----- Original Message ----- 
From: Meneer Tedoun 
To: undisclosed-recipients: 
Sent: Monday, May 23, 2011 6:30 PM
Subject: [mimbar-bebas] Lahirnya Partai Komunis Indonesia 23 Mei 1920 [5 
Attachments]


  
[Attachment(s) from Meneer Tedoun included below]
 

Sejauh penelitian yang ada, nama Sneevliet adalah pembawa ideologi komunisme 
dari Nederland dan disebarkan di Indonesia. Tidak hanya kepada orang Belanda di 
Indonesia, tapi juga orang Indonesia.

Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet. Lahir di Rotterdam, 13 Mei 1883. 
Sejak tahun 1902 ia sudah aktif dalam kehidupan partai politik. Waktu itu ia 
tergabung dalam Sociaal Democratische Arbeid Partij (SDAP) di Nederland sampai 
1909. Ketika keluar tahun 1909, Sneevliet aktif di dunia perdagangan. Di 
situlah ia memasuki wilayah Indonesia.


Tahun 1913 tokoh ini tiba di Indonesia. Ia sempat bekerja di harian 
'Soerabajaasch Handelsblad', Surabaya. Masih di tahun yang sama, ia pindah ke 
Semarang dan diangkat menjadi sekretaris di perusahaan bertajuk Semarangsche 
Handelsvereniging. Tahun 1914, Sneevliet mendirikan Indische Sociaal 
Democratische Vereniging atau ISDV. Organisasi politik yang tujuannya untuk 
memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Indonesia. Adalah majalah Het 
Vrije Woord yang menjadi corong propaganda ISDV. Beberapa tokoh Belanda yang 
juga aktif membantu Sneevliet adalah Bergsma, Adolf Baars, Van Burink, 
Brandsteder dan HW Dekker. Di kalangan pemuda Indonesia tersebut nama-nama 
Semaun, Alimin dan Darsono. Juga buruh buruh kereta api dan trem yang bernaung 
dibawah organisasi Vereniging van Spoor Tramweg Personal (VTSP).

Semula Semaun, Darsono dan Alimin adalah anak buah HOS Tjokroaminoto. Mereka 
terdaftar sebagai anggota Central Sarekat Islam (CSI) di Surabaya sejak 1915. 
Setelah cukup dekat dengan Sneevliet, ketiganya memutuskan pindah ke Semarang. 
Tempat di mana Sneevliet mendirikan ISDV. Di Semarang, mereka menjadi pimpinan 
SI lokal. Karena sikap dan prinsip komunisme mereka yang semakin radikal, 
hubungan dengan anggota SI lainnya mulai renggang. Bahkan saat kongres ketiga 
di Bandung, Semaun dengan lantang dan terang-terangan menentang agama sebagai 
dasar pergerakan SI. Akibatnya SI pecah menjadi SI Putih yang dipimpin HOS 
Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdul Muis. Di sisi lain ada SI Merah yang 
dikepalai Semaun dan teman temannya.

Sneevliet dan teman teman Belandanya memperluas pengaruh mereka ke kalangan 
yang memiliki posisi penting. Militer yang waktu itu personilnya sekitar 25.000 
termasuk yang diincar Sneevliet. Yang 'digarap' Sneevliet adalah 
serdadu-serdadu angkatan darat. Angkatan laut digarap Brandsterder. Semaun, 
Darsono dan Alimin ditugaskan mempropaganda ke kalangan rakyat yang menjadi 
anggota SI.

Pemerintah Hindia Belanda yang mulai mengangkap gelagat tidak baik ISDV dengan 
propaganda komunisnya, menangkap Sneevliet dan mengusirnya dari Indonesia. 
Adapun ISDV yang sudah kehilangan pemimpin-pemimpin akibat diusir dari 
Indonesia, juga mulai dijauhi masyarakat karena sikap mereka yang seringkali 
radikal dan membuat jengkel masyarakat. Maka dari itu Semaun mengganti ISDV 
menjadi Partai Komunis Hindia pada 23 Mei 1920. Tujuh bulan kemudian, partai 
ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Ketuanya Semaun.

Tokoh kiri yang tidak kalah peranannya adalah Tan Malaka. Ia lahir di Gadang, 
Sumatera Barat. Saat berumur 16 tahun, Tan dikirim ke Nederland. Tahun 1919 ia 
kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. 
Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh 
dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan muda. Tahun 1921, ia 
pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun. Oleh Semaun, ia diserahi tugas 
'mulia' untuk membina dan mengajari generasi muda setempat dengan paham 
komunisme di sebuah sekolah. Sekolah ini kemudian diberi nama 'Sekolah Tan 
Malaka'.

Murid yang dianggap berprestasi akan direkomendasikan menjadi pengurus PKI. Di 
saat-saat kosong atau hari hari khusus mereka ditugaskan untuk melakukan 
propaganda dikampung-kampung. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka 
diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke 
Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke 
Berlin, Moskow dan Nederland.

Selain menyusup ke kalangan masyarakat, PKI juga terang terangan menuliskan 
agitasinya lewat media massa. Tak sedikit media yang berkedok Islam, padahal di 
belakangnya komunis. Di antaranya yang terbit di Semarang seperti 'Sinar 
Hindia'; Soeara Ra'jat; 'Si Tetap'; dan 'Barisan Moeda'. Di Surakarta antara 
lain 'Islam Bergerak'; 'Medan Moeslimin; 'Persatuan Ra'jat Senopati'; dan 
'Hobromarkoto Mowo'. Di Surabaya ada 'Proletar', di Jogjakarta terkenal dengan 
'Kromo Mardiko' dan di Bandung dengan 'Matahari'; 'Mataram', 'Soerapati' dan 
'Titar'. Di Jakarta ada dua yaitu 'Njala' dan 'Kijahi Djagoer'.

Pada Kongres PKI tanggal 11-17 Desember 1924 di Kota Gede Yogyakarta, 
dibicarakan tentang rencana gerakan secara serentak diseluruh Indonesia. Yang 
menjadi 'kembang' di kongres kali itu bernama Alirahman yang mengusulkan 
diadakan gerakan revolusioner dengan membentuk kelompok-kelompok yang masing 
masing terdiri dari 10 orang. Tapi usulannya ini kurang begitu disambut, 
pimpinan PKI saat itu: Darsono.

Memang, dibanding rekan seangkatannya: Semaun, Darsono tergolong lunak. Dia 
tidak pernah menginginkan terjadinya pertumpahan darah, atau penggunaaan bom, 
teror dan tindakan radikal lainnya.

Nah, ketika para pendiri PKI seperti Darsono, Semaun dan Alimin sudah 
'hengkang' ke luar negeri, pimpinan pimpinan PKI pusat maupun daerah menjadi 
lebih radikal dan melakukan pemberontakan di berbagai tempat di Jawa.


Pemberontakan 1926


Saat itu yang menjadi Gubernur Jendral adalah Van Limburg Stirum. Yang menjadi 
ketua Serikat Islam Merah sekaligus PKI bernama: Muso. Dalam propaganda, PKI di 
bawah Muso selalu aktif mendatangi rumah-rumah penduduk. Lalu pemilik rumah 
disuruh membeli karcis merah seharga setalen. Ada juga yang harganya satu 
setengah gulden. Mereka yang telah membeli karcis ditunjuk untuk melakukan 
huru-hara tanggal 12 dan 13 November 1926. Penjara Glodok dan Salemba termasuk 
yang diserang. Juga rumah Gubernur Jendral Van Limburg. Pada hari yang sama, di 
tempat lain, seperti Banten, terjadi hal sama.. Di sana malah berlangsung 
sampai 5 Desember. Di Bandung sampai 18 November, Kediri sampai 15 Desember. 
Rencananya akan terjadi juga pemberontakan di Banyumas, Pekalongan dan Kedu. 
Tapi entah kenapa gagal.

Pemerintah Hindia Belanda langsung mengambil tindakan tegas. Tanggal 1 Desember 
1926, sebanyak 106 pemegang karcis merah dari Tanah Abang dan Karet digiring ke 
kantor Kabupaten di daerah Molenvliet (Gambir sekarang, red). Muso sendiri lari 
ke Rusia. Sebelumnya ia berada di Singapura bersama Alimin.

Orang-orang PKI melakukan serangkaian perusakan. Kantor telepon dan telegraf 
diserang. Rel kereta api di Banten dibongkar. Pemberontakan meluas juga sampai 
ke Padang dan Padang Panjang. Dari kalangan militer yang terlibat tertangkaplah 
Wuntu, seorang serdadu Menado. Saat itu ia dan lima orang rekannya hendak 
merampas sebuah bengkel di Bandung. Gembong-gembong PKI yang sudah ditangkap 
terlebih dahulu sebelum pemberontakan meletus adalah Darsono, Alirahman dan 
Marjohan. Sedangkan Alimin, pendiri PKI, sudah lebih awal ke Rusia.

Adapun Semaun yang lari dari Indonesia sempat mampir ke Leiden, Belanda. Di 
sana ia ikut dalam 'Perhimpunan Indonesia'-nya Mohammad Hatta dan Ahmad 
Subardjo. Karenanya pemerintah Belanda sempat menghubung-hubungkan peristiwa 
yang terjadi di Jawa dengan 'Perhimpunan Indonesia'. Bahkan Mohammad Hatta, 
Nazir Pamuntjak, Ahmad Subardjo dan kawan-kawannya sempat ditangkap dan 
diinterogasi. Tapi karena tidak terbukti ikut dalam gerakan komunis, mereka 
dilepas kembali.

Mengenai pemberontakan PKI tahun 1926 ini, ada versi lain yang ditulis oleh 
Bung Hatta. Dalam memoarnya ia menulis rencana pemberontakan itu sempat 
diperdebatkan di kalangan pengurus PKI. Semuanya setuju ada pemberontakan, 
kecuali Tan Malaka. Akhirnya, diutuslah Alimin dan Muso untuk meminta pendapat 
ke pihak Moskow. Bukannya mendapat persetujuan, mereka malah dimaki Stalin. 
"Dasar kamu orang gila. Cepat pulang ke Indonesia dan batalkan rencana 
pemberontakan itu." Belum sampai ke-dua utusan tadi di Indonesia, pemberontakan 
sudah meletus.


Setelah kegagalan PKI tahun 1926, Semaun sempat bertemu dengan Hatta di Den 
Haag. Akhirnya kedua tokoh yang berbeda prinsip ini menyetujui konvensi 4 
pasal. Belakangan konvensi itu malah merugikan kedua belah pihak. Bung Hatta 
ditangkap dengan tuduhan mendirikan organisasi terlarang. Tapi melalui proses 
peradilan, Bung Hatta dilepaskan. Sedangkan bagi Semaun, konvensi ini ternyata 
tidak disetujui Stalin. Semaun malah dimusuhi dan memperoleh hukuman dari 
Stalin. Semaun mungkin lupa, dengan menandatangani konvensi ini berarti ia 
menempatkan gerakan komunis berada di bawah gerakan nasionalis. Ia 
diperintahkan untuk membatalkan konvensi itu dihadapan pers internasional. Ia 
melakukan hal tersebut. Setelah itu ia dibuang ke Semenanjung Krim.





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke