Sumber: http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/03/26/negeri-berdarah/

Odi Shalahuddin Hanya seorang buruh  harian lepas. Lagi belajar menulis. 
Sekarang lagi mencatat dan  menghimpun tulisan-tulisannya di blog 
http://odishalahuddin.wordpress.com Mau melihat, kasih kritik dan masukan, 
janganlah meragu.... 


Negeri BerdarahFIKSI | 26 March 2011 | 16:07   
________________________________
 
Suara pesawat. Suara sirine. Sesaat setelahnya, terdengar ledakan keras. Tidak 
cuma sekali. Api berwarna kemerahan. Kepulan asap besar seperti awan dalam 
aneka 
warna, putih, hitam, dan merah. Di berbagai penjuru. Bangunan-bangunan hancur 
berantakan. 


 

Di sebuah bungker. Seorang ibu muda memeluk anaknya yang tampak pucat. Sesekali 
ia memejamkan mata. Menggigit bibirnya sendiri. Menahan air mata agar tak 
tumpah. Ketika bayangan-bayangan tentang kota ini yang telah porak poranda. 
Ketika teringat orang-orang tersayang hilang. Ketika nyawa-nyawa melayang 
dengan 
jasad tersebar di berbagai ruang.

Perempuan itu merintih dalam hati. Rintihan dari jutaan orang yang bernasib 
sama. Rasanya seperti mimpi. Berada dalam ruang sunyi yang kelam mengerikan. 
Bisa berubah dengan berbagai kemungkinan. Tapi kenyataan buruk memang 
benar-benar telah hadir. Rasanya baru kemarin, ia bermain bersama anak-anaknya 
di taman kota. Bersama para ibu muda dan ratusan anak-anak yang ceria 
menghabiskan waktu kala senja. Rasanya, rasanya, ah, rasa saat ini adalah rasa 
kepedihan mendalam.

Perjalanan waktu, dari detik demi detik, malaikat maut terasa menari-nari di 
hadapan kita, memandangi satu persatu, dan tiba-tiba menunjuk siapa yang akan 
direnggutnya. Sosok-sosok dalam berbagai usia seakan berada dalam ruang tunggu. 
Menunggu giliran tanpa daya dan tanpa kuasa menolaknya. Terpenjara pada ruang 
yang teramat luas.

Bukan bermaksud mengingkari kematian. Tiada yang tahu kapan ia menyapa dan 
memanggil nyawa kita. Namun tarian-tarian maut yang dipertontokan, mau tidak 
mau 
membuat gentar. Ketukan di pintu terasa menjadi teror yang siap dihadapi oleh 
siapapun.

Perempuan itu membuka mata. Tak tampak siapa. Gelap. Hanya desah-desah nafas 
resah saling bersahutan. Anak-anak yang menangis tertahan. Mungkin tertutupi 
tangan atau kain dari ibunya.

Suara di luar, sudah hening. Cahaya menyelusup masuk. Pintu bunker terbuka, 
perlahan mereka bergegas keluar. Tangis pecah. Jeritan-jeritan membahana. 
Seperti kemarin, beberapa nyawa tak utuh bertebaran.

Perempuan muda itu, dengan anak balita di pelukan, dan seorang anak yang 
dituntunnya dengan tangan, menengadah ke langit yang gelap gulita. ”Oh, Tuhan,” 
kepasrahan.

Kini ia merasa hanya tinggal bertiga. Orangtuanya turut tewas dalam serangan di 
hari pertama ke kota ini. Suaminya, entah tengah berada di mana. Mengikuti 
panggilan untuk menjaga negeri ini yang baru saja terpecah. Hidupkah? Matikah? 
Entah.

Memang negeri ini tengah dilanda konflik. Penguasa yang bertahan 30 tahunan 
lebih telah membuat muak sebagian bangsa ini. Aksi-aksi protes di jalanan 
menyeruak ke berbagai kota. Mereka menuntut perubahan. Mereka menuntut 
keterbukaan. Mereka menuntut demokrasi. Mereka menuntut sang penguasa segera 
turun dari singgasananya. Aksi-aksi damai dihadapi secara brutal oleh pasukan 
keamanan sang penguasa. Orang-orang tewas terhujam peluru. Ratusan orang 
ditangkapi. Ini tidak membuat gentar. Justru semakin memacu semangat perlawanan.

Entah darimana, tiba-tiba saja para peserta aksi juga bisa mendapatkan pasokan 
senjata untuk melawan. Tembakan dibalas tembakan. Penguasaan-penguasaan sebuah 
wilayah, saling serang, saling melawan.

Sungguh, perempuan muda tidak bisa berpikir bagiamana semua bisa terjadi dengan 
cepat. ”Ini perang. Perang saudara. Mengapa bisa?”

Benar, perang telah pecah. Diantara sesama bangsa. Kekuasaan yang dipertahankan 
dengan mempertaruhkan dan mengorbankan jutaan nyawa, adalah kekuasaan yang haus 
darah.

Pada masa-masa seperti itu, tiba-tiba saja, bergerak pasukan asing yang juga 
menghujamkan bom-bom mereka ke berbagai kota. Atas nama apakah? Sungguh 
perempuan muda itu menjadi frustasi atas berbagai pertanyaan yang tidak bisa 
dijawabnya sendiri.

Bangsa ini telah pecah, menjelang kehancurannya. Waktu yang teramat singkat, 
bisa bertahun-tahun dan membutuhkan biaya yang besar untuk memulihkannya. Ya, 
manusia adalah perusak. Mesin-mesin perang telah menghancurkan rasa kemanusiaan.

Perempuan muda itu masih menengadah. Sungguh, ia tak tahu harus beranjak kemana.

Yogya, 26 maret 2011



 
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanmiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke