----- Forwarded Message ----
From: heri latief <[email protected]>
Sent: Sun, April 24, 2011 12:10:28 PM
Subject: Fw: URGENT: Mohon Dimuat: KBRI Watch Sesalkan Tudingan KBRI

--- On Sun, 4/24/11, KBRI Watch <[email protected]> wrote:


 
Washington, DC: 22 April 2011  


Press Release KBRI Watch  
KBRI Watch Sesalkan Tudingan Pihak KBRI


Kepada Yth.
Redaksi Harian/Media
di Jakarta

Dengan hormat,
Bersama ini kami dari organisasi KBRI Watch mengeluarkan press releasesebagai 
tanggapan atas pernyataan pers resmi pihak KBRI yang dimuat di Detik.Com hari 
Selasa (19/4) “KBRI Washington: 4 Staf Dino Sengaja Kabur agar Bisa Menetap di 
AS”.  

        1. KBRI         Watch menyesalkan tuduhan Duta Besar Dino Djalal dan 
pihak KBRI 
        terhadap ke-4 staf RT Wisma Dubes dengan serta-merta menyatakan         
bahwa mereka 
sudah merencanakan kabur sejak awal kedatangan mereka   di Washington DC, tanpa 
ada itikad untuk mau melakukan introspeksi      atas apa yang menjadi penyebab 
sesungguhnya para staf RT tersebut      hingga nekad meninggalkan Wisma Dubes. 
KW 
mendapat pengaduan bahwa        staf ke-4 yang kabur (Fasih Atun yang bekerja 
sebagai 
baby    sitter)         hanya digaji $500/bulan dengan jam kerja hampir setiap 
hari (7 
hari    seminggu). Sementara KBRI Watch memperkirakan upah minimum di daerah 
        Washington DC yang ditentukan pemerintah AS untuk pekerja seperti       
baby sitter 
dengan jam kerja 7 hari seminggu (belum termasuk overtime)      bisa lebih dari 
$1.500/bulan.

        1. KBRI         Watch berpandangan bahwa baik KBRI Washington dan Duta 
Besar belum 
        paham sepenuhnya dan tampak belum siap menerima pelaksanaan UU No.      
14/2008 
mengenai Keterbukaan Informasi Publik. Sebagai lembaga  publik dan pejabat 
publik – yang dibiayai dengan uang rakyat –     seharusnya KBRI lebih tahu dan 
paham akan UU KIP yang sudah    diberlakukan selama tiga tahun. Seyogyanya, 
Dubes 
atau pihak KBRI         tidak perlu menuding atau mencap macam-macam atas 
keberadaan 
lembaga         pengawas (watchdog) seperti KBRI Watch. Apapun yang dilakukan 
KBRI 
        Watch mengawasi lembaga publik sepenuhnya dijamin dan dilindungi        
oleh UU 
14/2008 tersebut.

KBRI Watch juga merasa jengah dengan tudingan KBRI bahwa sejumlah aktivis KW 
punya konflik kepentingan atas proyek acara budaya di KBRI, yakni dengan 
keinginan menjadi event organizer (apalagi sampai disebutkan sosok KW telah 
mendesak Dubes Dino Djalal untuk melanggar hukum di AS). Tuduhan ini sama 
sekali 
tidak berdasar, dan kami kawatir bahwa ini merupakan taktik pengalihan isu 
pokok 
yang dilontarkan KW soal transparansi gaji staf Rumah Tangga Wisma Dubes yang 
sangat besar. Pada kenyataaanya, seluruh aktivis KW yang berjumlah 30-an orang 
mempunyai penghasilan tetap, dan samasekali tidak tergantung pada proyek apapun 
dari KBRI. KBRI Watch menilai tuduhan-tuduhan yang dilontarkan merupakan upaya 
“character assassination” untuk mendiskreditkan lembaga KBRI Watch yang selama 
ini aktif mengkritisi kinerja KBRI Washington dan Duta Besar.

        1. KBRI         Watch mempertanyakan klaim bahwa Dubes Dino 
memperlakukan seluruh 
        staf rumah tangga dengan fairdan respectfulsebagai layaknya anggota 
keluarga 
sendiri dan senantiasa  memperhatikan kesejahteraan dan keselamatan mereka.  


Namun, menurut pengaduan yang masuk kepada KBRI Watch dan pernyataan Fasih Atun 
yang dimuat media online Kabarinews, alasan Fasih kabur dari Wisma Dubes adalah 
karena ia merasa tidak “di-orangkan” (atau tidak dihargai) dan sering dimarahi 
dengan kata-kata yang kasar dan menyakitkan (yang tidak pantas untuk 
dikemukakan 
di sini), padahal Fasih bekerja selama 7 hari seminggu dengan upah jauh di 
bawah 
upah minimum yang diwajibkan pemerintah AS.  

Fasih juga mengaku mengalami perlakuan tidak semestinya karena pernah dua kali 
ditinggalkan majikannya di tempat umum, terakhir ia sampai menangis karena 
tidak 
tahu bagaimana caranya bisa pulang ke Wisma Tilden (untung kemudian Fasih 
ditolong oleh warga Indonesia lainnya yang kebetulan berada di sana). Fasih 
Atun 
juga mengaku tidak sekalipun dihubungi via telepon sejak dia kabur dari Wisma 
Tilden. Padahal menurutnya, baik Dubes maupun isterinya mengetahui nomor 
ponsel-nya.  

Disamping itu KW juga menyesalkan pernyataan Dubes dalam akun twitter-nya bahwa 
dia sangat sibuk dengan misi besar hubungan RI-AS dan tugasnya sebagai Dubes, 
sehingga tak sempat mengurus masalah pembantunya yang kabur. Pernyataan yang 
kurang bertanggungjawab dari seorang pejabat publik yang katanya menganggap 
staf 
RT-nya sebagai keluarga sendiri.
Fakta-fakta ini tampaknya bertentangan dengan klaim yang diceritakan Dubes Dino 
yang dilaporkan oleh pihak KBRI.

        1. KBRI         Watch juga meragukan bahwa pihak KBRI ingin 
menyelesaikan masalah       ini 
dengan niatan baik. Pasalnya kami mendapat beberapa e-mail      pengaduan bahwa 
sejumlah warga Indonesia di Washington DC sudah         di-interogasi dan 
ditakut-takuti oleh sejumlah aparat KBRI yang   mendatangi rumahnya, malah ada 
yang mengakui didatangi beberapa        aparat KBRI pada saat tengah malam. 
KBRI Watch 
sangat menyesalkan      andaikata memang kedatangan sejumlah aparat untuk 
melakukan 
        interogasi ini sengaja diperintahkan oleh Duta Besar.

Sebagai lembaga pengawas badan publik, KBRI Watch menuntut agar cara aparat 
KBRI 
menakut-nakuti warga Indonesia yang diduga berhubungan dengan Fasih Atun, 
seperti cara-cara intimidasi pada jaman Orde Baru ini dihentikan dan tidak 
diulangi lagi. KBRI Watch berpandangan bahwa tidak selayaknya lembaga publik 
yang mewakili pemerintah Indonesia dan dibiayai rakyat justru membuat resah 
rakyatnya sendiri, apalagi ini dilakukan di luar negeri.

        1. Terakhir,    dengan pernyataan ini KBRI Watch ingin mengajak pihak 
KBRI untuk 
        “kembali ke laptop”, yaitu bagaimana mengatasi masalah kaburnya         
ke-4 staf RT 
Wisma Tilden ini dengan cara-cara yang lebih manusiawi,         bermartabat, 
dan dengan 
niatan yang baik. Tidak perlu lagi      menggunakan taktik intimidasi warga 
atau 
pengalihan isu dengan cara      menuduh KBRI Watch berkonspirasi dan memiliki 
kepentingan ekonomi     dalam kasus ini.  


Sekali lagi, KBRI Watch hanya menjalankan amanah UU KIP No. 14/2008 untuk 
melakukan fungsi pengawasan. Masyarakat mengadu, maka kami menerima, dan 
kemudian mengkomunikasikan pengaduan itu kepada pihak terkait dengan cara-cara 
kami yang tidak bisa didikte oleh siapapun.

KBRI Watch sendiri sejak berdirinya sudah menegaskan dan berkomitmen akan 
selalu 
menjadi lembaga watchdog yang non-partisan dan tidak terikat oleh kepentingan 
politik tertentu.
Demikian tanggapan resmi KBRI Watch atas pernyataan resmi pihak KBRI di 
Detik.com tanggal 19 April 2011.

Hormat kami,
(Tertanda)
Irwan Rosyadi
Koordinator
HP: +1-202-468-2635
e-mail: [email protected]
twitter.com/kbriwatch
Facebook.com KBRI Watch page



--- On Sun, 4/24/11, KBRI Watch <[email protected]> wrote:


>From: KBRI Watch <[email protected]>
>Subject: URGENT: Mohon Dimuat: KBRI Watch Sesalkan Tudingan KBRI
>To:  [email protected], [email protected], 
>Cc: "heri Latief" <[email protected]>
>Date: Sunday, April 24, 2011, 8:38 AM
>
>
>Yth. Pimpinan Redaksi:
>
>Terlampir  mohon diterima Press Release dari kami sebagai tanggapan atas  
>tudingan/tuduhan pihak KBRI kepada kawan-kawan KBRI Watch yang disiarkan  di 
>Detik.com (19 April) dan Kabarinews.com tanggal 20 April.
>
>Tudingan  KBRI kami nilai sebagai upaya mendiskreditkan KBRI Watch  yang 
>selama 
>ini selalu aktif mengkritisi kinerja Dutas Besar dan KBRI  Washington. Upaya 
>pendiskreditan KBRI sudah menjurus kepada upaya  "character assasination" 
>sehingga perlu diklarifikasi dan diluruskan.
>
>Disamping  itu, KW juga mengecam adanya intimidasi aparat KBRI terhadap warga  
>Indonesia yang mereka duga tahu keberadaan Fasih Atun.
>
>Mohon bisa dipertimbangkan untuk dimuat di media anda agar masyarakat 
>mendapatkan opini yang berimbang.
>
>
>Terimakasih atas perhatian dan  kerjasamanya.
>
>Hormat kami,
>atas nama KBRI Watch Washington, DC
>
>(Tertanda)
>
>Irwan Rosyadi
>Koordinator
>HP: +1-202-468-2635
>e-mail: [email protected]
>twitter.com/kbriwatch
>Facebook.com KBRI Watch page
>
>
>ps:
>Bung Heri, silakan yang ini juga disebarkan ke milis satra pembebasan. 
>Terimakasih.
>  
 

>  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke