Satu-satunya pencakar langit di sana waktu itu, Wisma Nusantara. Dari lantai 25 orang bisa jatuh hati liat
perkawinan langit & bumi di ufuk. Langit biru berawan & hamparan hijau di bawah. Pemandangan tropis yang jernih. Kalau malam, langit hitam berbintang & lampu-lampu kecil di rumah penduduk. -Saya juga inget gedung dengan rangka besi warna merah melompong diatas nya terpampang bilboad terbaca "sharp" yang kalau nggak salah inget lama sekali terlantar tampa diberi sekat2......sebelah nya ada tanah kosong belum ada itu president hotel disebelah barat ada hotel asoka...? di seberang timur kolam ada kedutaan german -Di tengah nya ada kolam bunderan HI waktu sd saya sering mancing ikan betok dan ambil2 bunga2 teratai buat oleh2 kolam dirumah........kalau tidak ada ikan kita nyebur bareng2......telanjang bulet berenang ramai2....tampa malu2 tampa rasa takut tersengat aliran listrk lampu kolam..seinget saya kolam itu belum ada air mancur nya seperti saat ini....? kadang2 di usir polisi yang berdiri dipos kecil yang terbuat dari coran semen berdiri tegak bergaris item putih seberang bunderan...masih ada/tidak? -Berenang sambil lihat bus2 mercedes biru abu2 muda mulus seliweran kalau berhenti muka depannya seperti orang mengangguk tanda setuju itu zebra cross/lampu merah belum ada bang ali bikin alat kayak bat pimpong putih terbaca stop berwarna hitam/putih buat nyebrang jalan bila sudah selesai nyebrang itu tanda stop harus dikembalikan ditempat nya yang tersedia disi jalan perlintasan Sekarang dari ketinggian yang sama atau lebih di gedung mana pun pemandangannya goyang seperti fatamorgana. Terdistorsi panas yang menguap dari lantai kota. Ruangan yang berpendingin jadi terasa gerah liat pemandangan yang puluhan tahun diacak-acak kapitalis sejak Ali Sadikin brenti jadi gubernur. -Jakarta sekarang salah urus...sebab swasta ikut campur ngerecokin dengan uang nya ...padahal dulu jakarta sekalipun miskin tapi nggak kumuh jauh dari banjir....tidur saja pake piyama&selimut......mau rasain AC...? maen2 digedung sarinah thamrin Satu-satunya pencakar langit di sana waktu itu, Wisma Nusantara. Dari lantai 25 orang bisa jatuh hati liat perkawinan langit & bumi di ufuk. Langit biru berawan & hamparan hijau di bawah. Pemandangan tropis yang jernih. Kalau malam, langit hitam berbintang & lampu-lampu kecil di rumah penduduk. Sekarang dari ketinggian yang sama atau lebih di gedung mana pun pemandangannya goyang seperti fatamorgana. Terdistorsi panas yang menguap dari lantai kota. Ruangan yang berpendingin jadi terasa gerah liat pemandangan yang puluhan tahun diacak-acak kapitalis sejak Ali Sadikin brenti jadi gubernur. Satu-satunya pencakar langit di sana waktu itu, Wisma Nusantara. Dari lantai 25 orang bisa jatuh hati liat perkawinan langit & bumi di ufuk. Langit biru berawan & hamparan hijau di bawah. Pemandangan tropis yang jernih. Kalau malam, langit hitam berbintang & lampu-lampu kecil di rumah penduduk. Sekarang dari ketinggian yang sama atau lebih di gedung mana pun pemandangannya goyang seperti fatamorgana. Terdistorsi panas yang menguap dari lantai kota. Ruangan yang berpendingin jadi terasa gerah liat pemandangan yang puluhan tahun diacak-acak kapitalis sejak Ali Sadikin brenti jadi gubernur. Satu-satunya pencakar langit di sana waktu itu, Wisma Nusantara. Dari lantai 25 orang bisa jatuh hati liat perkawinan langit & bumi di ufuk. Langit biru berawan & hamparan hijau di bawah. Pemandangan tropis yang jernih. Kalau malam, langit hitam berbintang & lampu-lampu kecil di rumah penduduk. Sekarang dari ketinggian yang sama atau lebih di gedung mana pun pemandangannya goyang seperti fatamorgana. Terdistorsi panas yang menguap dari lantai kota. Ruangan yang berpendingin jadi terasa gerah liat pemandangan yang puluhan tahun diacak-acak kapitalis sejak Ali Sadikin brenti jadi gubernur. --- On Tue, 4/5/11, ajeg <[email protected]> wrote: From: ajeg <[email protected]> Subject: Re: [proletar] Hidup, Kuliah, pesta, cinta.. To: [email protected] Date: Tuesday, April 5, 2011, 8:02 AM --- Led Zeppelin <led.zeppelin31@...> wrote: > Betul sekali jakarta saat itu sangat indah lebih indah dari > amsterdam saya hingga saat ini masih bingung orang bikin jalan tol > dalam kota di boston beberapa taon lewat semua jalan tol dalam kota > diruntuh kan karena sumber kemacetan&ngerusak pemandangan umum > saya sekolah pagi hari bangun jam 7:00 sarapan lantas berkaca jam > 7:30 tunggu bus di blok A/panglima polim raya duduk di korsi > belakang selalu melihat kearah fatmawati gunung salak tinggi jauh > selalu terlihat,sesampai di duku atas hari bagus udara bersih kita > bisa menyaksikan kapal dan pulau seribu dari kejauhan sampai > dibanteng jam 7:55...........saya tidak pernah terlambat lama > perjalanan hanya setengah jam ,,,,,,,anda betul jakarta saat itu > sungguh2 kampoeng besar bagian dari alam sekitar waktu itu. Satu-satunya pencakar langit di sana waktu itu, Wisma Nusantara. Dari lantai 25 orang bisa jatuh hati liat perkawinan langit & bumi di ufuk. Langit biru berawan & hamparan hijau di bawah. Pemandangan tropis yang jernih. Kalau malam, langit hitam berbintang & lampu-lampu kecil di rumah penduduk. Sekarang dari ketinggian yang sama atau lebih di gedung mana pun pemandangannya goyang seperti fatamorgana. Terdistorsi panas yang menguap dari lantai kota. Ruangan yang berpendingin jadi terasa gerah liat pemandangan yang puluhan tahun diacak-acak kapitalis sejak Ali Sadikin brenti jadi gubernur. > > Black foot > http://www.youtube.com/watch?v=hBP15lRprPs Southern tune memang sulit dipisah dari kereta. Lebih susah lagi dilepas dari redneck. Sedangkan redneck sering berkonotasi kasar & bloon sekalipun hidup di perkotaan. Terutama yang main di medium tempo, Back Where You Belong.. http://www.youtube.com/watch?v=pSu9AjAwJLI Beda dari pemain up tempo yang justru berkeras mempertahankan keluguan pedesaan. Keras seperti Kabayan yang cerdas. > > ajeg <ajegilelu@...> wrote: > > > Sampai awal '80an (sebelum ada tol Gatsu) kalau mengarah > > ke Cililitan pagi hari, dari Semanggi sampai Kartika Chandra > > kita masih bisa liat barisan bukit sekitar Bogor. Waktu itu > > JKT rasanya masih terbuka, masih jadi bagian dari alam sekitar. > > > > Sekarang JKT dikurung gedung. > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
