik di antara kami > yang berlanjut hingga di atas kereta selama 20 menit > berikutnya. Orangtua dari kenalan baru saya ini adalah orang > Yahudi Austria-Hungaria yang melarikan diri dari perburuan > Nazi dan mengungsi ke Chili. Kami membincangkan berbagai > masalah, termasuk kekerasan atas nama agama dan peran > perempuan dalam masyarakat, dengan suara keras di dalam > kereta bawah tanah yang bergemuruh dan berderak-derak. > > Ini, bagi saya seorang Muslimah yang tinggal di Inggris > adalah multikulturalisme yang terbaik. Setiap hari ada > tidak terhitung orang yang berjumpa, tersenyum, berurusan > dan berkomunikasi dengan orang-orang yang belum dikenalnya. > Entah mereka mengenakan jilbab atau yarmulka (kopiah > Yahudi), kain sari atau rok, itu tidak penting. Anak-anak > kita belajar tentang sabda-sabda Guru Nanak, Yesus dan Budha > di sekolah, dan saya harap mereka nantinya punya pemahaman > yang lebih baik tentang dunia ketimbang kakek-nenek mereka. > > Untuk menunjukkan kepercayaan diri dengan multikulturalisme, > bahasa Inggris telah mengadopsi kata-kata baru dengan mudahnya, > termasuk untuk makanan India dan Pakistan: chicken tikka (ayam > panggang pedas), rogan josh (kari kambing) dan saag paneer > (hidangan bayam dan keju bersaos). Pada bulan-bulan musim panas, > kita melihat semakin banyak perempuan kulit putih Inggris yang > memakai tunik bordir Pakistan dengan lengan panjang dan celana > linen, sebuah saksi indah diserapnya budaya lain oleh Inggris. > > Multikulturalisme tidak mati. Multikulturalisme adalah > entitas yang hidup dan berfungsi, yang mempengaruhi kita > setiap hari. Dan inilah mengapa saya rasa pidato Perdana > Menteri Inggris David Cameron dalam konferensi keamanan di > Munich lalu sangat mengejutkan. Waktunya pun jelas > menyinggung hari ketika kelompok ekstrem kanan, Liga > Pertahanan Inggris (EDL), menggelar pawai terbesar di > jalan-jalan Luton, untuk memprotes apa yang disebut > "Islamisasi" Inggris dan pidatonya tidak menyebut > sekalipun fasisme kulit putih. Dan tidak pula sekalipun > menyebut komentar politisi Inggris Baroness Sayeeda Warsi > tentang semakin diterimanya Islamofobia. Pidato itu justru > berisi kritik terhadap masyarakat Muslim yang hidup > menyendiri, memiliki tingkah laku yang bertentangan dengan > nilai-nilai Inggris, dan mempunyai pandangan-pandangan > ekstrem. > > Pada 1994, Roger Ballard, Direktur Centre for Applied South > Asian Studies in the UK, menggambarkan anak muda generasi > kedua orang Asia-Inggris sebagai "navigator budaya". Ia > menyamakan mereka dengan orang-orang yang ahli menggunakan > dua bahasa, yang bisa dengan mudahnya berganti bahasa, > tergantung konteks dan pendengar. Dalam cara yang sama, > generasi baru orang Asia-Inggris bisa berganti-ganti antara > budaya Asia dan budaya Inggris, antara tata etika agama dan > budaya yang berbeda, dengan mudahnya. > > Orang Asia-Inggris sekarang sama nyamannya saat memakai > jins atau rok maupun saat mengenakan shalwar kameez (busana > tradisional Asia Selatan); saat makan ayam dengan garpu atau > makan nasi biryani dengan jari. Mereka bisa memaki dalam > bahasa Punjab sama baiknya dengan dalam bahasa Inggris, dan > bisa menari dengan musik pop ataupun musik bhangra. > > Memang ada sejumlah isu ekstremisme dan radikalisasi yang > perlu kita diskusikan. Tapi Perdana Menteri Cameron membuat > kesalahan dengan merancukan dua isu yang sepenuhnya terpisah > dan menganggapnya sama. Pemisahan-diri adalah masalah nyata > karena sejumlah faktor, termasuk migrasi warga dari > kawasan-kawasan perumahan yang mulai semakin banyak dihuni > oleh ras dan etnis berbeda, kemiskinan, rasisme, > pengangguran yang tinggi dan lain sebagainya. > > Retorika ekstremis dan radikalisasi anak muda Muslim adalah > masalah yang sepenuhnya berbeda; sering kali ini bukan > karena semata tidak suka dengan nilai-nilai Inggris, atau > tidak punya identitas Inggris yang jelas, tapi karena > kebijakan-kebijakan luar negeri Inggris sepanjang sejarah > yang telah menyebabkan ikut terbunuhnya warga-warga sipil > tidak berdosa di negara-negara mayoritas Muslim tertentu. > Muslim radikal tidaklah menyoroti integrasi atau gaya hidup > Inggris, tapi menyoroti perang-perang tidak berdasar hukum, > dan kematian warga sipil di negara-negara Muslim. Isu-isu > ini perlu dibicarakan terbuka, alih-alih diabaikan dan salah > dikenali penyebabnya. > > Muslim di Inggris menikmati dan memberi sumbangan pada > kemakmuran dan keberhasilan negara ini. Mereka membayar > pajak, aktif dalam profesi di bidang kesehatan dan hukum, > bercita-cita bermain kriket untuk tim Inggris, memikirkan > pendidikan anak-anak mereka, dan secara umum hidup bahagia > dan produktif. Orang-orang fasis dan ekstremis mengandalkan > ketakutan terhadap orang lain untuk mendorong kebencian. > Inilah mengapa kita butuh lebih banyak lagi > multikulturalisme, dan bukan yang justru berkurang, untuk > melawan stereotip. Mungkin perbincangan yang lebih mencolok > dengan orang asing di kereta api akan membantu melawan > ketakutan terhadap pihak lain ini. > > ### > > * Khola Hasan ialah penulis dan penyiar yang membidangi HAM > dan hak-hak perempuan dalam Islam, serta Direktur Albatross > Consultancy Ltd. ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
