http://www.gatra.com/artikel.php?id=146800
Kemiskinan Kita Mungkin sebagian hati kita, atau hati dari sebagian kita, belakangan ini sudah tumpul, beku, dan membesi. Rasa getir, haru, dan empati sudah merosot begitu rupa, mungkin menjadi restan hidup kita sehari-hari yang terbuang di jamban atau pojok buku atau file tersembunyi di gadget-gadget mediatik saat ini. Sementara tidak jauh dari kita, dari hidup kita sehari-hari, hampir semua tragedi terjadi. Tragedi dari sebagian masyarakat kita, saudara kita, yang begitu putus asanya harus melenyapkan nyawanya dengan sengaja --dengan cara yang fiksi dari sastra pun sulit membayangkannya-- atau membiarkan dirinya digerogoti penyakit akut untuk terbunuh perlahan, dan sia-sia. Semua karena tuntutan hidup paling dasar (pangan, sandang, dan papan, plus pengobatan) tidak mampu mereka penuhi, tidak mampu mengakses bantuan yang haknya mereka miliki. Kemiskinan mereka, adalah kemiskinan kita. Kemiskinan bukan hanya karena kian sempitnya --bahkan untuk sebagian lenyap-- ruang-ruang di mana kita bisa mengakses sumber-sumber kesejahteraan, tapi juga lantaran kita menganggap hal itu sebagai sebuah kelumrahan atau setidaknya konsekuensi logis dari sistem dan praktek ekonomi negara kita belakangan ini. Tapi lebih jauh dari itu, inilah kemiskinan dari peradaban atau kebudayaan yang kita kembangkan selama ini. Kebudayaan yang menerapkan standar-standar kekuatan dan kualitasnya semata pada hal-hal yang dapat diukur, yang empirik dan termaterialisasi, dan lebih jauh lagi pada realitas superfisial bahkan artifisial. Realitas yang dalam praksisnya ternyata bermuara pada salah satu produk kebudayaan yang (paling mudah) termanipulasi: uang, dan juga derivat-derivatnya. Risiko dari ukuran realitas hidup seperti ini adalah terciptanya beberapa kondisi yang mengenaskan, dari tingkat pribadi, komunal hingga nasional. Pertama, ia mengalami defisit moral yang luar biasa ketika sistem yang ditumbuhkannya tidak mampu (juga tidak mau) mengakomodasi dimensi-dimensi imaterial dari kebudayaan. Dimensi yang sebenarnya justru menjadi roh atau esensi dari kebudayaan itu, seperti perasaan, intuisi, atau hal-hal yang bersifat spiritual. Kedua, ukuran tersebut membuat atau mengarahkan kita pada satu modus eksistensial yang menempatkan uang (materi) sebagai modal dasar dari keberadaan kita sebagai manusia, dalam derajat, harkat, kelas, prestise, dan sebagainya. Sebuah modus yang memiliki implikasi sangat runyam terhadap nilai kemanusiaan kita, pada dasar jati diri dan karakter kita, secara personal maupun komunal. Kita segera menjadi individualis, dan komunitas --atau bangsa dalam level yang lebih tinggi-- sekadar kolektiva dengan potensi ganda yang wajib dikonversi menjadi keuntungan pribadi. Ketiga, pada tingkat negara, sistem yang diterapkan dengan ukuran yang sama, akan membuat semua sumber daya kesejahteraan --secara teoritis dan yuridis-- akan menumpuk pada sekelompok kecil elite yang memiliki semua infrastruktur untuk mengeksplorasi sumber daya itu. Situasi ini tidak khas Indonesia, tapi khas di negara-negara yang mengadopsi sistem dan ukuran di atas. Akhirnya, kita akan mendapatkan diri kita, bekerja keras sebagai sebuah bangsa hanya untuk menciptakan hasil dan keuntungan yang dipersembahkan pada para pemilik modal besar, dari dalam maupun luar negeri. Untuk itu, sebagian kita hanya menerima remah-remah rezeki itu, sebagian lagi memperoleh sisa pun tidak. Kemiskinan adalah syarat atau keniscayaan dalam sistem seperti ini. Maka kesejahteraan bukan lagi sebuah idea. Tapi utopia. Janji bohong yang dilegitimasi oleh ilmu, undang-undang, dan negara. Keberadaan kita pun sebagai manusia, direduksi dan digerogoti dari realitas historisnya sebagai makhluk budaya. Kita hanya menjadi unit, atau item atau satuan komoditas yang hanya bermakna material (ekonomi). Sementara sepanjang ribuan tahun kita mengalami diri kita adalah manusia yang lengkap, dalam fitrah asalnya: makhluk sosial, makhluk estetik, dan makhluk budaya. Dalam fitrah-fitrah itulah sesungguhnya kita menegakkan Indonesia sebagai sebuah realitas kongkret, bukan hanya gagasan atau ilusi yang terbayangkan, sebagaimana dituduhkan Benedict Anderson. Pemerintahan yang berganti, terutama setelah reformasi, beserta seluruh elite yang mengambil profit darinya, harus bertanggung jawab untuk semua ini. Dan kita kehilangan alasan serta kesempatan untuk menuntut tanggung jawab itu dengan cara yang keras. Karena bukan hanya sia-sia, tapi juga hanya menjadi pintu masuk bagi kepentingan-kepentingan lain untuk bermain dan menentukan hasil akhirnya. Yang perlu kini adalah sebuah perubahan radikal pada gagasan tentang manusia, bangsa dan negara itu sendiri. Sebuah perubahan pada tingkat mental-intelektual. Sebuah modus yang pada masa kini menjadi sangat minor dibandingkan dengan heroisme murahan yang berbasis kekerasan. Bagaimana pun, harus ada yang memulainya. Radhar Panca Dahana Pekerja seni [Perspektif, Gatra Nomor 19 Beredar Kamis, 17 Maret 2011] -------------------------------------------------------------------------------- URL: http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=146800 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
