Lama nggak muncul, Maruli Tobing ternyata belum 
kehilangan ketajamannya. 

Ini sekaligus menambah gugatan terhadap Nobel yang 
memang cuma bicara selera, bukan kualitas. 


- 

Kompas Minggu, 10 April 2011

Peperangan yang Dikobarkan Peraih Nobel Perdamaian

Maruli Tobing

Sabtu (19/3) subuh, dua hari setelah Dewan Keamanan PBB mengeluarkan 
Resolusi No 1973, kapal-kapal perang AS dan Inggris yang berada di 
Laut Mediterania menembakkan lebih dari 110 rudal jelajah Tomahawk ke 
sejumlah lokasi di Libya.

Peristiwa ini menandai dimulainya operasi militer koalisi 
internasional di Libya. Pesawat-pesawat tempur dan pengebom AS, 
Inggris, dan Perancis secara bergelombang membombardir negara 
berpenduduk 6,5 juta jiwa ini.

Dalam sekejap, negara kaya minyak dengan pendapatan per kapita 15.000 
dollar AS, porak- poranda. Kekerasan kini bergerak menurut logikanya 
sendiri. Banyak pengamat di Timur Tengah khawatir, Libya akan 
mengalami nasib seperti Irak. Rakyat yang tadinya hidup sejahtera 
kembali ke titik nol.

Sekjen Liga Arab Amr Moussa, yang sebelumnya getol meminta Barat 
memberlakukan zona larangan terbang di Libya, terperanjat. Ia tidak 
mengira akan terjadi serangan seperti ini. Moussa mengatakan, koalisi 
internasional bertindak berlebihan dan melanggar Resolusi DK PBB No 
1973.

Dalam jumpa pers bersama Sekjen PBB Ban Ki-moon, di gedung Liga Arab, 
Kairo, Mesir, 21 Maret, Amr Moussa memprotes serangan tersebut dan 
mendesak koalisi internasional segera menghentikannya.

Kecaman mengalir dari Rusia, China, Uni Afrika, dan negara-negara 
Amerika Selatan. PM Rusia Vladimir Putin menyebut Resolusi DK PBB No 
1973 penuh cacat dan mengingatkan kita pada panggilan Perang Salib.

"Melindungi penduduk''

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Protes makin keras terdengar 
dari hari ke hari, tetapi hujan bom tetap berlanjut. Minggu, 27 
Maret, misalnya, AS mengatakan, dalam waktu 24 jam terakhir, koalisi 
menembakkan 16 rudal Tomahawk dan sebanyak 153 serangan udara (Global 
Research, 27/3).

Jika setiap pesawat tempur rata-rata membawa 1,5 ton bom, pada hari 
itu saja sedikitnya 230 ton bom berdaya ledak tinggi dijatuhkan di 
kota-kota di Libya.

Walaupun tidak disebutkan dalam resolusi DK PBB, Presiden AS Barak 
Obama serta rekannya, PM Inggris David Cameron dan Presiden Perancis 
Nicolas Sarkozy, mendesak Khadafy agar segera mundur.

Ketiganya mengatakan, serangan udara semata-mata untuk melindungi 
penduduk sipil dari serangan tentara Khadafy. Mereka tidak menaati 
resolusi DK PBB yang menetapkan gencatan senjata.

Khadafy sendiri sudah dua kali menyatakan gencatan senjata melalui 
televisi nasional dan radio pemerintah. AS dan sekutunya tak 
menanggapinya dan melancarkan serangan udara.

Penasihat Presiden AS Bidang Keamanan, Tom Donilon, mengatakan, 
usulan gencatan senjata hanya akal-akalan Khadafy dan tidak perlu 
ditanggapi (Press TV, 21/3).

Memilih perang

Presiden AS Barack Obama, peraih Nobel Perdamaian dua tahun lalu, 
sejak awal memang memilih perang ketimbang jalan damai. Ia tidak 
berusaha menghentikan perang saudara di Libya atau mengirim utusannya 
menemui Khadafy. Upaya Uni Afrika dan Presiden Venezuela Hugo Chavez 
mencari solusi damai malah tidak digubrisnya.

Obama mengabaikan rasionalitas politik, bahwa perang merupakan 
pilihan terakhir ketika perundingan gagal mencapai kata sepakat. 
Maka, tidak mengherankan, ia hanya mengutus Menteri Luar Negeri 
Hillary Clinton hilir-mudik ke Timur Tengah dan Eropa, termasuk 
melobi Liga Arab dan NATO, dalam menggalang dukungan internasional 
merontokkan kekuasaan Khadafy.

Pemimpin Kuba Fidel Castro mengomentari, perundingan memang tak 
dibutuhkan karena sejatinya tujuan imperialis adalah menguasai 
kekayaan minyak Libya (Global Research, 3/3).

Pendapat Castro tidak berlebihan. Menurut Prof Michel Chossusdovsky, 
pemberontakan bersenjata di Libya merupakan bagian dari operasi 
rahasia intelijen Barat. Direncanakan berbulan-bulan sebelum pecahnya 
gerakan prodemokrasi (Global Research, 20/3).

Surat kabar The New York Times (31/3) menulis, CIA dan pasukan khusus 
Inggris (SAS) telah berada di Libya beberapa pekan sebelum koalisi 
internasional melancarkan serangan udara. Obama sendiri ternyata 
telah mengeluarkan surat perintah rahasia kepada CIA untuk membantu 
pemberontak (The Sydney Morning Herald, 1/4).

Singkatnya, intervensi militer koalisi internasional dan 
pemberontakan bersenjata merupakan satu paket. Sementara 
"perlindungan penduduk sipil" hanyalah sekadar pembenaran bagi 
intervensi militer. Tujuannya sangat jelas dari pernyataan Presiden 
Obama, PM Inggris David Cameron, dan Presiden Perancis Nicolas 
Sarkozy, yakni "Khadafy harus pergi".

Namun kegembiraan koalisi internasional tidak berlangsung lama. 
Kongres AS gusar karena Obama mengerahkan kekuatan militer menyerang 
negara lain tanpa memberi tahu dan persetujuan Kongres.

"Otoritas melakukan intervensi militer bukan di PBB, melainkan di 
tangan rakyat AS, melalui wakil-wakilnya. Wakil rakyat AS hanya ada 
di Kongres dan bukan di PBB,'' tulis anggota Kongres dari Partai 
Republik, Jason Chaffetz, di portal CNN.com (23/3).

Kelompok antiperang dari Partai Republik maupun Demokrat mengecam 
kebijakan Obama menyeret AS dalam perang baru, sementara saat ini 
masih ada sekitar 50.000 prajurit AS di Irak dan 100.000 orang di 
Afganistan. Lebih tidak masuk akal lagi, sasaran operasi adalah 
Libya, yang bukan merupakan ancaman keamanan nasional AS.

Membalas surat Obama, Ketua Kongres AS John Boehner menulis (23/3), 
Anda mengatakan pergantian rezim di Libya merupakan tujuan kebijakan 
luar negeri AS dan intervensi militer AS di Libya untuk melaksanakan 
resolusi DK PBB. Padahal, kedua hal ini tidak sejalan. Resolusi DK 
PBB tidak mencakup pergantian rezim.

Khawatir tekanan Kongres dan melorotnya citra dalam pemilu mendatang, 
Obama buru-buru memutuskan AS mundur sebagai pemimpin koalisi 
internasional, tidak lagi melancarkan serangan udara, dan menyerahkan 
tanggung jawab soal Libya kepada NATO (28/3).

NATO sendiri awalnya goyah karena tidak semua anggotanya mendukung 
invasi militer, seperti Jerman dan Turki. Tetapi perubahan drastis 
mulai terjadi. Sekjen NATO Jenderal Anders Fogh Rasmussen menegaskan, 
sesuai resolusi DK PBB, tugas koalisi internasional hanya melindungi 
penduduk sipil. NATO akan bertindak imparsial terhadap gangguan.

Sabtu (2/4) lalu, disengaja atau tidak, pesawat tempur koalisi 
membombardir posisi pemberontak yang berusaha merebut kota Brega dari 
tangan pemerintah. Sedikitnya 13 pemberontak dilaporkan tewas.





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke