http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/aceh-demokratis-gam-terbelah
Aceh Demokratis, GAM Terbelah Diterbitkan : 5 Mei 2011 - 3:06pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Aboeprijadi Santoso) Diarsip dalam: a.. Aceh b.. GAM c.. Husaini Hasan Pemimpin sempalan Aceh Merdeka yang berbasis di Stockholm, Swedia, Dr. Husaini Hasan, menyatakan Aceh sudah demokratis, tapi rakyat susah karena ulah para pemimpinnya. Pernyataan itu dikeluarkannya selagi ketegangan politik di Aceh meningkat menyusul kontroversi seputar gagasan Wali Nanggroe dan isu calon independen untuk Pemilukada Aceh. Aboeprijadi Santoso menemui Husaini Hasan di Amsterdam. Lama tak terdengar, kelompok Husaini, MP-GAM, yang menentang MoU Helsinki ini, bercita-cita Aceh merdeka melalui jalan damai dengan membangun jaringan baru dengan kelompok-kelompok Maluku dan Papua di Belanda. Jarang diketahui publik bahwa elit kelompok Aceh Merdeka yang belakangan menjadi Gerakan Aceh Merdeka GAM terbentuk dari kalangan mahasiswa kedokteran Universitas Sumatra Utara USU di Medan tahun 1970an. Mereka inilah yang kemudian bergabung dengan Hasan di Tiro yang datang dari Amerika memperkenalkan identitas kebangsaan Aceh dengan menggali sejarah Aceh. Demikian menurut Husaini Hasan, putra tokoh Darul Islam D.I. yang tewas di Sigli awal tahun 60an. Gubernur militer Aceh waktu itu, Daud Beuru'eh sudah menggagas R.I.A. Republik Islam Aceh. Ini terbukti dari buku Hasan Tiro "Atjeh Mata Donja" dan buku "Aceh Bersimbah Darah" karangan al-Chaidar. Sumber lain dari cita-cita kemerdekaan republik Islam yang menurut Husaini dikhianati dalam MoU Perdamaian Helsinki itu, adalah kalangan mahasiswa kedokteran USU tersebut. "Sebetulnya sumber dari Abu Hasbi itu. Abu Hasbi itu kan anaknya Abu Fauzi, dokter Muchtar. Kita tiga tahun berjuang itu sudah dapat mengangkat masalah Aceh itu ke tingkat internasional. Sehingga kita boleh duduk di luar negeri, maka itu hasil yang luar biasa. Perjuangan Aceh merdeka itu sudah berhasil mengangkat masalah Aceh ini menjadi masalah konflik antara dua bangsa, Indonesia dan Aceh. Sehingga kita boleh duduk sebagai dua bersaudara. Kalau ini sekarang malah dikembalikan ke propinsi Indonesia. Itu seperti dulu lagi". Ketegangan Meningkat Sementara itu di Aceh ketegangan meningkat menyusul gagasan kalangan eks GAM yang menginginkan Malik Mahmud menjadi pengganti Hasan di Tiro selaku Wali Nanggroe. Lebih dari itu, Aceh menjadi ramai sejak perpecahan eks-GAM antara faksi generasi muda yang telah sukses merebut kursi Gubernur bagi Irwandi Yusuf tahun 2006, di satu pihak, dan Partai Aceh yang memenangi kursi parlemen DPRA tahun 2009, di lain pihak. Keduanya kini berebut pengaruh menuju Pemilukada. Gubernur Irwandi yang ingin tampil kembali melalui jalur independen, berpisah jalan dengan Wagub Mohamad Nazar, dan pertentangannya dengan Partai Aceh memuncak dengan insiden pembakaran kantor partai tsb. Menurut Malik Mahmud dalam sebuah tulisannya di media lokal, para pemimpin Aceh telah menyelewengkan pemerintahan. Husaini Hasan juga kecewa dengan perkembangan tsb. "Saya melihat Aceh ini sangat sedih tidak ada yang peduli kepada rakyat. Dulu kawan-kawan yang mereka bantu, sekarang seperti tidak kenal lagi. Kemudian bagaimana pemimpin-pemimpin sekarang ini hanya memikirkan proyek dan segala macam, duit, rumah besar. Padahal rakyat sendiri susah." Pujian Husaini melanjutkan, ia memuji rakyat yang boleh sendiri memilih pemimpin mereka. Tapi ia sendiri sedih melihat penyelewengan-penyelewengan pemimpin sendiri. Ia mengenang almarhum Wali (Hasan di Tiro) sebagai seorang guru, kawan seperjuangan. "Saya hormat kepada alm. Wali Hasan di Tiro. Ia merupakan orang yang cukup disiplin sebagai manusia. Hanya saya sedih karena begitu pengorbanan yang sudah dia lakukan tapi dia tak dapat mengecap hasilnya dan pada akhirnya anak-anak buah dia atau orang-orang yang diberikan keuntungan itu mengkhianati dia. Itu saya sedih." Jadi, Husaini meminta agar pemimpin Aceh memikirkan rakyat, anak miskin, janda, supaya mereka dapat hidup dan sekolah. Ia menyesalkan sekali GAM dibubarkan. "kalau tidak dilarang mengapa orang tidak boleh naikkan bendera GAM, bendera Aceh. Mengapa musti ditangkap seumur hidup atau sampai duapuluh tahun, malah orang di Lhok Sukon itu mereka ditembak mati." Yang terang, menjelang enam tahun perdamaian Aceh, Aceh lagi-lagi perlu menjaga kekompakan untuk memelihara perdamaian dan demokrasi. ends [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
