tulisan cakeep...
--- In [email protected], "ajeg" <ajegilelu@...> wrote: > > > Purbaleunyi menuju Bandung disiram hujan. Semakin ke sana semakin > deras dan akhirnya lebat berdebam, seolah tiap tetesnya segede-gede > gajah dan langsung pecah berderai begitu menghantam bumi. Pandangan > ke depan dan ke belakang jadi kabur. Begitu juga ke kanan, ada embun > melapisi kaca jendela. Ke kiri.. ah, syukurlah pemandangan masih > sangat jernih, bening... > > Ma'e yang selepas Cikampek terpejam dibuai petikan vollenweider > menggeliat indah. "Serem amat..." desahnya sambil mengamati situasi > luar yang berjarak pandang hanya puluhan meter. Semua kendaraan > terpaksa mengurangi kecepatan dalam iringan panjang sebelum akhirnya > tercecer di belakang si Putih yang menggelinding mulus, kalem, bagai > lone-ranger di jalan yang lurus. > > Serem, katanya. Tapi tidak ada nada tercekam dalam suaranya. > Yang ada malah tanda-tanda betapa tak pedulinya dia pada apa pun > yang mungkin terjadi selama sang pujaan hati berada di sampingnya. > > Liat, dia memperenak posisi dengan memiringkan rebahnya ke kanan. > Tangan kirinya diselipkan ke balik jaketku dan telapak kanannya > dijadikan bantal. Air mukanya setenang anak kucing kekenyangan. > Penuh percaya diri bakal tiba di tujuan dengan selamat. > > "Dingin?" tanyaku agak berbasa-basi. > > "Hm-mh.." jawabnya, agak basi juga. > > "Mau pindah ke belakang?" kali ini penawaran yang segar. > > Kelopak matanya membuka. Tatapannya berpikir. Lalu senyum-senyum > melanjutkan ketidakpeduliannya. Senyum-senyum yang tentu menandakan > bangkitnya kenangan akan hujan nakal masa lalu. Hujan yang memaksa > kami menepi menunggu reda sambil bersenang-senang di jok belakang. > > Dalam kamus perjalanan, hujan sore ini mestinya tergolong nakal juga. > Jarak pandang yang tak tembus 30 meter bukanlah kondisi yang nyaman & > aman untuk keluyuran di jalan. Apa salahnya menawarkan petualangan > yang nyaman. > > Menyadari kondisi yang begini bercampur kenangan yang begitu, ma'e > jadi kurang tenteram menikmati Dance With Lion. Usapan jempol kirinya > di sekitar ulu hati terlalu lembut. Tidak seirama ketukan lagu. Namun > tidak bisa juga dibilang "mengganggu kerja sopir". Usapan itu lebih > patut diduga sebagai ekspresi keresahan akibat tergoda kenangan hujan > nakal. Setidaknya itulah satu-satunya dugaan yang kumau. Jangan sok > kuatlah melawan godaan > > Pelan tapi pasti kaki mulai melepas tekanan dan siap-siap berpindah > ke pedal rem. Siapa tahu diajak resah bareng. Begitulah mauku yang > berikutnya. > > Menjelang akhir lagu, ma'e bangun. Menegakkan sandaran, menenggak > air putih, kemudian menatapku lekat-lekat seperti ingin mengadukan > kelelahannya melawan resah seorang diri. "Di mana?" tanyanya lirih.. > > Nah, kan! Kaki segera kutempelkan ke pedal rem. Ma'e mencari > tanda-tanda yang bisa dia kenali di luar sana. Tetapi angin begitu > kejam melempar hujan sehingga cipratan air terus menampar-nampar > jendela membuat pandangan terlalu kabur untuk mengenali apapun di > luar. Ma'e lalu coba mengukur jarak tempuh lewat arlojinya. > > Tahulah dia, dengan cuaca dan kecepatan seperti ini pintu keluar tol > masih nun jauh di depan. So, tunggu apa lagi... > > "Di sini juga boleh.." tawarku seadanya. > > "ssshht.." > > Tanpa mengeluh sedikit pun ma'e melepas blazer lalu disampirkan ke > sandaran. Lalu mencopot sepatu. Lalu menarik blusnya keluar dari > pantalon. Kulit pinggulnya sempat melambai padaku. Lalu mengikat > rambut sambil senandungkan melodi the Lion. Lalu tak sengaja jempol > ini menyenggol klakson di jalan yang lengang. Bunyinya begitu riang! > Ma'e mendelik indah.. Tapi jelas si Putih ikut senang... > > Selanjutnya dia membalik badan, gesit membereskan jok belakang. > Tak lupa meraih tas tangannya untuk disingkirkan ke depan. Tapi > rupanya ada yang perlu diambil dulu dari dalam tas. Dicari-cari > sejenak dan dapat. Ditunjukkannya iPod itu dengan wajah sumringah. > "We need this.., right love?" > > Oh, tentu. Itu kan isinya kumpulan yang membebaskan. Mulai dari > pemanasan model Fly me, Europa dan seterusnya, sampai afterplay yang > membuai macam Cavatina atau seperti biasa, Love Note. Yang penting, > remnya boleh diinjek sekarang? > > Tepat pada saat itu Dance With Lion berakhir. Sekarang giliran iPod > disambung ke si Putih. Utak-atik sebentar, dan.. "Siap?"... tanya > ma'e. > > Pertanyaan yang aneh untuk situasi seperti ini. Tapi masa bodohlah. > Anggap itu sebagai pertanda diterimanya penawaranku. > > Aku manggut sambil menahan laju si Putih, 45.. 40.. 35.. dan hujan > sore-sore kilat sambar yang romantis oleh petikan harpa tadi berubah > panas begitu intro lagu meledak dalam mobil. Ma'e memanjakan marantz > cs untuk menggelegar lebih keras dari petir di luar sampai dentuman > bas menggeletar di setir. Ma'e langsung meleng ngumpetin nyengirnya > waktu aku menoleh dengan muka heran.. apa maksudnya setel lagu > ini....... > > Cuek saja ma'e bertepuk dan bergoyang pelan sealun intro. Lengkap > dengan aksi telunjuk mengikuti gaya si seksi linn dalam klip yang > tenar sekitar 20 tahunan lalu. Klip yang dianggap pemuncak musik era > '80an yang didominasi wabah techno sekaligus pengantar ke era house. > Klip dari album yang masuk catatan Guinness sebagai best selling > debut album lantaran langsung laris dan bisa bertahan belasan minggu > di puncak tangga billboard. > > Ooh... ini sih alamat si Putih juga diharuskan bertahan menembus > hujan walau apapun yang mungkin terjadi > Lupakan jok belakang, karena memang mustahil senang-senang berdua > kalau bayangan ketiga diundang hadir. > > Tapi aku senang, selalu senang, dengan cara-caranya menolak > pemberhentian tanpa harus menjerit-jerit... lanjutkan! lanjutkan! > Dengan berpura-pura cemburu begini toh senang-senang yang tertunda > bakal dia lanjutkan pada waktu & tempat yang sudah disediakan. It's > nobody fault but mine. > > Ya sudah, bertualang yang biasa sajalah. Bergelut dengan maunya alam. > Menggelinding pelan asal terus maju. Anggap tetesan hujan kini > menciut lebih kecil dari semut, walau untuk dikebut tetap nggak cocok > sama lagunya... > > Yang pasti, nggak kalah seksilah gaya ma'eku. Gairah mudanya selalu > bergelora saat kena gempur irama seru. Membuat suasana perjalanan > tidak kehilangan kegembiraan sedikit pun. Malah tambah seru waktu dia > ikut nyanyi di bagian "why do i bother when you're not the one for > me.." lantas bertepuk sambil belagak cuek lagi... > > Uhuuyyy nyolek luka lama nih yah... > Nggak papalah sayang, asalkan dikau bahagia. > > Kalau hujan & angin nakal tak sanggup menyatukan kita hari ini maka > dia juga tak boleh memisahkan kita. Mau marah silakan, mau ngamuk > silakan, mau hempaskan kita keluar jembatan Cikubang juga sok > waelah.. (ini untuk pertamakalinya kami melintasi jembatan Cikubang > tanpa bisa melihat jembatan kereta yang eksotis itu)... > > Dan hujan terus menderu sampai selepas daerah Cipada. Syukurlah alam > sungguh maha pengertian. Sisa perjalanan menuju Bandung relatif bisa > dipacu di atas 100 dan tiba dengan selamat. Memang, tidak semua yang > kita inginkan harus didapat. Tak dapat bersenang-senang di Cikubang, > tapi toh dapat selamat. > > Sebuah perjalanan yang mirip tarian bersama kucing. Mengandung > bahaya namun indah menyenangkan. > > http://www.youtube.com/watch?v=D5fRVm3k1aY > > > Buat yang pernah (atau masih) doyan dugeman pasti punya setori dengan > ini lagu. Ayo dibagi-bagi ceritanya. Yang derita kek, yang ceria kek, > pokoknya berceritalah seolah besok matahari nggak terbit lagi, hehe.. > > catetan, > untuk dapetin sensasinya biarkan suara bas meledak-ledak di > ruangan - kalau bisa ya pas ujan juga.. > > > -- > > Sedikit tentang linn berggren, > > Cewek Nordic ini termasuk misterius. Dia pilih brenti jadi guru > demi menemani adik-kakaknya main band. linn memang suka nyanyi > tapi tidak terpikir & kepingin sampai jadi penyanyi apalagi setenar > itu. > > Sial buat dia, sekali ngeband langsung tenar. Dunia musik gempar, > lantai-lantai dansa bergetar, cinlok kumpul-bubar.. > > Pembawaan linn yang kalem gemulai dengan suara seksi berlidah > Skandinavia rasanya terlalu mewah kalau disimpan sendiri. > Gemulainya yang alami terasa mengalir begitu saja dalam ayunan > irama. Lembut tapi tegas mengekspresikan kebebasan. Kira-kira > miriplah dengan ketegasan tarian jaipong & rentak Sumatera. > > Kata kawan yang pernah jumpa dia di sebuah bandara, gerakan linn > waktu meraih gagang lalu berjalan menyeret kopernya sangat artistik. > Entah seperti apa itu, tapi bisa dibayangkan keindahan gerak yang > alamiah. Tidak dibuat-buat. Dalam hal ini, tipe keindahan cewek yang > enjoy menjalani hidupnya. > > Tidak salah lagi, dalam diri linn diam-diam bersemayam jiwa seni > yang lebih kental dari artis-artis populer cetakan studio. > Nggak bisa enggak, alam rupanya telah menyeleksi linn yang ogah > ngetop itu untuk berperan sebagai kartu As, jadi pusat perhatian di setiap > lagu & penampilan kuartet asal Swedia ini. Ya nasib..... > > Siapa linn sebenarnya? > > Semua orang tau, linn sangat terbuka dalam urusan kerja. Dia pernah > terang-terangan menolak tampil di suatu acara karena disyaratkan > harus berdandan menor. Tapi selebihnya orang hanya tau linn cukup > rapi menjaga wilayah pribadinya (simak juga All That She Wants yang > gosipnya adalah simbol kepribadian linn). > > Sampai sekarang masih kurang jelas alasan sebenarnya dia mundur dari > dunia hiburan. Kita percaya, dengan karakter seperti itu linn bukan > tipe artis yang merasa luka parah terperosok jadi populer seperti > morisson, cobain, atau bahkan monroe. Setidaknya belum kelihatan ada > tanda-tanda linn ke arah sana. linn sepertinya hanya ingin jadi orang > biasa seperti kebanyakan orang lainnya. > > Buat saya, linn berggren adalah satu dari sedikit perempuan > berambut terang yang menawan. Penuh optimisme dengan kepribadian > yang kuat. Singkatnya, ada seorang 'manusia' dalam diri linn. > > Mudah-mudahan begitu. > > > "i think in art people are trying to confirm > their own existences" > - jim morrison > > "wanting to be someone else is a waste of > the person you are" > - kurt cobain > > "strange ways" > - linn berggren > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
