http://alexarussia.blog.friendster.com/2010/10/revolusi-sebuah-lompatan-kualitative/

Revolusi: Sebuah Lompatan Kualitative


+++


Selama ini kebanyakan dari manusia indonesia banyak yang mempunyai paradigma
takhyul.

Banyak kejadian-kejadian alam atau kejadian besar dianggap muncul begitu saja,
Kun Fayakun, Sim Salabim, ujug-ujugÂ…mak jegler dari langit.


Saya memakluminya karena dari kecil otak mereka telah dicekoki oleh ide-ide dan
pengetahuan takhyul. Pengetahuan takhyul itu secara sistematis ditancapkan sejak
kecil, agar pikirannya penuh racun dan fallacy. Kekuasaan mempunyai tujuan jelas
terhadap hal ini, yaitu agar sistem kekuasaan langgeng.


Dari sejarah dunia, telah menunjukan dengan nyata bahwa kaum kekuasaan sangat
menyukai produksi takhyul terhadap masyarakat, agar sistem struktur masyarakat
tetap langgeng, yang diatas tetap diatas, yang dibawah tetap dibawah, untuk itu
digunakanlah mitos-mitos takhyul seperti agama, nyi roro kidul, jin, dan lain
sebagainya dan masyarakat dihadapkan pada sesuatu yang tidak punya pilihan lagi,
selain merenungi bahwa hidupnya di dunia sebagai takdir belaka.


Kaum sudra atau paria lahir di dunia dianggap sebagai takdir, dan tidak bisa
merubah kasta lagi selain berbuat kebaikan dan perubahannya dijanjikan di
kehidupan berikutnya, demikian juga struktur agama, membuat manusia terperangkap
dalam situasi yang telah disusun secara sistematis oleh lembaga-lembaga
kekuasaan struktural agar stagnan/tidak mengalami perubahan.


Pengetahuan kita tentang sim salabim, atau kun fayakun membuat kita memandang
dunia ini sebagai sesuatu yang stagnan, kita menganggap rotasi bumi mengalami
konstanta 24 jam per hari, kita menganggap alam semesta bergerak secara konstan,
tersistematis, dan rapi, kita menganggap bahwa semuanya seperti diam dan tidak
bergerak, sehingga kejadian seperti Tsunami Aceh, gempa di Yogya, atau gempa di
Padang, dianggap sebagai suatu gejala tunggal yang digerakan oleh sumber
takhyul.


Disini artinya segala gejala alam itu dianggap sebagai kemarahan kekuasaan
takhyul absolut (God) dan meremote alam semesta dan menggerakan kejadian
tunggal.

Tentu ini paradigma manusia-manusia yang pengetahuannya level purba.


Namun saya telah berkali-kali menulis materialisme dialektik, suatu ilmu/tools
analisa, yang melihat alam semesta dalam saling keterhubungan.


Tepatnya dari analisa materialisme dialektik, semua gejala alam itu bukanlah
suatu gejala tunggal yang muncul mak jegadul begitu saja, namun didahului oleh
gejala-gejala kecil yang mendahuluinya terlebih dahulu. Gejala-gejala kecil ini
datang dalam bentuk kuantitative yang kecil, namun kemudian gejala-gejala kecil
kuantitative ini terkumpul, terkonsentrasi dan tiba-tiba meledak berubah menjadi
gejala kualitatif atau lompatan besar, atau tiba-tiba terjadi kejadian besar.


Jadi jelas kiranya bahwa kejadian besar bukanlah suatu kejadian tunggal yang
muncul kun fayakun seperti yang dipercayai oleh orang Indonesia selama ini yang
otaknya banyak tercekoki oleh pengetahuan takhyul, namun kejadian besar bermula,
atau diawali dari kumpulan/kuantitative gejala kecil yang terkonsentrasi


Saat ini dengan adanya kemajuan sains, kiranya merupakan kemenangan filsafat
materialisme dialektik, sains telah menjelaskan bahwasanya 1 gunung meletus di
sebuah tempat mampu mengaktifkan gunung lainnya yang semula dianggap diam/pasiv.


Semua hal kejadian besar ini akibat semua materi bergerak, baik materi padat,
cair ataupun gas (matter in motion), atau akibat interaksi gerakan materi kecil
terlebih dahulu.

Kini jelas terketahui bahwa banyak sekali pengetahuan takhyul kita yang salah,
seperti apakah benar bumi bisa berotasi 24 jam persis plekkk dalam setiap
harinya?


***

Disinilah jeniusnya Darwin dalam memberikan kuliah kepada Allah SWT tentang
bagaimana alam raya bergerak, namun karena Allah SWT itu IQ-nya rendah, jadi
dijelaskan oleh Darwin tentang evolusi (gerakan/perubahan kecil), maka tetap
saja mengelola alam raya ini dengan kacau balau.


Didalam contoh lain tentang suatu lompatan kualitas yang berasal dari suatu
gejala kecil adalah perhatian kita terhadap suatu anak bayi.


Bayi semula akan melihat orang tuanya berdiri, dan setelah bisa merangkak,
timbul keinginan seorang bayi untuk bisa berdiri, dari sini seorang bayi akan
mencoba-coba terus, dari percobaan-percobaan untuk bisa berdiri maka pelan-pelan
akan menguatkan ototnya. Namun kesuksesan seorang bayi untuk bisa berdiri tidak
muncul begitu saja, namun percobaan-percobaannya akan selalu gagal terlebih
dahulu, sampai kemudian terjadi 'sim salabim' atau `kun fayakun', suatu kalimat
yang disukai oleh para kaum takhyul, bahwa seorang anak bayi tersebut tiba-tiba
bisa berdiri. Kemampuan berdiri ini adalah suatu lompatan kualitative, tampak
seperti mendadak, tampak seperti kun fayakun, tampak seperti sim salabim, namun
sesungguhnya gejalanya sudah bisa kita lihat ketika anak bayi ini mencoba-coba
terus untuk berdiri karena meniru orang yang dilihatnya bisa berdiri.


Setelah bayi bisa berdiri, maka dia akan mampu berdiri terus, karena mekanisme
ototnya sudah kuat, sehingga ketika bayi telah mampu melakukan suatu revolusi
terhadap dirinya sendiri, maka bayi itu mempunyai kemampuan baru yang telah
dicapainya secara terus menerus.


Disinilah ketidaksadaran manusia-manusia indonesia tentang pentingnya revolusi.
Revolusi dianggap sebagai suatu hal yang mengerikan dan merusak tatanan. Jelas
ini suatu paradigma yang keliru dan merupakan abstraksi cerminan kebodohan
analisa para ahli sosial yang tidak mengerti dialektika materialisme sebagai
ilmu yang mencoba menganalisa seluruh hakekat gejala alam secara realistis.


Mari kita lihat apa yang terjadi di Eropa, setelah terjadi era age of
enlightenment, yang diawali oleh rasionalisme para pemikirnya, maka segera
memicu terjadinya revolusi prancis, dan berlanjut ke revolusi besar di Russia,
dan mengubah tatanan dunia baru termasuk memicu merdekanya sebuah negeri bernama
Indonesia. Jadi disini nampak jelas juga bahwasanya merdekanya sebuah negeri
bernama Indonesia tidaklah berasal dari gejala tunggal terutama diakibatkan oleh
Soekarno, namun perubahan besar di eropa terutama revolusi besar di Russia
memicu kesadaran negeri-negeri jajahan untuk melepaskan diri dari cengkeraman
kolonialisme. Anti-kolonialisme terutama di Asia telah menjadi perhatian VI
Lenin, dan dari VI Lenin terbawa oleh Tan Malaka ke Indonesia, demikian juga
dengan Henk Sneevliet seorang agen komintern Soviet kemudian datang pada tahun
1912, mendirikan ISDV/PKI dan mengorganisasi perlawanan terhadap pemerintahan
kolonialisme, dan lalu memicu gerakan pemberontakan para komunis gaek indonesia
di tahun 1926 yang dipelopori oleh Musso, Alimin, dan Darsono, setelah gerakan
komunisme diberantas oleh pemerintah Hindia Belanda, baru muncul aktivis baru
bernama Soekarno dan disusul Hatta dan lain sebagainya.


Kemudian pencerahan materialisme ini juga memicu suatu perang besar yaitu perang
dunia kedua, dan kita lihat Jepang, Jerman, Russia, Amerika adalah negara-negara
terdepan dalam revolusi. Revolusi yang telah mereka lakukan jauh-jauh hari
seperti percobaan seorang anak bayi untuk berdiri, ketika mereka telah melakukan
lompatan kualitatif revolusi, maka mereka merupakan negara yang telah mampu
berdiri seperti seorang anak bayi, sehingga ketika jepang dihancurkan oleh
Amerika, maka jepang cepat bangkit, ketika jerman dihancurkan oleh Soviet, maka
jerman cepat bangkit, atau ketika komunisme ambruk di Soviet di tahun 1991,
Russia juga cepat bangkit, demikian juga analisa saya terhadap Amerika yang
ambruk pada oktober 2008, mereka semua adalah negara yang telah mengetahui
bagaimana cara berdiri yang benar, mereka punya otot-otot yang telah kuat untuk
berdiri kokoh hasil dari percobaan-percobaan revolusi yang telah mereka lakukan
jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga mereka semua merupakan negara-negara yang
akan mampu cepat bangkit dari keterpurukan, ini seperti halnya apabila anda
telah mampu berdiri dan sesungguhnya telah mempunyai otot yang telah kuat untuk
berdiri, lalu terantuk batu dan jatuh, maka jatuhnya anda hanya akan dalam
tempo/waktu sementara, dan untuk selanjutnya maka anda akan cepat pulih untuk
bisa berdiri lagi. Lain halnya kalau suatu negara belum pernah melakukan suatu
lompatan kualitatif untuk mencoba untuk berdiri (revolusi), cara berdiri saja
tidak tahu bagaimana negara ini akan bisa berdiri tegak???. Negara yang belum
pernah melakukan revolusi atau lompatan kualitatif jelasnya negara tersebut
belum mempunyai otot yang kuat untuk berdiri.


Suatu lompatan kualitatif dari suatu gerak kecil yang kuantitative inilah yang
menjadi kritik utama terhadap kejeniusan teori evolusinya Darwin. Darwin (bisa
dimaklumi) menganggap bahwa perubahan bersifat gradual, namun ketika Karl Marx,
Engels, Lenin mengadopsi kejeniusan GW Hegel terhadap teori dialektikanya, maka
terungkap sudah bahwa gerakan dan perubahan selalu bersifat kuantitative menjadi
kualitative dan kemudian berubah ke kuantitative lagi, atau suatu gejala bisa
dijelaskan berawal dari evolusi (perubahan kecil), terkumpul dan terkonsentrasi
secara kuantitative/jumlah, sehingga tiba-tiba menjadi suatu lompatan
besar/kualitative/revolusi, dan kemudian balik lagi ke perubahan kecil-kecil
lagi (kuantitative), dan begitulah seterusnya.


Uraian diatas bisa menjelaskan bagaimana suatu revolusi terjadi, dan bagaimana
suatu revolusi dibangun. Revolusi tidak datang dengan tiba-tiba, namun ia akan
diawali oleh suatu gejala kecil terlebih dahulu, seperti lebah mengepakan sayap,
ketika lebah tersebut mengepakan sayap sendirian, maka ia seperti tidak akan
bermakna apa-apa, namun lebah itu mampu menarik perhatian lebah-lebah lainnya
untuk mengumpul, sampai kemudian jutaan lebah berkumpul untuk bersama saling
mengepakan sayap, sehingga terjadilah badai anginÂ….



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke