SEIRING berkobarnya revolusi Arab saat ini, sikap Barat dalam mendukung 
revolusi itu kerap ditengarai bertujuan menguasai minyak. Tuduhan itu khususnya 
dilayangkan terhadap aksi militer NATO di Libya saat ini. Tuduhan serupa pernah 
dialamatkan kepada AS dan Inggris ketika menginvasi Irak tahun 2003.

Tuduhan tersebut sesungguhnya masih bisa dipertanyakan kebenarannya meskipun 
tidak sepenuhnya salah.

Sebagian besar ekspor minyak dunia Arab memang ke Barat, tetapi tetap dalam 
konteks transaksi dagang normal secara saling menguntungkan. Contoh kasus, 
minyak Libya. Sebanyak 83 persen ekspor minyak Libya pada era Moammar Khadafy 
diekspor ke dunia Barat, dengan perincian 77 persen ekspor ke negara Eropa dan 
6 persen ke AS. Sisanya dikirim ke China, Brasil, dan negara lain.

Volume ekspor minyak Libya ke dunia Barat pasca-tumbangnya Khadafy dipastikan 
tidak akan berubah. Artinya, Barat sudah menguasai pasar minyak Libya, baik 
pada era Khadafy maupun jika Khadafy tumbang.

Jika logikanya demikian, buat apa Barat—dalam hal ini NATO—bersusah payah 
dengan biaya besar menggebuk mesin militer Khadafy hanya untuk minyak. Toh, 
Barat sudah menguasai pasar minyak Libya pada era Khadafy selama ini.

Bahkan, Khadafy menawarkan untuk melakukan transaksi kembali penjualan minyak 
yang lebih menguntungkan Barat asalkan dia tetap diberi kesempatan berkuasa di 
Libya. Namun, Barat menolak tawaran Khadafy, dan sebaliknya mendukung kubu 
oposisi (Dewan Nasional Transisi/TNC) yang berbasis di Benghazi.

Contoh kasus lain adalah minyak Irak. Ketika Pemerintah Irak membuka 11 tender 
proyek investasi di sektor minyak pada awal tahun 2009, sebagian besar 
perusahaan yang memenangi tender justru bukan dari Barat, melainkan dari China, 
Turki, Rusia, Jepang, Korea, dan Malaysia.

Pemerintah Irak pun mendapatkan keuntungan lebih besar dalam transaksi tersebut 
dibandingkan keuntungan yang diraih Pemerintah Irak pada era Saddam Hussein.

Selain itu, transaksi Pemerintah Irak dan perusahaan-perusahaan minyak itu 
dilakukan secara terbuka dan transparan, dengan disiarkan langsung oleh media 
elektronik. Berbeda dengan transaksi investasi minyak pada era Saddam Hussein 
yang selalu dilakukan secara tertutup karena dianggap bagian dari keamanan 
nasional.

Jika aksi AS dan Inggris menggulingkan Saddam Hussein hanya untuk tujuan 
menguasai minyak sepenuhnya, maka tujuan itu gagal dicapai.

Bahkan, AS gagal menekan kekuatan-kekuatan politik di Irak agar menyetujui 
kesepakatan mekanisme pembagian devisa dari minyak antara pemerintah pusat dan 
provinsi. Sebagian kekuatan politik di Irak masih curiga ada pihak-pihak asing 
yang akan memanfaatkan peluang itu jika kesepakatan pembagian devisa tersebut 
disetujui.

Pada era Presiden George W Bush, malah ada seorang senator ekstrem dari Partai 
Republik yang meminta Presiden Bush agar menguasai langsung sumur-sumur minyak 
di Irak setelah AS menumbangkan rezim Saddam Hussein pada tahun 2003. Namun, 
Presiden Bush menolak permintaan itu.

Kebijakan klasik

Meski demikian, bukan berarti AS dan Barat sama sekali mengabaikan nilai 
strategis minyak itu. Dalam kebijakan klasik AS dan Barat di Timur Tengah 
sangat dikenal bertumpu pada dua hal sakral yang harus dilindungi berapa pun 
mahal harganya yang harus dibayar, yaitu keamanan Israel dan minyak.

Dalam konteks isu minyak, AS dan Barat memilih tidak menguasai langsung 
sumur-sumur minyak seperti era kolonial dulu, tetapi bertumpu pada terwujudnya 
dua hal. Pertama, terjaminnya arus suplai ekspor minyak tanpa kendala apa pun 
dengan harga yang rasional dari Timur Tengah ke pasar Barat. Kedua, amannya 
sumur-sumur minyak dari kontrol atau pengaruh langsung kekuatan internasional 
atau regional anti-Barat.

Dua hal tersebut sudah dinikmati Barat secara penuh pada era pemerintahan 
diktator selama ini, tetapi belum tentu pada era demokrasi nanti.

Inilah bagian dari tujuan perjuangan Barat mendukung sekuat tenaga revolusi 
Arab yang sudah tak bisa dibendung lagi, yaitu tetap terwujudnya dua hal 
tersebut pada era demokrasi nanti. Dari sini, kita bisa memahami mengapa 
Presiden AS Barack Obama dalam pidato hari Kamis pekan lalu menekankan sangat 
mendukung revolusi Arab. (Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir)



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke