http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/dari-aktivis-menjadi-jihadis-di-indonesia
Dari Aktivis Menjadi Jihadis di Indonesia Diterbitkan : 16 Mei 2011 - 3:03pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (www.ranesi.nl) Diarsip dalam: a.. jihadisme Aktivis Islam-politik tidak dengan sendirinya menjadi pejuang Islam atau Jihadis. Namun, melalui perkenalan dengan citra kezaliman terhadap kaum Muslim, mereka bisa mengalami guncangan moral, mengawali penalaran radikal, dan terdorong untuk melakukan sesuatu. Krisis dan gelora di masa muda inilah yang membuka tahap kognitif yang melahirkan jihadisme. Demikian Dr. Muhammad Najib Azca dalam disertasi antropologinya berjudul 'After Jihad', pada Universitas Amsterdam, pekan lalu. Menurut Najib, mantan aktivis Islam yang mendalami kisah sepuluh aktivis Islamis di Maluku dan Poso, ada tiga jenis jejaring Islam politik. Pertama, komuniti yang sekadar taat beragama (pious), kedua, mereka yang aktif politik, dan ketiga, kelompok jihadis yang berjuang di lapangan dengan kekerasan. Yang ketiga ini berbahaya, namun yang kedua itulah yang mewarnai perjalanan bangsa. Aktivis islam Aktivis Islam politik tidak dengan sendirinya menjadi pejuang Islam atau jihadis. Namun melalui perkenalan dengan citra kezaliman terhadap kaum muslim, mereka bisa mengalami guncangan moral, mengawali penalaran radikal, dan terdorong melakukan sesuatu. Krisis dan gelora di masa muda inilah yang membuka tahap kognitif yang melahirkan jihadisme. Demikian Doktor Muhammad Najib Azca dalam disertasi antropologinya berjudul 'After Jihad' pada Universitas Amsterdam pekan lalu. Menurut Najib Azca, isu-isu yang selama ini agak diabaikan yaitu dinamika emosi dan kaitannya dengan identitas. Manarik kalau dilihat bahwa sebagian dari jihadis sebenarnya adalah orang yang biasa-biasa saja, bahkan sebagian berasal dari kalangan non santri dan abangan. Sebagian masih dalam usia remaja. Jadi ketika mereka datang dari kampung ke kota, Jogya misalnya, mereka bertemu dengan berbagai orang yang memiliki pikiran bermacam-macam, aliran Islam yang tidak mereka temukan di kampung. Tidak ada wahabi di kampung. Yang ada adalah kampung tradisional apalagi yang abangan. Di kota, mereka terekspos dengan dengan varian-varian pemikiran luar biasa yang mereka tidak pernah kenal. Periode seperti ini sangat kondusif. Dalam situasi krisis, mereka cenderung gampang menerima sesuatu yang baru. Padahal waktu itu kelompok-kelompok islam dari berbagai jaringan mulai dari teroris maupun radikal non teroris, misalnya konservatif, hanya dengan justifikasi fatwa maka mereka akan melakukannya. Kejutan moral Moral shock menjadi metode sangat ampuh. Terkadang training-training mereka juga menggunakan metode ini. Moral shock ini adalah peristiwa di mana mereka mendapatkan ekspose informasi atau gambar audio visual yang membuat mereka tergetar sensibilitas moral mereka. Dalam sejumlah kasus, itu adalah kasus transnasional. Jadi memang sebelum reformasi itu biasanya kasus-kasus luar negeri yang dibawa: Palestina, Irak, Afgan. "Saya sendiri kebetulan pernah ikut training di kelompok jihadis. Training mereka memang betul-betul didesain antara lain menyiapkan perangkat gambar-gambar yang mampu meneror audience dengan luar biasa. Ingin ditunjukkan betapa muslim di belahan dunia lain itu mengalami persekusi yang luar biasa, dramatik, sangat berdarah, dan sangat keji. Itu untuk merangsang goncangan moral sehingga 'saya harus melakukan sesuatu.' Dari tiga jihadis yang diteliti, semuanya punya pengalaman di luar negeri. Dua orang pernah di Afganistan, satu lainnya pernah di Mindanao, Filipina. Di antara tiga varian gerakan jejaring islam, yang memiliki karakter paling kuat untuk transnasional adalah jihadi. Ketiga orang tersebut pernah ikut dalam mobilisasi jihad di luar, di Afgan maupun Mindanao. Mereka pada dasarnya tergabung dengan Jemaah Islamiyah yang memiliki karakter transnasional. Tapi semuanya memiliki karakter tertentu transnasional. Yang kelompok politik, memang dimensi domestiknya lebih kuat baik itu FPI maupun PBB. PKS memiliki catatan lebih dibanding yang lain karena dia memang memiliki link lebih kuat lagi ke Ikhwanul Muslimin dll. Tapi yang lain lebih sangat lokal. Varian lokal FPI itu agak susah menarik garis langsung dengan gerakan transnasional karena dia lebih merupakan varian lokal. Untuk isu-isu tertentu mereka akan bersatu. Misalnya dalam menghadapi perang di Afganistan atau Irak. Mereka bisa sama. Tapi tidak dalam isu lainnya. Misalnya Habib Riziq menerima NKRI. Tapi Jemaah Islamiyah tidak ada yang namanya NKRI. Mereka tidak mengakui eksistensi itu. Walaupun mereka sama-sama bergerak di Ambon maupun Poso. Misalnya dalam isu Osama, mereka secara moral mendukungnya. Kita melihat dia sebagai mujahid. Ke depan, gerakan Islam politik yang akan paling banyak mewarnai Indonesia. Kelompok Islam jihadis, militan radikal dalam arti menggunakan kekerasan, mereka ini jumlahnya relatif kecil dan tidak mendapat dukungan luas di msayarakat. Kelompok politik ini menarik karena mereka mempengaruhi pembuatan hukum, perda-perda yang menurut mereka harus diislamisasi. Jumlah mereka cukup besar dan melakukan komunikasi luas di masyarakat, dibandingkan kelompok lain. Mereka juga melakukan rekrutmen tapi secara terbatas dan tertutup. Tentu saja tetap perlu diwaspadai terutama yang jihadis karena menghalalkan penggunaan kekerasan. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
