http://www.mediaindonesia.com/read/2011/04/15/218060/70/13/Kebusukan-di-Senayan-


Kebusukan di Senayan 

Jumat, 15 April 2011 00:00 WIB     
KENEKATAN DPR melanjutkan pembangunan gedung baru kian membuat publik geram. 
Saking geramnya, mereka berbondong-bondong melakukan gugatan ke pengadilan. 

Pihak yang digugat terutama Ketua DPR Marzuki Alie dan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono. Keduanya dianggap paling bertanggung jawab atas kelanjutan proses 
pembangunan gedung baru DPR meski arus penolakan publik begitu kuat. 

DPR, sejak reformasi 1998, memang tidak lagi sebagai lembaga onderbouw 
eksekutif seperti di zaman Orde Baru. DPR telah berubah menjadi pusat kekuasaan 
yang bahkan melebihi kekuasaan eksekutif dan yudikatif. 

Dengan kekuasaannya itu, DPR sekarang seenaknya melahirkan segala kenikmatan 
dan kemewahan. Rencana pembangunan gedung baru di Senayan yang menelan biaya 
Rp1,1 triliun itu hanyalah sebagian contoh bagaimana mereka yang mengaku 
sebagai wakil rakyat itu begitu mudah menghambur-hamburkan uang rakyat, 
sekaligus juga contoh bagaimana mereka lebih mengutamakan kemewahan ketimbang 
memperhatikan kesengsaraan rakyat. 

Di gedung baru DPR itu, setiap anggota DPR plus enam stafnya nanti akan 
menghuni ruang seluas sekitar 120 meter persegi seharga lebih dari Rp800 juta. 
Itu setara dengan harga apartemen mewah di Jakarta. 
Gedung baru DPR itu juga lebih wah daripada gedung lembaga negara yang mana pun 
karena akan dilengkapi fasilitas mewah seperti kolam renang, fitness centre, 
spa, pijat refleksi, pertokoan, koperasi, apotek, dan fasilitas lain. Ia memang 
lebih mirip kompleks hunian mewah ketimbang kantor legislatif. 

Padahal, anggota DPR telah memperoleh berbagai kenikmatan. Mulai dari renovasi 
rumah dinas, gaji, uang sidang, pelesiran, dan berbagai bentuk kenikmatan lain. 

Lantas mengapa pemerintah seakan tidak berdaya menyetop nafsu DPR membangun 
gedung baru itu? Jawabannya sederhana. Setiap pengesahan RAPBN atau RAPBN 
perubahan selalu sarat dengan patgulipat. 

Publik tentu belum melupakan ketika DPR mengesahkan RAPBN Perubahan 2010 
kendati anggaran yang disodorkan pemerintah tanpa disertai rincian program. 
Sebab, dalam RAPBN Perubahan 2010 terdapat anggaran sebesar Rp1,1 triliun untuk 
sebelas komisi di DPR, yang juga tanpa rincian program. 

Pembangunan gedung baru DPR itu jelas menambah dahsyat kebusukan wakil rakyat. 
Celakanya, yang dinilai busuk itu tetap merasa diri terhormat dan bahkan 
semakin gila hormat. Amit-amit.... 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke