Bersatulah kaum buruh; perjuangan  belum selesai!
byAditya Nugraha Iskandar  on Sunday, 01 May 2011 at 00:59


Perjuangan belum lah selesai. Relevansinya, kelas pekerja (buruh) masih berada 
di bawah penindasan kelas berkuasa. Hubungan gelap antara bandit negara dan 
agen-agen kapitalisme semakin merajalela. Korupsi semakin merajalela menghisap 
uang rakyat. Sumber daya alam dikeruk secara membabi buta tanpa memperhatikan 
harmonisasi alam. Dalam kehidupan realita, kebutuhan hidup semakin mahal dan 
massifikasi serbuan produk-produk tentatif kapitalisme menuju titik krisis. 
Skema ini tentu saja mendesak kelas pekerja terus terperosok dalam lubang 
kemiskinan. Dimana negara? Mereka telah disandera  oleh bandit-bandit Negara.

Dalam sejarahnya, Negara modern yang lahir dari revolusi Perancis 1789 
merupakan 
gerakan kaum Jacobin atau kelas borjuis melawan kelas feudal. Kaum borjuis 
menggunakan kelas pekerja hanya untuk kepentingannya berkuasa dan melakukan 
akumulasi modal. Setelah berkuasa, maka kaum borjuis menindas kelas pekerja 
dengan penghisapan dalam hubungan produksi yang bersifat kapitalistik.

Kelas pekerja yang merupakan bagian besar massa rakyat, semakin menderita dalam 
sistem kapitalisme. Mereka terus dihisap dan ditindas untuk ambisi segelintir 
kelompok dalam memuaskan hawa nafsu mereka mencari keuntungan sebesar-besarnya 
. 
Upah buruh terus ditekan sehingga masih jauh dari kata hidup layak. Bandingkan 
dengan gaji para pejabat dan tunjangan elite-elite politik yang begitu mewah.

Ternyata pajak yang ditarik kepada rakyat lebih dinikmati oleh segelintir elite 
dan kelompok tertentu. Buruh tetap miskin, diperbodoh dan tertindas. Negara 
juga 
telah tersandera oleh kepentingan sendiri (selfish) dan kelompok elite 
pengusaha. Filosofi dasar pembentukan negara Indonesia untuk menghapuskan 
penindasan dari bumi nusantara masih jauh dari cita-cita. Kelas pekerja terus 
menderita dibawah cengkraman pemilik modal. Maka "working men all countries, 
unite!'" atau kelas pekerja seluruh dunia bersatulah seru Marx dalam Manifesto 
Komunis. Kelas pekerja harus bersatu karena bandit negara dan bandit 
kapitalisme 
telah bersatu padu memburu rente (rent seeking).

Selain itu Lenin mandang perlu bagi kelas tertindas untuk berpolitik, Lenin 
berkata “kelas-kelas penghisap memerlukan kekuasaan politik untuk kepentingan 
mempertahankan penghisapan, yaitu untuk kepentingan rakus segelintir minoritas 
terhadap mayoritas terbesar rakyat. Kelas-kelas terhisap memerlukan kekuasaan 
politik untuk kepentingan menghapus sepenuhnya segala penghisapan, yaitu untuk 
kepentingan mayoritas rakyat melawan sgelintir minoritas pemilik budak modern, 
para tuan tanah dan para kapitalis.

Ada banyak faktor yang menyebabkan buruh tetap termarginalkan. Pertama, 
Hubungan 
produksi yang masih bersifat antagonistik kapitalistik. Alat produksi yang 
masih 
dikuasai oleh kaum kapitalis menyebapkan adanya penghisapan dari nilai tambah 
sebuah produksi. Seorang buruh tidak mampu menikmati kerja kerasnya dengan 
layak. Mereka (buruh) teralienasi dari produk yang mereka hasilkan. Produk yang 
dihasilkan dari tetes keringat kerja kerasnya. Hidup mereka tidak akan pernah 
berubah menjadi sejahtera atau bahagia. Mereka bekerja setiap hari dengan keras 
dari pagi sampai sore dengan imbalan upah yang hanya untuk bertahan hidup.

Kedua, institusi negara dan para aparatnya ternyata adalah alat dari kelas 
borjuis untuk mempertahankan kekuasaannya. Hal ini dapat kita lihat dari kasus 
korupsi yang banyak melibatkan hubungan aparat negara dengan bandit pengusaha. 
Demokrasi yang dijalankan di negara kita, ternyata tidak bebas nilai. Demokrasi 
menjadi agenda terselubung kaum konservatif ekonomi untuk mempertahankan 
keadaan 
(status quo). Kontradiksi dan ketegangan antara kelas di dalam masyarakat 
menurut Marx, diganti dengan pertarungan politik pragmatisme. Rakyat terbuai 
oleh janji ilusi partai-partai pragmatis. Mereka dilibatkan tanpa di dengar dan 
diperjuangkan hak-hak nya.

Dengan aparat militer dan penjaranya Negara juga membungkam perjuangan kelas 
tertindas lewat tindakan represif. Marsinah adalah salah satu korban tindakan 
represif Negara dan kelas borjuis. Masih banyak lagi kasus represifikasi kelas 
berkuasa terhadap kaum buruh seperti penekanan upaya buruh untuk berserikat dan 
penerapan sistem kerja kontrak (outsourching).

Ketiga, penggunaan anggaran negara yang tidak tepat sasaran dengan prinsip 
utama, efisiensi dan efektifitas. Anggaran negara yang dihasilkan dari pajak 
dan 
menjual sumber daya alam lebih banyak digunakan disektor konsumtif belanja 
rutin 
aparatur negara. Subsidi untuk rakyat pun dihapuskan atas alasan efisiensi 
anggaran, disaat gaji pejabat yang selangit. Pendidikan, kesehatan, produksi 
pangan dan rumah murah tidak menjadi hal utama dalam politik penyusunan 
anggaran.Tindakan ini diduga terjerat oleh hubungan politik yang selama ini 
bersifat transaksional. Menjadi aparat negara bukan lah sebuah pengabdian, 
tetapi lebih dari upaya mengeruk uang negara demi kepentingan pribadi dan 
golongannya.

Kelima, terpecahnya gerakan progresif dalam memperjuangkan kebaikan umum (bonum 
commune) sehingga kaum kapitalis-imperialisme semakin menghegemoni segi-segi 
kehidupan. Kaum progresif tercerai berai mengalami divergensi akut serta miskin 
keratifisme untuk menguak tabir gelap struktur masyarakat kapitalisme. Sekali 
lagi kita ingat kata-kata Marx yang menyerukan kelas pekerja untuk bersatu. Ego 
sektoral harus bisa diredakan dan menyalurkan energi pada satu revolusi besar. 
Kelas pekerja harus bersatu padu dengan kekuatan progresif lainya baik itu 
kalangan intelektual, mahasiswa, petani dan kaum minoritas. Meminjam teori 
Foucault tentang dekonstruksi, bahwa bangunan yang ada di masyarakat harus di 
rubuhkan dan dibentuk ulang dengan berlandaskan egalitarianisme, welfare dan 
unity.

Revitalisasi dan reaktualisasi gerakan buruh

Setiap tanggal 1 Mei, seluruh dunia merayakan hari buruh sedunia yang lebih 
populer dengan sebutan May Day. Dalam sejarah nya May Day dirayakan pertama 
kali 
1 Mei 1886 di Amerika Serikat dan Kanada dengan tuntutan ‘eight hour day’. 
Kemudian May Day dalam konteks ruang dan waktu menjadi tonggak perjuangan kelas 
buruh dan kelompok rakyat progresif untuk melawan penindasan struktural dan 
kebudayaan bisu (culture silence) yang dilakukan oleh kelas berkuasa. May day 
menjadi symbol untuk mendekonstruksi tatanan masyarakat yang bersifat menindas.

Dalam peringatan hari buruh sedunia, maka gerakan buruh harus segera melakukan 
revitalisasi dan reaktualisasi.  Revitalisasi  gerakan buruh adalah usaha untuk 
menguatkan kembali gerakan buruh melalui penyolidan gerakan buruh dan penguatan 
karakter ideologi bersama. Ego sektoral harus segera dikesampingkan. Gerakan 
buruh tidak hanya menjadi milik inklusif kalangan buruh, yang lebih dipersempit 
menjadi buruh pabrikan. Prinsip unity dan ekstensifikasi gerakan menjadi sangat 
dibutuhkan dalam meraih kemenangan. Gerakan buruh harus digerakan menjadi 
gerakan rakyat progresif menuntut kesejahteraan bersama. Gerakan ini harus 
melibatkan kelompok lain di luar buruh pabrik seperti kalangan mahasiswa, buruh 
kerah putih (white colour), kelompok minoritas, kelompok religious dll. 
Persatuan dan kesatuan gerakan buruh dengan elemen lain, akan menyebabkan 
sebuah 
gelombang besar dalam melakukan transformasi di masyarakat.

Penguatan ideologi merupakan upaya militansi buruh dalam meniti perjuangannnya. 
Ideologi merupakan struktur atas yang dipengaruhi oleh basis struktur dalam 
pertentangan kelas di bidang ekonomi. Maka ideology menjadi alat dan cerminan 
perjuangan kelas buruh. Tanpa penguatan ideologi, maka gerakan buruh mudah 
terpecah belah atau dipecah belah demi kepentingan pribadi atau sektoral.

Pola reaktualisasi gerakan buruh harus mendorong gerakan pada konteks 
kontemporer. Pengorganisasian gerakan harus mengaktualisasikan metode gerakan. 
Kapitalisme yang melakukan tindakan hegemoni pada semua lini harus dilakukan 
perang terhadap semua lini. Gerakan buruh harus merumuskan cara hidup humanisme 
yang merupakan kontradiksi dari gaya hidup kapitalisme yang bersifat konsumtif. 
Nilai-nilai kebersamaan, kesederhanaan dan peduli lingkungan harus menjadi 
agenda gerkan hidup yang ditawarkan kelas buruh. Hal ini juga yang akan 
mempertemukan gerakan kelas buruh dengan kelompok progresif lain baik itu 
kelompok lingkungan, kelompok religious dan kelompok pejuang HAM. Maka semboyan 
pun harus “Progresive class all countries, unite!”.

 

 
Y. Khaldei | Production worker, 1934

 
http://sastrapembebasan.wordpress.com/
http://tamanmiryanti.blogspot.com/
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke