Membaca Bukan Menafsirkan Tapi Menyimpulkan !!!
                                        
Setiap orang yang membaca akan secara otomatis mengolah apa yang dibacanya 
untuk dipahami sebagai kesimpulannya.

Bacaan yang tersusun dengan baik dan benar akan menghasilkan kesimpulan yang 
sama melalui proses otak dari pembaca yang ber-beda2.

Ada kalanya bacaan itu acak2an, tidak baik susunannya sehingga tidak bisa 
diambil kesimpulannya, oleh karena itu si pembaca berusaha menebaknya, 
spekulasi, berjudi dalam mengartikannya, dan proses tebak2an begini kita sebut 
sebagai tafsir.

Tafsir AlQuran adalah hadist, artinya Hadist itu adalah hasi tebak2an dari 
orang yang membaca Quran.

Hanya Al-Quran yang perlu ditafsir, sedangkan agama lain meskipun juga sama 
sama ditafsir, tapi menyangkalnya karena mereka paham kalo kitab suci mereka 
dikatakan ada tafsirnya merupakan penghinaan.

Celaka memang umat Islam, mereka tidak biasa membuat definisi sebelum membuat 
kata2, akibatnya belum juga kitab sucinya dibacapun dari tafsirnya saja sudah 
bisa disimpulkan isinya tidak benar.

Inilah salah satu bukti kuat yang pernah saya tulis, bahwa AlQuran itu 
diciptakan oleh pendeta2 Vatican untuk digunakan menyerang musuh2nya yaitu 
Yahudi dan Islam agar saling membunuh hingga musnah keduanya.  Tapi pembantaian 
sudah terjadi dimasa lalu, sekarang ada HAM sehingga kegiatan utama dalam 
beragama dengan saling membantai sudah dilarang oleh Amerika yang pemenang 
perang dunia kedua sehingga mampu mendominasi power menciptakan keamanan dunia 
sekarang ini.

> "sethiadi" <ssethiadi@...> wrote:
> Menurut seorang pendeta yang
> bergelar Doktor, membaca adalah
> menafsirkan. Kalau ini benar,
> maka literal adalah juga
> menafsirkan, menafsirkan secara
> literal. Ini menurut Osama bin
> Laden adalah cara menfsirkan yang
> benar. Menurut Gus Dur dan Amin
> Rais apalagi menurut Nurcholis
> Majid itu adalah cara menafsirkan
> yang salah. Siapa yang benar dan
> siapa yang salah?

Osama bin Laden jelas salah karena menafsirkan itu tidak perlu membaca, dan 
literal itu bukan bahan untuk ditafsirkan.

Nurcholid, Gus Dur dan Amin Rais juga salah, karena tidak ada istilah 
menafsirkan yang salah dan menafsirkan yang benar.  Karena tafsir itu semacam 
tebak2an bisa saja salah tapi jarang sekali dan hampir selalu tidak ada yang 
benar.  Tafsir menafsir hanya untuk hiburan, entertainment seperti tebak2an 
dalam judi.

Disitulah salahnya ajaran agama, disatu pihak melarang judi, dilain pihak 
menafsirkan Quran dan Bible mereka masing2.  Karena menafsirkan Bible dan Quran 
juga sama dengan berjudi yang hasilnya saling menyalahkan sebelum berlanjut 
saling memusnahkan.

Jadi Semuanya salah, membaca bukan menafsirkan melainkan menyimpulkan karena 
kata "Tafsir" beda dari arti kata "Kesimpulan"

Tafsir itu artinya tebak2an, jadi kata literal kalo di-tebak2 menjadi kata 
apapun bisa.  Kata "teror" ditafsir sebagai "damai", itu bisa.  Kata "rampok 
Yahudi" bisa ditafsirkan sebagai "menyayangi Yahudi".

Demikianlah, kalo membaca dulu kemudian menarik kesimpulan, artinya setiap kata 
ada urut2an logisnya yang bisa divalidasi benar atau salahnya.  Kemudian 
setelah diurut atau diproses menjadi beberapa kalimat, maka setiap kalimat 
harus valid untuk kemudian dicari hubungannya atai tidak ada hubungannya dengan 
kalimat valid lainnya, barulah kemudian setelah keterkaitan antar kalimat2 ini 
terbukti atau eksis, barulah tercipta kalimat baru dengan kata2 yang lebih 
sederhana ringkas dan jelas, dan kalimat ini kita sebut sebagai kesimpulan 
BUKAN tafsiran.

Agama memang menggunakan tafsir, itulah sebabnya agama bukan ilmu pengetahuan, 
tapi semacam ilmu ramalan yang tidak pernah kena ditebak atau selalu 
ditafsirkan selalu kena ditebak.

Tafsir itu BOHONG.
Kesimpulan itu BUKTI ILMIAH.

Ny. Muslim binti Muskitawati.







------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke