http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-451-mencatat-rosihan-mengenang-soerjono.html

     
      Mencatat Rosihan Mengenang Soerjono

      Senin, 18 April 2011 - 18:50:12 WIB


      Dua wartawan pada jalan nasib yang menyimpang 

     
      SEKIRA pertengahan 2008 saya bertemu Rosihan Anwar di Kedutaan Besar 
Kerajaan Belanda di Jakarta. "Bung, sekarang kalau terbang ke Belanda berapa 
lama tuh?" tanyanya. "Tigabelas, atau empatbelas jam," jawab saya. Saat itu 
Rosihan tidak bilang akan ke Belanda, namun setahun kemudian, pada Desember 
2009, sebagai wartawan yang pernah meliput jalannya Konferensi Meja Bundar 
(KMB) 1949, dia diundang hadir dalam peringatan 60 tahun KMB di Den Haag, 
Belanda dan diundang ke redaksi Radio Nederland di Hilversum, Belanda.

      Kini, saya paham mengapa dia ingin tahu waktu tempuh penerbangan dari 
Jakarta ke Belanda. Mungkin dia mau membandingkan dengan perjalanannya 60 tahun 
sebelumnya, saat meliput KMB yang belakangan dituturkannya secara rinci, 
menelan dua hari perjalanan dengan pesawat baling-baling dan transit di 
Bangkok, Thailand. Rosihan gemar bercerita rinci.

      Layaknya wartawan, dia selalu antusias ketika pergi jauh dan meliput 
sebuah peristiwa besar seperti KMB. Layaknya wartawan pula, dia merekam 
peristiwa itu dalam ingatannya. Rosihan reporter sejati. Pencatat peristiwa in 
the first place. Goenawan Mohammad menyebut "pada reportase Rosihan berlaku 
journalism is the first rough draft of history."

      Rosihan beruntung. Jam terbangnya panjang - nyaris tak tertandingi. 
Detik.com menyebutnya "jurnalis tiga zaman", sementara Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono, ketika melayat, menjulukinya "tokoh segala zaman". Kedua kualifikasi 
itu membingungkan. "Tiga zaman" seperti mengerdilkan sebuah khasanah pengalaman 
panjang yang dipatok sembarangan. "Segala zaman" idem ditto. Adakah semua zaman 
sama dan serupa bagi Rosihan? Benarkah demikian?. Adakah dia tak bergetar 
ketika banyak sejawat-jurnalis zamannya hilang sejak prahara 1965 misalnya? 
Rosihan sendiri menyebut dirinya "wartawan lima zaman".

      Sejarawan Taufik Abdullah seperti dikutip dari Kompas.com (15/05) 
memastikan Rosihan "menjadi saksi dan pelaku sejarah sejak zaman Jepang hingga 
kini" Artinya, Rosihan menjadi bagian dari kurun enam dasawarsa sejak menjelang 
kelahiran republik ini hingga beberapa hari lalu. Di sinilah Rosihan menjadi 
menarik. Hidup panjang bagi pencatat peristiwa seperti Rosihan mengundang 
pertanyaan ihwal apa saja yang telah dipilih dan tidak dipilihnya untuk dia 
liput dan komentari. Selaku wartawan, tentu dia harus menyeleksi minat dan 
fokus.

      Saya tidak mengenal baik Rosihan dan tulisan-tulisannya sebagai 
opinion-maker. Karena itu, mencatat tentang Rosihan selaku 'pembuat' sejarah, 
saya memilih untuk bertanya dan mencari sisi pembanding. Adakah dia menyoroti 
dengan intensitas tinggi beberapa tragedi besar dalam perjalanan republik yang 
dialaminya hampir lengkap itu? Adakah almarhum sendiri menyadari bahwa posisi 
sosial dan keberuntungan jam-terbangnya yang panjang itu sendiri, sedikit 
banyak juga berkat - dan menjadi sisi lain dari -  tragedi dan peristiwa yang 
dialami republik ini hingga kini?

      Jika Rosihan Anwar (1922-2011) seorang wartawan beruntung, maka kasus 
pembandingnya adalah wartawan bernasib tragis: Soerjono (1927-2000). Soerjono, 
putra pegawai Dinas Purbakala Belanda (Oudheidkundige Dienst), lahir di 
Prambanan, Jawa Tengah, 27 Februari 1927 dan tutup usia di Amsterdam pada 26 
September 2000.

      Seperti Rosihan, Soerjono adalah seorang reporter, pencatat peristiwa, 
yang giat sejak zaman Jepang. Juga dengan daya ingat luar biasa. Seperti 
Rosihan, Soerjono juga seorang aktivis, pejuang, saksi, dan pelaku sejarah. 
Jadi, keduanya, selain jurnalis-reporter, adalah opini-maker di lingkungan 
seputar kegiatannya dan politikus bagi pembaca korannya dan massa partainya.

      Bila Rosihan mengaku terlibat dalam PSI (Partai Sosialis Indonesia) 
secara kebetulan, maka korannya, Pedoman, menurutnya, pada awalnya cuma 
kebetulan, tapi kemudian 'disumbangkannya' sebagai corong partai. Sebaliknya 
Soerjono mengakui bahwa dia, qua reporter mau pun qua kolomnis, opini-maker, 
giat dalam partainya (PKI, Partai Komunis Indonesia) dan menjadikan korannya, 
Harian Rakjat, sebagai wahananya.

      Seperti Rosihan, Soerjono pengagum Sutan Sjahrir. Tapi Soerjono 
eks-Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) memilih haluan Amir Sjarifuddin. Dia 
pernah bercerita dengan sangat hidup bagaimana dia dan kawan-kawan di Stasiun 
K.A. Tugu, Yogyakarta, dini hari menyambut kedatangan PM Sjahrir dari Jakarta - 
suasana perjuangan yang kemudian kita tahu telah menjadikan lagu "Sepasang Mata 
Bola" legendaris. Soerjono, dengan memori yang kental, adalah jurnalis yang 
berpikir independen. Karena itulah, berbeda dengan Rosihan, dia tersisih dari 
milleu-politik asalnya.

      'Bung Soer', demikian dia suka dipanggil, satu-satunya orang Indonesia 
yang pernah terbuang dari tiga partai komunis terbesar di dunia: PKI, PKT 
(Tiongkok), kemudian PKUS (Uni Soviet). Wartawan Belanda Willem Oltmans, pada 
1989, secara kebetulan menemukannya di Wisma Veteran PKUS Peredelkino, dekat 
Moskow, lalu membantu mengungsikannya ke Belanda.

      Bahkan di Amsterdam, sampai akhir hayatnya, Soerjono pun tersisih dari 
mainstream mereka yang oleh Gus Dur pernah disebut "pahlawan klayaban" atau 
para "terhalang pulang". Maklumlah, jika 'orang dalam' seperti Soerjono dalam 
analisis kelasnya, mencemooh kepemimpinan partainya sendiri dan menyamakan PKI 
dengan Golkar. "Keduanya orang-orang kelas priyayi kecil, Bung. Kalau PKI 
menang, pun akan sama hasilnya seperti sekarang," ujarnya yakin pada 1996 yang 
lampau. Dalam sebuah seminar dia menyebut Sudisman, salah satu pimpinan PKI, 
sebagai "de Grote Bekende Onbekende" (tokoh beken tersembunyi) di balik semua 
itu.

      Soerjono, lebih daripada Rosihan, adalah pemikir, pembaca dan pemerhati 
sejarah, namun tak dikenal publik. Namanya hanya pernah menonjol karena sebuah 
perdebatan versus Menteri Keuangan Jusuf Wibisono (Masjumi) yang dilakukannya 
saat usia muda.

      Independensi pemikirannya membuat Soerjono tersisih dari PKI dan Harian 
Rakyat yang membuatnya "dibuang" menjadi koresponden berita olahraga di Beijing 
pada medio 1960-an. Akhir 1970-an dia gerah dengan Revolusi Besar Kebudayaan 
Proletar (RBKP) yang menggiringnya ke kamp re-edukasi di Sekolah Militer PKT di 
Nanking. "Di sana itu, Bung," Soerjono pernah bercerita, "kami belajar 
pikiran-pikiran Mao Zhe-Dong seperti belajar Kitab Injil. Itu salah sekali!"

      Lantas Soerjono - sementara itu juga ditinggalkan istrinya - hengkang ke 
Uni Soviet. "Tapi, sebagai reporter, sulit saya. Saya tidak bisa dengar 
apa-apa," demikian tulisnya kepada Prof. B.R.O'G Anderson, spesialis Indonesia 
pada Universitas Cornell, AS, pada 1979. Terkucil di Wisma PKUS, Soerjono 
mengaku cuma 'ditemani' siaran bahasa Indonesia BBC dan Hilversum (Radio 
Nederland).

      Beberapa tahun kemudian, di Amsterdam, dia dikunjungi Ben Anderson dan 
aktivis beken Pipit Rochijat. Hal itu membuatnya bangga. Memang, sejak di Uni 
Soviet, Soerjono sering menyurati pakar-pakar kajian Indonesia dan di setelah 
di Amsterdam dia sering jadi rujukan untuk mengecek fakta-fakta masa lalu 
sejarah di Indonesia yang dialaminya. Menjelang 2000, dia kecewa, merasa 
sendiri lagi. "Wah Bung, Ben Anderson dan lain lain itu sekarang sudah lupa 
sama saya," tuturnya.

      Engagement dengan empati mendalam menandai Soerjono. Sekali waktu dia 
mengisahkan pandangan matanya semasa di Yogyakarta 1940-an dengan mimik serius, 
suara serak dan tutur kata amat perlahan: "Waah, waktu itu . rakyat melarat 
hidupnya, Bung." Lalu dia berhenti. Dan menangis terseguk-seguk genuinely.

      Independensi berpikir juga membuat Soerjono tegas menentang Pramoedya 
Ananta Toer dan membela Goenawan Mohamad ketika Pram mengejek Gus Dur yang 
"dengan mudah" meminta maaf kepada para korban prahara 1965-1966. "Isyarat Gus 
Dur itu penting, dan dia-lah yang menanggung risiko politiknya," tukasnya.

      Paling pedih bagi Soerjono adalah terbuang dari tanah airnya. Akhirnya, 
pada usia senjanya, Bung Sur mencurahkan perhatiannya pada dua hal saja: Islam 
dan sepakbola. Di apartemen jompo Henriette Roland-Holst di Amsterdam Tenggara 
yang sering saya kunjungi pada 1990-an, rak buku di kamarnya berisi lebih 
banyak buku tentang Islam, Hadits, Al-Qur'an ketimbang fasisme dan sejarah 
mutakhir. Sementara sepakbola menjadi hiburan yang membuat dirinya keranjingan 
klab-bola Ajax Amsterdam.

      Soerjono dimakamkan di Pekuburan Kruislaan, Amsterdam Timur. Ironisnya: 
di situ pula terkubur Jenderal J.B. van Heutsz, eks-Gubernur Jenderal, simbol 
imperialisme Belanda - kubu musuh besar orang-orang seperti Bung Sur. 
Cantiknya: Bung Sur dihantar oleh banyak kawannya, Belanda dan Indonesia. Dia 
tak lagi sebatang kara justru saat dia sudah tiada. Jasadnya berkemeja batik 
dan bertopi berbintang merah ala Mao Zhe-Dong di peti yang diliput bendera 
Merah-Putih, menampilkan jatidirinya yang sejati. Simbolisme itu mencerminkan 
pula ke-Jawa-an, ke-Indonesia-an dan ke-Mao-an Bung Sur.

      Jelas, Rosihan dan Soerjono adalah dua kisah panjang yang berkontras 
bumi-langit. Tentang Rosihan, media massa telah banyak menulisnya. Tentang 
Soerjono, yang saya kenal lumayan baik, saya cukup merujuk pada obituari yang 
saya tulis di The Jakarta Post edisi 21 Oktober 2000.

      Bung Soer, layaknya wartawan masa perjuangan, menjadi jurnalis merangkap 
pejuang. Kala itu jurnalisme dan perjuangan - secara niscaya - nyaris bagai 
tandem. Korannya Penghela Rakjat (1945) yang berbasis di Magelang, tirasnya 
1500-an, jumlah yang besar untuk zaman itu. Dia juga mengisi mingguan 
Revolusioner dan aktif dalam perlawanan 10 Nopember 1945 di Surabaya. 
Sebelumnya, dia ditahan Jepang di Blitar. Di sana, kerjanya ber-'radio 
dengkoel' -  istilahnya untuk secara ilegal mendengar radio asing, karena harus 
pindah tempat dengan dengkul. Dia tidak percaya, kekuasaan Jepang meninggalkan 
kekosongan, sebab represinya masih terjadi di Jawa.

      Rosihan, partainya, dan korannya, pernah dibungkam, dan membuat dirinya - 
seperti tokoh wartawan dan media yang pernah terlarang lainnya - terkenal, dan 
menjadi pejuang kemerdekaan pers yang patut kita hargai. Soerjono tidak 
memiliki semua itu. Pada sisi Soerjono, tidak hanya korannya dan partainya 
diberangus, tapi manusia-manusia pewarta, keluarga, dan kerabatnya dihabisi. 
Rosihan survive, dengan karir jurnalisme yang panjang. Soerjono tidak. Dia dan 
sejawat pada sisinya, menjadi korban, sekaligus warga yang tersisih, terbuang 
dari Ibu Pertiwi dan menutup hidup nun jauh di rantau.

      Dengan begitu nasib Soerjono menjadi ilustratif - sebuah casus par 
excellence selaku bahan pembanding bagi Rosihan untuk memahami tragedi republik 
bernama Indonesia. Perbedaan Rosihan dengan Soerjono memang lebih penting dan 
mendalam ketimbang kemiripannya. Inilah cerita tentang tragika dan ironi 
sejarah yang ikut membuat politik dan jurnalisme Indonesia menjadi sebagaimana 
adanya kini. Perbedaan tersebut bercerita bahwa jurnalisme dan politik 
Indonesia sejak masa perjuangan tidak saja berkait erat tapi juga berdampak 
besar pada perspektif-perspektif yang terbentuk dan terwaris kemudian.

      Walhasil, andaikan kita memiliki kisah lengkap kedua tokoh ini serta 
'Rosihan-Rosihan' dan 'Soerjono-Soerjono' yang lain, dan andaikan keduanya 
dipublikasi luas, barangkali barulah kita akan memiliki khasanah yang lebih 
baik dan perspektif politik dan jurnalisme yang lebih fair, yang tidak 
setimpang sekarang ketika sisi politik dan jurnalisme yang lain tak lagi 
diketahui khalayak luas 

      [ABOEPRIJADI SANTOSO/KONTRIBUTOR, AMSTERDAM]
     



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke