Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  716  330  kali

======================================



Pejuang Perempuan  Dan Pemimpin Gerwani

Umi Sardjono Meninggalkan Kita



Beberapa waktu yang lalu, setelah membaca berita bahwa mantan Ketua Umum
Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), Umi Sardjono, telah wafat dalam usia 88
tahun, maka terbayang kembalilah dalam ingatan saya peristiwa-peristiwa
dalam tahun 1945, ketika saya masih berumur 17 tahun.



Saya ingat kembali bahwa saya sudah pernah bertemu dengannya dalam tahun
1945 itu, dalam situasi yang penuh gelora proklamasi 17 Agustus. Hal ini
saya ceritakan dalam otobiografi « Perjalanan hidup saya » yang diterbitkan
di Jakarta dalam tahun 2004, dalam halaman 37 dan 38.



Dalam halaman-halaman itu ditulis : « Ketika 17 Agustus diproklamasikan di
Jakarta oleh Bung Karno dan Bung Hatta dalam tahun 1945  saya ada di Kediri.
Pada masa-masa selanjuntnya terjadilah peristiwa-peristiwa yang hanya bisa
saya ingat samar-samar sekarang ini :  peristiwa perlucutan senjata tentara
Jepang di berbagai tangsi di daerah keresidenan  Kediri dan berbagai badan
perjuangan  melakukan kegiatan-kegiatan.



Tetapi, masih jelas dalam ingatan saya, bagaimana saya ikut, bersama-sama
dengan banyak orang lainnya, beramai-ramai menuju rumah penjara Kediri,
untuk membebaskan orang-orang yang ditahan oleh Jepang. Saya tahu bahwa
paman saya, Boeamin, ditahan oleh Kenpeitai Jepang (polisi militer ) di
penjara ini.



Paman Boeamin adalah seorang yang pandai bahasa Jepang dan pernah menjadi
jurubahasa Jepang untuk Kenpeitai di Blitar. Entah bagaimana, pada tahun
1943-1944 diketahui oleh Kenpeitai bahwa ia termasuk gerakan di bawah tanah
untuk menentang Jepang. Ia disiksa secara kejam, digantung dan disuruh minum
air sabun banyak-banyak.



Karena itu, ketika ada orang-orang di kalangan KNI (Komite Nasional
Indonesia) Kediri berbicara untuk membebaskan tahanan-tahanan Jepang dari
rumah penjara Kediri, saya ikut. Saya masih ingat, bahwa selain paman
Boeamin, banyak tahanan-tahanan Jepang lainnya yang telah dikeluarkan pada
saat itu.



Salah seorang di antara tahanan itu terdapat wanita yang waktu itu masih
muda, yaitu yang bernama Umi Sardjono (Ia menjabat sebagai pimpinan GERWANI
sampai terjadinya G30S dalam  tahun 1965). Pidatonya yang bersemangat dan
berapi-api di depan orang banyak, yang berkerumun di depan pintu penjara,
sangat mengesankan bagi saya  Mungkin ini juga merupakan faktor bagi
perkembangan pikiran-pikiran saya di kemudian hari. » (kutipan dari
otobiografi « Perjalanan hidup saya » selesai)



Pengaruh pidato Umi Sardjono bagi pandangan hidup saya



Sekarang ini, dalam usia hampir 83 tahun dan hidup di Paris, ketika
mengingat-ingat kembali peristiwa-peristiwa masa remaja saya di Kediri  (dan
Blitar), terasa sekali bahwa kasus dipenjarakannya Umi Sardjono  (dan paman
saya Boeamin) oleh tentara pendudukan Jepang dan pidatonya yang sangat
mempesonakan di depan pintu penjara menimbulkan dampak yang dalam terhadap
fikiran-fikiran saya kemudian.



Hal yang demikian itu adalah wajar. Karena,  wakltu itu saya baru berumur 17
tahun, dan gelora perjuangan yang dicetuskan proklamasi 17 Agustus membakar
dada dan kepala banyak pemuda waktu itu. Mungkin sekali bahwa kasus Umi
Sardjono (dan kasus paman saya Boeamin) memang betul-betul kemudian menjadi
pendorong perjalanan hidup saya yang berliku-liku.



Karena, tidak lama kemudian saya bersama-sama belasan pelajar-pelajar SMP
Kediri dan SGL (Sekolah Guru Laki-laki) Blitar berangkat ke Surabaya pada
tanggal 9 November untuk menggabungkan diri dalam Tentara Republik Indonesia
Pelajar (TRIP) dan ikut dalam pertempuran 10 November yang terkenal itu. Dan
sejak itu mulailah kehidupan saya yang penuh dengan pergolakan dan
perjuangan, yang saya tulis dalam buku otobiografi saya itu.



 Sejak muda sudah berjuang untuk kemerdekaan bangsa



Dengan wafatnya Umi Sardjono, maka terbuka kesempatan untuk mengenang
kembali kebesaran sosoknya sebagai pejuang untuk kemerdekaan bangsa kita dan
sebagai tokoh utama GERWANI. Bagi saya, kenyataan bahwa ia sudah
dipenjarakan oleh tentara fasis Jepang (sebelum proklamasi 17 Agustus)
karena ikut gerakan di bawah tanah menentang Jepang adalah satu indikasi
yang kuat bahwa ia termasuk pejuang yang dini untuk kemerdekaan bangsa, jauh
lebih dulu dari pada banyak “pejuang-pejuang” (harap perhatikan tanda buka
dan tutup), termasuk Suharto sendiri atau jenderal-jenderal Angkatan Darat
lainnya.



Umi Sardjono ditangkap dan dipenjarakan oleh tentara fasis Jepang bersama
banyak orang-orang lainnya, yang melakukan gerakan di bawah tanah, yang
kebanyakan terdiri dari anggota-anggota atau simpatisan PKI.  Pada waktu
itu, gerakan  di bawah tanah yang dilakukan di bawah pimpinan PKI banyak
terdapat di Jawa Timur, terutama di daerah Blitar dan Kediri. Salah satu
tokohnya  adalah Pak Nata, seorang yang sejak jaman kolonial Belanda sudah
melakukan kegiatan  dengan menyamar sebagai pengusaha minuman Sarsaparila di
jalan Herenstraat (sekarang Jalan Merdeka) di tengah-tengah kota Blitar.



Apakah Umi Sardjono pada waktu pendudukan tentara fasis Jepang sudah menjadi
anggota PKI atau hanya simpatisan saja, tidak diketahui dengan pasti. Namun,
bahwa ia telah dipenjarakan ketika masih muda belia (sekitar 22 tahun)
karena ikut melakukan gerakan di bawah tanah adalah satu indikasi bahwa ia
termasuk salah satu di antara orang-orang yang pantas (dan, bahkan,
sebenarnya  berhak !!!) disebut sebagai perintis kemerdekaan bangsa kita.
Ini sudah dibuktikan melalui penderitaannya atau kesengsaraannya dalam
penjara Jepang. Dan  orang-orang yang seperti Umi Sardjono tidaklah sedikit
jumlahnya di Indonesia.



Perlakuan rejim Suharto terhadap Umi Sardjono dan GERWANI



Kalau mengingat itu semua, dan kemudian memperhatikan perlakuan rejim
militer Suharto terhadap Umi Sardjono dan organisasi perempuan GERWANI yang
dipimpinnya sesudah terjadinya G30S, maka bisa dimengertilah bahwa banyak
orang mengatakan  -- dengan kemarahan besar atau emosi yang meluap-luap –
bahwa penguasa militer Suharto dengan para jenderal yang mendukungnya adalah
sekelompok oknum-oknum yang merupakan sampah bangsa, atau penyakit parah
yang membikin rusaknya jiwa banyak orang Indonesia.



Perlakuan terhadap GERWANI dan Umi Sardjono, pimpinan tertinggi organisasi
perempuan yang terbesar di Indonesia (sekitar 1,5 juta anggotanya di seluruh
Indonesia) dan tokoh yang terkenal sebagai  pendukung politik Bung Karno,
adalah sekelumit kecil saja dari dosa-dosa  rejim militer Orde Baru.
Dosa-dosa besar ini tidak bisa – dan tidak boleh !!! – dilupakan sama sekali
oleh bangsa Indonesia berikut generasi-generasi yang akan datang.



Umi Sardjono ditangkap dan dipenjarakan belasan tahun setelah terjadinya
G30S, tanpa putusan pengadilan, tanpa kesalahan apa-apa, seperti halnya
puluhan ribu pengurus GERWANI di seluruh daerah Indonesia. Banyak di antara
mereka ini yang telah dibunuh begitu saja, atau ditahan dan disiksa
(termasuk diperkosa). Sebagian dari tokoh-tokohnya dipenjara bertahun-tahun
(bahkan banyak yang sampai belasan tahun) berpindah-pindah di Cipinang,
Bukitduri, Plantungan, dan berbagai penjara atau tempat tahanan (di
Kodim-kodim) di seluruh Indonesia.



Penderitaan para anggota atau simpatisan Gerwani, akibat penyiksaan secara
fisik dan mental secara besar-besaran dan berjangka lama ini dapat disimak
dalam berbagai tulisan atau dokumen yang sudah beredar selama ini. Dengan
menyimak bahan-bahan itu,  -- yang sebagian juga disajikan dalam website
http://umarsaid.free.fr/ -- nyatalah bahwa para penguasa rejim militer
Suharto adalah betul-betul merupakan orang-orang yang berakhlak rendah, atau
oknum-oknum yang sama sekali tidak berhak dan juga tidak pantas menyebutkan
diri mereka sebagai orang-orang yang beradab dan bermanusiawi.



Cerita-cerita yang serba bohong tentang GERWANI



Orde Baru telah selama 32 tahun secara sistematis, terus-menerus, dan secara
luas serta berjangka panjang (!!!) , menyebar banyak sekali kebohongan dan
segala macam fitnah, untuk menimbulkan kebencian masyarakat luas terhadap
GERWANI (dan PKI). Di antara kebohongan atau fitnah itu adalah bahwa GERWANI
terlibat dalam G30S. Padahal, banyak bukti-bukti yang menunjukkan dengan
gamblang sekali bahwa kebanyakan pengurusnya atau anggota-anggotanya – baik
di tingkat nasional maupun daerah – tidak ada yang tersangkut (sedikit pun
!!!)  dalam G30S. Bahkan, mengetahuinya pun juga tidak !!!!! (tanda seru
lima kali).



Dalam jangka yang lama sekali koran-koran dan majalah jaman  Orde Baru
menyiarkan cerita-cerita gila, atau isapan jempol, atau dongeng-dongeng
tentang GERWANI, umpamanya bahwa organisasi perjuangan ini adalah gerakan
perempuan yang a-susila atau menganjurkan sex bebas  serta pelacuran. Banyak
cerita yang dikarang-karang tentang anggota GERWANI yang ikut mencukil mata,
bahkan memotong kemaluan atau menyayat-nyayat para jenderal yang terbunuh
dengan silet.



Cerita gila dan fitnah yang keterlaluan busuknya dan juga yang pernah banyak
beredar (dan terkenal !) adalah upacara pesta gembira di Lubang Buaya dengan
terbunuhnya para jenderal. Dalam upacara yang diberi nama “Harum Bunga” ini
anggota-anggota GERWANI menari-nari dan menyanyi-nyanyi  dengan telanjang
!!! Sudah jelaslah kiranya bahwa segala kebohongan yang begitu besar dan
semua fitnah yang begitu busuk itu tentunya tidak bisa datang dari fikiran
orang-orang yang sehat jiwanya atau waras nalarnya.



Rehabilitasi untuk Umi Sardjono dan GERWANI



Sekarang Umi Sardjono sudah wafat. Terakhir ia  tinggal di rumah seorang
sahabatnya yang merawatnya, karena satu kakinya lumpuh. Umi Sardjono pernah
ditahan di penjara di Bukitduri (Jakarta) sampai belasan tahun, seperti
halnya banyak pimpinan GERWANI lainnya. Meskipun tidak bersalah apa-apa sama
sekali. Sejak dibebaskan dari tahanan di penjara Bukitduri sampai wafatnya
ia terpaksa hidup dengan berbagai penderitaan.



Perlakuan yang tidak manusiawi, yang melanggar HAM, yang bertentangan dengan
peradaban, yang melanggar hukum, yang semacam yang dialami Umi Sardjono
inilah yang perlu diangkat atau dipersoalkan dan dihujat terus-menerus oleh
sebanyak mungkin dari berbagai kalangan di Indonesia dewasa ini, dan untuk
selanjutnya.



Sebab, bangsa kita tidak bisa disebutkan sebagai bangsa yang beradab, bangsa
yang menghargai peri kemanusiaan, bangsa yang menjunjung keadilan, bangsa
yang berpedoman Pancasila, kalau membiarkan terus kasus Umi Sardjono seperti
angin lalu saja. Sebab, kasus Umi Sardjono hanyalah satu kasus saja dari
jutaan kasus yang serupa atau sejenis yang dialami oleh banyak orang di
Indonesia. Artinya, orang-orang yang tidak bersalah apa-apa sama sekali
namun diperlakukan sewenang-wenang (antara lain ditangkapi, disiksa,
diperkosa, dipenjara  bahkan dibunuh !!!) hanya karena mereka mempunyai
sikap kiri atau pro-PKI. Apakah yang demikian ini negara hukum ???



Umi Sardjono adalah pejuang politik yang sudah dipenjarakan karena
memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ia kemudian menjadi pimpinan
GERWANI dan sering berkunjung ke Moskou, Berlin, Praha, Peking dan kota-kota
lainnya. Saya pernah bertemu dengannya di Paris ketika ia menjadi salah satu
dari anggota rombongan Presiden Sukarno. Ia tokoh nasional yang terkemuka
dalam gerakan perempuan di Indonesia. Sungguh besar kesalahan rejim Suharto,
dan sungguh berat dosa-dosa para pendukungnya, karena memperlakukan Umi
Sardjono (dan kawan-kawannya di GERWANI), dengan cara-cara yang membikin
noda besar dalam sejarah  bangsa Indonesia.



Para penguasa rejim militer Orde Baru (termasuk tokoh-tokoh GOLKAR) harus
bertanggung-jawab atas kesalahan atau kejahatan yang begitu besar, dan
menebus dosa-dosa mereka. Antara lain dengan minta ma’af, dan mengakui
kesalahan mereka, dan berusaha – dengan macam-macam cara dan segala jalan –
untuk merehabilitasi Umi Sardjono dan GERWANI serta memberi kompensasi
selayaknya kepada ùereka. Sekarang masih belum terlambat! Karena, meskipun
sudah banyak yang wafat, namun masih banyak yang tetap hidup, walaupun
dengan macam-macam penderitaan.



Dengan merehabilitasi Umi Sardjono dan GERWANI, maka kita bisa
mendudukkannya kembali pada tempatnya yang  seharusnya  sebagai organisasi
perempuan Indonesia yang patut jadi kebanggaan seluruh bangsa Indonesia.



Rehabilitasi GERWANI adalah satu langkah penting menuju rehabilitasi gerakan
kiri Indonesia pada umumnya. Dan rehabilitasi gerakan kiri Indonesia adalah
penting untuk kebaikan bangsa sebagai keseluruhan. Gerakan kiri adalah asset
bangsa Indonesia yang sangat diperlukan, seperti yang sudah ditunjukkan   --
dengan gamblang sekali !!! --  oleh  era di bawah kepemimpinan Bung Karno.





Paris, 16 Maret  2011

A.      Umar Said



= = = = = = = = = =



Catatan :

Sebagai bacaan tambahan tentang berbagai soal yang berkaitan dengan GERWANI
disajikan sebagai lampiran sejumlah tulisan, yang juga bisa disimak dalam
website http://umarsaid.free.fr/








[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke