Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/
yang sampai sekarang sudah dikunjungi  727 170  kali.

 = = =               = = = =               == = = =


Tulisan untuk menyambut hari ultah PKI 23 Mei


Musuh Bangsa Indonesia Bukanlah PKI

Melainkan NII dan Sejenisya





Kalau kita semua sekarang sedang dibanjiri berita-berita tentang ditembaknya
Osama Ben Laden oleh pasukan militer AS, dan tentang makin bergejolaknya
situasi di negara-negara Arab, di samping berita-berita yang menggambarkan
keruwetan di negara kita yang disebabkan korupsi, pelecehan hukum, dan
hiruk-pikuk soal NII maka ketika membaca pernyataan Ketua Majelis Ulama
Indonesia (MUI) tentang PKI yang seperti disajikan di bawah ini, maka kita
bisa bertanya-tanya apa sajakah  tujuan peryataannya itu ???



Harap pembaca menyimaknya dengan baik-baik, dan juga membaca komentar (atau
tanggapan) terhadap pernyataan yang mengandung racun bagi bangsa dan negara
kita itu. Isi pernyataan ketua MUI itu persis sama saja dengan apa yang
selama 32 tahun telah dicekokkan oleh Orde Baru kepada bangsa kita. Dan
sikap yang ditunjukkan oleh Ketua MUI ini memperlihatkan dengan jelas bahwa
MUI adalah masih satu dan sejiwa dengan Orde Barunya Suharto, tetap seperti
yang dulu-dulu juga.



 Tanggapan terhadap pernyataan Ketua MUI ini bisa juga diartikan sebagai
bagian dari peringatan hari ulangtahun PKI tanggal 23 Mei yang akan datang.



 Berita tersebut selengkapanya adalah sebagai berikut :



MUI: Waspadai PKI Baru!


Rakyat Merdeka 28 April 2011 . « Selain gerakan NII, pemerintah juga harus
mewaspadai gerakan PKI baru di Indonesia. Sebab, saat ini geliat gerakan
komunis baru ini sudah sangat terasa.

Pernyataan ini dikemukakan Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan. Dia
mengatakan, tanda-tanda geliat PKI baru tersebut bisa dilihat dari mulai
anak-anak mantan PKI yang berani menyatakan diri sebagai keturunan PKI.

"Saat ini, mereka sudah berani bilang, saya anak PKI. Mereka juga sudah
mulai melakukan pertemuan-pertemuan secara berkala dalam kelompoknya," kata
Amidhan di gedung DPR, Kamis (28/4).

Bukan itu saja, lanjut Amidhan, saat ini para PKI baru ini mulai membantah
kejadian 30 September bukanlah ulah PKI melainkan perselisihan antara
tentara. Kelompok berusaha memanfaatkan kesalahan Presiden Soeharto untuk
menutupi kesalahannya.

"Saat ini mereka sudah bekerja sama dengan dunia internasioal. Dengan alasan
HAM, mereka ingin menentang keputusan pelarangannya," jelas Amidhan.

Jumlah mereka, lanjut Amidhan, sudah relatif banyak dan menyebar di semua
wilayah Indonesia. "Kantung utamanya ada di Madiun dan wilayah Jawa Timur,"
terangnya.

Saat ini, tambah Amidhan, gerakan ini baru sekadar penyebaran paham-paham
dan ideologi. Namun, kalau dibiarkan, mereka akan tumbuh besar dan
membahayakan negara.

"Kalau sudah kuat, mereka akan berusaha menumbangkan negara seperti pada
1965 dulu. Karena itu, pemerintah harus bertindak. Ini berbeda dengan NII.
Negara kita sudah mengatur bahwa PKI dilarang tumbuh di Indonesia,"
tandasnya. (Kutipan berita selesai)



Geliat gerakan PKI baru adalah baik bagi bangsa



Ketua MUI mengatakan bahwa « Selain gerakan NII pemerintah juga harus
mewaspadai gerakan PKI baru di Indonesia. Sebab, saat ini geliat gerakan
komunis baru ini sudah sangat terasa. »
Bahwa pemerintah  (dan seluruh bangsa !!!) harus mewaspadai  gerakan NII,
itu adalah hal yang jelas, karena NII sudah dengan  terang benderang
melakukan hal-hal yang merusak dan membahayakan NKRI. Sedangkan geliat
gerakan komunis baru ini (kalau pun ada)  adalah hal yang baik bagi NKRI dan
juga sangat perlu  bagi seluruh kehidupan bangsa.



Karena itu, Bung Karno dalam seluruh ajaran-ajaran revolusionernya sejak
masih umur muda (dua puluh tahunan) sudah menganjurkan persatuan NASAKOM.
NASAKOM adalah jiwa Bung Karno, pengejowantahan gagasan besarnya untuk
mempersatukan bangsa. Karenanya, PKI tidaklah harus diwaspadai, melainkan
harus disambut dengan hangat dalam persatuan dan kesatuan  bangsa.



Ketika kita membaca pernyataan Ketua MUI tentang PKI seperti yang disajikan
di atas, maka sebenarnya ia tidak saja mengutarakan hal-hal yang hanya
menjelek-jelekkan PKI, melainkan juga serangan hebat (walaupun tidak
langsung) terhadap  Bung Karno. Ini jugalah yang sudah dilakukan oleh Orde
Baru (Suharto bersama Golkar) terus-menerus selama puluhan tahun



Karena itu, kita patut memandang pernyataan Ketua MUI tentang PKI ini
sebagai bagian dari kelanjutan kampanje anti Bung Karno (dan anti PKI)
ketika di seluruh tanah air sedang dihebohkan oleh segala macam siaran
mengenai NII atau Al Zaitun, atau Wiranto, Hendropriyono dan Panji Gumilang,
atau tentang FPI dan sejenisnya.



Sikap PKI terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika


Ketua MUI, seperti halnya sebagian pimpinan Angkatan Darat (dan pimpinan
berbagai gerakan Islam radikal) berusaha melindungi atau menyembunyikan
segala macam kejahatan, pelangggaran, pengkhianatan  kelompok-kelompok Islam
radikal (termasuk NII) dengan mengumbar segala hal yang dianggap negatif
tentang PKI.



Padahal, PKI atau sisa-sisanya (dan simpatisan atau para pendukungnya) sejak
dulu sampai sekarang ini sama sekali tidak merupakan bahaya bagi negara dan
bangsa, tidak merusak persatuan, dan tetap merupakan pembela Pancasila dan
Bhinneka Tunggal Ika, dan pendukung ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno.



Sikap setia terhadap persatuan bangsa, terhadap Pancasila dan Bhinneka
Tunggal Ika  ini  juga tetap dipegang oleh sisa-sisa PKI, atau oleh
simpatisan dan para pendukungnya, walaupun sudah selama lebih dari 45 tahun
ditindas secara kejam, dipersekusi, dan dilarang melakukan berbagai macam
kegiatan.



Tujuan yang dioerjuangkan NII berlainan sama sekali dengan yang
diperjuangkan PKI.  Tujuan NII adalah merombak atau menghancurkan NKRI dan
mendirikan Negara Islam Indonesia sebagai gantinya. Sedangkan tujuan
perjuangan PKI adalah mempertahankan NKRI tetapi dengan isi sosialisme atau
masyarakat adil dan makmur, seperti yang dicita-citakan oleh Bung Karno
sejak lama sekali.



Tujuan PKI bertentangan sama sekali dengan tujuan NII


NII berusaha menjadikan Syariat Islam sebagai hukum yang berlaku di
Indonesia, sedangkan PKI (seperti halnya Bung Karno) berusaha supaya
kehidupan bangsa dan negara dipedomani oleh Pancasila dan Bhinneka Tunggal
Ika di samping berlakukanya segala undang-undang yang betul-betul demokratis
bagi semua warganegara Indonesia, dan juga bagi semua manusia.



NII sejiwa atau searah (atau seiring) dengan jiwa berbagai kalangan Islam
yang sudah menentang Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, demokrasi dan
Deklarasi Universal HAM, sedangkan PKI membelanya, dengan menyatukan diri
dengan berbagai politik dan ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno dalam
menentang imperialisme dan berjuang untuk sosialisme a la Indonesia.



Jadi, adalah salah sama sekali kalau NII diperlakukan sama dengan PKI. NII
adalah gerakan makar yang mengkhianati terhadap NKRI, sedangkan PKI adalah
kekuatan pokok pendukung Bung Karno dalam mempersatukan bangsa dalam rangka
NKRI.



NII yang sekarang adalah kelanjutan atau perpanjangan darii NII-DI-TII nya
Kartosuwirjo, sedangkan PKI adalah sahabat seperjuangan Bung Karno. Itulah
sebabnya mengapa Bung Karno digulingkan oleh Suharto. Bung Karno tetap tidak
mau membubarkan ¨PKI walaupun didesak-desak, sampai wafatnya, akibat siksaan
ketika ia sudah sakit parah dalam tahanan.





Gerakan-gerakan di negara Arab tidak untuk negara Islam


Sikap  NII untuk mendirikan Negara Islam Indonesia adalah berbeda atau
bertentangan dengan sikap NU dan Muhammadiyah yang dua-duanya  -- seperti
halnya sebagian terbesar bangsa dan rakyat Indonesia – menganggap bahwa NKRI
dengan Pancasilanya adalah sesuatu yang sudah final, dan tidak bisa
diperdebatkan lagi.



Kalau kita bandingkan dengan apa yang terjadi di sebagian besar
negara-negara Arab akhir-akhir ini, tujuan kelompok-kelompok Islam radikal
di Indonesia adalah suatu hal yang bertolak belakang. Gerakan-gerakan besar
dan kecil, untuk memperjuangkan perubahan-perubahan dalam sistem politik,
ekonomi, sosial dan kebudayaan, yang dipelopori oleh kaum muda, para
intelektual, dan kaum buruh di banyak negeri Arab ini justru tidak untuk
mendirikan negara Islam.



Malahan sebaliknya !!! Gerakan untuk perubahan yang terjadi di Mauritania,
Maroko, Aljazair, Libia,  Tunisia, Mesir, Sudan, Somalia, Bahrein, Jordania,
Siria, Saudi Arabia, Yamen, Oman, adalah gelombang besar untuk perubahan
dalam negara-negara yang sudah puluhan tahun (ada yang lebih dari 40 tahun
!) diperintah oleh penguasa-penguasa yang korup, reaksioner, feodal,
despotik, yang sering menggunakan (atau menyalahgunakan !!!) agama atau
ayat-ayat suci untuk menindas rakyat masing-masing, dan hidup secara
mewah-mewah di tengah-tengah kemiskinan dan keterbelakangan.



Oleh karena itu, adalah akan baik sekali bagi MUI atau berbagai kalangan
radikal Islam di Indonesia untuk mengikuti dengan cermat perkembangan
pergolakan-pergolakan di sebagian besar negara-negara Arab, supaya tidak
ketinggalan jaman. Di banyak negara Arab ini Islam akan mengalami perubahan
atau pembaruan, sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan jaman yang berobah
terus-menerus. Pergolakan-pergolakan besar di negara-negara Arab sekarang
ini bisa memberi sumbangan berupa pencerahan yang berharga sekali bagi
berbagai gerakan radikal Islam di Indonesia.



Islam yang diperjuangkan oleh gerakan-gerakan di banyak negara-negara Arab
sekarang ini (termasuk di Saudi Arabia dan Mesir sendiri) adalah bukan «
kejayaan dan kebesaran » Islam di abad-abad pertengahan (atau bahkan
sebelumnya) melainkan Islam yang lebih demokratis, toleran, menghargai
hak-hak manusia, dan yang melawan obscurantisme.



Bung Karno : « PKI itu sanak saudara, kalau meninggal saya ikut kehilangan »


Dalam rangka besar Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika inilah kita bisa
melihat betapa sesatnya pernyataan Ketua MUI mengenai PKI. Sebab, seperti
sikap yang dipegang teguh oleh Bung Karno (sampai wafatnya !!!), PKI adalah
bukan musuh bangsa Indonesia. « PKI kuwi yo kadang yo sanak, yen mati aku
melu kelangan » kata Bung Karno. (terjemahan dari  bahasa Jawa : « PKI itu
sanak saudara, kalau meninggal saya ikut merasa kehilangan ».



Singkat kata, PKI adalah asset bangsa Indonesia. Dan sebaliknya, Orde
Baru-nya Suharto dan pendukung-pendukung setianya adalah sampah bangsa.
Sejarah sudah membuktikannya. Dan akan dibuktikan lebih jelas lagi di
kemudian hari !!!





Paris, 4 Mei 2011

A. Umar Said





* * *




























[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke