Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  725  450 kali.

 = = =               = = = =               == = = =

Makam Heru Atmodjo di Taman Pahlawan

Kalibata Dibongkar





Atas desakan Gerakan Umat Islam Bersatu

dan perintah pimpinan Angkatan Darat



Berita tentang pembongkaran makam mantan Letkol AURI Heru Atmodjo dan
disuruh memindahkannya dari Taman Pahlawan Kalibata merupakan hal yang
mengejutkan banyak kalangan, dan dianggap sebagai tindakan yang tidak
beradab. Berikut adalah cuplikan dari beberapa berita mengenainya, dan
sebuah komentar sebagai bahan renungan untuk kita bersama.



Dibongkar karena Tak Penuhi Kriteria ???



Jakarta (Detik News)   26 April 200- Makam Heru Atmodjo di Taman Makam
Pahlawan (TMP) Kalibata dibongkar. Hal itu dilakukan setelah dilakukan
penelitian dan ternyata Heru tidak memenuhi syarat untuk dimakamkan di
pemakaman khusus para pahlawan itu.

"Setelah diadakan penelitan, ternyata Pak Heru Atmodjo tidak masuk kriteria
yang dapat dimakamkan di TMP Kalibata. Karena itu makamnya dipindahkan,"
kata Kadispenum TNI Kolonel Minulyo saat berbincang dengan detikcom, Selasa
(26/4/2011).

Namun Minulyo tidak mengetahu pasti apa kriteria yang membuat Heru tidak
dapat dimakamkan di TMP Kalibata. Untuk lebih jelasnya, Minulyo meminta agar
dikonfirmasi ke Mabes TNI Angkatan Udara (AU).

"Silakan dikonfirmasi ke Mabes TNI AU ya untuk tahu detilnya dan ke mana
dipindahkannya," kata Minulyo.

Menurut Minulyo, makam Heru dipindahkan sekitar satu bulan yang lalu. Untuk
proses pembongkarannya, difasilitasi oleh Garnisun. "Tapi untuk
pembongkarannya tentu melibatkan keluarga juga," katanya.



Terkait dengan protes massa anti-komunis di Jawa Timur


Jakarta - Sebuah makam di Blok W Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Selatan, 'dibongkar' setelah 'pemiliknya' telah tidur kekal di dalamnya pada
29 Januari 2011 lalu. Belum diketahui pasti alasan pembongkaran tersebut,
yang jelas nisan penghuni makam Heru Atmodjo tidak lagi terbaring di rumah
abadinya.

Pembongkaran makam Heru ini diduga terkait protes massa antikomunis misalnya
saja protes yang berlangsung di Gedung Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis
(10/3/2011) lalu. Heru Atmojo yang berpangkat terakhir Letkol Udara itu,
menurut Gerakan Ummat Islam Bersatu (GUIB) Jatim terlibat dalam organisasi
PKI.

Saat detikcom berkunjung ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Senin
(25/4/2011), tepatnya di Blok W, makam Heru Atmodjo sudah tidak bernisan
lagi dan makamnya berada di antara makam Haji Kaya Mas Nien dan Nana
Sutresna.

Makam tersebut saat ini rata dengan tanah berwarna merah dan sebuah batu
besar diletakkan di tengahnya. Di samping makam tersebut, sebuah papan nisan
kayu yang patah tergeletak dengan tulisan sebuah nama, yaitu 'Her'.

" Siapa Heru Atmodjo?

Heru adalah seorang mantan perwira yang berpangkat Letnan Kolonel di
kesatuan Angkatan Udara. Sebuah Bintang Gerilya disematkan pada dirinya dari
pemerintah karena telah ikut berjuang melawan penjajah pada masa perang
kemerdekaan.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Heru
Atmodjo dituduh bersalah oleh Mahmilub (Mahkamah Militer Luarbiasa) dengan
hukuman seumur hidup dan dipecat dari ketentaraan akibat keterlibatannya
dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang selanjutnya mendapatkan
keringanan sehingga menjalani masa hukuman selama 15 tahun.

Tuduhan yang dialamatkan kepada Heru, yang saat itu menjabat sebagai Asisten
Direktur Produksi Intelijen Departemen Angkatan Udara, adalah mengetahui
tentang rencana PKI yang dikomandoi oleh Letkol Untung untuk melakukan
Gerakan 30 September untuk menghabisi petinggi-petinggi militer yang
mengganggu rencana PKI. Saat itu Heru menjabat wakil komandan di PKI, posisi
nomor 3 setelah Letkol Untung (Ketua Dewan) dan Brigjen Supardjo (Wakil
Ketua Dewan).

Pada hari pemakaman Heru, seperti yang dituliskan seorang kawan Heru,
Ibrahim Isa di blog jurnal toddoppuli.wordpress.com, pemakaman Heru juga
berlangsung khidmat.

“Upacara pemakaman protokoler TNI kamarade Heru dari pk 13.00 – 14.30 wib
berlangsung hikmat. Banyak kw hadir baik dr angkatan tua mopun pemuda,
mahasiswa, aktivis LSM, disamping keluarga besar alm. Atas nama
TNI/Pemerintah mengucapkan penghargaan atas bhakti, kesetiaan dan jasa serta
pengabdian alm kepada RI. Upacara kemiliteran satu regu prajurit2 AURI
melakukan salvo senjata, pengeningan cipta dan diiringi musik penghormatan
terakhir bagi sang pahlawan.”

 Demikian kutipan dari Detiknews





Pernyataan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 65 (YPKP)


Di bawah ini disajikan pernyataan Bedjo Untung , ketua  YPKP 65 (Yayasan
Penelitian Korban Pembunuhan 65), yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut
:



“Belum ada 100 hari sejak pemakaman Letkol Penerbang Heru Atmodjo (alm),
masyarakat  sipil di Jakarta khususnya  yang peduli terhadap hak asasi
manusia dikejutkan oleh raibnya jenasah Heru Atmodjo  di Taman Makam
Pahlawan Kalibata Jakarta, batu nisan mau pun tulisan yang menyebutkan Heru
Atmodjo dimakamkan  hilang dan makam rata dengan tanah (Viva News

24 April 2011).



Ada suatu pertanyaan, mengapa seorang yang berjasa bagi negerinya, yang
menyandang bintang gerilya kehormatan bagi Tanah Air yang ketika meninggal
dunia  dilakukan upacara kenegaraan resmi  dengan salvo dan upacara militer
Angkatan Udara yang mengharukan dan dapat  sebagai pelipur lara bagi para
Korban Tragedi kemanusiaan 1965/1966, tetapi kemudian hilang bagaikan
layaknya orang-orang yang terbuang, meski sudah  berujud jenasah?



Inilah bukti  perlu segera penyelesaian secara menyeluruh kasus tragedi
kemanusiaan  1965/1966 itu. Negara tidak boleh mengabaikan, malahan
memetieskan dan melupakannya. Sampai hari ini Negara belum mengeluarkan
sepatah kata apa pun untuk penyelesaian kasus 1965. Padahal, telah

diketemukan bukti baru (novum) yaitu adanya rekayasa sistematik untuk
melakukan pembunuhan massal  atas orang-orang yang diduga  anggota Partai
Komunis Indonesia dan simpatisannya,yang dilakukan oleh aparat  tentara
(baca Angkatan Darat)  dengan  berkedok  konflik horisontal  masyarakat,
yang difasilitasi oleh CIA, danberujung pada penggulingan kekuasaan Presiden
Sukarno, dan masuklah pemodal Kapitalisme Global,Imperialisme  untuk
menguras habis kekayaan Indonesia.



Pembongkaran dengan tekanan



Kelompok Orde Baru khususnya tentara AD  tidak rela jenasah alm Heru Atmodjo
dimakamkan di TMP Kalibata. Dengan menggunakan kelompok agama tertentu,
memobilisasi massa untuk melakukan penolakan atas pemakaman di Taman Makam
Pahlawan.  Massa Islam Jawa Timur mendatangi kantor Gubernur dan mendesak
agar Heru Atmodjo dikeluarkan dari Kalibata, dengan tuduhan sebagai dalang
G.30.S, tokoh Komunis dan sebagainya, malahan lebih sadis lagi, perlu
dibentuk Densus Detasemen Khusus  untuk memburu orang-orang mau pun
sisa-sisa anggota Partai Komunis Indonesia.Lagi-lagi, tuduhan tidak berdasar
dan terkesan memutar balikkan fakta. Bukan PKI yang berontak terhadap
negara, tetapi justru anggota-anggota PKI yang dibunuhi tanpa proses hukum
dan pada akhirnya  Jendral Suharto lah yang mengkudeta Sukarno.



Sekelompok militer AD kira-kira 6-7 orang, ada di antaranya yang berpakaian
sipil mendatangi rumah keluarga Heru atmodjo di bilangan Cileungsi Bogor.
Mereka datang dari markas Cilangkap yang minta agar jenasah Heru Atmodjo
dipindahkan.



Jumat  25 Maret 2011 pukul 23.00 malam hari,  makam dibongkar,  pagi harinya
Sabtu 26 Maret 2011 jenasah Heru Atmodjo diterbangkan ke Malang dan pada
pukul 11.00 siang langsung dimakamkan di Taman Pemakaman Umum desa Bangil
Sidoarjo dengan disaksikan oleh utusan dari Angkatan Udara Republik
Indonesia dan beberapa anggota keluarga terdekat dalam jumlah yang sangat
sedikit. Jenasah disemayamkan disamping ibunda Heru Atmodjo. Tidak ada
upacara pemakaman, nyaris bertolak belakang, tidak seperti  ketika diadakan
upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan pada  Sabtu 29 Januari 2011 yang
lalu.



Berita ini tersimpan rapat untuk tidak disiarkan ke publik mengingat
keluarga ingin ketenangan juga arwah pak Heru Atmodjo ingin ketenteraman di
peristirahatan yang terakhir. Namun sebulan kemudian  (25 April 2011)
tersiar berita makam Heru Atmodjo telah dibongkar, sehingga banyak kalangan
ingin tahu duduk persoalannya.



Sudah 46 tahun  berlalu sejak tragedy kemanusiaan 1965/1966.  Korban yang
berjumlah jutaan jiwa sampai hari ini belum ada kejelasan di mana mereka
dibunuh, di mana mereka hilang.

Sementara itu, Korban yang masih hidup yang lolos dari maut, telah mengalami
siksaan kejam ketika berada di kamp-kamp penahanan Pulau Buru,
Nusakambangan,Salemba, Tangerang, Kalisosok, Plantungan,Pulau Kemarau,dll.,
belum memperoleh hak-hak yang semestinya mereka  dapatkan.

Mereka hidup dalam penderitaan phisik, penderitaan bathin dan penderitaan
ekonomi, dan  mereka masih mendapatkan perlakuan diskriminatif, ancaman dan
teror.Komisi Nasional Hak Asasi Manusia  telah membentuk Tim Penyelidikan
pro justicia untuk Kasus Peristiwa 1965-1966, namun  telah 3 tahun bekerja
belum melaporkan hasilnya.



Sampai kapan negeri ini hanya dibalut  persoalan masa lalu  tanpa ada
kesudahan? Diperlukan  kemauan politik untuk berani mengatakan  salah  dan
meminta maaf kepada Korban pelanggaran HAM 65 dan kemudian memulihkan harkat
dan martabat Korban 65 yang terampas secara  melawan hukum. » Demikian isi
pernyataan Bedjo Untung, Ketua YPKP 65.



***



Sekelumit renungan tentang kasus pembongkaran
makam Heru Atmodjo



Di bawah berikut ini adalah sedikit bahan-bahan untuk renungan atau
pemikiran bersama tentang kasus pembongkaran dan pemindahan makam Heru
Atmodjo dari Taman Pahlawan Kalibata.  :



Setelah dibebaskan dari penjara selama 15 tahun, ia aktif sekali dalam
kegiatan-kegiatan untuk membela korban Orde Bau. Ia bergabung atau menjalin
kerjasama aktif dengan  banyak organisasi , antara lain : Pakorba, LPR-KROB,
YPKP, LBH, YLBHI,KONTRAS, dan berbagai organisasi angkatan muda. Nama Heru
Atmodjo sering disebut-sebut di banyak kalangan yang menentang rejm militer
Suharto dan oleh kalangan pencinta dan pendukung politik Bung Karno.



Seperti banyak perwira atau prajurit AURI (atau  mantan perwira dan prajuiit
AURI lainnya) Heru Atmodjo adalah pendukung politik Bung Karno yang
jelas-jelas anti imperialisme dan kolonialisme yang pro-sosialisme à la
Indonesia,yang pro-rakyat kecil. Itulah sebabnya, ia dibenci atau dimusuhi
oleh petinggi-petinggi Angkatan Darat, yang tunduk kepada Suharto, sampai
sekarang.



Perintah pembongkaran makam Heru Atmodjo di Taman Pahlawan oleh pimpinan
Angkatan Darat (entah terdiri dari siapa-siapa saja dan dari tingkat yang
mana saja) adalah satu perintah yang menimbulkan bermacam-macam reaksi di
banyak kalangan, karena menusuk sanubari kalangan beragama dan juga mereka
yang umumnya menghormati siapa saja yang sudah meninggal dunia.



Perintah pembongkaran makam ini menunjukkan bahwa di kalangan Angkatan Darat
masih (sampai sekarang !!!) terdapat fikiran keliru atau pandangan sesat
anti-kiri (artinya anti Bung Karno dan anti-PKI) yang selama lebih dari 32
tahun sudah dipakai oleh Orde Barui, sehingga akibatnya negara dan bangsa
kita menjadi rusak dan serba semrawut seperti yang kita saksikan sekarang
ini.



Pembongkaran makam Heru Atmodjo atas perintah pimpinan Angkatan Darat akan
menimbulkan dampak yang besar – dalam berbagai bentuk dan bermacam-macam
kadar-  di banyak kalangan bangsa. Dampaknya tidak hanya terdapat di
kalangan AURI dan Angkatan Darat saja, melainkan juga antara golongan
pendukung Suharto dan golongan pendukung Bung Karno dan simpatisan PKI.



Selama ini, Heru Atmodjo (seperti juga halnya Omar Dhani, mantan Panglima
AURI yang Sukarnois seratus persen) mendapat simpati dari banyak kalangan di
AURI, berkat sikap politiknya terhadap Bung Karno.



Kalau sama-sama kita renungkan dalam-dalam, maka jelaslah bahwa  perintah
pimpinan Angkatan Darat untuk membongkar makam Heru Atmodjo dan
memindahkannya dari Taman Pahlawan sama sekali tidak menguntungkan usaha
bersama untuk menggalang persatuan bangsa dan mengusahakan tercapainya
rekonsiliasi nasional.



Dengan pembongkaran makam heru Atmodjo ini pimpinan Angkatan Darat masih
tetap menujukkan diri sebagai penyebar terus-menerus perpecahan, seperti
yang sudah puluhan tahun dilakukannya, dengan memusuhi berbagai politik
revolusioner Bung Karno beserta pendukungnya, yaitu PKI.



Sekarang makin banyak bukti bahwa dengan memusuhi politik Bung Karno dan
PKI, tidaklah mungkin Angkatan Darat menjadi penjaga keselamatan Republik
Indonesia, seperti yang digembar-gemborkan selama ini.. Justru karena
memusuhi ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno dan anti-PKI maka timbul
masalah-masalah  yang bermacam-macam, yang bisa mengancam keselamatan
Republik Indonesia.



Juga, Angkatan Darat tidak akan bisa sungguh-sungguh menjadi pelindung
Republik Indonesia, dengan memusuhi PKI dan bersekutu atau bersekongkol   -
secara   terang-terangan atau sembunyi-sembunyi  - dengan musuh-musuh RI,
antara lain dengan macam-macam kelompok-kelompok fundamentalis Islam yang
anti-Bung Karno dan anti-PKI.



Pada dasarnya, atau pada hakekatnya, dengan bersikap anti-ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno (artinya, juga anti-PKI) maka Angkatan Darat
nyatanya akan  tetap terus menjadi perusak persatuan bangsa, menjadi
penjegal Pancasila, menjadi pembunuh Bhinneka Tunggal Ika



Dengan perintah pembongkaran makam Heru Atmodjo, pimpinan Angkatan Darat
(yang sekarang)  menunjukkan diri sebagai penerus pengkhianatan besar (dan
kesalahan serius sekali) yang telah dilakukan para pendahulunya dalam tahun
1965-1966-1967 terhadap Bung Karno dan PKI.



Selama pimpinan Angkatan Darat (termasuk yang sekarang) belum merobah
sikapnya terhadap politik Bung Karno beserta ajaran-ajaran revolusionernya
(dan juga  kepada PKI), maka akan tetap  terus ada banyak persoalan parah
bangsa dan negara yang muncul Tidak bisa lain !!! Ini sudah dibuktikan
dengan gamblang sekali dengan pengalaman-pengalaman pahit rakyat selama
pemerintahan jaman Orde Baru, dan pemerintahan-pemerintahan seterusnya,
sampai sekarang.



Dari sudut ini jugalah kiranya kita patut memandang (dan merenungkan !)
persoalan pembongkaran dan pemindahan makam Heru Atmodjo dari Taman Pahlawan
Kalibata atas perintah pimpinan Angkatan Darat.



Paris, 27 April  2011



A. Umar Said






[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke