http://www.indonesiamedia.com/2011/05/25/ulasan-mengenai-identitas-indonesia-etnis-tionghoa/

ULASAN MENGENAI IDENTITAS INDONESIA ETNIS TIONGHOA
Posted on May 25 2011 by Radio Netherland/IM 


Tiga belas tahun pasca Tragedi Mei 1998. Tragedi yang menorehkan luka 
diskriminasi terhadap warga etnis Tionghoa. 13 tahun lalu, mereka jadi tumbal, 
sasaran kekerasan. Proses hukum mandek, tapi harapan akan keadilan terus 
tumbuh. Reporter KBR68H Johana Purba berbincang dengan etnis Tionghoa, 13 tahun 
setelah Reformasi, soal'menjadi Indonesia'.

"Diumumkan di Masjid, siapa yang anaknya tidak pada pulang, jangan diharap 
hidup, anaknya sudah pada mati." Tiga belas tahun lalu, Ruminah mendapatkan 
kabar kematian putranya, Gunawan, dari pengumuman di masjid. Anaknya tewas pada 
peristiwa kerusuhan Mei 1998 di sebuah pusat




perbelanjaan daerah Klender, Jakarta Timur. Ruminah tak lelah mencari. 
Mendatangi pusat perbelanjaan yang dibakar massa, kantor polisi, sampai ke 
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Di situ ia hanya bertemu baju, ikat pinggang 
dan cincin milik Gunawan. Tak ada jenazah. "Cincin, gespernya Gunawan, dan 
ukirannya itu ukiran dia. Pokoknya bawa pulang, mungkin ini kali (buktinya)."

Di kampung Ruminah, ada 7 anak yang jadi korban pembakaran pusat perbelanjaan 
tersebut. Ibu-
ibu kerap berkumpul dan lantas membuat paguyuban tahun 2001. Mereka juga 
membentuk Kampung
Kenangan Mei 1998 di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Di situ ada 
prasasti untuk mengenang mereka yang tewas dalam kerusuhan. Tingginya sekitar 2 
meter, berupa tonggak dan sebuah wadah lingkaran berisi sebuah gambar jarum dan 
benang merah. Di situ tertulis: Untuk Mengenang Gunawan dan Korban Mei 98. 
"Karena kalau ibu-ibu kan hatinya masih luka, ada benangnya merah. Dan ada 
puteran, bunder. Nah itu, jarum untuk mengobati luka. Luka Mei 98 kan lebar, 
dalam. Tetapi dijahit sedikit-sedikit. "



Peristiwa Mei 1998 juga masih membekas di hati Ester Jusuf, aktivis HAM dan 
advokat etnis Tionghoa. Dia memang tak merasakan rumahnya dibakar massa, 
terluka atau diperkosa. Tapi ia tekun memberikan pendampingan kepada para 
korban Tragedi Mei 1998. "Yang menyerah banyak, sudahlah itu masa lalu, tidak 
mau membicarakan lagi. Bahkan ada yang begitu diperlihatkan satu buku Mei 98, 
tidak mau lihat. Banyak yang setelah 98, mereka bangkit lagi. Ada berbagai hal 
lah, ada yang makin gigih dan bangkit secara lebih baik. Ada juga yang memang 
hancur."

Esther kini tengah merancang konsep Rumah Kenangan Mei. Bukan museum, tetapi 
rumah pengharapan. Untuk itu, Ester dan kelompok Solidaritas Nusa Bangsa giat 
menggalang dana. Baik dengan cara menjual produk hasil kerajinan korban Mei 
1998 atau mencari donatur. "Memang kita punya luka yang sama. Tetapi pijakan 
dari Rumah Kenangan Mei adalah harapan kita yang sama. Kita berharap masa depan 
yang lebih baik. Jadi Tragedi Mei 1998 itu biar jadi pelajaran yang tidak akan 
kita lupakan. Pesan yang terus menerus jangan terjadi lagi. Harapan, membangun 
bangsa yang lebih baik. Kalau 1998 ada kekerasan yang luar biasa, kita tidak 
tahu siapa dan masih dalam proses, tetapi jangan ada lagi."

Tan Swie Ling, bekas tahanan politik etnis Tionghoa. Dia dipenjara selama 13 
tahun karena dituduh komunis. Sekeluarnya dari penjara dia aktif dalam 
pergerakan warga etnis untuk menghapus diskriminasi. Kata dia, sejarah 
diskriminasi sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda sampai era kemerdekaan. 
Penjajah Belanda berurusan politik dagang dengan orang Tionghoa. Kemudian dalam 
Badan Penyelidik






Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, warga etnis Tionghoa masuk dalam 
kategori 'Timur Asing'bersama warga Arab dan India. Tan Swie Ling yakin, 
konflik antar etnis, termasuk dengan etnis




Tionghoa, adalah buatan penguasa. Motifnya: kekuasaan dan perdagangan, dengan 
mengorbankan
kelompok Tionghoa. "Jadi kerusuhan anti Tionghoa hanya pintu pembuka meledaknya 
instabilitas
plitik. Dia bukan sasaran pokok, dia hanya sebagai alat untuk bagaimana 
menyulut kebakaran di negeri ini. Ini sangat tergambar jelas pada saat mereka 
ingin menjatuhkan Soekarno pada tahun 1963, dan kemudian tahun 1965 juga lewat 
G30S, itu juga terjadi kerusuhan, semua itu lewat jalur sulut dulu Tionghoa. 
Termasuk tahun 98, karena posisi Tionghoa sebagai rumput kering."

Reformasi 1998 seharusnya jadi titik balik. Tak boleh lagi ada penyerangan dan 
diskriminasi terhadap etnis tertentu di negeri ini. Namun, tak mudah jadi 
Tionghoa di negeri ini, bahkan setelah tonggak Reformasi berdiri 13 tahun lalu. 
Agustinus Wibowo, lelaki 30 tahun etnis Tionghoa, menghabiskan separuh hidupnya 
di perantauan. Kuliah di Beijing, lantas bertualang di Afghanistan, Tajikistan, 
Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan dan lainnya. Perjalanan 
panjang ini membuat penulis buku "Garis Batas" dan "Selimut Debu" ini 
merefleksikan lagi identitasnya sebagai Tionghoa. Ia masih ingat ketika ia 
didatangi seorang warga lokal ketika kuliah di Beijing, Tiongkok.

KBR menanyakan sewaktu dia di Beijing ditanya "Kenapa orang orang membunuh 
bangsa Cina?",
Agustinus menjawab: "Kita dalam situasi apa, garis batas kita bergeser, 
identitas kita bergeser. Waktu aku kecil dalam kondisi hingar bingar 
diskriminasi, identitas yang mencuat adalah warna kulitku sebagai orang 
Tionghoa. Yang kemudian membuat aku sadar tentang sebuah identitas. Tetapi 
waktu aku ke Tiongkok, identitasku bergeser, aku bukan dianggap minoritas 
tetapi dianggap orang Indonesia dan ini mengaitkan dengan kejadian 98. Yang 
menurut orang Tiongkok itu sebuah tragedi terhadap ras mereka. Ya disini ada 
pergeseran identitas itu."



Ruminah yang lahir di Brebes, merasa harus menutup rapat identitasnya sebagai 
etnis Tionghoa. Baru tahun lalu ia berani terbuka soal identitas ini. Sejak 
bertahun-tahun lalu pindah ke Jakarta bersama suaminya, ia sering mendapatkan 
perlakuan kasar. Anak-anaknya juga kena getahnya. Karenanya ia sering tak 
mengaku sebagai etnis Tionghoa kepada orang yang baru dikenal. "Dulu lagi muda 
saya baru punya anak, kok saya dimusuhin mulu di Jakarta. Katanya 'Saya Cina 
Loleng, makan babi sekaleng, tidak habis ditempeleng.' Kadang saya gregetan 
dikatain melulu. Anak-anak saya juga begitu, sering diludahin dari atas. Anak 
saya enggak ada kan yang matanya sipit. Kalau itu suka diludahin sama orang di 
atas."

Tan Swie Ling juga pernah merasakan kerasnya hidup sebagai Tionghoa di 
Indonesia. Ia menjadi saksi persidangan Sudisman, anggota polit biro PKI, di 
Mahkamah Militer Luar Biasa pada 1967. Akibatnya, ia dipenjara selama lebih 13 
tahun. Lepas dari penjara, ia mengaku mengalami berbagai macam diskriminasi 
oleh pemerintah Orde Baru. Ia percaya, penguasa ada di belakang tindakan 
diskriminatif terhadap kelompok etnis Tionghoa. Ia menulis soal ini juga dalam 
bukunya 'G30S 1965, Perang Dingin dan Kehancuran Nasionalisme, Pemikiran Cina 
Jelata Korban Orba'.

"Isu mengenai anti Tionghoa sama sekali bukan karena komunitas pribumi yang 
anti, tidak suka kepada etnis tionghoa. Rasisme terjadi karena tindakan 
penguasa. Baik penguasa Belanda maupun Indonesia." Meski diskriminasi masih 
ada, Tan Swie Ling bangga menjadi bangsa Indonesia. "Kalau saya jelas, merasa 
anak Indonesia. Anak Indonesia yang terlahir sebagai etnis Tionghoa." Tionghoa, 
Jawa, Sunda,



Kalimantan, Padang, Makassar, Ambon, Papua, apalah bedanya? Begitu gugat 
Ruminah, ibu rumah
tangga, etnis Tionghoa. "Kenapa sih hidup jadi begini? Emang ada apa sih antara 
orang Tionghoa, sama orang Sunda, Jawa? Emang kenapa sih, kayaknya sama aja. 
Kita juga sudah hidup di Indonesia sudah bertahun tahun. Nenek, cucu, sampe 
punya sawah lebar di Brebes. Eh, kata saya, emang ini negara lo? Semua orang 
juga punya, bangsa Indonesia kan sudah bergaul. Ngapain musti takut."


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke