Kamu ga bisa bedakan antara agama Islam sama orang Islam. Orang Islam di
Indonesia terbesar bodo-bodo karena memang sengaja dibuat bodo,
tertinggal dan banyak ga berpendidikan. Saking bodonya, ada tawaran BS
ke luar negeri langsung disaut. padahal disana diajarin menghasut,
contohnya kamu lihat di a/l proletar. Atau lainnya malah setuju dg
pluralisme namun ga mau murtad, tetap mau di Islam. Padahal sdh mbuat
fikih lintas agama segala. Niatnya mau mengungguli fikh Islam namun ga
laku. Mana mau kristen, Buddhist makainya. Mestinya mereka belajar Islam
dari orang Islam, bukan dari kapir yg bahkan habis nyucuk ga mandi wajib
dulu, langsung bahas Al Qur'an. Padahal di Bibel juga ada aturan mainnya
setelah main cucuk.

Lain dg agama Kristen, pimpinannya pinter pinter, namun serakah
kekuasaan, ga segan mitenah maupun membunuh. Katanya ga nikah namun
punya anak bahkan sipilis. Apalagi kitabnya, cerita tahayul bertebaran.
Di tangtang @wong_gendeng ga ada yg bisa merespond sampai ndeboost yg
harus ngupas. Namun itupun dibiarkan melongpong. Lain dg QS. Si beo
nangtang lalu dikasih ayat yg Darwin bahkan nyontek darinya, tetap
mbeker ga mau tahu. Namun baiknya dia berhenti cuap-cuap teori Darwin.
Masih sedang mikir dia dg utegnya yg segede tithit beo.
Dan sayangnya utegmu juga ga kamu optimalkan. Mau saja dikibulin Paulus.
Ga mau lihat yg ajarannya Paulus kontradiktif dan kontra produktif dg yg
dari Yesus. Sadarlah @mBoong kalau kamu cuma dipakai oleh Yahudi
diantaranya yg namanya Paulus agar kamu lupa sama ajarannya Yesus lalu
nggebugi orang Islam. Utegmu kamu optimalkanlah. Kamu dan beo tetep
mikir yg Islam identik dg orang Arab. Padahal orang Arab juga Kristennya
banyak. Dasar.

--- In [email protected], "sunny" <ambon@...> wrote:
>
>
http://www.indonesiamedia.com/2011/05/04/kebengisan-atas-nama-islam-itu-\
bermula-dari-yang-ada-di-kepala/
>
> Kebengisan atas Nama Islam itu Bermula dari yang Ada di Kepala
> Posted on May 4 2011 by Ade Armando
> Di Indonesia, Islam menjadi nampak begitu menakutkan. Majelis Ulama
Indonesia, Menteri Agama, dan berbagai organisasiIslam nampaknya punya
sumbangan besar bagi radikalisasi keagamaan ini.
>
>
>
>
>
>
>
> Tak bisa lagi orang membela diri dengan mengatakan bahwa gagasan Islam
sebagai agama kekerasan adalah sekadar hasil skenario Barat atau
Zionisme internasional. Faktanya, kekerasan demi kekerasan terjadi di
Indonesia. Dari serangan terhadap gereja di berbagai kota, serangan
terhadap Ahmadiyah yang memakan korban nyawa, bom buku, bom masjid di
Masjid Mapolres Cirebon, bom Paskah yang ditemukan di Serpong, sampai
terbongkarnya jaringan Negara Islam Indonesia, menunjukkan bahwa ancaman
radikalisme Islam ini tidak main-main.
>
> Teori-teori sosial mengatakan radikalisme lazim hadir akibat rasa
ketertindasan ekonomi-politik. Namun untuk rangkaian contoh yang disebut
tadi, sulit melihat adanya keterkaitan dengan basis ekonomi. Para pelaku
dan mereka yang menggerakannya tidak nampak sebagai kaum yang tertindas
secara ekonomi maupun politik. Mereka bukan kalangan yang lazim disebut
kaum marjinal yang frustrasi. Sebagian yang terlibat adalah lulusan
perguruan tinggi atau bekerja di perusahaan modern.
>
>
>
> Karena itu, salah satu jawaban yang mungkin ada pada tataran gagasan.
Para pelaku aksi radikal ini melakukan tindakan kekerasan karena ada
gagasan di kepala mereka yang membuat mereka merasa wajib melakukan
kekerasan. Dan salah satu sumber yang paling potensial mendorong orang
melakukan kekerasan di luar batas normal tersebut adalah agama.
Tepatnya: penafsiran tentang agama.
>
> Analisis ini, misalnya, bisa ditarik dari hasil penelitian yang
dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip), Jakarta, pada
Oktober 2010 sampai Januari 2011 lalu tentang Radikalisme Islam dan
Toleransi. Respondennya mencakup 590 guru agama dan 993 siswa kelas 8
sampai kelas 12.
>
> Hasil penelitian yang perlu dicermati antara lain adalah:
> - 23,6 persen guru dan 13,1 persen murid menyatakan kesetujuan atas
organisasi radikal (mungkin seperti FPI).
> - 62,7 persen guru dan 46,7 persen murid menolak berdirinya tempat
ibadah non-Islam di lingkungan mereka.
> - 21,1 persen guru dan 25,8 persen murid menganggap Pancasila tidak
lagi relevan sebagai ideologi negara.
> - 76,2 persen guru dan 84,8 persen murid menyetujui pemberlakuan
Syariat Islam.
> - 28,2 persen guru dan 48,9 persen murid bersedia terlibat dalam aksi
kekerasan terkait dengan agama dan moral.
> - 22,7 persen dan 41,1 persen murid bersedia terlibat dalam aksi
penyegelan serta pengrusakan rumah ibadat atau fasilitas milik aliran
keagamaan lain.
>
>
>
> Memang tak terlalu jelas metode penarikan sampel dan pengajuan
kuesioner yang dilakukan. Misalnya, apakah sampelnya diambil dari
seluruh sekolah di Jakarta, atau hanya di sekolah-sekolah tertentu. Atau
apakah sampel ditarik hanya dari mereka yang aktif dalam kegiatan
keagamaan atau dari seluruh siswa. Atau apakah wawancara dilakukan orang
per-orang, dengan pewawancara yang nampak netral (misalnya tidak
berjilbab), atau dilakukan beramai-ramai di sebuah kelas.
>
> Namun, apapun kelemahan metodologis yang mungkin ada, hasil di atas
tetap mencengangkan dan mengkhawatirkan
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke