http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/23/212310/68/11/Negara-Hilang-Akal


Negara Hilang Akal 
Rabu, 23 Maret 2011 00:00 WIB      
Penulis : Irfan Ridwan Maksum, Guru Besar Tetap Ilmu Administrasi Negara FISIP 
UI, advisor Local Governance Wa
PAKET bom yang marak belakangan ini cenderung dikaitkan dengan isu teroris. 
Analisis saya memperlihatkan dari sisi waktu, itu selalu bergulir berdekatan 
dengan tekanan terhadap rezim berkuasa (Media Indonesia, 27/10/2010). Analisis 
sebagian pakar juga menunjukkan adanya nilai jual yang lebih tinggi jika isu 
itu bergulir apabila dibandingkan dengan isu-isu lain di kancah nasional 
terlebih jika benar adanya asumsi pendiskreditan kelompok agama tertentu. 

Jika itu benar, ditambah rezim berkuasa membiarkan, kesimpulannya adalah negara 
kehilangan akal. Jika itu dibiarkan terus terjadi, chaos yang berlebihan pun 
dapat muncul. Tentu kita semua tidak menginginkannya. 


Spionase isu bom 

Akal sehat gampang memahami isu paket bom pertama di bilangan Utan Kayu adalah 
senjata makan tuan. Pertanyaan kritis pertama adalah kenapa penerima paket tahu 
bahwa paket tersebut adalah bom? Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi. 

Pertanyaan itu hanya bisa dijawab penerima paket atau pihak yang melaporkan 
paket tersebut. Jika tidak ada rekayasa, mustahil paket tersebut dipahami orang 
awam. Apakah penerima paket ahli bom, setahu saya tidak juga. 

Rekayasa dapat terjadi dalam dua sebab. Pertama, sebab normatif adalah kita 
coba mengikuti jalan pikir penerima paket berbicara di berbagai media, yang 
menganggap telah lama dibenci kelompok garis keras agama tertentu. Justru harus 
dibalik, isu paket bom itu adalah mendiskreditkan kelompok garis keras tersebut 
karena isu paket bom itu seperti turun dari langit secara tiba-tiba. Perekayasa 
telah hilang akal untuk menumpas kelompok garis keras ini. Kemungkinan 
intensinya bisa saja karena opini dominan terhadap isu terakhir terkait dengan 
Ahmadiyah, atau kemerosotan nilai jual liberalisme yang mereka usung di mata 
bangsa Indonesia. 

Kedua adalah sebab politis, yakni penerima bom atau pelapor merekayasa bekerja 
sama dengan oknum-oknum negara yang korup karena berbarengan isu pertama dengan 
maraknya tekanan politik terhadap negara. Kita tahu saat ini, negara menghadapi 
hal yang tidak populer di kancah politik. Rezim berkuasa kehilangan akal juga. 

Oknum negara korup melakukan pengembangan isu. Tampaknya isu bom yang 
direkayasa sebagai 'dikirim kelompok garis keras agama tertentu' dinilai 
menjanjikan dapat menggeser daya ingat bangsa Indonesia dari ingatan terhadap 
isu lain, sebagaimana analisis para pakar bahwa bangsa kita memang mudah 
diombang-ambingkan isu-isu baru. Sayang, betapa mudahnya dianalisis secara akal 
sehat keteledoran penerima paket bom pertama melaporkan, padahal belum pernah 
ada bom semacam. Paket-paket lain dalam hal ini tampak digelontorkan oknum 
negara secara 'sepele'. 

Kedua kemungkinan rekayasa tersebut, jika benar terjadi, sayangnya tidak 
memperhitungkan secara teknis bagaimana bom tersebut dijinakkan sehingga 
berakibat korban dari pihak Jihandak. Pers (media) sangat apik menyoroti dan 
tidak tertinggal berita detik demi detik mengikutinya. Kita bisa saksikan 
kenapa polisi menyiram air ke sekujur paket buku. Tampak seolah sedang 
melakukan uji coba karena sebelumnya tahu model paket bom tersebut. 

Kita juga bisa memahami bahwa teknologi paket bom hanya dikuasai tentara 
(militer). Saya kira Jihandak mustahil tidak mengetahui teknologi tersebut. 
Namun sepandai-pandainya tupai melompat, akan pernah mengalami kegagalan juga. 
Korban penjinak bom pun jatuh. Masih beruntung korban tidak kehilangan nyawa. 
Intinya adalah negara hilang akal jika asumsi analisis tersebut benar terjadi. 


Moralitas penuh 

Kunci masalah strategis, sensitif, dan fundamental itu jelas melibatkan orang 
nomor satu di dalam pemerintahan. Presiden harus meminta para pembantunya 
bekerja secara giat kepada arah kepemerintahan yang diinginkannya. Jika tekanan 
politik yang dihadapi sangat besar sekalipun, ia meminta mereka agar tetap 
bekerja secara optimal untuk rakyat. Horizon pada hanya untuk kekuasaan semata, 
pragmatisme, dan jangka pendek harus segera diakhiri. 

Moralitas datang dari diri Presiden dalam mengawal isu ini secara baik. Jika 
salah-salah, akan dikaitkan dengan berbagai tindak perilakunya dalam memimpin 
negara. Presiden tidak perlu meminta belas kasih dengan menggulirkan isu yang 
mengeruhkan suasana politik Indonesia. Pekerjaan teknis yang lebih bermanfaat 
masih banyak menghadang di depan. 

Status quo sudah merupakan mindset lama yang harus ditinggalkan. Gaya 
kepemimpinan superleadership-transformatif harus dikembangkan Presiden. 
Superleadership bukan bertipikal nepotisme. Superleadership sistemis yang harus 
dibangun. Nilai transformatif juga demikian terkait dengan nilai kebangsaan dan 
kemajuan. Terobosan jangka panjang kelembagaan adalah kata kuncinya. 

Perlu ditunjukkan bahwa presiden mendorong nilai kebangsaan dengan meninggalkan 
kepartaiannya ketika dia menjadi pemimpin negara. Presiden adalah milik bersama 
bangsa. Tampaknya nilai inilah yang cocok untuk bangsa Indonesia. Nilai-nilai 
politik liberal Amerika yang tidak cocok harus berani ditepis kita semua. 
Kuncinya didorong terlebih dahulu oleh presiden sendiri. 

Begitu pun pemberantasan korupsi di tubuh negara adalah cara terbaik dalam 
mendorong nilai kebangsaan dengan syarat dirinya sendiri harus bersih. Mulai 
dari istana adalah cara terbaik. Isu paket bom dan tekanan politik lain 
semestinya tidak ada jika hal-hal tersebut dilakukan sejak lama. 

Bangsa Indonesia kini menunggu gebrakan presiden kita di periode kedua sebagai 
periode penutupnya. Semestinya harus berbobot dari periode pertama, bukan 
sebaliknya, malah mengendur. Jika kita perhatikan, semangat pemberantasan 
korupsi dan semangat perbaikan kelembagaan seolah tertutupi oleh nafsu 
kekuasaan justru muncul di periode kedua ini. Dengan demikian, dagelan 
politiklah yang tersuguhkan ke masyarakat, sampai-sampai harus diselingi isu 
paket bom yang tampaknya cenderung merupakan senjata makan tuan. Semoga asumsi 
ini tidak benar. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke