http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2011042800392614

      Kamis, 28 April 2011 
     
      BURAS 
     
     
     
49% Pelajar Setuju Aksi Radikal Agama! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "JALAN kekerasan ternyata jadi pilihan pelajar negeri kita justru lewat 
mata pelajaran agama!" ujar Imar. "Hasil penelitian terhadap pelajar SMP-SMA 
oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian dipimpin Prof. Bambang Pranowo dari 
UIN Syarif Hidayatullah, menyebutkan 49% pelajar setuju aksi kekerasan berlabel 
agama! Menurut pelajar, Pancasila juga tak relevan!" (Koran Tempo, 26-4)

      "Gawat sekali hasil penelitian itu!" sambut Amir. "Tapi pasti ada alasan 
rasional jika sejumlah besar pelajar saksama memilih jawaban senada begitu! 
Misal, apa lewat jalan nonkekerasan dan nonlabel agama, seperti pengadilan, 
demokrasi, atau pemerintahan bangsa kita bisa menyelesaikan aneka masalah 
benar-benar adil? Jika di jalan-jalan itu ternyata dinilai gagal oleh para 
pelajar, jalan kekerasan berlabel agama sebenarnya justru merupakan peluang 
sempit yang memang kita sisakan sebagai alternatif tunggal buat mereka!"

      "Berarti bukan salah pelajaran atau pengajaran agama di sekolah! 
Melainkan, justru realitas kehidupan berbangsa kita yang membuat mereka tak 
punya pilihan lain!" tegas Umar. "Karena itu, jelas keliru dan sia-sia 
menjadikan mata pelajaran agama di sekolah sebagai scape goat-kambing 
hitam-dari sikap pelajar kita yang cenderung gandrung kekerasan itu! Pokok 
masalahnya justru pada cara orang tua mengelola negara-bangsa yang nyata-nyata 
telah gagal mewujudkan keadilan lewat berbagai dimensi formal!"

      "Realitas sedemikian tak bisa dibantah!" timpal Amir. "Artinya, pilihan 
berani 49% pelajar itu yang harus dijadikan dasar bagi orang tua-terutama yang 
berkuasa-untuk introspeksi, kenapa gagal menciptakan keadilan lewat jalan 
nonkekerasan, sehingga jalan kekerasan jadi pilihan pelajar! Itu juga tak 
terlepas dari penilaian pelajar, Pancasila tidak relevan-karena yang selama ini 
mereka saksikan cuma praktek seolah-olah itu Pancasila, bukan praktek dari 
Pancasila yang sejatinya! Jadi, untuk mengubah kesan para pelajar itu terhadap 
Pancasila, para aktor kekuasaan-dari eksekutif, legislatif, hingga 
yudikatif-harus mempraktekkan yang sejatinya nilai-nilai Pancasila!"

      "Dengan demikian lebih jelas, yang salah bukan pelajaran agama di 
sekolah, apalagi NII gadungan yang cuma cari korban pemerasan lewat hipnotis 
dan cuci otak!" tegas Umar. "Kesalahan justru pada orang tua yang berkuasa, 
karena telah gagal mewujudkan keadilan dalam berbagai dimensi dan substansinya 
dengan cara-cara nonkekerasan, serta mempraktekkan Pancasila sekadar dalam 
keseolah-olahan, tidak tulus mengatualisasikan Pancasila dengan nilai-nilai 
yang sejatinya!" ***
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke