Bagaimana cerita si Jurik Kambuik
selanjutnya? Tak banyak orang yang tahu. Tepatnya mereka tak mau tau.
Paling-paling kalau ada yang menyindir-nyindir sambil bergarah-garah perkara
gelar adat yang terlanjur diberikan kepada si Jurik, ninik mamak hanya 
sekedarnya
saja menjawab: “untung tak dapat diraih, malang
tak dapat ditolak” buyuang. “Anggap sajalah gelar itu buang sial kepada
keluarga sialan itu, yang jelas tidak akan ada kaum kita yang akan bermamak
kepada si Jurik baribeh itu”.  “Matilah
dia terjongkang di kubangan busuk”, lanjut ninik mamak menyumpah-nyumpah.

 

Menurut cerita orang sekampung
yang seperantauan, kabarnya sekarang ini si Jurik Kambuik sudah semakin tua.
Dan tentu saja semakin tak beres otaknya. Saban hari kerjaannya membuang-buang
waktu diisi dengan omongkosong, bual, asung (hasut) dan fitnah.

 

Lalu, saya jadi teringat kepada
ajaran Islam tentang umur. Begini kira-kira bunyinya: “Sebaik-baiknya umur
adalah mereka yang sepanjang umurnya itu, tak peduli singkat atau panjang, 
bermanfaat
buat orang banyak. Dan seburuk-buruknya umur adalah umur yang panjang tapi tak
bermanfaat.”  Umur panjang yang tak
bermafaat saja sudah dicela sebagai “seburuk-buruknya umur”, konon lagi umur
panjang yang diisi dengan segala keburukan. Pastilah sebuah “umur yang nista”.
Dan si Jurik Kambuik agaknya termasuk golongan manusia yang serupa itu. Kalah
ia dengan daun kayu yang sudah busuk yang ada juga gunanya sebagai kompos.

 

----------------

Minggu ini tak pulang kampung.
Tapi ada pernah saya dengar cerita tentang seorang laki-laki bernama Jurik
Kambuik. Di dusun kami cerita tentang si Jurik ini masih tetap diceritakan
hingga kini. Beginilah ceritanya. 

 

Jurik Kambuik ini anak seorang
tukang jual obat kakilima di pasar. Di daerah kami tukang jual obat tidaklah 
sekadar
menunggui dagangannya saja, tetapi juga berpidato berapi-api tak kalah dengan
politisi di masa kampanye. Yang satu menjual obat yang dikatakannya berkhasiat
untuk segala penyakit, sedang yang lain menjual mimpi. Pada dasarnya kedua 
golongan
ini sama-sama menjual omongkosong. Seperti umumnya politisi, Bapak si Jurik
Kambuik ini juga dikenal tukang main perempuan. Seorang pemacak yang tak
berguna.  Akhirnya bapak si Jurik Kambuik
mati dirumah bordil kena sipilis.

 

“Buah tak jatuh tak jauh dari
pohonnya” begitulah kata pepatah. Begitu bapaknya begitu pula anaknya. Si Jurik
Kambuik mewarisi sebagian besar sifat-sifat bapaknya: tukang omongkosong dan
tukang main lonte. Setelah badan menjadi ringkih ia menumpang hidup kepada
lonte londo yang termakan rayuan gombal ala tukang jual obat. Tetapi disamping
itu si Jurik Kambuik versi yang lebih rusak dibanding bapaknya. Pandai benar ia
mengembangkan gen kriminal yang diturunkan bapaknya itu. Seburuk-buruk kelakuan
bapaknya, tak seperti si Jurik tak pernah ia menukar imannya dengan imbalan
sesuap nasi. Juga tak pernah ia menghamba-hamba kepada negara penjajah bagai
inlader tolol dihadapan marsose atau terkagum-kagum kepada tulisan kaum
orientalis. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke