http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/08/11/LU/mbm.20080811.LU127967.id.html

Madilog: Sebuah Sintesis Perantauan
Rizal Adhitya Hidayat - Bekerja di Universitas Indonusa Esa Unggul

-------------------------

Rizal Adhitya Hidayat
Bekerja di Universitas Indonusa Esa Unggul

SAMPAI kematiannya yang tragis sebagai tumbal revolusi, lebih dari 20 tahun 
hidup Tan Malaka dihabiskan untuk merantau di negeri lain. Dari agen Komintern 
untuk Asia di Kanton sampai menjadi free agent bagi dirinya sendiri. Dari 
seorang pedagog tulen dengan jaminan finansial hingga hidup merdeka seratus 
persen. Dan Madilog, buku yang ditulisnya dalam persembunyian dari Kempetai, 
polisi rahasia Jepang (1943), adalah warisannya yang paling otentik.

Tan menginginkan Madilog—singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan 
Logika—sebagai panduan cara berpikir yang realistis, pragmatis, dan fleksibel. 
Inilah warisan perantauannya yang berasal dari pemikiran Barat untuk mengikis 
nilai-nilai feodalisme, mental budak, dan kultus takhayul yang, menurut dia, 
diidap rakyat Indonesia. Mengapa? Sebab, Tan berpikir, mulai periode Yunnan 
sampai imperialisme Jepang, bangsa Indonesia tidak mempunyai riwayat 
kesejarahan sendiri selain perbudakan. Tak mengherankan bila budaya bangsa ini 
berubah menjadi pasif dan menafikan sama sekali penggunaan asas eksplorasi 
logika sains.

Madilog adalah solusinya. Inilah sebuah presentasi ilmiah melalui serangkaian 
proses berpikir dan bertindak secara materialistis, dialektis, dan logis dalam 
mewujudkan sebuah tujuan secara sistematis dan struktural. Segala dinamika 
permasalahan duniawi dapat terus dikaji dan diuji sedalam-dalamnya dengan 
menggunakan perkakas sains; yang batas-batasnya bisa ditangkap oleh indra 
manusia.

Namun, lebih dari sekadar Barat, Madilog adalah juga sintesis perantauan dari 
seorang Tan yang berlatar belakang budaya Minangkabau. Ini terjabarkan ke dalam 
dua sense of extreme urgency point pemikiran Tan Malaka demi membumikan Madilog 
dalam ranah Indonesia. Pertama, Madilog lahir melalui sintesis pertentangan 
pemikiran di antara dua kubu aliran filsafat, yaitu Hegel dengan Marx-Engels. 
Hegel dengan filsafat dialektika (tesis, antitesis, dan sintesis) dengan 
kebenaran yang menyeluruh (absolute idea) hanya dapat tercapai melalui 
perkembangan dinamis, dari taraf gerakan yang paling rendah menuju taraf 
gerakan yang paling tinggi. Semua berkembang, terus-menerus, berubah tapi 
berhubungan satu sama lain. Hegel lebih memfokuskan pemikiran bahwa untuk 
mencapai kebenaran mutlak, pemikiran (ide) lebih penting daripada matter 
(benda).

Sementara itu, bagi Marx-Engels, proses dialektika ini lebih cocok diterapkan 
dalam ranah matter melalui revolusi perpindahan dominasi kelas yang satu ke 
kelas yang lain sampai tercapai suatu bentuk kelas yang sebenarnya, yaitu 
masyarakat tanpa kelas. Jadi matter bagi Marx-Engels lebih penting daripada ide.

Nah, dalam Madilog, Tan Malaka mencoba mensintesiskan kedua pertentangan aliran 
filsafat ini untuk mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru 
berlandaskan sains; bebas dari alam pikiran mistis. Melalui sains, mindset 
masyarakat Indonesia harus diubah. Logika ilmiah dikedepankan, pikiran kreatif 
dieksplorasi dengan langkah dialektis dari taraf perpindahan gerakan kelas 
sosial dari tingkatannya yang paling rendah sampai paling tinggi berupa kelas 
sosial baru yang berwawasan Madilog. Inilah proses "merantau" secara pemikiran 
karena berbagai benturan ide yang terjadi.

Kedua, identitas budaya Minangkabau tentang konsep rantau. Nilai penting konsep 
rantau dalam budaya Minangkabau adalah mengidentifikasi setiap penemuan baru 
selama merantau demi pengembangan diri. Karakter masyarakat Minangkabau adalah 
dinamis, logis, dan antiparokial. Konflik batin khas perantau ditepisnya dengan 
tradisi berpikir rasional, didukung dengan basis pendidikan guru, yang 
mengharuskan Tan menanamkan cara berpikir yang logis. Sementara itu, merantau 
adalah juga mencari keselarasan hidup; yang tersusun dari dinamika pertentangan 
dan penyesuaian. Pandangan kebudayaan Minangkabau yang umum berlaku di masa 
mudanya membuatnya memahami baik dinamisme Barat maupun dinamisme alam 
Minangkabau di dalam suatu cara pandang terhadap dunia yang terpisahkan 
(Mrazeck, 1999).

Sebagai sintesis hasil perantauannya, Madilog merupakan manifestasi simbol 
kebebasan berpikir Tan Malaka. Ia bukan dogma yang biasanya harus ditelan 
begitu saja tanpa reserve. Menurut dia, justru kaum dogmatis yang cenderung 
mengkaji hafalan sebagai kaum bermental budak/pasif yang sebenarnya. Di sinilah 
filsafat idealisme dan materialisme ala Barat dan konsep rantau disintesiskan 
Tan Malaka. Lembar demi lembar ditulisnya di bawah suasana kemiskinan, 
penderitaan, dan kesepian yang begitu ekstrem. Namun Madilog-lah yang menjadi 
puncak kualitas orisinal pemikiran terbaik Tan Malaka yang dikumpulkannya dari 
Haarlem, Nederland (1913-1919), sampai kelahiran buah pikirnya itu di Rawajati 
(1943).



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke