http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/17/210773/68/11/DPRD-dan-Negara-yang-tidak-Beres-


DPR(D) dan Negara yang tidak Beres 
Kamis, 17 Maret 2011 00:02 WIB      


Negara ini memang telah tergerogoti oleh berbagai penyakit korupsi aparatnya 
yang mendarah daging (Editorial Media Indonesia, 14/3/2011). Di tengah 
kemiskinan masyarakat yang melegenda, bencana alam yang beruntun, politikus 
kita malah sibuk membangun 'istana kemegahannya'. Itu yang terlihat dalam rapat 
kerja anggota DPRD se-Indonesia di Bandung, beberapa waktu lalu. Bukan 
membicarakan persoalan rakyat sebagai fokusnya, mereka malah memunculkan 
tuntutan kenaikan gaji dan tuntutan agar mereka diperlakukan sebagai pejabat 
negara. Mestinya mereka sadar selama ini pembangunan tidak berjalan baik karena 
uang negara yang dialokasikan lebih pada upaya memenuhi syahwat aparat negara 
ketimbang menolong rakyat yang sedang sekarat dilanda kelaparan. Sebagian APBN 
kita terkuras untuk belanja rutin (membiayai birokrasi yang ujung-ujungnya 
korup). Sebanyak 40% dana APBN kita habis untuk anggaran rutin, mulai anggaran 
belanja pegawai, tunjangan, pengadaan fasilitas, hingga perjalanan dinas. 
Bahkan negara ini pada tahun kemarin menghabiskan Rp162 triliun untuk belanja 
pegawai serta Rp153,6 triliun untuk membayar cicilan utang. Anggaran untuk 
pengentasan rakyat dari kemiskinan cuma Rp80 triliun. 

Politik kemewahan 
Tampaknya ada keinginan eksplisit untuk melaraskan gedung representasi rakyat 
sebagai istana politik yang mementingkan kemegahan visual (visual splendour) 
ketimbang kemegahan aksi (action splendour) populis. Itulah sebabnya untuk 
menuliskan 'Jujur, Adil, dan Tegas' seorang rakyat macam Pong Hardjatmo harus 
bersusah payah menaiki ketinggian-รข?"hati--kubah DPR meluapkan kegundahannya. 
Itu menandai realitas jarak rakyat-wakil rakyat yang amat senjang. 

Ketika anggota DPR ngotot membangun gedung mewah dengan alasan mendukung 
peningkatan kinerja, ironisnya pemerintah tampak tak bisa mencegah, bahkan 
untuk mengingatkan membangun istana mewah ini sebagai sebuah kebijakan yang 
tidak sejalan dengan desire of solidarity, berempati pada kesulitan rakyat. 
Artinya sah-sah saja wakil rakyat difasilitasi barang-barang mewah dengan uang 
rakyat, mirip seperti anggota dewan di NTT yang memperoleh kredit mobil mewah 
di tengah kondisi 3.115.685 warga mereka miskin dari total 4,4 juta jiwa 
penduduk. Berbagai kasus korupsi besar selama ini identik dengan transaksi 
kepentingan yang melembaga di institusi terhormat itu. Pengumuman 26 politikus 
lintas fraksi sebagai tersangka kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior 
Bank Indonesia oleh KPK membuktikan sebagai kekuatan demokrasi politik yang 
progresif (progressive democratic political force) DPR(D) sampai detik ini 
masih tersandera oleh budaya destruktif, amoral, dan nirempati. Tidak 
mengherankan juga jika di daerah para anggota dewan ramai-ramai meringkuk di 
sel tahanan karena kasus korupsi dana pembangunan yang dilakukan secara 
sistemis dengan kepala daerah. 

Padahal di era otonomi daerah, rata-rata kabupaten/kota menghabiskan 70% APBD 
hanya untuk membiayai pengeluaran rutin, dan hanya 30% dialokasikan untuk 
membiayai kegiatan pembangunan. Angka 30% APBD itu dalam perjalanannya pun 
masih dikorup. Karena itu, tidak mengherankan jika semakin hari rakyat kian 
miskin karena tidak menerima dampak yang efektif dari tiap kucuran anggaran 
pembangunan yang ada. Bahkan nasib rakyat daerah kian telantar direduksi 
kepentingan pertambangan, perkebunan, dan infrastruktur ekonomi yang lebih 
memihak para pemodal kapitalis. 
Kehadiran wakil rakyat sekadar menggenapi keganjilan politik (political odds) 
yang telah mewarisi republik ini mulai kultur politik miskin idealisme, politik 
berbiaya mahal, hingga politik yang meraut demokrasi dalam kosmetik dan 
distorsi nilai kebaikan dalam kurun waktu 12 tahun terakhir. Keganjilan politik 
itu pula yang membuat sistem perwakilan politik kita berantakan, sulit diukur, 
dan abstrak yang mengurung integritas moral dalam kotak hitam kekuasaan yang 
sulit terdefinisikan oleh pikiran lugu rakyat. Itu sebabnya Almond dan Verba 
(1967) meyakini bahwa dalam sebuah sistem politik, ada ruang interaksi 
kekuasaan yang tidak terpantau oleh publik secara telanjang. Ruang itulah yang 
dinamakan black box (kotak hitam). 

Negara tidak beres 
Lihat saja kasus Century yang tiba-tiba dingin pascapemindahtugasan Sri Mulyani 
ke Bank Dunia meski sebelumnya DPR sangat garang. Paradoks itu berlanjut dalam 
hak angket mafia perpajakan, kemarin. Keinginan untuk menguak kebobrokan 
perpajakan di republik ini harus kandas oleh kepentingan pragmatis para 
politikus di Senayan. 
Ini sebuah sketsa pesimistis yang menandai pendramatisasian kepentingan 
minimalis kekuasaan di tubuh eksekutif dan legislatif. Rakyat hanya 
memakluminya sebagai rutinitas 'cara kerja politik' yang harus diaminkan dengan 
senyum pahit. Karena itu, ketika mencoba memahami kenapa politik pementingan 
diri bisa menancap kukuh dalam ide-ide 'politisi reformis' kita dewasa ini, 
paling tidak bisa disimpulkan sebagai rangkaian dari gejala fungsi negara kita 
yang memang tidak beres. 

Negara terlampau asyik mengakumulasi ritual kekuasaan tanpa serius menyeleksi 
mutu orientasi politik sehingga para politikus korup selalu berhasil menjadikan 
kancah demokrasi lokal-pusat sebagai tempat berkubang mereka. Dengan demikian, 
terjadilah penempatan orang yang salah di tempat yang vital (the wrong 
man/person in the vital). Dari ruang demokrasi yang disakralkan sistem dan 
pranata-pranata semu-kompromistis, penyimpangan kekuasaan memperoleh 
liberasinya melalui prinsip necessitas non habet legem: keperluan tidak ada 
hukumnya, hukum hanya takluk pada kepentingan. Jadi, entitas negara sebagai 
penjaga moral mesti mampu 'mengindroktinasi' inti kekuasaan sebagai pusat 
perubahan. Bukan sebagai protector masyarakat komersial (F Budi Hardiman, 
2009:191) yang melegalkan berbagai sindikasi pemborosan dan perampokan 
hasil-hasil pembangunan masyarakat. Negara tidak boleh terus bersemayam dalam 
politik partikular yang memerkarakan persoalan-persoalan yang tidak relevan 
dengan kepentingan rakyat, lalu abai membangun konstruksi politik yang humanis 
yang menunjam ke sumsum kepentingan rakyat seperti kata Evo Morales, politik 
adalah 'ilmu melayani rakyat dan bukan hidup dari rakyat'. 

Oleh Umbu TW Pariangu, Mahasiswa Pascasarjana Fisipol UGM 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke