Ref: Terpenting data kemiskinan harus sesuai dengan kehendak rezim berkuasa, 
jadi tidak perlu berdasarkan kenyataan, karena kalau sesuai kenyataan akan 
seperti ucapan dalam bahasa Melayu kuno : "Potong hidung rusak muka".

http://www.antaranews.com/berita/258403/data-pemerintah-soal-kemiskinan-tidak-sesuai-kenyataan

Data Pemerintah Soal Kemiskinan Tidak Sesuai Kenyataan
Jumat, 13 Mei 2011 11:07 WIB | 

Jakarta (ANTARA News) - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik 
Indonesia, Poppy Dharsono, menilai data pemerintah yang menyatakan telah 
menurunkan angka kemiskinan di Indonesia hingga 13 persen tidaklah sesuai 
dengan kenyataan di lapangan.

"Dari kunjungan saya selama reses ke Provinsi Jawa Tengah, saya melihat banyak 
masyarakat miskin di desa-desa," kata Poppy Dharsono di Gedung MPR/DPR/DPD RI, 
Jumat.

Pada kunjungannya selama masa reses, Poppy mengaku dirinya datang ke desa-desa 
untuk melihat langsung kehidupan masyarakat desa, serta berdialog baik dengan 
petani, ulama, pelaku usaha kecil, pemerintah kecamatan, maupun dengan kalangan 
akademisi di dua kampus ternama di Jawa Tengah.

Dari seluruh dialog yang dilakukannya, Poppy mendapat jawaban yang seluruhnya 
menyatakan hal yang sama yakni penduduk miskin masih banyak dan bertambah 
banyak.

"Data pemerintah yang telah menurunkan angka kemiskinan di Indonesia terjadi 
karena adanya perbedaan definisi dan kriteria," kata anggota DPD RI dari daerah 
pemilihan Jawa Tengah ini.

Menurut dia, berdasarkan kriteria pemerintah, penduduk dikategorikan miskin 
jika berpenghasilan Rp6.000 per hari atau sekitar Rp180.000 per bulan.

Dengan kriteria tersebut, berdasarkan data pemerintah penduduk miskin di 
Indonesia saat ini ada sekitar 43 juta atau 13 persen.

Sedangkan berdasarkan data Bank Dunia, masih kata Poppy, kriteria penduduk 
miskin adalah jika berpenghasilan 3 dolar AS per hari atau Rp25.000 per hari 
atau Rp750.000 per bulan.

"Berdasarkan data tersebut, jumlah penduduk miskin di Indonesia lebih dari 100 
juta jiwa," katanya.

Menurut Poppy, adanya perbedaan definisi dan kriteria ini memberikan realitas 
jumlah penduduk miskin yang jauh berbeda.

Dengan demikian, lanjut Poppy, pernyataan pemerintah bahwa penduduk miskin 
terus menurun sejak 2004 hingga saat ini belum sesuai dengan realita di 
lapangan. 

Mantan pragawati ini juga menambahkan, kenyataannya banyak petani yang lahannya 
semakin sempit dan hasil panennya terus menurun.

Bahkan sejumlah daerah yang dulunya menjadi lumbung padi, seperti Sukoharjo dan 
Klaten, saat ini masyarakatnya justru mengkonsumsi beras miskin (raskin). 

Poppy berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib rakyatnya terutama 
yang tinggal di desa-desa, dengan memberikan pelatihan serta membangun industri 
yang dapat menyerap banyak tenaga kerja sesuai dengan karakter masing-masing 
daerah.

"Jika kemiskinan tidak segera diatasi maka ini dapat berpotensi memunculkan 
konflik sosial dan dalam jangka panjang bisa memicu disintegrasi bangsa," kata 
Poppy.

(ANTARA)

http://www.antaranews.com/berita/258610/mensos-program-pengentasan-kemiskinan-belum-maksimal

Mensos: Program Pengentasan Kemiskinan Belum Maksimal 
Minggu, 15 Mei 2011 01:27 WIB | 113 Views

 
Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri (kiri) ( ANTARA/Widodo S. Jusuf)

Batam (ANTARA News) - Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan hasil 
tenaga pendamping dalam program pengentasan kemiskinan melalui kelompok usaha 
bersama belum maksimal karena jumlahnya masih kurang.

"Jumlah pastinya saya belum tahu, tapi masih sangat kurang. Seharusnya setiap 
dua sampai lima kelompok ada satu pendamping kelompok usaha bersama (kube)," 
kata Menteri di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu.

Menteri mengatakan pendamping memiliki tugas memberikan arahan dan bimbingan 
hingga kube bisa mandiri.

Menurut Menteri, usaha pengentasan kemiskinan hanya sampai pada penyaluran 
bantuan ke masyarakat sasaran, sedangkan pelaksanaan kurang arahan dan 
bimbingan.

"Tanpa pendamping yang memberikan arahan akhirnya usaha mereka banyak yang 
gagal," kata dia.

Jufri juga mengimbau, setiap kepala daerah memiliki program sendiri dalam 
pengentasan kemiskinan yang disesuaikan dengan kondisi daerah setempat.

"Kepala daerah yang paling tahu daerah dan cara mengatasi kemiskinan di daerah 
mereka," kata dia.

Sekretaris Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan 
Kemensos Hartono Laras, mengatakan pada 2011 ada 125 ribu kepala keluarga yang 
menjadi sasaran program kube dengan total anggaran sekitar Rp430 miliar.

"Satu kelompok terdiri dari 10 kepala keluarga yang mendapatkan bantuan sebesar 
Rp20 juta," kata dia.

Hartono menambahkan, bila kelompok mampu menjalankan usahanya bantuan yang 
diberikan pada periode berikutnya menjadi Rp30 juta.(*)

Berita Terkait
  a.. Laporkan Perkembangan Program Kemiskinan Sesuai Fakta
  b.. Data Pemerintah Soal Kemiskinan Tidak Sesuai Kenyataan
  c.. Ical Ajak Elite Parpol Berdayakan Ekonomi Rakyat
  d.. Tentang Kemiskinan Kota dan Bagaimana Mengentaskannya
  e.. UU Fakir Miskin Diharapkan Rampung Tiga Bulan
Video
  a.. DPR Bahas Serius RUU Fakir Miskin


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke