Beginilah orang yang tau diuntung dan tau berterimakasih. 
Mereka nggak perlu banyak cincong membanding-bandingkan 
negeri lain dengan kampung halamannya hanya untuk sekedar 
pamer kenorakan. 

Mereka bekerja keras di negeri lain lalu kembali ke tanahair 
untuk ikut membangun masyarakat di sekitarnya. 

- 

Kick Andy 
The Show
Jumat, 20 Mei 2011 
21:30:00 WIB 
KE TANAH AIR KAMI KEMBALI

Bekerja sebagai intelektual atau ilmuwan di luar negeri sering 
dinilai sebagai sebuah kebanggaan dan lebih menjanjikan, ketimbang 
berkarir di tanah  air. Tapi kenapa nara sumber Kick Andy yang 
berikut ini lebih memilih pulang kampung di saat mereka berjaya di 
negeri orang?

"Tantangan di sini lebih nyata bagi saya," ujar Warsito Purwo 
Taruno, doktor ahli tomografi yang sempat menjadi peneliti papan 
atas di Ohio University, Amerika Serikat. 

Warsito, lahir dari keluarga sederhana. Sejak kecil ia harus 
membantu ayahnya di sawah. Karena keterbatasan biaya, Warsito gagal 
berkuliah di jurusan kimia, UGM. Ia kemudian mendaftar beasiswa ke 
Jepang dan dan lulus. Di Universitas Shizuoka, Jepang, ia 
menyelesaikan pendidikannya sampai meraih gelar doctor. Setelah 
lulus, ia kemudian menjadi ahli tomografi di Jepang. Warsito kemudian 
sempat pindah ke Amerika Serikat dan menjadi salah satu peneliti 
papan atas di Ohio University. 

Dalam citra dan kesuksesan itu, rasa nasionalisme Warsito kembali 
tergugah. Anak dari lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah itu akhirnya 
memutuskan pulang kembali ke tanah air di tahun 2006. Ia meninggalkan 
laboratorium besar di Amerika dan memilih mengembangkan Ctech labs 
Edwar Technolgy, sebuah laboratorium yang mengisi sebuah ruko di 
kawasan Tangerang, Banten.  

Begitu juga halnya dengan Udaya Halim. Seorang pejuang kehidupan 
dan pendidikan asal Tangerang, Banten. 

Masa kecil udaya halim adalah sebuah perjuangan. Udaya hanya seorang 
anak yang hanya bersekolah sampai SMP setelah itu, anak ke 4 dari 8 
bersaudara itu harus menjadi pelayan toko di Pasar Baru.

Meski putus sekolah, udaya tak memupus harapannya untuk belajar, 
terutama belajar bahasa Inggris. Dengan memilah-milah uang sakunya, 
ia bisa memenuhi keinginannya untuk membayar kursus bahasa inggris.

Dengan perjuangan yang tak mudah, akhirnya udaya bisa berangkat dan 
belajar bahasa inggris di sekolah bahasa di Bournemouth yg bernama 
King's. Dengan upaya keras juga, akhirnya Udaya memiliki lembaga 
kursus yang diberi nama King's English Course. Dan di tahun 1992 
lembaga ini resmi menjadi perwakilan resmi King's England. Bukan saja
menjadi perwakilan di indonesia, tetapi juga menjadi business 
alliance, bahkan lembaga itu kini menjadi satu-satunya pemilik IBEC 
yang menjadi perwakilan resmi dari 25 universitas terkemukan di 
Inggris.

Saat kerusuhan terjadi tahun 1997, Udaya dan keluarga terpaksa hijrah 
ke Perth, Australia. Di sana ia belajar dan membuka usaha hingga 
sukses.

Meski punya pengalaman buruk dengan kerusuhan tahun 1997 itu, tapi 
Udaya tetap menunjukkan kecintaannya pada Indonesia.

Ia kembali ke tanah air tahun 2004 lalu, kemudian mendirikan sekolah 
yang diberi nama Prince's Creative School dan menjadi konsultan bagi 
anak-anak yang bermasalah. Ia bahkan menjual sahamnya di beberapa 
institusi di Perth, dimana ia menjabat sebagai direktur agar dapat 
lebih fokus mengembangkan sekolah ini.

Selain itu, Udaya merasa terpanggil untuk menyelamatkan bangunan 
bersejarah di dekat kelenteng Boen Tek Bio di kawanan cina benteng, 
tangerang, yang ia akan jadikan museum benteng heritage.

Sementara itu seorang pria asal Kota Apel Malang, Jawa Timur, yang 
memiliki karir cemerlang di kota big apel, New York, Amerika 
Serikat, tiba–tiba memutuskan berhenti dan pulang ke kampung 
halamannya.

"Waktu saya memutuskan berhenti dan kembali ke Indonesia banyak yang 
Tanya, are you crazy?" ujar Iwan saat tampil di Kick Andy. 

Dengan tenang, Iwan menceritakan bahwa tujuannya bekerja sampai ke 
New York, adalah untuk mencari uang agar bisa memiliki kamar tidur 
sendiri. Ini adalah obsesi terbesarnya. Maklum, Iwan adalah keluarga 
sederhana, ayahnya yang hanya sopir angkot tak cukup dana untuk bisa 
membuatkan kamar yang layak untuk anak-anaknya. Iwan tinggal di rumah 
berukuran enam kali tujuh meter, dimana ia harus berbagi tempat 
dengan orang tua dan empat saudari perempuannya.

Dengan susah payah dalam masalah pembiayaan, Iwan bisa lulus sekolah 
bahkan kuliah di IPB, Bogor. Dan dalam kurun waktu 4 tahun, kuliahnya 
selesai dan menjadi lulusan terbaik di tahun 1997.

Berkat upaya dan keinginan kuat untuk keluar dari kemiskinan 
keluarganya, ia berhasil mendapatkan pekerjaan di Amerika sebagai 
Senior manager operations. Selama sepuluh tahun menitih karier di 
negeri Paman Sam, ia akhirnya bisa menduduki jabatan bergengsi yaitu 
sebagai direktur internal client management data analysis and 
consulting nielsen consumer research New York, Amerika Serikat. 

Meski dalam perjalanan karir yang demikian bagus, tapi Iwan memilih 
jalannya sendiri. Iwan tinggalkan kota Big Apel New York, dengan 
segala kemeriahannya dan memilih kembali ke kota Apel Malang, Jawa 
Timur. "Di sini, saya ingin berterimakasih pada semua orang yang 
mendukung saya. Dan saya ingin melakukan sesuatu yang touch people," 
tegasnya.





------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke