dana pemilu luar biasa, apakah ini yg bikin orang jadi rakus dan korup? :(

salam, heri latief
twitter: @herilatief



----- Forwarded Message ----
From: heri latief <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, May 11, 2011 8:51:07 PM
Subject: Olah Dana Komisi Olahraga


        * 09 Mei 2011
        * Olah Dana Komisi Olahraga  
TIGA tahanan itu meriung di ruang tahanan Kepolisian Daerah Metro  Jaya: Agus 
Condro, Komisaris Arafat Enanie, dan Daniel Sinambela. Mereka  menyimak 
pengakuan penghuni baru, Mindo Rosalina Manulang. Sabtu siang  tiga pekan lalu, 
Rosalina telah dua malam menginap di ruang tahanan. 

Direktur Marketing PT Anak Negeri itu ditangkap petugas Komisi  Pemberantasan 
Korupsi pada Kamis malam. Ia dituduh mengantar Mohammad  el-Idris, Direktur PT 
Duta Graha Indah-kontraktor proyek pembangunan  wisma atlet SEA Games XXVI di 
Palembang-menyerahkan duit suap kepada  Sekretaris Kementerian Pemuda dan 
Olahraga Wafid Muharam. 

Di ruang 2 x 3 meter, menurut Daniel Sinambela, Rosalina  mengatakan, "Saya 
akan 
dikorbankan." Memakai celana selutut abu-abu dan  kaus putih, ia menceritakan 
detail perkara yang menjeratnya. Matanya  sembap. Ia lalu mengatakan hanya 
menjalankan perintah Muhammad  Nazaruddin, pendiri PT Anak Negeri dan Bendahara 
Umum Partai Demokrat. 

Menurut Daniel, Rosalina bahkan menyebutkan keterlibatan anggota  Dewan 
Perwakilan Rakyat dalam perkaranya. Di antaranya Angelina Sondakh,  politikus 
Partai Demokrat yang menjadi koordinator anggaran Komisi  Olahraga Dewan, dan 
Wayan Koster, anggota komisi yang sama dari Fraksi  Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan. Keduanya dituduh berperan dalam  urusan anggaran proyek wisma 
atlet. 
Kata Daniel, Rosalina mengatakan,  "Komunikasi anggaran proyek ini dilakukan 
Nazaruddin lewat Angelina dan  Koster." 

Daniel, tersangka perkara penggelapan, siang itu didampingi  istrinya, penyanyi 
Joy Tobing. Agus, tersangka perkara suap dalam  pemilihan Deputi Gubernur 
Senior 
Bank Indonesia, dan Arafat Enanie,  terpidana perkara mafia hukum, terus 
mendengarkan. Begitu juga Kamarudin  Simanjuntak, yang ketika itu masih menjadi 
kuasa hukum Rosalina. Agus  Condro semula menduga perempuan itu serampangan 
menyebut Koster,  koleganya di PDI Perjuangan. "Tapi berulang kali ia 
menegaskan 
nama  Koster," katanya Kamis pekan lalu. 

Mengutip Rosalina, Kamarudin mengatakan Angelina dan Wayan Koster  merupakan 
"koordinator" untuk mengamankan anggaran proyek Rp 191 miliar  itu. Seorang 
anggota Dewan menjelaskan, dalam rapat komisi, tidak ada  pembahasan terperinci 
setiap pos anggaran Kementerian Pemuda dan  Olahraga. "Detailnya dibahas di 
badan anggaran," ujarnya. Nazaruddin  juga merupakan anggota badan anggaran 
itu. 

Angelina menyangkal keras terlibat perkara ini. "Demi Allah dan  anak saya, 
saya 
tak pernah minta jatah," katanya Jumat pekan lalu. Ia  menyebutkan semua 
keputusan komisi dibahas bersama. Wayan juga  membantah. "Semua proses 
penetapan 
anggaran untuk wisma atlet dilakukan  secara terbuka dan transparan," ujarnya. 
Ia pun menyatakan semua anggota  Komisi Olahraga dilibatkan. 

Adapun Nazaruddin belum bisa dimintai konfirmasi. Pertanyaan  tertulis yang 
dikirimkan lewat surat elektronik belum dibalasnya. Namun,  Kamis dua pekan 
lalu, ia mengirim pernyataan tertulis, membantah kenal  Rosa. "Saya juga tidak 
tahu-menahu soal kasus itu," katanya. 

l l l
KEPADA penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Rabu dua pekan lalu,  Rosalina 
secara gamblang menceritakan keterlibatannya dalam urusan  proyek wisma atlet. 
Itu dimulai pada Juni 2010, ketika ia diajak makan  malam bosnya, Muhammad 
Nazaruddin, di sebuah restoran makanan laut di  kawasan Senayan, Jakarta 
Selatan. Di situ ternyata sudah menunggu Wafid  Muharam, Sekretaris Kementerian 
Pemuda dan Olahraga. 

Ia mengatakan awalnya tidak mengetahui materi pembicaraan. Pada  saat makan 
malam, ternyata dibahas proyek wisma atlet SEA Games. Menurut  dia, seperti 
tertulis dalam dokumen pemeriksaan, Wafid ketika itu  bertanya, "Apakah ada 
perusahaan yang bisa menangani proyek wisma  atlet?" 

Menurut Rosalina kepada penyidik, Nazaruddin menjawab,  "Perusahaan BUMN sudah 
bagus-bagus. Duta Graha Indah juga sangat  recommended mengerjakan proyek ini." 
Nazaruddin lalu memerintahkan Rosa  "membawa" Duta Graha Indah ke Wafid: "Siapa 
tahu ada yang bisa  dikerjakan." 

Sepekan setelah itu, Mohammad el-Idris, Direktur Duta Graha,  datang ke Gedung 
Tower Permai, Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan,  tempat sejumlah perusahaan 
Nazaruddin berkantor. Ia minta dikenalkan  dengan Wafid. Rosalina mengiyakan, 
lalu mengantarkan Idris dan Dudung  Purwadi, Direktur Utama Duta Graha, ke 
kantor Wafid. Sang Sekretaris  Kementerian setuju Duta Graha perusahaan yang 
"bagus" dan "akan  dipertimbangkan untuk menggarap proyek wisma atlet". 

Beberapa hari kemudian, Rosalina dipanggil Nazaruddin ke  kantornya di lantai 6 
Gedung Tower Permai. Dia dimintai laporan soal  pertemuan Idris dengan Wafid. 
"Berapa success fee-nya kira-kira, Ros,"  kata Nazaruddin menyela. "Belum ada 
pembicaraan, Pak," jawab Rosalina,  seperti tertulis dalam dokumen pemeriksaan. 

Proses lelang proyek wisma atlet digelar Kementerian Pemuda dan  Olahraga pada 
pertengahan tahun lalu. Seperti yang sudah diduga, tanpa  hambatan, Duta Graha 
tampil sebagai pemenang. 

Sumber Tempo mengatakan kemenangan perusahaan yang berkantor di  daerah 
Melawai, 
Jakarta Selatan, ini juga tak lepas dari campur tangan  Nazaruddin. Sebab, dari 
sisi penawaran harga dan kemampuan teknis, Duta  Graha kalah jika diadu dengan 
perusahaan negara. "Ada yang menekan  direksi-direksi BUMN untuk mundur dari 
lelang," katanya. 

Di depan penyidik KPK, Rosa mengaku Duta Graha menang karena  sanggup memberi 
komisi 15 persen dari nilai proyek. "Dua persen untuk  Wafid dan 13 persen 
untuk 
Nazaruddin," ujarnya. 

Semula, fee dua persen dinilai terlalu kecil oleh Wafid. Dia  sempat meminta 
lima persen. Namun Idris mengatakan hanya sanggup memberi  dua persen. "Lima 
persen terlalu besar, Pak," ujar Idris, seperti  ditirukan Rosa. 

Erman Umar, kuasa hukum Wafid, membantah ada permintaan fee itu.  "Dana itu 
pinjaman untuk dipakai sebagai dana talangan," katanya. 

Dua hari setelah Rosa memberikan keterangan "blakblakan" itu,  keterangannya 
berputar 180 derajat. Ia pun mencabut surat kuasa kepada  Kamarudin. Dalam 
pernyataan tertulis bermeterai, ia mengganti pengacara.  Ia kemudian menunjuk 
Djufri Taufik sebagai kuasa hukum. Berganti  pengacara, berganti pula 
keterangannya. "Saya bukan anak buah  Nazaruddin," ujarnya Kamis pekan lalu. 

Djufri mengatakan pengakuan soal keterlibatan Nazaruddin  diberikan karena 
Rosalina dalam kebingungan. "Setelah saya menjadi  pengacara, dia tidak pernah 
menyebut Nazaruddin," katanya. 

l l l
MUNCULNYA Nazaruddin dalam pusaran perkara semula tak dinyana Komisi  
Pemberantasan Korupsi. Menurut sumber Tempo, informasi penangkapan  Rosalina 
diperoleh kalangan dekat Nazaruddin tak lama setelah perempuan  itu dicokok 
KPK. 
Ada dugaan, ketika ditangkap dan diinterogasi, Rosalina  menghidupkan salah 
satu 
telepon selulernya sehingga "terpantau" sang  atasan. 

Kolega Rosalina di Gedung Tower Permai bergerak cepat. Sejumlah  tenaga 
pengamanan siaga satu di depan gedung. Beberapa orang lain  berusaha 
memindahkan 
dokumen menggunakan sejumlah mobil. Empat penyidik  Komisi Pemberantasan 
Korupsi 
yang bergerak ke kantor tersebut malam itu  menyetop satu mobil pembawa 
dokumen. 
Malam itu Gedung Tower dijaga  beberapa lelaki berperawakan sangar. 

Sumber yang sama mengatakan Albert Panggabean, orang dekat  Nazaruddin, sempat 
turun dan adu mulut dengan penyidik. "Namun akhirnya  dokumen penting berisi 
cek 
dan dokumen lelang dapat diselamatkan KPK,"  katanya. Saat dimintai konfirmasi, 
Albert membantah. "Tidak ada itu,"  ujarnya. 

Menyadari tengah berhadapan dengan bukan "orang sembarangan",  keesokan harinya 
KPK datang lagi ke Gedung Tower membawa pasukan Brimob  berbekal surat perintah 
penggeledahan. Dalam aksi pagi itu, KPK menyita  sejumlah dokumen. 

Bagaimanapun, posisi Nazaruddin sebagai petinggi partai membuat  petinggi KPK 
ekstra-hati-hati. Tiga hari setelah penggerebekan Gedung  Tower, semua petinggi 
komisi antikorupsi itu masuk kantor pada akhir  pekan. Mereka menggelar rapat. 
Dimulai Sabtu siang, rapat berakhir Ahad  pukul 01.00 dinihari. Dalam rapat 
itu, 
mereka menghitung risiko bila  perkara ini betul-betul merembet ke Nazaruddin. 

Adapun Nazaruddin tak tinggal diam. Pada 26 April lalu, dia  mengirim pesan ke 
telepon seluler Ade Raharja, Deputi Penindakan KPK.  Isinya bernada mengancam: 
"Saya tahu Anda main di kasus lain, hati-hati  akan saya bongkar." Pesan itu, 
menurut sumber Tempo, dikirim dari nomor  telepon Nazaruddin. 

Ade Raharja tak membalas pesan itu. Wakil Ketua KPK Chandra M.  Hamzah juga 
dikirimi pesan. Tapi, menurut sumber itu, pesannya tak  bernada ancaman. 

Ancaman lebih keras buat Chandra diterima pada pekan terakhir  April. Ia 
tiba-tiba dihampiri seseorang yang menuduhnya menerima sogokan  Rp 25 miliar. 
Orang yang sama mengancam akan menyebarkan rumor itu.  Ketua KPK Busyro 
Muqoddas 
tak lepas dari ancaman. Ia didatangi seseorang  yang menuduhnya pernah menerima 
Rp 10 miliar. 

Pada Ahad 1 Mei, petinggi KPK menggelar rapat lagi yang berakhir  pada pukul 
01.00 dinihari. Dalam rapat itu, mereka kembali membahas  Nazaruddin dan 
perkembangan kasus wisma atlet. Di sela-sela itu,  terlontar pula obrolan soal 
ancaman Nazaruddin. Menghadapi petinggi  partai, sempat muncul kekhawatiran 
bahwa serangan balik akan kembali  datang-seperti pernah terjadi sebelumnya, 
yang kemudian dikenal sebagai  "Cicak versus Buaya". 

Pembahasan Nazaruddin digelar lagi esok harinya. Rapat Senin itu  juga berakhir 
pukul 01.00. Ketika dimintai konfirmasi, Chandra menolak  berkomentar. Adapun 
Ade Raharja tidak membantah ataupun membenarkan.  Melalui telepon seluler, ia 
hanya menulis pesan pendek: "Hehehe...." 

Setri Yasra, Anton Septian, Anton Aprianto, Fanny Febiana 
________________________________
 
Noda Sebelum Pesta 
Enam bulan lagi, pesta olahraga Asia Tenggara dilaksanakan di  Tanah Air. 
Sebagian besar atlet negara tetangga bakal menempati wisma  atlet di kawasan 
Jakabaring, Palembang. Sayang, pembangunan wisma bagi  para olahrawagan ini 
ternyata diwarnai kasus suap yang terjadi tiga  pekan lalu. Politikus, 
birokrat, 
dan pengusaha ikut menodai pesta ini  jauh sebelum dihelat. 

SOUTH EAST ASIAN GAMES XXVI 
        * Diadakan di dua kota: Jakarta dan Palembang Sedangkan Para Games VI 
(ajang 
kompetisi bagi atlet difabel) diadakan di Solo, Jawa Tengah 

        * Waktu pelaksanaan: 11-25 November 2011 
        * Cabang Olahraga: 44 cabang (SEA Games), 10 cabang (Para Games) 
        * Peserta: Lebih dari 5.000 atlet dari 11 negara 
WISMA ATLET BERMASALAH 
        * Lokasi Pembangunan: Kawasan Jakabaring Sport City, Palembang 
        * Nilai Proyek dalam pagu: Rp 197,7 miliar 
        * Biaya dari PT Duta Graha Indah: Rp 191,672 miliar (laporan Kemajuan 
Pembangunan Fisik dan Rehabilitasi Arena SEA Games XXVI tanggal 2 Februari) 

        * Target penyelesaian: Akhir Juli 2011 
Fisik bangunan:
Terdiri atas tiga gedung: Blok A, Blok B, dan Blok C. 
        * Semua gedung berlantai tiga. 
        * Tiap blok terdiri dari 123 kamar. 
        * Total 369 kamar dibangun. 
        * Tiap kamar berukuran 5,5 x 8 meter. 
        * Daya tampung: 3.000 ribu atlet peserta SEA Games. 
________________________________
 
KRONOLOGI KASUS 
Juni 2010
Nazaruddin bersama Rosa bertemu dengan  Sekretaris Kementerian Pemuda dan 
Olahraga Wafid Muharam. Nazaruddin  merekomendasikan PT Duta Graha Indah untuk 
membangun wisma atlet di  Jakabaring, Palembang. 

Awal Desember 2010
Duta Graha Indah memenangi tender di Kementerian Pemuda dan Olahraga. 
25 Desember 2010
Tiang pancang wisma atlet didirikan. 
20 April 2011
Mohammad el-Idris merencanakan pembagian komisi untuk Wafid. Sepekan 
sebelumnya, 
Wafid meminta komisi ke Idris melalui Rosa. 

21 April 2011
Pukul 16.00: Idris dan Rosa menemui Wafid di kantor Kementerian Pemuda dan 
Olahraga. Di sini Idris 
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2011/05/09/LU/mbm.20110509.LU136641.id.html

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke