Minggu ini tak pulang kampung. Tapi ada pernah saya dengar cerita tentang seorang laki-laki bernama Jurik Kambuik. Di dusun kami cerita tentang si Jurik ini masih tetap diceritakan hingga kini. Beginilah ceritanya.
Jurik Kambuik ini anak seorang tukang jual obat kakilima di pasar. Di daerah kami tukang jual obat tidaklah sekadar menunggui dagangannya saja, tetapi juga berpidato berapi-api tak kalah dengan politisi di masa kampanye. Yang satu menjual obat yang dikatakannya berkhasiat untuk segala penyakit, sedang yang lain menjual mimpi. Pada dasarnya kedua golongan ini sama-sama menjual omongkosong. Seperti umumnya politisi, Bapak si Jurik Kambuik ini juga dikenal tukang main perempuan. Seorang pemacak yang tak berguna. Akhirnya bapak si Jurik Kambuik, mati dirumah bordil kena sipilis. “Buah tak jatuh tak jauh dari pohonnya” begitulah kata pepatah. Begitu bapaknya begitu pula anaknya. Si Jurik Kambuik mewarisi sebagian besar dari sifat-sifat bapaknya: tukang omongkosong dan tukang main lonte. Setelah badan menjadi ringkih ia menumpang hidup kepada lonte londo yang termakan rayuan gombal ala tukang jual obat. Tetapi disamping itu si Jurik Kambuik versi yang lebih rusak dibanding bapaknya. Pandai benar ia mengembangkan gen kriminal yang diturunkan bapaknya itu. Seburuk-buruk kelakuan bapaknya, tak seperti si Jurik tak pernah ia menukar imannya dengan imbalan sesuap nasi. Juga tak pernah ia menghamba-hamba kepada negara penjajah bagai inlader tolol dihadapan marsose atau terkagum-kagum kepada tulisan kaum orientalis. Perkara yang bikin sakit hati orang dusun kami adalah ketika mereka dikibuli mentah-mentah oleh si Jurik Kambuik yang datang merengek-rengek meminta gelar adat. Ada memang satu dua orang yang curiga dengan permintaan si Jurik Kambuik itu, tapi berkat bualannya yang lihai segenap ninik mamak sukunya terpedaya. Orang-orang dusun mengira si Jurik Kambuik ini orang alim yang datang dari rantau setelah lama menuntut ilmu. Maklumlah ia menganjurkan orang memperbaiki surau lama yang sudah rusak lengkap dengan bualan-bualannya tentang masa lalu agama di dusun itu. “Kalau bukan kita siapa lagi yang akan membangkitkan batang terandam, angku”, katanya membual. Singkat cerita, berhasil juga si Jurik Kambuik dapat gelar adat itu. Tetapi lama kelamaan tau juga kaum sukunya soal kebangsatan si Jurik itu. Setelah terbuka kartunya, sekarang tak pernah lagi ia pakai gelar adat itu. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
