Memperingati Kebangkitan Nasional Dengan

Jiwa Revolusioner Bung Karno





Sebentar lagi bangsa kita akan merayakan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei.
Peringatan iini untuk mengenang jasa para pemuda, yang dengan diprakarsai Dr
Sutomo mendirikan organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 8 Mei 1908.
Organisasi inilah yang merupakan cikal bakal lahirnya, di kemudian harinya,
berbagai organisasi pemuda, yang mencerminkan mulainya kebangkitan  bangsa,
seperti  (antara lain) Jong Java, Jong Sumatra,  Jong Celebes, Jong Ambon.



Lahirnya Boedi Oetomo telah menumbuhkan inspirasi  bagi banyak kalangan
untuk memperkuat gerakan melawan penjajahan Belanda, antara lain dengan
lahirnya  Sarekat Dagang Islam (tahun 1911) yang kemudian menjadi Sarekat
Islam (1913).  Jadi, meskipun Boedi Oetomo bukan organisasi politik, dan
lebih bersifat sosial, ekonomi dan kebudayaan, namun telah menggugah
kesedaran politik berbagai kalangan waktu itu.



Ini kelihatan dari lahirnya Partai Komuns Indonesia (PKI) pada tanggal 23
Mei 1920, setahun lebih dahulu dari pada Partai Komunis Tiongkok.
Pembrontakan PKI dalam tahun 1926 melawan kolonialisme Belanda adalah
lanjutan atau pengembangan jiwa kebangkitan bangsa yang telah dicetuskan
oleh Boedi Oetomo ;



Kebangkitan bangsa yang dirintis oleh Boedi Oetomo ini lebih menonjol lagi
dengan berlangsungnya Kongres Pemuda se Indonesia dalam tahun 1928 yang
melahirkan Sumpah Pemuda (Satu bangsa, satu tanahair, satu bahasa) yang
menjadi kebanggaan sebagai pemersatu bangsa Indonesia, sampai sekarang ini.
Entah berapa puluh ribu jiwa yang telah dikorbankan untuk itu semua,
sehinggga bangsa kita bisa merdeka.



Keadaan negara yang serba rusak dan membusuk


Oleh karena itu,  memperingati Hari Kebangkitan Nasional adalah tugas atau
kewajiban penting bagi bangsa kita. Ini dalam rangka pendidikan bangsa,
untuk melaksanakan nation building and character building yang selalu
digandrungkan Bung Karno. Sebab, kita semua harus mengakui terus terang
terang,dan jujur ( !!!) , bahwa bangsa dan negara kita  -- sudah sejak era
Orde Baru  – dalam keadaan rusak, membusuk, ambur adul, brengsek, kacau,
kehilangan arah, kehilangan kepemimpinan nasional, kehilangan harga diri.



Melihat segala hal yang negatif tentang negara dan bangsa kita dewasa ini
kita bisa bertanya-tanya apakah negara dan bangsa semacam yang kita saksikan
dewasa inikah yang dulu dicita-citakan bangsa sejak lahirnya Boedi Oetomo,
Sarekat Islam, Partai Komunis Indonesia, Partai Nasional Indonesia, Sumpah
Pemuda, lahirnya Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dan revolusi 17 Agustus
45 ?



Kerusakan moral di kalangan pejabat-pejabat tinggi (eksekutif, legislatif,
dan judikatif) dan kebejatan rohani di kalangan para tokoh dan pemuka di
berbagai bidang (organisasi kemasyarakatan dan agama) sudah  sedemikian
luasnya dan parahnya, sehingga sulit diperkirakan bisakah dan kapankah  dan
bagaimanakah kerusakan  yang begitu hebat ini diperbaiki ???



Barangkali sulit kita temukan di Indonesia sekarang ini adanya pakar-pakar
segala ilmu politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan (termasuk agama) atau
« tokoh-tokoh » yang bisa menjawab pertanyaan yang begitu besar dan penting
ini. Yang jelas adalah bahwa kerusakan atau pembusukan sudah begitu meluas
dan begitu besar, sehingga tidak bisa diatasi atau diperbaiki dalam tempo 5
atau 10 atau 15 tahun, dengan cara-cara biasa dan oleh orang-orang sejenis
yang memegang kekuasaan dan pengaruh seperti sekarang ini.



Perjalanan bangsa yang panjang dan berliku-liku


Dengan memperingati  Hari Kebangkitan Nasional ini kita melihat betapa
panjangnya dan sangat berliku-likunya perjalanan bangsa Indonesia untuk
mencapai kemerdekaan nasional. Begitu banyak pengorbanan yang telah
diberikan oleh banyak pejuang dari berbagai golongan, suku, agama, sejak
didirikannya Boedi Oetomo, sampai proklamasi 17 Agustus 45.



Peringatan Kebangkitan Nasional kali ini adalah kesempatan yang baik sekali
untuk merenungkan itu semua, dan mencoba memandang masa depan bangsa dan
negara kita, di tengah-tengah situasi dunia yang mengalami banyak pergolakan
dan menyongsong adanya perubahan, baik di negara-negara Arab atau  di Timur
Tengah, Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Latin.



Kita semua melihat bahwa Tiongkok yang pernah dimusuhi oleh rejim militer
Suharto puluhan tahun sekarang menjadi kekuatan polilik, ekonomi dan militer
yang tidak bisa diremehkan di dunia. India yang pernah juga dianggap negara
yang miskin dan terbelakang sekarang sudah bangkit juga. Amerika Latin yang
dalam jangka lama  menjadi daerah « setengah jajahan » AS sekarang menjadi
kekuatan yang tidak bisa dipermainkan lagi oleh AS (ingat kasus Kuba,
Venezuela, Bolivia, Brasilia, , Nicaragua).



Ketika di Indonesia ada kalangan-kalangan yang ingin merobah NKRI dan
menggantikannya dengan Negara Islam Indonesia yang  menjalankan Syariah
Islam, maka jelaslah cita-cita semacam itu bertentangan sama sekali atau
merupakan pengkhianatan terhadap isi dan tujuan perjuangan bangsa, yang
terdiri dari macam-macam suku, golongan, agama, yang dimulai sejak
berdirinya Boedi Oetomo, dan dipimpin oleh Bung Karno sampai wafatnya.



Bung Karno adalah lambang raksasa kebangkitan nasional


Bung Karno adalah cermin yang gamblang sekali dari jiwa atau isi seluruh
perjuangan bangsa sejak Boedi Oetomo. Jiwa Boedi Utomo terdapat dalam kalbu
Bung Karno , seperti halnya jiwa Sarekat Islam, Partai Komunis Indonesia,
Partai Nasional Indonesia. Bung Karno adalah lambang kebangkitan bangsa yang
tidak bisa dibantah. Bung Karno dan kebangkitan nasional adalah satu dan
satu jiwa.Karenanya, memperingati Hari Kebangkitan Nasional tetapi tanpa
mengangkat peran besar dan kedudukan penting Bung Karno bagi bangsa, adalah
salah secara politik dan nista secara moral serta khianat secara historis
!!!



Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional adalah penting untuk mengingat
kembali dan menjiwai segala ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno. Sebab
ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno adalah kelanjutan dan pelaksanaan isi
atau jiwa kebangkitan nasional. Dengan memegang teguh ajaran-ajaran
revolusisoner Bung Karno berarti juga bahwa kita semua menolak segala isi
dan tujuan rejim militer Suharto dengan Orde Barunya (dan Golkarnya !).



Sebab, sekarang makin banyak bukti yang menunjukkan dengan jelas bahwa isi,
tujuan, dan praktek rejim militer Suharto adalah betul-betul bertentangan
atau pengkhianatan terhadap jiwa dan tujuan Kebangkitan Nasional, terhadap
jiwa revolusi 17 Agustus, terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Dan
pengkhianatan yang paling besar adalah sikap Suharto dkk terhadap Bung
Karno, serta dosa yang paling berat adalah dihancurkannya kekuatan pendukung
politik Bung Karno, terutama golongan kiri yang wakil utamanya adalah PKI.



Hari Kebangkitan Nasional dan ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno



 Peringatan Hari Kebangkitan Nasional akan menjadi ritual yang hampa atau
mati yang hanya berisi pidato-pidato yang kosong artinya atau rethorika yang
serba munafik dan upacara hura-hura yang penuh kepalsuan, kalau tidak  diisi
dengan penanaman ajaran-ajaran revolusioner dalam rangka nation building and
character building dan pemupukan semangat perjuangan untuk kepentingan
rakyat banyak.



Di antara ajaran-ajaran revolusioner itu adalah berbagai gagasan besar  Bung
Karno untuk terus-menerus menjebol dan membangun dalam rangka meneruskan
revolusi yang belum selesai menuju tercapainya masyarakat adil dan makmur
atau masyarakat sosialis à la Indonesia. Ajaran-ajaran revolusioner Bung
Karno ini dapat ditemukan dalam buku Dibawah Bendera Revolusi atau Revolusi
Belum Selesai, atau dalam berbagai buku yang banyak beredar sekarang ini.



Berlainan dengan masa era Orde Baru ketika ajaran-ajaran revolusioner Bung
Karno dilarang beredar dan  sulit didapat oleh umum, maka sekarang berbagai
kemungkinan sudah terbuka untuk mendapatkannya.





Ajaran Bung Karno : mengobarkan revolusi terus-menerus


Dengan makin rusaknya secara parah sekali berbagai bidang kehidupan  bangsa
dan negara seperti yang kita saksikan dewasa ini, maka kelihatan sekali
bahwa arah jalan yang sudah ditunjukkan Bung Karno dengan berbagai
ajaran-ajaran revolusionernya itu adalah satu-satunya arah yang benar.
Dengan ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno untuk terus-menerus mengobarkan
revolusi, maka kebangkitan nasional dapat digerakkan bersama-sama untuk
mengentaskan negara dan bangsa dari keterpurukan dan pembusukan sekarang
ini.



Sebab, kerusakan moral dan kebejatan akhlak yang melanda tanahair kita
sekarang ini sudah tidak mungkin lagi (sekali lagi : tidak mungkin !)
diperbaiki dengan segala macam apa yang dinamakan « reformasi », yang hanya
berupa tambal sulam dan palsu pula. Penyakit yang sudah begitu parah dan
begitu luas  itu hanya dapat diberantas dengan cara-cara revolusioner dan
oleh orang-orang atau golongan revolusioner dengan dipimpin oleh tokoh
revolusioner pula. Singkatnya : hanya dengan dengan revolusi.



Hebatnya kerusakan dan pembusukan negara dan  bangsa kita nyata sekali dari
banyaknya korupsi yang melanda dengan ganasnya di berbagai bidang kehidupan.
Beragam kasus menunjukkan dengan jelas keadaan yang menyedihkan dan
sekaligus memalukan bangsa, antara lain : kasus-kasus Bank Bali, Bank
Century, kasus Gayus Tambunan, rekening gendut pimpinan POLRI, banyaknya
jaksa dan hakim yang dihukum, daftar gubernur, bupati dan walikota yang
korup, persoalan gedung baru DPR, « studi banding » anggota-anggota DPR ke
luarnegeri, masalah pembelian pesawat udara oleh Merpati, korupsi di sekitar
SEA Games di Palembang, dan seabreg-abreg masalah besar lainnya.



Apalagi, keadaan yang sudah begitu busuk dan rusak itu diperburuk lagi
dengan ancaman bahaya dari bermacam-macam kalangan Islam radikal yang ingin
menggantikan NKRI beserta Pancasilanya dan Bhinneka Tunggal Ikanya  dengan
Negara Islam Indonesia dan Syariah Islam.



Padahal,  NKRI dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika-nya,  sudah
terbukti sejak lama merupakan bentuk dan isi yang paling cocok untuk
Indonesia, yang terdiri dari 17.000 pulau dan ratusan suku bangsa dan
bahasa-daerah, serta berbagai agama, kepercayaan, dan adat-istiadat ini.



NKRI dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah satu-satunya wadah
persatuan bangsa Indonesia, sedangkan kita sudah melihat bahwa usaha untuk
mendirikan NII sudah menimbulkan perpecahan dan permusuhan di berbagai
kalangan bangsa.



Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei, itu semua perlu
kita renungkan dalam-dalam, dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran
revolusioner Bung Karno sebagai penunjuk jalan untuk meneruskan revolusi.
Jalan lain tidak ada bagi bangsa kita.





Paris, 13 Mei 2011



A. Umar Said



* * *




































[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke