http://www.faktailmiah.com/2011/03/08/ketabahan-hati-adalah-warisan-gen.html

Selasa, 8 Maret 2011 - Saat terjadi tragedi, sebagian besar dari kita dapat 
pulih dari trauma dengan sangat mengesankan. Dari mana datangnya kemampuan 
tersebut?

Ketika hal terburuk terjadi – kematian anggota keluarga, serangan teroris, 
epidemi penyakit mematikan, rasa takut di tengah peperangan – kita mengalami 
shock dan disorientasi yang besar. Namun ilmuan syaraf dan psikolog yang 
melihat kembali pada konsekuensi peristiwa dahsyat ini telah belajar sesuatu 
yang mengejutkan: sebagian besar korban tragedi segera mulai pulih dan akhirnya 
kembali stabil secara emosional. Sebagian besar dari kita menunjukkan kepulihan 
alamiah pada hal terburuk yang dapat terjadi dalam hidup kita.

Sigmund Freud telah menulis tahun 1917 mengenai kebutuhan "kesedihan" dimana 
kita mengambil kembali energi emosional atau yang diistilahkannya sebagai 
libido, yang kita investasikan dalam "objek yang telah tiada" atau dengan kata 
lain, orang-orang yang telah meninggal. Pandangan psikologi berusia seabad ini 
memandang jiwa sebagai sistem pipa untuk menyalurkan gaya-gaya hidup bawah 
sadar tetap diterima karena tidak adanya bukti penyangkal, hingga dekade kita 
sekarang. Saat ini para psikolog dan biologiwan syaraf mulai menjelajahi 
penjelasan-penjelasan alternatif.

Sudut Pandang Biologi Syaraf

Banyak jalur biologis – rantai interaksi antar protein – memberikan sumbangan 
pada fenomena kepulihan. Sejauh ini, para ilmuan telah menemukan lebih dari 
cukup petunjuk mengani profil biologis dari jiwa yang tegar. Sebagai contoh, 
pada bulan Mei 2010, Eric J. Nestler dari Pusat Medis Gunung Sinai dan 
rekan-rekannya melaporkan mengenai sebuah protein, DeltaFosB, tampak melindungi 
tikus dan mungkin manusia dalam menghadapi stress akibat sendirian dan 
terisolasi atau terancam oleh tikus yang lebih agresif. DeltaFosB bertindak 
sebagai saklar molekuler yang menyalakan seperangkat gen (yang menginduksi 
produksi protein-protein yang mereka sandikan). Ia banyak sekali pada tikus 
yang tegar sementara sedikit sekali pada jaringan otak pasien yang mengalami 
depresi. Obat yang mampu merangsang DeltaFosB dapat melindungi manusia dari 
depresi dan memperkuat ketegaran jiwa secara umum.

Sehamparan gen dan protein lainnya dapat ikut menyumbang, namun seperti 
DeltaFosB, para peneliti harus memperlakukannya dengan hati-hati. Gen 5-HTT, 
awalnya dipandang sebagai kunci "gen kepulihan", memberikan kisah bagaimana 
pendekatan genetika murni dapat menjebak kita. Hampir satu dekade lalu, 
sejumlah studi menunjukkan kalau orang yang memiliki versi panjang gen ini 
lebih mampu mengatasi depresi daripada mereka yang memiliki bentuk pendek – 
dengan kata lain, mereka lebih tegar.

Gen ini terkenal tahun 2006 saat sebuah artikel New York Times Magazine 
menunjukkan kemunculan uji komersial pertama 5-HTT untuk membantu kepulihan 
trauma. Awalnya penderita stress memang mengalami optimisme tinggi, namun dalam 
waktu singkat, optimisme yang sangat tinggi ini segera berubah menjadi 
kebingungan (pola yang umum ditemukan dalam studi yang hanya berfokus pada 
perilaku kompleks satu gen saja). Dua studi meta analisis selanjutnya 
mengungkapkan bukti yang tidak membenarkan adanya hubungan antara gen 5-HTT dan 
depresi yang disebabkan peristiwa kehidupan traumatis. Studi lainnya justru 
menemukan hubungan ini, walaupun sangat lemah. Memang pada akhirnya studi 
psikologi ketegaran  akan membawa pada obat-obatan jenis baru yang mampu 
menghilangkan depresi manusia. Namun sekarang, pandangan cepat bukan datang 
dari mempelajari gen atau reseptor sel, namun dari metode gaya lama, wawancara 
tatap muka dengan mereka yang tenggelam dalam krisis kepribadian.

Sudut Pandang Psikologi

Bonanno mewawancarai sejumlah orang yang selamat dari pelecehan seksual di 
Universitas Katolik dan Universitas Columbia,  para penduduk New York yang 
selamat dari serangan 9/11 dan warga Hong Kong yang berhasil hidup dalam 
epidemi SARS. Kemanapun ia pergi, kisahnya tetap sama: "Sebagian besar yang 
selamat hidup seperti biasanya."

Pengenalan gangguan stress pasca trauma dalam Diagnostic and Statistical Manual 
of Mental Disorders tahun 1980 an membuat para psikolog cenderung berperspektif 
sempit. Kerangka yang dibangun manual diagnostik cenderung mendorong para 
peneliti hanya mempelajari kelompok yang mengalami gangguan stress pasca 
traumatis yang dipandang umum ditemukan setelah terjadi bencana. Walau begitu, 
penelitian Bonanno menunjukkan kelompok ini hanyalah sepertiga atau dua pertiga 
dari mereka yang selamat dari tragedi, sisanya biasa saja. Setelah enam bulan, 
tersisa kurang dari 10 persen saja.

Penelitian Bonanno memenangkan perhatian, namun tidak semua orang yakin kalau 
ketegaran jiwa adalah sifat naluriah manusia. Sebagian ilmuan mengklaim kalau 
definisi Bonanno terlalu luas, padahal anak kecil tidak seperti itu. Bonanno 
mengakui kalau trauma di masa kecil lebih kuat pengaruhnya daripada emosi yang 
muncul saat kematian seorang anggota keluarga atau bencana alam. Namun reaksi 
dari sebagian besar orang dewasa, apakah kehilangan pekerjaan atau bencana 
tsunami, mengungkapkan kemampuan pulih merupakan hal yang lumrah sepanjang 
hidup orang dewasa.

Bagaimana dengan sisa 10 persen yang bahkan setelah enam bulan pasca bencana 
masih dihantui trauma? Bagi pekerja sosial, mereka melakukan prosedur yang 
disebut Critical Incident Stress Debriefing (CISD). Beberapa studi selama lebih 
dari 15 tahun justru menunjukkan kalau teknik ini tidak efektif dan justru 
dapat menyebabkan hal negatif. Kadang seseorang dalam sesi kelompok dapat 
menularkan kepanikan pada orang lain yang justru memperburuk partisipan 
lainnya. Setelah bencana tsunami tahun 2004, WHO melarang CISD karena prosedur 
ini dapat membuat sebagian korban merasa lebih cemas. Pengalaman dengan CISD 
memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana cara yang lebih baik menghadapi 
korban trauma.

Kesimpulan

Sebagaimana kita telah pelajari, baik psikologi maupun biologi syaraf 
(neurologi) telah menemukan dua hal: Pertama, ketegaran hati pada diri manusia 
adalah warisan genetik, orang yang tegar menghadapi bencana bukan karena cara 
berpikirnya atau keimanannya, namun karena gen yang ia miliki dari lahir. 
Kedua, kita masih belum tahu cara merawat mereka yang kebetulan memiliki 
ketegaran hati yang lemah. Mereka yang lemah ini dibawah 10 persen populasi, 
namun sangat banyak bila bencana traumatis yang terjadi berskala besar, seperti 
bencana tsunami kemarin.

Dirangkum dari :

Styx, G. 2011. The Neuroscience of True Grit. Scientific American, March 2011, 
pp. 29-33

Referensi lanjut:

Bonanno, G.A. 2009. The Other Side of Sadness: What the New Science of 
Bereavement Tells Us about Life after Loss. Basic Books.

Seligmant, M.E.P. 2011. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness 
and Well-Being. Free Press.



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke