Tak seperti biasanya kali ini
kami berangkat ke dusun kami lebih awal sehari. Kamis sore kami sudah meluncur
berhubung Jumat besok adalah hari perayaan kematian tuhan yang mati dibunuh.
Libur nasional.
=Ini kisah cerita sungguhan asik,gaya ceritanya mirip buatan AA navis
+/-....kalau tidak salah ingat judulnya disurau kami
begitulah nasib umat kalau manusia/nabi dibilang tuhan.
Tiga hari dikampung memang
mengasyikan. Diluar kegiatan2 rutin bertandang kerumah sanak famili, hari-hari
saya isi dengan membawa anak saya yang masih lima tahun melihat-lihat alam
pedusunan.
Udara terasa segar memenuhi rongga paru-paru. Pada hari Jumat, saya membawa
anak saya shalat Jumat di Masjid yang agak jauh letaknya dari lokasi rumah
panggung
kami. Masjid itu amat berkesan bagi saya.
Umur masjid itu sudah tua. Dibangun pada akhir abad ketujuhbelas dan
tetap awet hingga sekarang. Entah sudah berapa generasi orang-orang shalat
didalamnya. Setiap kali berkunjung kesana, yang terasa adalah wibawa Masjid
yang mendamaikan hati. Disamping Masjid itu terdapat kolam ikan yang dialiri
air pegunungan.
=Ini hanya dugaan saya saja,keseluhan cerita anda mengambil kota padang sebagai
latar belakang,pernah sewaktu saya anak2 membaca kisah sebuah masjid
di-sumatra barat yang dimukanya ada sebuah kolam dan banyak ikan2 turun temurun
hidup damai dikolam itu tampa diganggu.oleh manusia.
dan mereka yang datang kerap membawa umpan/makanan untuk ikan2
tersebut
Pulang dari Masjid kami berdua
anak beranak sengaja berjalan agak memutar melewati pasar Jumat. Pasar
tradisional
itu sudah sepi karena waktu transaksinya yang hanya tiap Jumat pagi itu –makanya
disebut Pasar Jumat-- sudah ditutup. Amai-Amai pedagang tampak sudah mengemasi
barang dagangannya. Beberapa pedagang yang lain tampak bersenda gurau sesama
mereka. Seorang yang saya kenal melambaikan tangan mengharapkan saya mampir,
yang segera saya balas dengan lambaian pula sembari menyahut “lain kali
angku…”. Maklum,ikan bilih goreng balado sudah menunggu pula dirumah hehehe.
=Tentu bukan ikan2 yang hidup dipelataran kolam mesjid itu yang di baladokan?"
Disudut pasar tampak seorang
laki-laki tua –sekitar 70 tahun-- menggerutu tak habis2nya. Arah pembicaraannya
tak karuan. Menceracau saja mulutnya. Segala isi kebun binatang keluar dari
mulutnya: anjing, babi…... Jelaslah laki-laki tua itu sudah tak beres otaknya.
Wajahnya depresi. Celana training dekil yang dikenakannya sudah memudar.
Rambutnya
yang gondrong awut-awutan menggimbal tak pernah terkena shampo menambah jelas
gambaran penderitaan jiwanya. Tetapi yang paling menarik dari tingkah laku
laki-laki tua gila itu adalah jam tangan kebesaran yang dikenakannya. Tiap
sebentar jam tangan mati itu diliriknya, seolah-olah ada urusan penting yang
sedang memburunya. Lalu dia merepet-repet lagi.
Sesekali ia senyum tersengeng sembari sedikit menganggukan kepala kepada
setiap orang yg melintas didepannya seolah2 ia seorang gentleman. Begitu terus
berulang-ulang. Laki-laki tua yang malang.
=Dikisah AA navis orang tersebut bertugas sebagai peng-asah pisau warga
setempat juga sebagai jagal/pemotong ayam tugas harian nya
Konon kabarnya, laki-laki tua itu
dimasa mudanya normal-normal saja walau kadang-kadang menyebalkan juga lantaran
banyak cakap. Kualitas otaknya biasa-biasa saja untuk ukuran dusun kami, kalau
tak hendak dikatakan dibawah rata-rata. Tetapi entah kenapa dia berambisi pula
menjadi
seorang intelektuil terpandang seperti Bung Hatta, maka jadilah ia merantau
hendak melanjutkan
pendidikan. Nasib baik, ia bisa masuk perguruan tinggi di negeri orang. Entah
apa kemudian yang terjadi, mungkin karena otaknya tak sanggup menerima ilmu
pengetahuan atau karena memang sudah bakat, tiba-tiba ia pulang kekampung dalam
kondisi kejiwaan yang semakin lama semakin menyedihkan. Ah, begitulah nasib
orang kalau tak pandai-pandai mengukur bayangan sepanjang badan.
=Malah di akhir cerita orang tersebut membabi buta menggorok warga2 setempat.
--- On Sun, 4/24/11, PAREWA <[email protected]> wrote:
From: PAREWA <[email protected]>
Subject: [proletar] Liburan dan laki-laki
To: [email protected]
Date: Sunday, April 24, 2011, 8:06 PM
Tak seperti biasanya kali ini
kami berangkat ke dusun kami lebih awal sehari. Kamis sore kami sudah meluncur
berhubung Jumat besok adalah hari perayaan kematian tuhan yang mati dibunuh.
Libur nasional.
Tiga hari dikampung memang
mengasyikan. Diluar kegiatan2 rutin bertandang kerumah sanak famili, hari-hari
saya isi dengan membawa anak saya yang masih lima tahun melihat-lihat alam
pedusunan.
Udara terasa segar memenuhi rongga paru-paru. Pada hari Jumat, saya membawa
anak saya shalat Jumat di Masjid yang agak jauh letaknya dari lokasi rumah
panggung
kami. Masjid itu amat berkesan bagi saya.
Umur masjid itu sudah tua. Dibangun pada akhir abad ketujuhbelas dan
tetap awet hingga sekarang. Entah sudah berapa generasi orang-orang shalat
didalamnya. Setiap kali berkunjung kesana, yang terasa adalah wibawa Masjid
yang mendamaikan hati. Disamping Masjid itu terdapat kolam ikan yang dialiri
air pegunungan.
Pulang dari Masjid kami berdua
anak beranak sengaja berjalan agak memutar melewati pasar Jumat. Pasar
tradisional
itu sudah sepi karena waktu transaksinya yang hanya tiap Jumat pagi itu –makanya
disebut Pasar Jumat-- sudah ditutup. Amai-Amai pedagang tampak sudah mengemasi
barang dagangannya. Beberapa pedagang yang lain tampak bersenda gurau sesama
mereka. Seorang yang saya kenal melambaikan tangan mengharapkan saya mampir,
yang
segera saya balas dengan lambaian pula sembari menyahut “lain kali angku…”.
Maklum,
ikan bilih goreng balado sudah menunggu pula dirumah hehehe.
Disudut pasar tampak seorang
laki-laki tua –sekitar 70 tahun-- menggerutu tak habis2nya. Arah pembicaraannya
tak karuan. Menceracau saja mulutnya. Segala isi kebun binatang keluar dari
mulutnya: anjing, babi…... Jelaslah laki-laki tua itu sudah tak beres otaknya.
Wajahnya depresi. Celana training dekil yang dikenakannya sudah memudar.
Rambutnya
yang gondrong awut-awutan menggimbal tak pernah terkena shampo menambah jelas
gambaran penderitaan jiwanya. Tetapi yang paling menarik dari tingkah laku
laki-laki tua gila itu adalah jam tangan kebesaran yang dikenakannya. Tiap
sebentar jam tangan mati itu diliriknya, seolah-olah ada urusan penting yang
sedang memburunya. Lalu dia merepet-repet lagi.
Sesekali ia senyum tersengeng sembari sedikit menganggukan kepala kepada
setiap orang yg melintas didepannya seolah2 ia seorang gentleman. Begitu terus
berulang-ulang. Laki-laki tua yang malang.
Konon kabarnya, laki-laki tua itu
dimasa mudanya normal-normal saja walau kadang-kadang menyebalkan juga lantaran
banyak cakap. Kualitas otaknya biasa-biasa saja untuk ukuran dusun kami, kalau
tak hendak dikatakan dibawah rata-rata. Tetapi entah kenapa dia berambisi pula
menjadi
seorang intelektuil terpandang seperti Bung Hatta, maka jadilah ia merantau
hendak melanjutkan
pendidikan. Nasib baik, ia bisa masuk perguruan tinggi di negeri orang. Entah
apa kemudian yang terjadi, mungkin karena otaknya tak sanggup menerima ilmu
pengetahuan atau karena memang sudah bakat, tiba-tiba ia pulang kekampung dalam
kondisi kejiwaan yang semakin lama semakin menyedihkan. Ah, begitulah nasib
orang kalau tak pandai-pandai mengukur bayangan sepanjang badan.
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/