Sumber: http://www.marxists.org/indonesia/indones/HikayatKadiroen/Bab2.htm

Hikayat Kadiroen

Semaoen (1920)

BAB II

Jiwa yang Tergoda

Sudah empat tahun Kadiroen menjadi Asisten Wedono di Onderdistrik Gunung Ayu, 
yaitu sebuah onderdistrik yang sunyi karena di daerah pegunungan. Sedang di 
situ 
tidak ada pabrik gula atau onderneming-onderneming. Namun Kadiroen sampai waktu 
itu belum juga kawin. Selama empat tahun ia bekerja siang malam untuk 
meningkatkan taraf hidup orang kecil yang menjadi rakyat bawahnya. Ia sangat 
pandai dan bijaksana dalam mengurus setiap persoalan. Hampir semua rakyatnya 
hidup berkecukupan. Sebab Kadiroen selalu memberi nasihat dan teladan yang baik 
kepada orang-orang kecil. Karena kehidupan rakyat yang berkecukupan maka tidak 
ada orang yang suka mencuri dan berbuat kejahatan. Kadiroen sangat dicintai 
oleh 
rakyatnya sedang dari atasannya ia sering mendapat pujan. Hanya sekitar satu 
tahun yang lalu ia menghadapi masalah yang menyusahkan dirinya. Yaitu di Meloko 
di mana penduduknya tidak bisa makmur sebagaimana desa-desa yang lainnya. Desa 
tersebut, penduduknya banyak yang hidup miskin. Tetapi lurah di desa itu 
terkenal sebagai lurah terkaya ketimbang lurah-lurah yang lain di seantero 
Onderdistrik Gunung Ayu. Kadiroen menyelidiki dengan seksama kehidupan di desa 
itu. Tetapi ia tidak juga mengerti apa yang menjadi penyebabnya. Kemiskinan 
penduduk desa tersebutlah yang membikin susah hati Kadiroen. Ia sering tidak 
tidur, memikirkan bagaimana ia berikhtiar mencari cara guna meyelesaikan 
masalah 
tersebut.

Begitulah, jam empat pagi ia sudah naik kuda pergi ke desa tersebut. Ia ingin 
melihat bagaimna cara kerja rakyat disana. Sebab dengan mengerti sendiri kerja 
rakyat, ia akan mengerti bagaimana cara berusaha dan menasihati rakyat desa 
tersebut.

Sunyi sekali. Hawanya sangat sejuk. Burung-burung terbang kian kemari. Dari 
pepohonan yang sepertinya masih tidur, belum dibangunkan oleh angin, terdengar 
pantun dan nyanyian burung-burung yang amat indah, menyenangkan hati untuk 
mereka yang menghargai kehidupan binatang dan alam. Dan jauh terdengar kokok 
ayam jantan, seperti mengingatkan kepada makhluk Tuhan bahwa pagi itu adalah 
saat di mana kita akan melihat hari-hari yang bakal terbit. Langit di timur 
berwarna merah saga makin lama makin menguning. Kuning muda lalu kuning putih. 
Dan mengintiplah sang raja alam, mentari dari balik batas dunia. Sinarnya 
memancar kuat, mengusir gelapnya malam seperti membuka jalan bagi si raja 
siang. 
Bangunlah dunia.

Jalan raya yang naik turun di tanah perbukitan itu belum banyak dilalui orang. 
Hanya ada seorang naik kuda sambil berpantun ria dengan burung-burung 
menunjukkan bahwa orang itu memiliki hati yang tenteram dan berbakti pada Tuhan 
yang menganugerahi keelokan dunia ini. Ia adalah Kadiroen, yang sangat gembira 
menyaksikan indahnya suasana pagi.

"O, Tuhan Allah. Gustiku. Hamba berterima kasih kepada kebesaran-Mu. Sebab 
telah 
memberikan pemandangan pada hamba yang bisa melihat dan merasakan keelokan 
kekuasaan Tuhan atas makhluk-Nya.”

Begitulah, Kadiroen selalu memuji dalam hatinya. Lalu ia berkata dalam hati: 
"Hai, teramat sunyi dan indah sekali jalan ini. Sudah dua jam saya naik kuda, 
berarti sudah dekat dengan Desa Maloko. Tetapi mengapa belum bertemu dengan 
seorang manusia pun." Baru saja Kadiroen berpikir demikian, di kejauhan ia 
melihat sosok manusia, makin lama makin besar. Mereka berdua hendak berpapasan. 
Kadiroen naik kuda, sedangkan orang itu berhenti di tepi jalan, mempersilakan 
Kadiroen. Kedua mata mereka saling beradu pandang. “Aduh” kata Kadiroen dalam 
hatinya. Ia hendak melecut kudanya supaya berjalan lebih cepat. Maka ia segera 
melewati orang yang ada di tepi jalan itu. Setelah agak jauh, ia menengok ke 
belakang. Dalam hatinya ia bertanya: "Siapakah gerangan orang itu?”

Sesampai di Desa Maloko, Kadiroen melihat penduduk di situ sudah bangun semua. 
Mereka sedang sibuk bekerja di sawah. Kadiroen menjadi gembira. Ia berkata 
dalam 
hati, ”Penduduk di sini rajin-rajin, tanahnya subur, air banyak. Tetapi mengapa 
mereka tidak bisa kaya sebagaimana desa-desa lain. Apakah penyebabnya?” 
Kadiroen 
bertanya kepada orang-orang yang bekerja di sawah tentang berbagai hal yang 
berhubungan dengan mata pencaharian dan kehidupan rakyat di desa itu. Tetapi 
seluruh keterangan yang didapat Kadiroen belum mampu memecahkan persoalan yang 
dihadapi. Apa sebabnya rakyat tidak bisa hidup makmur. Setelah siang ia pulang 
dengan hati gundah. Ia berjanji dalam hatinya, esok pagi akan kembali lagi. Ia 
ingin tahu dan terus berusaha mencari tahu sebab-sebabnya. Di dalam perjalanan 
pulang, ia terus berpikir. Otaknya terus berputar-putar. Tetapi selain itu, 
setiap beberapa saat, jiwanya selalu bertanya "Aduh, siapakah, gerangan orang 
yang tadi itu?" Silih berganti ingatan dan pikirannya berkecamuk. Kadiroen 
berusaha menenteramkan jiwanya. Tetapi ah, setiap saat ia selalu teringat. 
Dadanya berdebar-debar dan nyeri, “Aduh, siapakah?” Jika pada siang hari jiwa 
Kadiroen bertanva-tanya, malamnya selalu tidak bisa tidur. Dan pada saat itu 
juga batinnya selalu bertanya: “Siapakah dia?" pertanyaan itu terus-menerus 
tidak mau pergi dari ingatannya.

Tengah malam Kadiroen baru bisa tidur. Lalu bermimpi seperti sedang naik kuda 
lagi, pergi ke Desa Meloko. Dan persis seperti kejadian sesungguhya yang ia 
aalmi paginya. Di dalam impian itu ia bertemu lagi dengan orang: “Siapakah 
dia?” 
O, tetapi betapa bahagianya hati Kadiroen mendapat impian yang luar biasa. 
Sebab 
dalam impian itu, orang yang selalu menjadi pertanyaan hatinya "Siapakah dia?" 
yang berbicara dengannya. Ya, berbicara, itulah sebabnya Kadiroen menjadi 
sangat 
bahagia.

“Siapakah dia?” Dialah seorang perempuan. Pembaca yang terhormat memang di 
suatu 
ketika dalam hidup manusia, ada saat-saat yang menghidupkan jiwa manusia, ada 
saat-saat demikian luar biasa. Yaitu saat seorang bujang mengungkapkan perasaan 
cintanya kepada orang lain. Yakni pemuda kepada pemudi atau sebaliknya. Inilah 
kodrat Tuhan Allah. Dan oleh karena itu, mulai saat itu Kadiroen menaruh 
perasaan cinta kepada seorang perempuan.

Pagi tadi ia baru sekali melihat perempuan yang sedang berangkat ke pasar. 
Tetapi, anehnya seterusnya ia tidak bisa lupa kepadanya. Tidak tahu, siapa 
perempuan itu. Ia hanya baru tahu wajahnya saja. Tetapi wajah perempuan itu 
sekarang sudah tidak bisa pergi dari ingatannya. Perempuan itu adalah seorang 
gadis muda. Usianya 21 tahun. Tadi pagi ia berangkat ke pasar. Pakaiannya tidak 
menunjukkan sebagai orang kaya. Tetapi bersih dan rapi. Tetapi wajahnya sangat 
cantik sekali. Perawakannya sedang. Penampilan dan tingkah lakunya tampak 
lembut, begitu menarik hati; berwajah cantik, dengan rambut hitam mengkilat 
menambah sempurna kecantikan wajahnya. Yaitu wajah yang berkulit kuning bersemu 
putih serta halus, sehalus sutera layaknya. Hidungnya mancung dan indah. 
Mulutnya kecil dengan bibir yang memerah indah. Pipinya padat berisi. Dagunya 
kelimis, alis atau keningnya bersemu hitam manis ayu dengan bulu mata yang 
lebat 
dan panjang. Dan matanya, O, matanya, begitu elok-tajam, begitu terang. Bola 
matanya tampak hitam mengkilat jika sedang memandang orang. O, Kadiroen tidak 
bisa melupakan pada keindahan yang begitu menarik jiwanya. Yang mengikat 
jiwanya 
sampai sakit, menyenangkan.

Esok harinya, sedikit agak siang, Kadiroen berangkat lagi ke Desa Meloko. Dalam 
perjalanan ia selalu melihat bayangan perempuan yang ia cintainya. Kadiroen 
sangat berharap supaya ia jangan bertemu lagi dengan perempuan itu. Karena ia 
tidak ingin jiwanya tergoda. Ia berusaha menindas perasaan cintanya. Akan 
tetapi 
celaka, di dekat Desa Meloko, ia bertemu lagi dengan perempuan itu. Berjalan 
sendirian di jalan yang sepi, baru pulang dari pasar. Di punggungnya ada 
gendongan rangking atau kemarang yang penuh berisi. Kangking itu tampaknya amat 
berat. Karena perempuan itu berjalan pelan-pelan dan sebentar-sebentar berhenti 
untuk memulihkan tenaganya. Ia bermandi keringat.

Demi melihat itu, Kadiroen menjadi amat belas kasihan. Hatinya seraya hancur 
laksana air. Ia tidak ingat apa-apa lagi seraya turun dari kudanya dan berkata:

“Mbakyu, saya kasihan kepada Mbakyu. Berikanlah sebagian isi rangking itu 
padaku, biar agak ringan. Saya bersedia menolong membawakannya”

Perempuan itu terkejut. Wajahnya terlihat sedih, sehingga Kadiroen tambah 
kasihan. Dengan suara nyaring dan ringan molek menjawab:

“Terima kasih banyak Tuan. Tetapi karena rumah saya sudah dekat. Jadi saya kuat 
membawanya sendiri, meskipun berat.”

Kadiroen menjadi heran dan memuji keteguhan si perempuan, tidak suka ia 
ditolong, meskipun kelihatan sudah amat lelah. Kadiroen tidak berani memaksa 
menolong sebab ia belum kenal kepada perempuan itu. Dan lagi, ia merasa 
perbuatannya sangat aneh. Hatinya menyesal, sebab tidak berpikir dahulu. Ia 
merasa ia turun dari kuda bukan hanya karena perasaan sangat belas kasihan 
semata. Tetapi karena dorongan rasa cinta. Kadiroen toh harus bisa berpikir 
bahwa seorang perempuan yang pulang dari pasar tentu tidak mungkin berani 
menitipkan barangnya kepada seorang priyayi, Asisten Wedono. Meskipun ia 
seorang 
Asisten Wedono yang tidak suka meninggi-ninggikan derajat dan pangkatnya. 
Kadiroen merasa perbuatannya tidak dipikir panjang lebih dahulu. Tetapi 
sebaliknya, ia membetulkan perbuatannya dengan alasan, ia tidak bisa berpikir 
panjang ketika melihat ada seseorang yang mesti ditolong seketika itu juga. Ia 
tidak punya maksud lain selain hanya ingin menolong semata. Dan siapa pun orang 
yang mau menolong tentu tidak ingat apa pangkatnya. Kadiroen lalu ingin segera 
naik ke atas kuda lagi. Tetapi tertarik oleh perasaan cintanya maka ia seperti 
dipaksa oleh kekuatan rahasia sehingga ia pun bertanya:

“Siapa namamu Mbakyu?”

“Ardinah,Tuanku!”

Hari itu Kadiroen mendapat sedikit keterangan, mengapa penduduk Desa Meloko 
tidak bisa kaya sebagaimana desa-desa lain. Tetapi keterangan itu belum cukup 
menjadi bukti untuk menindak bagi yang bersalah. Karena itu esok paginya 
Kadiroen hendak kembali lagi ke Desa Meloko. Dalam perjalanan pulang lagi-lagi 
bayangan Ardinah terus menyusup dalam hatinya. “Ardinah, o, Ardinah," katanya 
dalam hati."Apakah dosa kini aku sekarang telah bertemu denganmu dua kali, lalu 
menjadi tergila-gila tidak bisa melupakanmu?" Setiap kali Kadiroen berusaha 
menindas perasaan cintanya kepada Ardinah, setiap kali itu juga justru semakin 
bertambah ingat Ardinah. Kadiroen menjadi sering heran mengapa jiwanya begitu 
tergila-gila hanya ingat pada seseorang. Sedangkan ia baru bertemu dua kali. 
Kadiroen merasa ia sangat menaruh rasa cinta. Dan perasaan cinta itu telah 
mengikat jiwanya pada Ardinah. Karena itu dalam benaknya ia berpikir untuk 
kawin 
dengan Ardinah.

Begitulah kenyataannya manusia itu. Pada suatu saat di dalam hidup manusia, ia 
akan kedatangan perasaan cinta. Dan setelah itu datang kehendak untuk kawin. 
Dua 
hal ini tidak mungkin disingkirkan. Karena keduanya merupakan suatu yang telah 
dikodratkan Tuhan Allah sebagai suatu kepastian. Ada siang ada malam, tidak 
mungkin bisa dilawan manusia. Kadiroen yang sudah berumur 24 tahun dan sudah 
sering ditanya ayah dan ibunya apakah ia telah ingin menikah, selalu menjawab: 
“Tidak, sebab saya tidak mau terikat dengan perempuan. Saya mau merdeka terus.” 
Tiba-tiba, sekarang dengan kuasanya sang kodrat, maka mau tidak mau ia sangat 
suka terikat dengan Ardinah. Dan ia lalu berpikir tentang perkawinan. Apakah 
Kadiroen tahu betul siapa itu Ardinah? Buat Kadiroen, nama itu berbunyi seperti 
judul gending atau lagu gamelan yang terbaik. Kadiroen berpikir, tidak peduli 
itu anaknya siapa. "Saya mencintainya, maka tentu akan saya kawini. Saya 
mencintai Ardinah, tetapi ah...." ia tidak berani meneruskan pikirannya. Ia 
menjadi takut. Hatinya amat sedih. Ia berdoa jangan sampai Ardinah tidak 
mencintainya dan tidak mau kawin dengan dirinya. Dalam hati ia menangis, "O, 
Ardinah. Ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku, sebagaimana aku mau 
memberikan 
cintaku kepadamu.” Lalu timbul lagi dalam pikiran Kadiroen, bahwa ia orang 
baik-baik, masih muda ia sudah berpangkat tinggi. Ia masih bujang perjaka 
sejati. Oleh karena itu, kalau ia datang ke rumah orang tua Ardinah, pasti ia 
diterima sebagai menantunya. Tetapi sebaliknya ia berpikir: “Orangtuanya 
umpamanya memberi izin, tetapi jika Ardinah tidak mencintai saya. Oh, mau apa 
saya?" Orangtua bisa memaksa Ardinah, itu tidak melanggar adat. Tetapi apa 
perlunya saya kawin dengan orang yang dipaksa mencintai saya. Sedang ia sendiri 
tidak mencintainya. Dalam masalah ini, tentu sayalah yang berdosa, sebab 
sayalah 
penyebab awal sehingga orang memaksa orang lain untuk menyerahkan hidupnya 
seumur-umur kepada saya. Sedang ia merasa susah terus-menerus. Orang yang 
terpaksa seperti itu, pasti hatinya teramat susah. O, saya tidak suka membikin 
susah manusia. Apalagi susahnya Ardinah. Saya hanya mau kawin dengan orang yang 
betul-betul saya cintai. Begitupun sebaliknya, ia juga mencintai saya dengan 
sungguh-sungguh. Begitulah dalam hal ini sikap adil yang harus diutamakan oleh 
Kadiroen. Tetapi, sebentar-sebentar perasaan Kadiroen berubah-ubah. Manakala ia 
berpikir Ardinah juga mencintainya, ia bahagia tetapi sebaliknya ia menjadi 
sangat susah manakala terpikir Ardinah tidak mencintainya. Sungguh, jiwa 
Kadiroen sangat tergoncang, sebentar ia teramat senang, sebentar susah. Jiwanya 
seperti dipermainkan oleh perasaannya sendiri, antara senang dan susah. 
"Ardinah, Ardinah, ampunilah aku, berikan cintamu kepadaku. Saya sanggup 
memberikan seluruh hidup dan cintaku kepadamu." Begitulah, tiap menit ia selalu 
memuji-muji Ardinah. Sungguh manusia dalam situasi semacam itu, jiwanya menjadi 
sangat tergoncang. Dan kalau rasa cinta itu tak terpenuhi, sementara orang itu 
tidak kuat memikul beban itu, maka celakalah ia. Ia akan gampang menjadi gila. 
Itulah sebab yang menjadikan adat orang-orang Islam di tanah Jawa mengawinkan 
anak-anaknya pada usia masih muda sekali. Supaya pada saat perasaan cinta 
menjelang ia kawin. Sehingga saat cinta datang, maka kebanyakan lalu ia akan 
mendatangi istrinya yang sudah bersama dengannya dan juga sedang jatuh cinta. 
Demikian pula seorang perempuan yang berhadapan dengan lelaki. Kawin dahulu, 
baru mencintai. Itulah yang kemudian menjadi adat. Padahal menurut kodrat, 
mestinya cinta lebih dahulu, baru kawin. Adat semacam ini sepertinya melawan 
kodrat. Karena itu maka sering terjadi, adat berbuah kebusukan. Yaitu, sudah 
kawin tetapi sama-sama tidak saling mencintai. Sehingga mereka hidupnya 
mengalami kesusahan terus-menerus, dan akhirnya bercerai. Atau menikah lebih 
dari satu perempuan atau bahkan berzina. O, sungguh hal-hal yang tidak baik 
seperti ini sering terjadi di tanah Jawa. Kodrat tidak bisa diatur oleh adat. 
Demikianlah pikiran-pikiran itu menerawang dalam benak Kadiroen. Dan baru 
tengah 
malam ia bisa tidur.

Kadiroen harus mencari bukti-bukti yang jelas selama kedatangannya di Desa 
Meloko, untuk memberi pelajaran kepada mereka yang bersalah karena 
menghalang-halangi rakyat dapat hidup makmur. Oleh karena itu, pada suatu hari, 
ia pergi lagi ke Desa Meloko, melalui jalan yang sepi sebagaimana biasanya. 
Kadiroen berpikir keras supaya ia tidak bertemu dengan Ardinah. Sebab Kadiroen 
khawatir jiwanya akan tambah tergoda oleh perasaan cintanya. Tetapi sebaliknya, 
jiwanya sebentar-sebentar justru mengharap agar ia bertemu. Antara keinginan 
bertemu dan keinginan tidak bertemu, dua keinginan yang berlawanan yang 
berkecamuk dalam benak Kadiroen. Pikirannya menolak, sebaliknya hatinya 
berharap. Sungguh, seorang yang sedang jatuh cinta sakit rasanya jika perasaan 
cinta itu belum terpenuhi. Kadiroen sudah hampir tiba di Desa Meloko, tetapi ia 
menjadi sangat terkejut, karena ia bertemu lagi dengan Ardinah. Bagaimana 
pertemuan itu terjadi? Ia melihat Ardinah duduk menangis di pinggir jalan. Muka 
Ardinah ditutupi dengan kain selendang, sedang airmatanya bercucuran. Rangking 
yang berisi penuh, ia letakkan di sampingnya. Ardinah sangat susah hatinya, 
sehingga ia tidak tahu kalau Kadiroen datang mendekat lalu turun dari kudanya. 
Demi melihat Ardinah menangis, Kadiroen merasa sangat kasihan dan hancur 
perasaan hatinya. Makanya tanpa pikir panjang, ia mendekati Ardinah dan 
bersikap 
sebagaimana orang yang satu sama lain telah mengenal cukup lama. Maka dengan 
segenap perasaan cintanya, Kadiroen berkata: "Ardinah, o, Ardinah, jangan 
menangis dan bersedih hati."

Mendengar suara itu, Ardinah terkejut. Ia segera mengelap airmatanya serta 
menjawab: "Ampunilah Tuan, Hamba tidak tahu kalau Tuan datang."

"Tidak mengapa. Sayalah yang wajib minta ampun kepadamu. Karena saya berani 
mendekatimu saat engkau sedang dalam kesusahan. Tetapi saya ingin menolongmu, 
apa saja sebisaku. O, Ardinah, percayalah kepadaku, ceritakan apa yang 
menyebabkan kesusahanmu," kata Kadiroen.

Ardinah mendengarkan omongan Kadiroen yang lemah lembut. Lalu roman mukanya 
yang 
susah kelihatan berubah menjadi bahagia. Sekarang ia bertemu dengan seorang 
lelaki yang gagah dan suka menolong pada sesama manusia. Ardinah tahu yang 
hendak menolong itu adalah Kadiroen, seorang Asisten Wedono. Karena Kadiroen 
sudah dikenal oleh semua rakyatnya, demikian pula tentunya Ardinah juga telah 
mengenalnya. Kadiroen seorang priyayi yang terkenal mencintai orang kecil. Ia 
seorang kesatria, pembela rakyat. Kadiroen berkata dengan lemah lembut kepada 
Ardinah. Hati Ardinah menjadi penuh dengan rasa terima kasih. "O, Kadiroen, 
kamu 
sungguh baik lahir-batin. Kamu masih muda, ganteng dan amat bijaksana. Sekarang 
kamu mau menolong saya," katanya dalam hati. Dan dengan terus terang Ardinah 
menjawab:

"O, Tuan hamba mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas maksud Tuan menolong 
hamba. Tetapi hamba tidak perlu ditolong, karena hamba kuat memikul beban 
kesengsaraan ini. Adapun hamba tadi menangis karena hamba merasa susah, sebab 
mau menolong orang lain, tetapi hamba tidak mampu."

Demi mendengar itu, hati Kadiroen menjadi sangat bahagia. Ardinah, perempuan 
yang ia cintai, susah hanya karena belum bisa menolong orang lain. Pada saat 
itu, Kadiroen mengetahui, Ardinah selain elok paras mukanya, juga elok hatinya. 
Selain itu, Kadiroen juga menjadi semakin mengerti dari keterangan Ardinah yang 
mengatakan ia kuat memikul kesengsaraannya sendiri, ia tidak suka ditolong. Ia 
mengerti, Ardinah sangat besar hati, percaya diri, pemberani, sebuah watak yang 
sungguh mengagumkan. Sekarang Kadiroen menjadi semakin cinta kepada Ardinah. 
Wajah, hati dan semuanya, sungguh elok. Apakah itu bukan bidadari yang menjelma 
menjadi manusia. Kadiroen sangat ingin menjadi suami seorang perempuan seperti 
itu. Ia sangat mencintai dan menghormati Ardinah. Apakah Ardinah juga 
mencintainya. Hati Kadiroen menjadi berdebar-debar kalau memikirkan hal itu. 
Tetapi Kadiroen berusaha menahan perasaannya. Ia menutupi segenap perasaan 
hatinya dan memutar otaknya. Dan dengan sabar ia bertanya pada Ardinah:

"Siapakah yang hendak kau tolong dan mengapa harus ditolong. Saya mau berusaha 
membantumu menolong yang sedang menderita itu. Satu orang tidak bisa menolong, 
dua orang menjadi kuat. Dan barangkali bisa menolong. Percayalah kepadaku."

"O, Tuan, beribu-ribu terima kasih. Tuan seorang Asisten Wedono, memiliki 
kekuasaan. Barangkali Tuan bisa menolong. Selain itu, hamba sudah tiga kali 
bertemu dengan Tuan. Dan waktu pertama kali hamba bertemu, hamba sudah menaruh 
kepercayaan besar pada Tuan. Tuan seorang kesatria, dan semenjak pertama kali 
bertemu dengan Tuan hamba tidak bisa melupakan Tuan, tiap saat wajah Tuan 
terbayang. Hamba menaruh kepercayaan yang besar pada Tuan. Oleh karena itu, 
hamba akan bercerita panjang lebar kepada Tuan tentang hal-hal yang menyusahkan 
orang yang ingin hamba tolong itu," jawab Ardinah.

Kadiroen mendengar jelas perkataan Ardinah: "Semenjak hamba bertemu pertama 
kali, hamba tidak bisa lupa pada Tuan. Tiap saat hamha terbayang wajah Tuan. 
Hamba menaruh kepercayaan vang besar pada Tuan." Ha, apa itu bukan perkataan 
vang menerangkan bahwa Ardinah dalam hatinya memiliki rasa cinta kcpada 
Kadiroen. Kadiroen mengerti semua itu, meski Ardinah tidak terus terang 
mengatakannya. Mendengar itu semua, hati Kadiroen menjadi sangat berbahagia. Ia 
mencintai seorang yang elok segalanya. Dan orang itu juga membalasnya juga. O, 
Kadiroen merasa begitu senang. Begitu nikmat kalbu hatinya. Ia merasa berada 
dalam surga, sedang bertemu dengan bidadari. Kadiroen kemudian ikut duduk di 
tepi jalan itu, di samping Ardinah, ia ingin mendengarkan cerita Ardinah.

Maka Ardinah bercerita:

"Ayah hamba seorang yang miskin. Sewaktu umur hamba 18 tahun, ibu hamba 
meninggal dunia. Hamba hanya tinggal sendirian dengan ayah, sebab hamba tidak 
memiliki saudara. Setelah ayah hamba sangat tua karena tidak memiliki sanak 
famili, tetapi atas berkat Tuhan Allah, kami berdua bisa hidup di Desa Meloko. 
Meskipun miskin ayah hamba sangat mencintai hamba karena hamba anak tunggal, 
yang membantu semua urusan keluarga. Sudah sering hamba dilamar untuk dikawini 
banyak pemuda, tetapi hamba selama ini belum suka. Sebab hamba merasa berat 
meninggalkan ayah yang sudah tua. Sebaliknya ayah berkata, seandainya saya 
berumah sendiri, tentu ia akan sangat berat mengurus hidupnya sendiri di rumah 
hamba. Dengan tegas ia berkata tidak suka dihidupi oleh anak menantu. Inilah 
yang menyebabkan hamba tidak mau menikah dan terus-menerus membantu kehidupan 
ayah. Tiba-tiba satu tahun yang lalu, ayah hamba sakit keras. Lima hari hamba 
merawat ayah supaya sembuh. Hamba tidak pergi dari rumah dan pekarangan, sebab 
hamba ingin tetap menjaga ayah sampai sembuh. Meskipun seorang dukun di desa 
sudah menolong memberikan obat-obatan dan makanan, tetapi semua ikhtiar hanya 
sia-sia belaka. Adapun sakit ayah hamba sudah sangat mengkhawatirkan. Dan sudah 
nasib hamba kalau ia meninggal dunia. Keluh kesahnya tidak ada lain, selain: 
“O, 
anakku Ardinah, hamba tidak mau meninggal dunia sebelum hamba tahu betul kamu 
memiliki seorang suami yang baik”. Setiap saat ia memuji dan berdoa kepada 
Tuhan 
Allah, supaya datang seorang lelaki yang melamar hamba. Adapun hamba sendiri, 
siang-malam tidak bisa tidur selain berdoa supaya ayah sembuh. Pada hari yang 
kelima, hamba kedatangan seorang tamu lelaki yang tidak saya senangi. Sebab 
hamba belum mengenalnya. Tetapi ia membikin ulah yang menakutkan hamba. Ia 
datang kepada ayah hamba yang sedang sakit dan minta berbicara empat mata. 
Sehingga hamba tidak tahu, apa yang mereka bicarakan pada saat itu. Satu jam 
setelah itu, tamu lelaki itu pergi dan saya kembali menemui ayah. Ayah 
kelihatan 
sangat bahagia seperti tidak sedang sakit layaknya. Ia berkata pada hamba: “O, 
Ardinah, tamu yang barusan datang kemari itu adalah Kromo Nenggolo. Lurah baru 
di desa ini. Baru hari kemarin ia ditetapkan menjadi lurah. Jadi ia berpangkat 
besar di desa ini, selain itu, ia orang kaya. Ia bertamu ke sini untuk 
menjelaskan bahwa ia sering melihatmu, meskipun kamu tidak pernah memperhatikan 
dirinya. Dan sekarang ia sangat senang denganmu. Dan melamarmu. Melihat 
keadaannya, dan karena saya sendiri sudah tua dan sangat ingin menyaksikan kau 
menikah dengan selamat, maka tadi saya mengizinkan bahwa besok pagi ia akan 
datang dengan penghulu untuk kawin denganmu. Ia kaya, selain itu, ia juga bisa 
mendatangkan penghulu kemari."

Baru sampai di situ cerita Ardinah, Kadiroen menjadi bingung. Hatinya 
berdebar-debar keras. Ia merasa terpelanting masuk dalam jurang yang sangat 
dalam. Ia merasa tidak hidup lagi. Dan dengan suara perih ia bertanya:

"Jadi, Ardinah sekarang sudah kawin dan sudah punya suami?"

"Ya!" Kata Ardinah. Pada saat jawaban itu keluar, Kadiroen menjadi pucat 
wajahnya. Ia seperti tidak melihat apa-apa lagi. Semuanya menjadi gelap. Ia 
merasa tidak bisa hidup lagi. Ia merasakan ada pukulan berat yang menyebabkan 
pecah hatinya. Maka ia memegang dadanya sambil menjerit dalam hati "Aduh!" dan 
badannya hampir jatuh ke tanah kalau Ardinah tidak cepat-cepat menahannva. 
Kadiroen pingsan beberapa saat. Pada saat ia siuman, ia mendengar kata-kata 
Ardinah:

“Tuan, ampunilah hamba, hamba merasa berdosa besar dengan menceritakan hal ini 
pada Tuan. Karena masalah ini Tuan pingsan beberapa saat. O, hamba tidak 
mengira.” Kadiroen menjadi ingat lagi. Ia memaksa dirinya untuk menenteramkan 
hati dan jiwanya yang sudah hancur. Ia ingat kepada Tuhan Allah. Ia menjadi 
sabar dan bertanya kepada Ardinah:

"Bukan salahmu, Ardinah. Hari ini saya memang agak kurang enak badan!"

Tapi Ardinah seorang perempuan yang perasa. Meski Kadiroen tidak mengatakan 
yang 
sebenarnya. Sebagaimana perasaan semua wanita, perasaan Ardinah juga sangat 
peka. Waktu Kadiroen pingsan karena mendengar perkataannya bahwa ia sudah kawin 
dan punya suami, maka segeralah Ardinah juga merasakan bahwa Kadiroen menaruh 
perasaan cinta yang luar biasa kepadanya. Pada saat itu juga Ardinah merasakan 
bahwa ia sangat mencintai Kadiroen. Selain itu, hati Ardinah juga merasakan 
seperti sedang diremuk oleh sebuah kekuatan rahasia. Tetapi Ardinah bisa 
menyabarkan dirinya. Sebab ia tidak mau mengatakan perasaannya pada Kadiroen. 
Tiada berapa lama, Ardinah mendengar perkataan Kadiroen:

"Sudah Ardinah, saya sudah sembuh. Saya ingin menolong orang yang kamu kasihi 
yang sedang menderita itu. Teruskanlah ceritamu itu." Perkataan itu terdengar 
begitu sabar dan sangat mengharap Ardinah meneruskan ceritanya. Terpaksa 
Ardinah 
meneruskan ceritanya. "Tadi hamba sudah bilang, bahwa ayah hamba sakit keras. 
Dan ia bermaksud mengawinkan hamba dengan Kromo Nenggolo. Sebaliknya hamba 
tidak 
senang dan takut dengan Kromo Nenggolo. Apalagi ia begitu tergesa-gesa 
mendatangkan penghulu. Meskipun ayah masih sakit, ia nekad mau kawin. Tetapi 
hamba tidak berani melawan kata-kata ayah. Karena hamba khawatir akan bikin 
susah dan membikin matinya ayah seketika. Selain itu, sudah adatnya kita 
bumiputera, seorang gadis harus menurut kepada kemauan orang tua jika ia 
menghendaki kita dikawinkan. Kita seorang gadis tidak punya hak bicara dan 
mengeluarkan pendapat kita. Meskipun masalah perkawinan adalah urusan terbesar 
bagi hidup manusia, untuk ketentuan kehidupan seterusnya. Sungguhlah adat yang 
begini ini memang sudah nasib bagi gadis-gadis. Dan sering seorang gadis 
menikah 
dengan terpaksa. Lalu mereka yang lembek hatinya mau menghibur dirinya dengan 
berzina dengan lelaki lain. Memang, kehendak orangtua itu baik, sebab ingin 
melihat anak gadisnya bahagia dengan memilihkan lelaki sebagai suaminya. Tetapi 
kodrat Tuhan Allah tidak boleh dilawan dengan adat manusia. Jadi hamba mesti 
kawin dan tidak berani melawan keputusan ayah. Karena hamba khawatir menambah 
sakitnya. Apalagi melawan merupakan hal yang tidak patut, karena menyimpang 
dari 
adat. Begitulah dengan izin ayah, maka esok paginya di rumah, hamba akan 
kedatangan Kromo Nenggolo dan penghulu. Dan hamba selanjutnya ditetapkan 
menjadi 
istri Kromo Nenggolo. Tetapi sesudah dikawinkan, maka seketika itu juga sakit 
ayah bertambah keras. Dan lalu meninggal dunia dengan kata-kata terakhirnya 
kepada hamba: “Sekarang hamba sudah siap mati, karena kamu sudah kukawinkan 
dengan orang kaya dan berpangkat.””

Sampai di sini Ardinah menangis karena ia ingat kepada ayahnya yang ia cintai.

"Sesudah ia dikubur, maka hamba dibawa ke rumah lurah, suami hamba itu. Dan di 
situ saya diberi tahu bahwa hamba dijadikan selir. Diselir, artinya dijadikan 
istri muda. Kromo Nenggolo berdusta waktu ia berkata kepada ayah hamba. Istri 
tuanya ia tipu. Ya, sekarang Kromo Nenggolo semakin tambah bejat hatinya. 
Itulah 
sebabnya hamba tidak bisa mencintainya.”

"Istri tuanya menjadi sakit hati melihat hamba. Ia merasa bahwa ia akan 
kehilangan pangkat dan hak-haknya sebagai istri lurah.”

"Ia merasa jiwanya menjadi amat sakit, karena ia sudah dibikin permainan oleh 
suaminya. Ia teramat sedih, batinnya menderita. Inilah perempuan tua yang 
sangat 
kasihan, Tuan. Dan hamba ingin sekali menolongnya. O, Tuan, apa sebabnya agama 
Islam hamba memperkenankan lelaki kawin lebih dari satu. Sedang biasanya ajaran 
agama sering dijadikan alasan oleh kaum lelaki yang hanya ingin mempermainkan 
perempuan.”

"Itulah sebabnya, hamba sebagai seorang perempuan, sering menderita batin. 
Hamba 
tahu, seorang perempuan perangainya sangat lembut, seorang lelaki banyak 
alasannya, bahwa di beberapa negeri, ada lebih banyak kaum perempuan daripada 
lelakinya. Hal ini yang menyebabkan mengapa ajaran agama kita memperkenalkan 
lelaki boleh kawin lebih dengan satu perempuan. Tetapi hamba tidak mengerti, 
mengapa seorang lelaki berani mengambil hak-hak itu tanpa meminta izin sang 
istri tua, tanpa menghormati dan turut merasakan bagaimana pedihnya dimadu. 
Demikian pula, perempuan mudanya, sebelum dinikahi seharusnya ditanyai 
bagaimana 
pendapatnya, mau apa tidak ia hidup rukun dengan istri tua. Dan si lelaki 
seharusnya bisa membagi perasaan cintanya kepada semua istrinya. Tetapi 
biasanya, tidak ada perdamaian semacam ini yang terjadi dengan tulus hati satu 
dengan yang lainnya secara terus-menerus. Selain itu, perempuan biasanya tidak 
ditanya pendapatnya lebih dahulu dan hanya dianggap sebagai benda yang tidak 
bernyawa saja. Kita perempuan memang lemah, lelaki kuat dan kuasa, mereka bisa 
berbuat sewenang-wenang kepada kita. Itulah yang sering terjadi di Hindia sini. 
Selama para lelaki belum bisa berbuat baik dan adil, maka lebih baik kalau 
agama 
kita melarang perkawinan lebih dari satu perempuan. O, Tuan Kadiroen, hamba 
merasa sendiri hidup dalam neraka dari kesewenang-wenangan lelaki, yang mengaku 
beragama tetapi tidak menjalankan ajaran agamanya tersebut. Meski begitu, saya 
tidak akan menggugat aturan agama kita. Atau tidak menggugat juga pada yang 
membikin aturan itu. Sebab, mestinya maksudnya baik. Tetapi hamba mencela semua 
laki-laki yang busuk seperti Kromo Nenggolo suami hamba. Lelaki seperti itu, 
wajib dikucilkan dari pergaulan orang banyak. Sekarang hamba sudah telanjur 
menikah dengan Ielaki yang tidak hamba cintai. Istri tuanya dalam kesusahan 
yang 
amat sangat dan mesti saya tolong. Oleh karena itu, hamba lalu minta cerai dari 
Kromo Nenggolo. Bukan karena hamba mementingkan diri sendiri karena susah. 
Tetapi hamba ingin menolong istri tuanya. Tetapi Kromo Nenggolo tidak mau 
menceraikan hamba. Ia memenuhi semua kewajibannya kepada hamba. Tetapi hamba 
tidak suka kepada dia. Sampai sekarang hamba menolak berhubungan dengan dia. 
Tetapi dia tetap tidak mau menceraikan hamba. Keadaannya sekarang, saya secara 
lahir diikat oleh seorang lelaki yang tidak saya sukai. Yaitu orang yang selalu 
membikin sakit hati kaum perempuan. Demikian pula, saya tidak bisa menolong 
istri tuanya. Itulah yang menyebabkan susahnya pikiran hamba. O, Tuan Kadiroen, 
berilah pertolongan untuk perkara ini."

Sampai di sini Ardinah menceritakan riwayatnya. Kadiroen mendengarkan betul dan 
berikhtiar bagaimana bisa membantu menolong Ardinah. Tetapi waktu itu 
sepertinya 
otaknya tidak bekerja. Hanya hati dan jiwanya terus-menerus gelisah. Oleh 
karena 
itu, ia berkata pada Ardinah: "Mbakyu, saya mengucapkan banyak terima kasih. 
Karena kamu mempercayai saya dan sudah menceritakan hal ini. Kau dengan gagah 
berani, melupakan kepentinganmu sendiri, dan berusaha untuk menolong orang 
lain. 
Kau telah memberikan contoh yang baik kepada saya. Selain itu, saya akan 
melupakan kepentinganku sendiri, kalau ada orang lain yang mesti ditolong. 
Pasal 
membantu kamu untuk menolong bini tua dari lurah tersebut, sesungguhnya amat 
sukar urusannya. Saya sekarang belum dapat berusaha. Oleh karena itu, saya 
minta 
waktu. Lain hari hal ini akan saya bereskan. Hanya satu hal lagi yang ingin 
saya 
ketahui, Ardinah istri muda seorang lurah, mengapa pergi ke pasar sendirian 
saban hari?"

"Tadi sudah hamba terangkan bahwa hamba tidak suka dengan lelaki yang secara 
agama telah sah menjadi suami hamba, tetapi pada praktiknya lain. Di mata orang 
banyak, hamba memiliki suami, tetapi yang sebenarnya bukan suami hamba. Hal 
yang 
demikian ini membikin marah dan bencinya Kromo Nenggolo kepada hamba. Dan oleh 
karena itu ia menyiksa hamba. Jam empat pagi hamba harus sudah bangun, pergi ke 
pasar yang begitu jauh. Dan kalau sampai di rumah, terus-menerus sampai malam, 
hamba harus bekerja. Selain itu, ia seringkali memukuli tubuh hamba juga. Ia 
sanggup meringankan nasib saya kalau hamba mau melayani keinginannya. Tetapi 
hamba tetap tidak mau, sebab supaya jangan menambah sakit hati istri tuanya. 
Itulah sebabnya mengapa sampai sekarang hamba disiksa terus-menerus. Tetapi hal 
itu tidak hamba pikirkan. Dan siang-malam hamba hanya memohon kepada Tuhan 
Allah, supaya diberi kekuatan memikul semua siksaan ini dengan hati sabar. 
Hamba 
memegang teguh nasihat ibu hamba, “Siapa yang berbuat baik, tentu akan dibalas 
kebaikan oleh Tuhan Allah. Dan oleh karena itu, dalam kesengsaraan tetaplah 
percaya kepada Tuhan Allah yang akan memberi kekuatan sampai saatnya anugerah 
itu datang.” lnilah pepatah yang selalu hamba ingat Tuan dan yang membikin saya 
tetap sabar serta sanggup memikul kesengsaraan ini dengan tidak sampai berputus 
asa."

Kadiroen mendengarkan semua pembicaraan Ardinah, dalam batinnya ia menghormati 
pendirian perempun yang herhati mulia itu. Mulia karena memang baik. Kadiroen 
merasa sepertinya ia mendapatkan pelajaran dari pepatah yang sudah diterangkan 
Ardinah tadi. Kadiroen sangat bahagia mendapat pelajaran mencari kekuatan Allah 
dalam kesengsaraan tadi. Dan pikirannya yang kebingungan memikirkan cinta 
menjadi bersabar. Lantas Kadiroen permisi pulang. Sungguh Kadiroen sudah 
bertemu 
dengan seorang perempuan yang cocok dengan jiwa, watak dan pikirannya. Karena 
terdapat tiga kesamaan dalam tiga masalah itu, maka tidaklah heran jika 
Kadiroen 
menaruh cinta yang amat besar kepada Ardinah. Seorang lelaki hanya akan 
betul-betul mencintai seorang perempuan jika watak, jiwa dan pikiran si 
perempuan memiliki kecocokan dengan si lelaki. Begitu pula sebaliknya seorang 
perempuan terhadap seorang lelaki. Cinta sejati adalah jika ia melihat dirinya 
sendiri dalam diri orang lain. Itulah percintaan sejati yang amat indah 
sinarnya.

Hari itu Kadiroen tidak jadi pergi ke Desa Meloko. Meski ia sangat suka, tetapi 
pikirannya sedang melawan semua pekerjaannya karena ia sangat tertarik oleh 
debaran jiwanya. Oleh karena itu ia lalu pulang. Dan karena ia merasa begitu 
tergoda, begitu sakit jiwanya, maka ia minta cuti 14 hari untuk menerangkan 
semua persoalannya kepada ayah dan ibu di rumah. Hari itu, pada tengah malam, 
ia 
mengerti ada tiga perkara yang mesti ia bereskan. Yaitu jiwanya sendiri, 
pertolongan untuk istri tua Lurah Meloko, serta kepada rakyat di desa itu.

Untuk pasal yang pertama, ia sudah dapat menyelesaikan dengan baik. Yaitu ia 
akan cuti menghibur hati di rumah orang tuanya. Dan untuk pasal yang kedua, ia 
sudah menemukan jalannya. Yaitu ia akan menyerahkan hal itu pada Asisten Wedono 
yang akan mewakilinya dalam 14 hari cuti itu. Hal itu tidak akan menyusahkan 
yang mewakilinya. Sebab Kadiroen sudah tahu duduk perkaranya. Dan hanya tinggal 
mengumpuIkan bukti-bukti saja. Untuk mengumpulkan bukti-bukti, wakilnya pasti 
tidak akan keberatan.

Begitulah, Kadiroen akan menyelesaikan dua perkara itu, sebab ia sudah tidak 
kuat lagi. Hanya perkara menolong istri tua Lurah Meloko, itulah yang masih 
belum bisa diselesaikan dalam pikiran Kadiroen. Beberapa ide telah membayang 
dalam pikiran Kadiroen untuk mengikhtiarkan perkara itu. Tetapi hanya satu cara 
yang dapat menyelesaikan masalah itu, "Ardinah harus cerai dengan Kromo 
Nenggolo". Tetapi bagaimana hal itu meski dijalankan. Itulah yang selalu 
dipikirkan otak Kadiroen. Ia berpikir, seumpama Ardinah sudah diceraikan oleh 
Kromo Nenggolo, istri tuanya pasti akan tertolong. Tetapi bagaimana hidup 
Ardinah selanjutnya, seorang perempuan muda yang tidak punya sanak famili?

Jadi dalam hal ini, Kadiroen harus mau memikul kehidupan Ardinah. Dan bisa 
memikulnya, sebab tentunya ia akan kawin dengan Ardinah. Kadiroen akan kawin 
dengan dia. Ia tahu, dari pertemuan tadi pagi, bahwa Ardinah mencintai dirinya. 
Sebaliknya jika Kadiroen ikut campur tangan masalah cerai itu, lalu ia kawin 
dengan Ardinah, bagaimana nantinya dalam pandangan umum? Tentunya ia akan 
kelihatan busuk sekali, sebab ia memaksa seorang lurah - seorang pegawai di 
bawah kekuasaannya - untuk bercerai dengan istrinya, buat dikawin sendiri oleh 
Kadiroen. Kadiroen yakin, cara ini akan kelihatan busuk sekali. Sebab jika hal 
itu sampai kejadian, namanya akan menjadi sangat tercemar. Dan lalu ia tidak 
begitu dipercaya oleh rakyat. Akhirnya ia tidak akan bisa membantu rakyat dalam 
wilayah kekuasaannya itu. Selain dari itu, dengan mengambil jalan yang demikian 
itu, ia akan memberi contoh yang buruk kepada semua orang. Pendek kata, bahwa 
jalan yang demikian sangat buruk sekali. Betul juga, Kadiroen sudah mengerti, 
pada zaman kuno banyak atasan yang memaksa bawahannya untuk memberikan istrinya 
pada atasannya. Mereka memaksa dengan ancaman, membenci, melepas pekerjaan atau 
pangkat seorang pegawai yang ada di bawah perintah kekuasaannya. Karena seorang 
pegawai biasanya amat takut kehilangan jabatannya. Ia malu. Jadi mereka menurut 
saja semua apa yang diperintahkan atasannya. Tetapi Kadiroen tidak suka berbuat 
begitu hina, memaksa bawahannya untuk urusan demikian. Ia lebih baik bunuh diri 
daripada harus berbuat yang demikian hina. Pendek kata, Kadiroen tidak bisa 
ikut 
campur tangan dalam urusan cerai ini. Bisa juga dilaksanakan, tetapi sesudah 
Ardinah diceraikan, maka selanjutnya Kadiroen akan menghindari Ardinah. Padahal 
ia sangat khawatir akan hidup dan masa depan perempuan itu. Bahwa Ardinah akan 
hidup lebih sengsara dari pada sekarang. Meskipun kira-kira Ardinah akan 
sanggup 
memikul beban tambahan kesengsaraan itu. Tetapi Kadiroen sendiri yang tidak 
akan 
kuat melihatnya jika hal itu sampai terjadi. Ya, bagaimanapun Kadiroen 
memikir-mikir, selalu saja ia tidak mendapatkan jalan yang baik untuk menolong 
istri tua yang disakiti jiwanya oleh Kromo Nenggolo. Semalaman Kadiroen tidak 
bisa tidur. Dan pagi-pagi ia sudah pergi ke Desa Meloko, ingin bertemu di jalan 
dengan Ardinah. Dan setelah bertemu maka Kadiroen meminta maaf kepada Ardinah 
karena sampai sekarang ia belum bisa membantu dengan semestinya apa yang 
dimaksud Ardinah. Lalu Kadiroen menjelaskan bahwa ia sudah minta cuti selama 14 
hari untuk pulang ke rumah orangtuanya. Selain itu, ia meminta izin Ardinah, 
apakah ia boleh meminta nasihat ibu dan bapaknya mengenai kesulitan ini.

"Hamba mengucapkan beribu terima kasih atas kehendak Tuan yang mulia itu. 
Sesungguhnya Tuan adalah seorang kesatria. Tetapi tadi malam hamba sudah 
menemukan cara, dan akan berusaha sendiri, yang akan hamba lakukan dalam dua 
minggu jika Tuan cuti. Tuan pun tak usah turut campur tangan lagi. Sebab hamba 
tidak ingin Tuan ikut susah dalam masalah ini. Selain dari itu, Tuan jangan 
bilang pada ayah dan ibu Tuan, ya Tuan hamba," jawab Ardinah.

Pesan yang terakhir itu dikeluarkan dengan perkataan yang sangat terang dan 
dengan cara yang begitu menarik hati. Sehingga Kadiroen tidak bisa bilang 
apa-apa, selain "Saya menuruti kemauan Ardinah!"

Dengan begitu maka Ardinah melepaskan Kadiroen dari kewajibannya yang amat 
sukar, yang meringankan apa yang mesti dipikul Kadiroen.

Beberapa hari tidak lama sesudah kejadian ini berlangsung, maka Kadiroen 
mendapat telegram dari pembesar atasannya yang sebagian berbunyi; "cuti 
diizinkan. Habis verlof supaya terus menjabat dengan pangkat Wedono di Distrik 
Rejo...."

Sesungguhnya kabar itu membikin gembira Kadiroen. Batinnya mengucapkan terima 
kasih sedalam-dalamnya kepada Tuhan Allah. Kenaikan pangkat itu bagi Kadiroen 
dapat menjadi sedikit obat bagi jiwanya yang sakit dan terguncang keras.

Bersambung ke BAB III. Terjepit

 
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanhaikumiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke